
Setelah mendengar ajakkan dari Rama yang lainnya menganggukan kepala secara bersamaan kecuali Fathan yang sedang hanyut dengan lamunannya.
Rama dan yang lainnya beranjak dari tempat duduk mereka untuk menyusul Lala, mereka tidak menyadari Fathan yang tidak mengikuti mereka.
Baru beberapa langkah mereka meninggalkan Fathan. Fathan terkesiap saat melihat kursi yang kosong lalu ia menolehkan kepalanya ke arah belakang, ia menatap teman-temannya dengan tatapan sebal saat ia melihat teman-temannya hampir sampai ke meja Lala.
"Bener-bener temen gak ada akhlak bisa-bisanya mereka santai kaya gitu sementara gw ketinggalan disini, Raina juga gimana sih, kamu kan pacar aku Raina bisa-bisanya kamu lupain aku gitu aja," gerutu Fathan.
Dengan terburu-buru Fathan menggeser kursinya lalu berlarian menyusul yang lainnya, ia berdiri di samping Raina lalu berbisik tepat di depan telinganya.
"Gitu ya kamu sekarang, pacar kamu ketinggalan kamu gak sadar," bisik Fathan.
Raina terkejut mendengar suara bisikan dari orang yang sangat tidak asing di kehidupannya, ia menolehkan kepalanya secara perlahan saat ia melihat Fathan yang berada di sampingnya dengan raut wajah sebal sambil tersenyum lebar.
"Bukannya tadi kamu ngikutin kita ya," bisik Raina.
"Dari tadi aku di sana sayang, liat nih aku ngos-ngosan gara-gara lari ngejar kamu, kalo mereka yang lupa sama aku sih gak masalah yang penting jangan kamu yang lupa sama aku," bisik Fathan.
Raina terkekeh saat mendengar ucapan Fathan lalu ia mengusap-usap rambut Fathan dengan gemas.
"Yaudah maafin aku ya, aku gak ada niatan buat ninggalin atau lupain kamu. Sumpah deh aku ngiranya kamu nyusulin kita," bisik Raina sambil melirik temannya yang lain, ia merasa tidak enak jika suaranya terdengar oleh teman-temannya.
Fathan terdiam lalu tersenyum menatap Raina dengan cepat ia menarik tangan Raina menjauhi yang lain, sikap Fathan membuat Raina kebingungan, sedangkan Fathan terus menarik Raina hingga kini mereka berada di depan pintu kelas Raina.
Raina menatap Fathan dan perlahan beralih pada pintu kelasnya yang baru saja dibuka oleh Fathan.
"Kok kita kesini sih Kak, kita kan mau nyusul Lala kenapa jadi kesini mending kita balik lagi yuk soalnya gak enak sama yang lainnya," ajak Raina.
Raina menarik tangan Fathan untuk kembali ke kantin bergabung dengan yang lainnya, namun ditahan oleh Fathan ia menggelengkan kepalanya dan lagi-lagi sikap Fathan membuat Raina bingung.
"Kamu udah gak ada jam kuliah lagi kan?" tanya Fathan.
Raina mendelikan matanya sambil menatap Fathan sebal karena Fathan tidak menjawab pertanyaan yang sedari tadi terus berputar-putar diatas kepalanya, justru Fathan malah melemparinya dengan pertanyaan kembali.
"Bukannya jelasin dulu ke aku maksudnya ngajak aku kesini apa, eh kamu malah nanya-nanya ke aku bikin sebel aja sih Kak kamu hari ini," keluh Raina.
Fathan tertawa mendengar keluhan Raina ia mendudukan dirinya diatas bangku panjang yang berada di depan kelas Raina dan diikuti oleh Raina yang sedari tadi penasaran dengan maksud Fathan.
"Oke aku jelasin, keliatannya pacar aku ini penasaran banget ya, gemes deh liat muka penasarannya He-He," ucap Fathan sambil mencubit pipi Raina dengan gemas.
Raina menepis pelan tangan Fathan, ia memicingkan matanya menatap Fathan dengan tajam ia berharap dengan menatap Fathan seperti itu akan membuat Fathan menjelaskan maksudnya.
"Biasa aja dong liatinnya, serem banget kamu kaya lagi kerasukan," ucap Fathan tangannya mengusap wajah Raina.
"Jadi gini, berhubung kita sama-sama lagi gak ada kelas nih ya, aku mau ngajak kamu jalan-jalan tapi berdua aja ya soalnya udah lama kita gak main berduaan," ucap Fathan.
"Emangnya kita mau kemana?" tanya Raina.
"Kemana aja yang kamu suka, aku bakal turutin," ucap Fathan sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Raina berdeham ia terdiam sejenak lalu ia menatap Fathan.
"Yaudah aku setuju, tapi kamu kabarin yang lainnya dulu biar mereka gak panik nyariin kita yang ilang gitu aja," ucap Raina.
Fathan menganggukan kepalanya, ia menyuruh Raina segera mengambil barang-barangnya yang berada di kelas.
Setelah selesai mengambil barang-barangnya Raina keluar ia melirik Fathan yang sedang asik menatap pot tanaman yang sengaja di letakan tidak jauh dari pintu kelasnya.
"Kak, ngapain sih? Kayanya serius banget liatin potnya, kamu lagi telepati ya sama pot itu," ucap Raina dengan wajah polosnya.
"Hm ... Mulai deh tingkah anehnya Lala dicopas sama kamu, mana mungkin aku ngomong sama pot, kamu kira aku gak waras," ucap Fathan.
"Iya-iya maaf gitu aja ngambek pacar aku ini, oh iya kamu udah kabarin ke yang lain belum?" ucap Raina.
Fathan menganggukan kepalanya sambil menujukkan isi chattingannya dengan Raka yang sempat direspon oleh Raka.
"Udah tenangkan kamu, yuk kita pergi udah lama gak Quality time," ucap Fathan.
Fathan berjalan menuju parkiran sambil menggandeng tangan Raina.
Tanpa mereka sadari sedari tadi Maira dan teman-temannya bersembunyi di balik tembok dekat kelas Raina. Mereka juga mendengar niat Fathan yang ingin mengajak Raina pergi berduaan.
Maira keluar dari persembunyiannya saat melihat Fathan dan Raina pergi, ia menghentakan kakinya menatap punggung Fathan dan Raina dengan tatapan geramnya.
"Ih harusnya kan gw yang ada disitu bukan Raina, mereka sama sekali gak cocok," teriak Maira.
Orang-orang yang berada di sekitaran Maira dan teman-temannya menatap Maira heran, ada juga yang menertawakan Maira.
Sinta yang berada di samping Maira berusaha menenangkan Maira dengan mengusap-usap bahu Maira supaya Maira tidak semakin kesal.
"Lo tenang dulu Maira lo gak usah kepancing sama omongan mereka, itu kan mereka mau pergi tuh mending kita ikutin aja siapa tau dengan lo ikutin mereka kita bisa recokin quality time mereka, jangan kelamaan mikir ya Maira nanti keburu jauh merekanya," ucap Sinta.
"Ih Sinta lo oon banget sih, kasian Maira nanti makin kepanasan kalo lo ajak ngikutin Raina sama Fathan, liat tuh mukanya Maira merah kaya udang panggang apa lagi ngikutin mereka nanti mukanya Maira bisa-bisa gosong, gw gak mau muka teman gw yang unyu-unyu ini nantinya kaya udang gosong kan kasian Hu-Hu," ucap Shasha tanpa jeda hingga membuat Maira dan Sinta menutup kupingnya.
Tanpa berdiskusi kembali, Maira menarik tangan kedua temannya untuk menyusul Fathan dan Raina.
"Ih Maira gak usah tarik-tarik juga sih, gw gak tanggung jawab ya nanti kalo muka lo mendadak gosong karena gak kuat ngeliat keuwuan mereka," ucap Shasha dengan wajah tanpa dosanya.
"Berisik banget sih lo! Mending lo diem anteng-anteng aja gak usah banyak berpendapat, pusing gw denger lo ngoceh terus Sha, lama-lama lo nyebelinnya sama ya kaya si Lala," omel Maira.
Shasha menunduk dan mengerucutkan bibirnya sambil bergerutu di dalam hati.
"Udah Ra lo duduk aja di mobil biar gw yang nyetir kan bahaya kalo orang lagi broken heart nyetir mobil sendiri nanti yang ada kita menghadap ilahi bersama," ucap Sinta.
Shasha yang baru saja terdiam mendadak membelalakan matanya sambil mengusap-usap dadanya.
"Sembarangan aja lo kalo ngomong Sin, kalo kaya gitu mendingan gw gak usah ikut aja deh, sayang uang kuliah gw kalo nanti gw meninggal cuma gara-gara mau ikutin Maira," ucap Shasha berniat membuka pintu mobil.
Belum sempat ia keluar dari mobil Maira tangannya sudah tahan terlebih dahulu oleh Sinta.
__ADS_1
"Gak setia kawan banget sih lo, kaya gituan aja udah panik cemen lo, lagian yang bawa mobil gw jadi lo tenang aja gak usah parnoan," ucap Sinta.
Sinta menyalakan mesin mobil dengan cepat ia mengeluarkan mobilnya dari arena parkiran dan di dalam hatinya ia berharap Fathan dan Raina belum jauh hingga ia bisa menyusul mereka.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
Semoga terhibur ya gais
__ADS_1
Sekian dan terima kasih