
Lala menatap Reno dengan perasaan yang was-was, ia takut kalau Reno akan mengamuk padanya. Dengan sengaja Lala menyingkir kan beberapa barang yang menurutnya sangat bahaya jika hancur.
Lala mendekatkan dirinya perlahan mendekati Reno yang sedang duduk di pinggir kasur.
"Kak Reno ... Kak Reno ngambek beneran ya? Jangan ngambek dong, nanti tambah jelek gimana," ucap Lala sambil menoel-noel pipi kiri Reno dengan jari telunjuknya.
Mendapati Lala yang sedang berusaha berbicara dengannya membuat Reno menolehkan kepalanya menatap Lala dengan tatapan jengkelnya. Reno menyentil gemas jari telunjuk Lala supaya menjauh dari pipinya.
"Gak mempan hinaan kamu itu. Sana jauh-jauh, gak usah deket-deket," ketus Reno sambil mengibaskan tangannya berkali-kali.
Lala mencibirkan bibirnya menatap Reno kesal sambil berkacak pinggang dengan perasaan jengkel yang bersarang di dalam hatinya, ia melempar beberapa barang yang sempat ia pisahkan supaya tidak dilempar-lempar oleh Reno.
Reno hanya memperhatikan apa yang sedang istrinya lakukan tersebut, ia sengaja membiarkan Lala merusak beberapa barang yang ada di kamar mereka.
"Sekalian lempar itu hp nya biar nanti kalo mau nelpon pake wartel kaya jaman dulu. Jangan minta-minta beli lagi, gak punya duit!" ketus Reno.
"Abisan kak Reno ngeselin, jadi suami ngambek terus. Dimana-mana tuh istri yang ngambek mulu. Liat tuh jadi berantakan semuanya. Ini semua gara-gara kak Reno," omel Lala menatap Reno dengan tatapan kesalnya.
Reno hanya menghela nafas pasrahnya setelah mendengar ocehan dari istrinya.
"Serba salah jadi suami. Padahal yang ngamuk-ngamuk sampe ngelempar barang-barang yang ada di kamar ini tuh kamu. Niatnya mau ngambek malah jadi kamu yang ngamuk. Mana bisa ngambek kalo kaya gini, keburu lupa dah," ucap Reno.
"Kak Reno juga salah, ngapain pake ngambek segala. Sini peluk dulu biar kita gak musuhan," ucap Lala dengan manjanya sambil merentangkan tangannya mendekati Reno.
Reno terkesiap saat Lala tiba-tiba saja memeluknya, perlahan ia membalas pelukan tersebut dengan sedikit keraguan karena takut tiba-tiba saja Lala mendorongnya kembali seperti beberapa hari yang lalu.
Untung gak didorong lagi, bisa-bisa ini pinggang encok diusia muda kalo tiap malem didorong.
"Kamu gak ada niatan mau dorong suamimu ini kan La?" tanya Reno dengan hati-hati.
Lala yang masih merasa nyaman berada di dalam pelukan Reno hanya menggelengkan kepalanya. Ia merasa lelah dengan segala kejadian yang sudah terjadi di hari ini. Berada di dalam pelukan Reno sangatlah nyaman untuk dirinya saat ini, hingga ia merasa tidak ingin lepas.
__ADS_1
"Engga! Pokoknya jangan kabur kemana-mana ya kak Reno. Lala capek banget hari ini," ucap Lala menyenderkan kepalanya tepat di depan dada Reno.
Reno bersusah payah menahan dirinya. Ia tidak mau membuat Lala yang sangat terlihat nyaman menjadi terusik.
Punya istri beda dari istri orang-orang lain emang harus banyak bersabar. Kemaren-kemaren dideketin sedikit aja marah sekarang nemplok kaya cicak. Sabar Reno, tenang aja pasti akan ada waktunya.
Lala memperhatikan perubahan raut wajah Reno, ia memicingkan matanya berusaha menebak-nebak apa yang ada di dalam fikiran Reno.
"Kak Reno pasti lagi ngatain Lala di dalam hati ya. Coba kak Reno ceritain dulu kenapa kak Reno marah sama Lala. Padahal Lala gak salah apa-apa," ucap Lala dengan pelan.
"Udahlah gak usah dibahas. Aku udah gak marah, sekarang kita istirahat aja ya keliatannya kamu capek banget," ucap Reno.
"Lala gak mau tidur kak Reno. Lala mau kaya gini aja," ucap Lala.
Reno menghela nafas gusarnya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalo kaya gini terus yang ada aku gak bisa nahan La. Udah mending kita tidur aja," ucap Reno dengan gusar.
Lagi-lagi Reno dibuat geram dengan sikap Lala yang terlewat polosnya.
"Aku yakin kamu lagi pura-pura oon aja La. Plis jangan buat aku ikutan oon juga. Untung kamu punya suami yang super sabar kaya aku," ucap Reno sambil menahan rasa kesalnya.
Lala terkekeh geli saat melihat raut wajah suaminya yang begitu lucu. Sejujurnya ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Reno namun ia sengaja mengalihkannya.
"Kak Reno maafin Lala ya belum bisa jadi istri yang baik buat kak Reno," ucap Lala sambil menundukkan kepalanya.
****
Di kediaman rumah Fathan sangat ramai dengan beberapa keluarga dekat yang memang sengaja mengadakan acara di kediaman Fathan.
"Acara apa sih Bun?" tanya Aisyah dengan penasaran.
__ADS_1
"Ini acara syukuran kelulusan sidangnya Fathan dan kepulangannya Han juga. Sekalian juga sih Bunda sengaja ngadain acara kaya gini biar keluarga pada kumpul. Kita kan jarang banget kumpul keluarga kaya gini," saut Ita tersenyum pada Aisyah.
"Oh gitu Bun. Emangnya bang Fath udah tau?" tanya Aisyah.
"Bunda baru kasih tau kalo di rumah ada acara, belum ngasih tau acaranya apa Hehe. Biarin aja biar surprise sayang. Gimana kuliah kamu? Seru gak?" ucap Ita.
"Gitu-gitu aja Bun. Harusnya Bunda tanyain bang Han tuh. Banyak cerita-cerita seru dari bang Han Hehe. Kalo aku mah begitu aja sepanjang hari gak ada yang berubah. Oh iya Bunda siap-siap ya bentar lagi dapet mantu Haha," ucap Aisyah dengan tawanya.
Ita mengerutkan alisnya menatap Aisyah dengan tatapan kebingungan.
"Maksudnya gimana tuh. Kamu udah punya pacar ya? Ih anak Bunda ternyata diem-diem udah gede juga," saut Ita mencubit gemas pipi Aisyah.
Aisyah membulatkan matanya saat mendengar ledekkan dari sang Bunda. Ia heran mengapa jadi dirinya yang dibahas, padahal ia sengaja membahas hal tersebut supaya nanti saat Fathan sampai akan dicecar banyak pertanyaan oleh Bundanya.
"Bukan gitu Bunda ih ... Maksudnya itu loh bang Fath, dia kayanya bentar lagi mau nikah deh soalnya kan bentar lagi lulus kuliah. Dari pada ngebucin terus mendingan nikah aja biar gak jadi gosip Hehe," ucap Aisyah dengan cengirannya.
"Haishhh, cari uang dulu yang banyak, baru ngomongin nikah. Mana Abang kamu Ais, kenapa dia gak dateng-dateng. Kebiasaan nih suka ngaret kalo disuruh pulang," ucap Ita.
"Bang Han juga belum pulang Bun. Kenapa yang ditanyain bang Fath doang. Nanti kalo bang Han iri gimana. Nanti jangan lupa ya Bun, tanya-tanya bang Han. Banyak cerita baru yang belum Bunda tau pokoknya," ucap Aisyah kemudian melangkahkan kakinya pergi menjauhi Bundanya yang sedang berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh anak perempuannya.
Ita hanya menggelengkan kepalanya, anak perempuan satu-satunya tersebut memang suka sekali membuat Bundanya penasaran.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like, komen dan saran. Tinggalkan saran di kolom komentar kalau ada yang mau disampaikan, aku baca semua kok komentar kalian Haha.
Btw tadi aku abis baca semua komentar selama aku gak update beberapa hari. Aku seneng banget baca komentarnya Haha. Makasih ya komentar positifnya padahal aku udah lama ngilang hehe. Untuk yang mempermasalahkan pemeran utama, maafkan aku yang belum bisa mengontrol cerita ini seperti apa yang kalian bayangkan. Doakan saja di cerita selanjutnya nanti gak akan tertukar Hehe.
Sekian dan terima kasih.
__ADS_1