
Raina dan yang lainnya menatap sekitar dengan senyum senang, akhirnya pekerjaan mereka selesai sebelum Lala datang kini mereka sedang beristirahat di ruang tengah menunggu kabar dari Reno.
"Emang ya ulang tahunnya Lala doang yang nyusahin, pipi gw sampe sakit niup balon banyak banget," keluh Fathan.
"Lagian kegayaan banget niup manual, punya nyawa cadangan lo kak?" saut Zara.
Ponsel Raina berbunyi menandakan notifikasi pesan whatsapp yang baru saja masuk, ia mengambil ponsel dari saku celana lalu melihat layar ponselnya, ia terkesiap saat membaca isi pesan lalu beranjak dari duduknya.
"Eh ini kak Reno ngabarin katanya dia udah di depan rumah Lala, buruan dah matiin lampunya," ucap Raina.
"Lah udah nyampe padahal gw baru aja duduk, yaudah matiin Do," ucap Rama.
Aldo mematikan semua lampu yang ada di rumah Lala kecuali lampu di luar rumah Lala hingga kini di dalam rumah Lala sangat gelap.
Setelah memastikan semua lampu mati, mereka memulai rencana yang sudah mereka sepakati.
"Woi senter mana, susah jalannya nih," teriak Rama.
"Nyalain satu lampu dulu, gimana caranya kita bisa make up kak Rama kalo kaya gini," pinta Aisyah.
"Udahlah asal templokin aja yang penting keliatan serem," saut Aldo.
Rama melempar Aldo dengan toples yang berada di meja namun lemparannya melesat.
"Gila lo ya, biar pun disuruh jadi hantu gw maunya tetap keliatan keren," omel Rama.
Raina dan Aisyah mulai memoles wajah wajah Rama tanpa adanya lampu yang menyala, mereka tak bisa membayangkan bagaimana bentuk wajah Rama sekarang, setelah dirasa selesai dengan sengaja Aldo menyalakan 1 lampu yang berada di ruang tengah.
Raina dan Aisyah terkejut melihat perubahan wajah Rama ia saling melempar pandangannya.
"Mana kaca? Gw mau liat muka gw kaya apa?" pinta Rama.
"Nih pake kamera hp gw aja," ucap Fathan menyodorkan ponselnya pada Rama.
"Huaa kenapa muka gw jadi kaya badut gini, kaga ada serem-seremnya malahan kaya orang gila, parah lo berdua ya, katanya jago make up tapi muka gw kaya ondel-ondel jomblo," oceh Rama.
"Udahlah Ram terima aja mepet nih waktunya, kak Reno udah gak bisa nahan Lala lagi soalnya, jangan lupa pake wignya ya," ucap Raka.
"Tau nih kak Rama ngeluh terus, badut aja bahagia kok didandanin begitu," ucap Aisyah.
Rama mengusap wajahnya lalu mengacak-acak rambutnya menatap Aisyah geram.
"Bukan gitu Aisyah, gw kan ceritanya mau nakut-nakutin Lala bukan bikin Lala seneng," protes Rama.
"Hehe yaudah gitu aja gak apa-apa kali kak Rama, coba deh pake kostum pocongnya pasti keliatan serem, ini karena belum pake kostum pocong aja makanya kaya badut, sini Aisyah bantuin pakein kostumnya," ucap Aisyah.
"Unch so sweet banget jadi meleleh hati abang dek," ucap Rama.
"Hidih," sambung Zara.
Raka mengambil kain putih yang akan digunakan oleh Rama, lalu memberikannya pada Aisyah.
"Ini mah kain kafan bukan kostum sembarangan lo ntar kalo gw meninggal beneran gimana," protes Rama.
"Protes mulu lo sahabat, mending buruan pake sebelum tuh pintu depan kebuka," ucap Fathan.
"Yaudah iya, nih gw pake, terus yang jadi kunti siapa? Tadi katanya ada yang suka rela jadi kunti," tanya Rama.
"Gw aja deh kapan lagi bisa ngerjain Lala, kesempatan bagus ini mah," saut Raina.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lala menguap berkali-kali terlihat ia sangat lelah dan mengantuk, namun sedari tadi Fano dan Reno menahannya hingga membuatnya sedikit curiga dan bertanya-tanya soal keanehan sikap keduanya.
"Udah ya Lala mau masuk ngantuk banget nih dari pada Lala tidur disini nanti kalian gak bisa pulang," ucap Lala berniat membuka pintu mobil.
"Yaudah sana masuk, kita juga mau langsung pulang ya Fano," ucap Reno.
"Gitu dong dari tadi capek nih mulut dari tadi nguap mulu untuk gak kemasukan nyamuk," keluh Lala.
"Yaudah sana masuk hus, semoga mimpi indah." usir Reno.
Reno memundurkan mobilnya sedikit supaya tidak terlihat oleh Lala.
"Ayo Fano, kadonya udah dibawa?" tanya Reno.
"Oh iya tadi Pano lempal di belakang telus Pano gak tau kemana lagi bental ya Pano cali dulu," ucap Fano.
Fano merangkak ke belakang mencari kado yang sempat ia lempar asal karena terkejut oleh kedatangan Lala yang tiba-tiba, ia tersenyum saat menemukan kado yang sempat ia buang.
"Akhilnya kita ketemu juga kado, maapin Pano ya tadi udah lempal-lempal abisan Pano kaget." Fano berbicara sendiri sambil mengelus dan mencium sebuah benda yang ia sebut kado untuk Lala.
Reno menatap benda berbentuk kotak yang dibungkus oleh kertas berwarna coklat dan sedikit mengkilap berada di tangan Fano dengan tatapan heran.
"Itu kado buat kak Lala Fan?" tanya Reno.
__ADS_1
Fano menganggukan kepala melirik kado dengan senyum bangganya.
"Kelen kan kalya Pano," pamer Fano.
"Keren apaan, baru kali ini aku liat ada orang bungkus kado pake kertas yang buat bungkus nasi," ucap Reno.
"Adanya ini doang kak Leno, Pano gak punya duit lagi buat beli keltas kado yang gambal-gambal, Pano ke dapul mau nyali kolan gak ada ketemunya keltas ini yaudah Pano ambil aja," jelas Fano.
"Dasar bocil tua, ada aja akalnya waktu kecil mami kamu ngidam apa si Fano." Reno mencubit gemas pipi Fano.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lala kebingungan saat membuka pintu tak ada satu pun lampu yang menyala, ia mengira mati listrik namun saat ia menoleh ke parkiran lampu rumahnya menyala.
Masa iya lampu rumah gw putus semua, kenapa pada kompakan begini jam segini siapa yang jualan lampu ya, udahlah cari lilin dulu biar terang.
Dari kejauhan yang lainnya mengintip Lala yang sedang kebingungan di depan pintu rumahnya.
"Tuh Lala udah di depan pintu siap-siap ya," bisik Raka.
"Kak Reno udah pulang belom ya, Lala jadi takut masuk ke dalem ngeri ada bu kunti, kata orang-orang hantu kan suka di tempat gelap," gerutu Lala sambil melirik ke arah depan pagar rumahnya.
"Yah udah pulang lagi, yaudah deh terpaksa harus masuk dari pada di depan rumah nanti malah ketemu bu kunti lagi arisan diatas pohon," gumam Lala sambil melirik pohon jambu yang berada di depan rumahnya.
Perlahan Lala melangkah memasuki rumahnya dengan meraba sekitar ia takut menabrak beberapa perabotan rumah yang akan membuatnya terjatuh.
"Ternyata susah juga ya jalan di dalam kegelapan, sakti banget bu kunti bisa jalan di kegelapan gak napak lagi," gumam Lala.
"Si Lala gak waras ya lagi sendirian gelap-gelap kaya gini dia ngomong sendiri," bisik Fathan.
"Husttt ... Jangan berisik nanti kita ketauan, kak Rama siap-siap ya dalam 1 menit lagi," bisik Raina.
"Kamu juga berisik sayang, mending kita pindah lokasi deh disini keramean nanti yang ada Lala curiga," bisik Fathan.
Lala menghentikan langkahnya saat mendengar suara bisik-bisik seseorang ia melirik sekitar bulu tangannya sudah mulai merinding ia mempercepat jalan menuju kamarnya.
Saat sedang berjalan kakinya tersandung toples yang sempat dilempar oleh Rama untuk Aldo.
Lala berjalan menuju meja lalu meletakkan toples diatas meja ia membalikan tubuhnya.
Hwaaaa!
Suara teriakan Lala membuat orang di dalam rumah refleks menutup telinganya.
Teriakan Lala yang terdengar hingga keluar rumah membuat Reno dan Fano tersadar lalu berjalan menuju rumah Lala.
"Haduh kasian kuping gw," batin Rama.
Lala menetralkan jantungnya yang berdebar begitu cepat saat berpapasan dengan orang yang kini berada di hadapannya.
"Pocong ya?" tanya Lala menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri melihat wajah pocong kw yang tak lain adalah Rama.
"Bukan!" jawab Rama.
"Tapi kok kaya pocong," heran Lala.
"Iyaah pocong udah jelas-jelas bentukannya kaya guling masih nanya aja," ketus Rama.
"Galak banget sih jadi pocong, tau gak tadi Lala kaget banget pas ketemu pocong, Lala berasa anak indigo bisa liat hantu," curhat Lala.
"Anak indihome lo mah," saut Rama.
"Om pocong pake indihome juga?" tanya Lala antusias.
Sedangkan yang lainnya menahan kesal saat melihat Lala yang begitu santai bahkan mengobrol dengan Rama.
"Si Rama gimana sih bukannya bikin Lala takut dan histeris ini malah ngobrol," ucap Farhan terkekeh.
"Pake lah, pocong juga mau eksis biar gak ketinggalan jaman kalo pake kuota boros neng," ucap Rama.
"Oh gituu, eh kok kita jadi akrab sih sono jauh-jauh dari Lala nanti Lala ketularan jadi pocong lagi," usir Lala.
"Sombong banget jadi manusia, biarin aja nanti kalo udah meninggal mau gabung sama komunitas pocong lo ya," ketus Rama.
"Ogah Lala kan cewe nanti Lala gabungnya sama komunitas kunti yang ada di pohon depan wle, sana pergi Lala lempar toples nih." Lala mengangkat tangannya siap-siap melempar toples ke arah Rama.
"Iya-iya pergi nih gw dasar manusia tak berprikehantuan," ketus Rama.
"Emang ya gak beres si Rama disuruh nakut-nakutin malah dia yang takut sama Lala," omel Aldo.
Farhan terkekeh melihat debat keduanya sangat tidak sesuai dengan ekspetasinya ia fikir akam terjadi kejar-kejaran seperti di film-film horor.
"Konyol banget si Lala ya, jadi makin penasaran sama tuh anak," gumam Farhan.
"Udah Raina mending lo aja deh yang nongol gak beres si Rama," pinta Raka.
Lala menghela nafas leganya saat Rama pergi ia mendudukan dirinya diatas sofa.
"Untung pocongnya cemen dan untungnya lagi dia gak tau kalo Lala takut, huh ... Nyaris jantungan Lala ketemu pocong di dalem rumah buruan nyala kek nih lampu," gumam Lala.
"Jangan lupa speakernya dinyalain nanti biar makin tambah horor," ucap Raina.
__ADS_1
Raina mulai menjalankan aksinya ia mengikuti Lala yang sedang berjalan kearah dapur dari belakang.
"Tuh kan ada lagi yang ngikutin Lala, tolong dong Lala takut kenapa sih suka banget gangguin Lala sumpah ya Lala bukan anak indigo atau pun indihome," keluh Lala.
Perlahan Lala menolehkan kepalanya kebelakang dan kini lutut dan tangannya gemetaran mulutnya mangap-mangap rasanya susah sekali untuk mengeluarkan satu kata dari mulutnya.
"Bu ... Bu ... Bu kunti kok ada disini sih arisan di depan udah kelar?" ucap Lala dengan bibir yang gemetar.
Yaampun ini kunti kenapa cantik banget sih tapi serem, Ya Allah tolongin Lala sumpah Lala takut banget.
Speaker mulai diaktifkan terdengar suara-suara khas hantu di film horor membuat Lala semakin gemetar ketakutan sedangkan Raina mulai memelototkan matanya sambil menatap Lala.
"Bu kunti jangan melotot Lala takut huaaaa," teriak Lala.
Lala mendorong tubuh Raina hingga Raina terjatuh membentur lantai, ia berlari sekencang-kencangnya.
"Aduh si Lala bener-bener ya cuma gw pelototin doang dia malah dorong gw, sakit banget tangan gw kepentok meja," omel Raina.
Fathan berlarian menghampiri Raina ia tidak mendengarkan yang lainnya yang sedari tadi menyuruhnya untuk tidak keluar dari persembunyian.
"Kamu gapapa? Bener-bener si Lala tenaga kingkong, sini aku bantuin bangun." Fathan membantu Raina berdiri terlihat raut wajahnya yang cemas dengan Raina.
"Gapapa cuma tangan aja yang sakit sedikit," jawab Raina.
"Duduk dulu sini, aku mau liat tangan kamu ntar luka lagi, langsung ceburin aja lah yuk ke kolam sebel banget rusuhnya gak ilang-ilang, lagi dikerjain aja masih rusuh," omel Fathan.
"Suttt ... Udah ah jangan ngomel-ngomel terus nanti cepat keriput, nanti aku cari pacar lagi nih ya," ucap Raina.
"Enak aja, awas aja kamu kalo cari pacar lagi!" ketus Fathan.
"Tadi yang satu gak beres sekarang yang satu lagi malah pacaran capek deh, keburu ketauan ini mah sama si Lala," keluh Farhan.
Zara terdiam saat Reno dan Fano masuk ke dalam rumah, terbesit niatnya untuk menjadikan mereka hantu untuk menakuti Lala.
"Gw punya ide kayanya kak Reno sama Fano bisa diandelin deh," ucap Zara.
"Yakin lo? Ntar malah gak jelas lagi," saut Raka.
"Yakin lah, lo inget gak gimana rusuhnya si Fano pas acara ulang tahunnya Shasha dia dorong Maira dengan gaya lucunya, gw yakin dia bisa totalitas," ucap Zara dengan yakin.
"Yaudah deh terserah lo," pasrah Rama.
Zara memanggil Reno dan Fano ia meminta bantuan pada Aisyah untuk memoles wajah keduanya.
"Nah keren banget kaya hantu beneran," puji Aisyah.
Fano berdiri di depan cermin ia memegang kepalanya yang terbungkus.
"Kok kepala Pano jadi botak dan kaya tuyul pake ini, atulan Pano pake pempes bial kaya tuyul benelan nih," ucap Fano.
"Nah iya Fano bener, Aldo aku minta tolong boleh gak? Beliin pempes ukurannya Fano," ucap Aisyah.
"Oke," saut Aldo.
Aldo pergi keluar rumah mencari popok bayi yang di pinta oleh Aisyah.
Sedangkan Lala kini sedang bersembunyi di dekat kolam, ia mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
"Haduh kenapa rumah Lala jadi sarang hantu sih, Lala takut banget lagi, Lala telpon kak Reno aja kali ya suruh kesini nolongin Lala" gumam Lala.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya ya gais, mohon maaf kalau ceritanya membosankan hoho soalnya belum ada inspirasi yang wah di otakku.
Kalo ada saran silahkan diungkapkan dikolom komentar hehe.
Sekian dan terima kasih gais.
__ADS_1