SENIOR

SENIOR
Fano pulang


__ADS_3

Pagi hari suasana di kediaman Raina sangat ramai oleh ocehan Fano yang tidak ada hentinya.


"Udah sono kalo mau pulang yaudah pulang aja gak usah drama bocil, ngoceh mulu dari tadi kaya beo," ucap Reyhan.


"Kak Ley diem sttt. Pano mau Pamit dulu," ucap Fano sambil meletakkan jari telunjuknya diatas bibir Reyhan.


Fano berjalan mendekati Wina dan Gio yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Pano pulang dulu ya mama Wina jangan kangen sama Pano, telus nanti mama Wina kalo masak jangan banyak-banyak soalnya gak ada Pano yang suka abisin makanan, Pano bakalan kangen banget sama masakan mama Wina," ucap Fano ia merentangkan tangannya lalu memeluk Wina dengan erat.


Wina menyambut pelukan Fano dan membalasnya perlahan Wina menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan Fano.


"Yah anak nakal di rumah Mama jadi berkurang satu deh, Fano yang rajin ya jangan males-malesan sekolahnya nanti kalo libur Fano boleh main kesini," ucap Wina sambil mencium ke dua pipi Fano dan keningnya.


"Siap bos! Pano bakalan lajin bial jadi plopesol," ucap Fano sambil memberi hormat pada Wina.


Fano melepaskan pelukannya pada Wina lalu berjalan menghampiri Gio, saat sampai di hadapan Gio, Fano terdiam saat melihat Gio yang sudah merentangkan tangannya, ia menatap Gio dengan wajah polosnya.


"Papa Gio ngapain kaya begitu? Papa Gio mau telbang?" ucap Fano dengan raut wajah polosnya.


Gio menghela nafasnya ia berkacak pinggang menatap Fano gemas dengan gemas ia mencubit pipi Fano.


"Bener-bener ya nih anak, Papa Gio udah peka terus siap-siap rentangin tangan biar langsung berpelukan ala-ala teletabis dia malah bengong terus bilang Papanya mau terbang, durhaka kamu ya sama papa Gio, Papa kutuk juga nih kamu, buruan request mau dikutuk jadi apa?" ucap Gio panjang lebar.


Fano tercengang mendengarkan ocehan Gio ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Permintaan Pano gampang kok papa Gio, kutuk Pano jadi olang paling ganteng sebumi aja," saut Fano.


"Sabar ... Sabar ..." gumam Gio.


"Papa Gio Pano pulang dulu ya, jangan kangen sama Pano nanti Pano bakal kesini lagi kok, lajin-lajin belkebun ya papa Gio nanti kalo Pano punya pacal telus mau kasih bunga ke pacal Pano jadi gampang tinggal ambil aja di kebun papa Gio," ucap Fano sambil menunjukkan cengirannya.


"Iya pulang aja sana biar bunga-bunga punya papa Gio gak ilang-ilangan terus dipetikin kamu," ucap Gio.


"Papa Gio gak mau kasih Pano duit? Kata teman-teman Pano meleka kalo ke lumah sodalanya pas mau pulang selalu dikasih duit sama sodalanya," ucap Fano sambil menadahkan tangannya di hadapan Gio.


Gio tertawa mendengar ucapan Fano ia memeriksa saku celananya namun tidak menemukan uang di dalam sakunya.


"Yah Fano gak ada duit nih gimana dong," ucap Gio sengaja memelaskan wajahnya.


"Di bawah kasul banyak," saut Fano.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Zara kini sudah berada di kampus ia sengaja berangkat lebih awal dari jadwal kampusnya karena ia ada perlu mengenai tugas yang harus ia selesaikan hari ini.


"Kalo bukan gara-gara tugas dari dosen ngeselin itu, gw ogah banget pagi-pagi kaya gini dateng ke kampus apalagi sekarang harus ke perpus kaya gini, pagi-pagi kaya gini enaknya ke kantin makan nasi uduk ini mah gw malah ke perpus makan tulisan-tulisan," gerutu Zara.


Aldo yang baru saja masuk ke dalam perpustakaan ia melihat sekeliling ruangan lalu pandangannya terfokus pada Zara yang terlihat sedang berkomat-kamit sambil menepuk-nepuk buku yang berada di hadapannya, Aldo memutuskan melangkahkan kakinya mendekati Zara.


"Lah Zara kok lo disini bukannya hari ini lo ada kelasnya jam 11 ya," tanya Aldo.


Zara melirik sekilas lalu menatap buku dan laptopnya dengan raut wajah malasnya.


"Ngerjain tugas dari dosen rese dan harus dikumpulin sekarang," jawab Zara sambil menguap.


"Lo abis ngeronda ya, ngantuk banget kayanya coba liat tugas apaan sih, sini gw bantuin gak tega gw liatnya memprihatinkan banget muka lo ," ucap Aldo.


Aldo mendudukan dirinya di samping Zara ia menatap layar laptop Zara lalu mengambil alih beberapa buku dan laptop Zara.


"Nanti jajanin gw yak, gw bantuin nih," ucap Aldo sambil terkekeh.


"Bantuin orang tuh harus ikhlas, kalo gak ikhlas yaudah biar gw aja yang kerjain," ucap Zara berniat mengambil alih kembali laptop dan buku-bukunya.


"Gitu aja baper, iya gw ikhlas bantuinnya sini biar gw kerjain soalnya gw udah gak ada kelas, bingung gw mau ngapain," ucap Aldo.


Aldo mengerjakan tugas Zara dengan senang hati sedangkan Zara sedang menenggelamkan tangannya diantara lipatan kedua tangannya.


"Zar tidur lo," tegur Aldo.


Zara yang sudah tertidur tidak mendengar suara Aldo sedangkan Aldo hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali fokus mengerjakan tugas Zara.


Farhan yang berada di perpustakaan melihat keduanya perlahan mendekatkan diri ke arah mereka, kini posisi Farhan berada di belakang Aldo ia menatap layar laptop yang berada di hadapan Aldo.


Anak ini kayanya harus di kasih pelajaran yang lebih lagi.


Aldo menyadari keberadaan Farhan yang kini sudah berada di belakangnya sambil memegang air mineral di tangannya, ia terdiam menundukan kepalanya namun tangannya diam-diam menyimpan tugas Zara yang hampir selesai ia kerjakan supaya tidak sia-sia apa yang ia kerjakan.


Farhan melirik Aldo sekilas perlahan ia mulai membuka tutup botol air mineral dan ia tuangkan air tersebut di dalam tutup botol lalu ia tuangkan air tersebut tepat mengenai wajah Zara namun Zara tak kunjung bangun dari tidurnya hingga membuat Farhan geram lalu menuangkan air mineral lebih banyak lagi dan berhasil membuat Zara terkesiap.


"Siapa sih ini yang nyiram-nyiram," teriak Zara.


Penjaga perpustakaan hanya menggelengkan kepala menyaksikan aksi Farhan.


"Ini mah nambah kerjaan aja pasti lantainya banjir dah," keluh Penjaga perpustakaan.


"Saya!" saut Farhan.


Zara yang belum sadar sepenuhnya ia terdiam saat mendengar suara Farhan.


Kok kaya suara dosen rese ya, tapi ini kan pagi banget masa iya dia udah disini sedangkan kak Fathan aja masih di rumah, mereka kan kembar bagaikan upin-ipin yang kemana-mana selalu bersama.


Zara mengusap matanya berkali-kali ia terus meyakinkan dirinya bahwa yang ia dengar bukan suara Farhan.


"Lah beneran dosen rese ternyata," gumam Zara.


"Kenapa? Kaget? Enak banget kamu ya tugas yang saya kasih ke kamu bukannya kamu kerjakan malah asik-asikan tidur dan nyuruh orang lain buat kerjain tugas kamu," ucap Fathan dengan nada dinginnya.


"Bukan saya yang nyuruh Pak, tapi Aldo yang menawarkan diri lagian Bapak juga ngasih tugas gak kira-kira banyaknya dan harus dikerjakan sendiri sedangkan yang lain berkelompok," protes Zara.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selesai berpamitan dengan keluarga Raina kini Fano sudah berada di depan rumah dengan wajah sedihnya.


"Pano pulang dulu ya, Pano jadi sedih gak bisa tawulan lagi sama kak Leyhan, gak bisa gangguin kak Laina pacalan sama kak Jungkook kembalan Pano telus gak bisa minta duit sama kak Leno, Oh iya Pano lupa pamitan sama kak Lala," ucap Fano.


"Udah tenang aja nanti kak Reno sampein ke kak Lala ya, gak usah sedih kaya gitu kan nanti bisa main lagi kesini kalo libur," ucap Reno tersenyum.


"Nih ada hadiah dari kak Reno sama kak Lala, pokoknya Fano harus jadi anak rajin ya terus nurut sama Mama dan Papa Fano, okay," ucap Reno ia memberikan bingkisan pada Fano.


Mata Fano berbinar menatap bingkisan yang disodorkan oleh Reno dengan semangat ia mengambil bingkisan tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ....


Maaf belum bisa up banyak ya gaissss 😅


Terima kasih banyak yang sudah mau baca cerita ini hehe

__ADS_1


__ADS_2