SENIOR

SENIOR
Pengakuan


__ADS_3

"Ah Raina lama, Lala aja deh yang dorong,"ucap Lala merentangkan tangan menghampiri Maira belum sempat menyentuh Maira ia malah tersungkur di tanah hingga membuat yang lainnya tertawa.


"Sukurin jatohkan lo, makanya jangan macem macem sama gw,"ledek Maira.


Lala menatap Maira sebal menatap tangannya yang kotor penuh dengan tanah merah ia tersenyum lebar lalu beranjak dari duduknya menghampiri Maira dengan cepat ia menempelkan tangannya di wajah Maira.


"Rasain tuh maskeran alami haha,"ucap Lala tertawa terbahak bahak.


Sementara Maira tak kuasa menahan emosinya sambil mengusap wajahnya.


"Urusan kita belom selesai, lo juga manusia rusuh awas aja lo ya gara gara lo muka gw jadi belepotan,"omel Maira sambil menuding wajah Raina dan Lala bergantian lalu pergi meninggalkan mereka.


"Hahaha cemen gitu aja kabur,"ledek Lala sambil tertawa terbahak bahak.


"Keren Lala si Maira langsung kabur sama lo,"puji Raka sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Iya dong Lala gitu loh, nih ya Lala punya temen lemah banget kaya lontong bukannya jambak atau apa kek gitu ini malah diem aja ini juga pacarnya bukannya belain gemes deh, padahal gw mau nontonin drama jadi gw yang ditonton sama kalian, udah ah gw mau balik ke tenda tangan gw ada virusnya abis megang muka Maira,"oceh Lala panjang lebar dengan cepat membalikan tubuhnya meninggalkan mereka semua yang tercengang mendengarkan ucapan Lala yang sangat panjang.


"Tuh anak kesurupan ya ngomong gak ada jedanya,"ucap Rama heran sambil menggelengkan kepalanya.


"Haha bukan Lala namanya kalo gak beda dari yang lain,"ucap Aisyah tertawa.


"Yaudah kita balik lagi aja yuk, kalian berdua gimana, masih mau disini apa ikut,"ucap Raka.


"Kalian duluan aja nanti gw langsung ke tenda,"jawab Fathan.


"Yaudah kita duluan ya bye bye,"pamit Rama.


Setelah yang lainnya pergi tersisa Raina, Fathan dan Aldo disana, Fathan melirik Aldo sinis lalu menggeser posisi Aldo supaya tidak mendekati Raina.


"Lo ngapain masih diem disini,"tanya Fathan dingin.


"Suka suka gw emangnya ini hutan punya bapak lo, lagian gw kesini mau ngomong sama Raina bukan lo mending lo yang pergi,"ucap Aldo santai.


"Raina pacar gw jadi mending lo yang pergi, kalo lo mau ngomong sama Raina yaudah ngomong aja disini,"ketus Fathan.


Raina melirik kedua laki-laki yang sedang sibuk berdebat ia menghela nafas geram.


"Aldo lo ada perlu apa nyamperin gw,"tanya Raina.


"Gw mau ngomong sama lo bentar aja tapi gw gak mau ada dia,"ucap Aldo melirik sinis Fathan.


"Oke tapi jangan lama ya, Kak bentar doang ya dari pada kalian ribut terus gw pusing,"ucap Raina.


Fathan menatap Raina sebal lalu menarik tangan Raina sedikit menjauh dari posisi Aldo.


"Lo kenapa iyain ajakan dia kan udah jelas jelas gw gak suka lo deket sama dia,"omel Fathan.


"Sebentar doang Kak biar cepat kelar kalo kaya gini terus gak kelar kelar,"ucap Raina.


"Lebih cepat lagi kalo lo ikutin omongan gw,"tegas Fathan.


"Kak sekali doang besok besok kalo dia mau ngomong sama gw harus di hadapan lo deh,"bujuk Raina sambil tersenyum.


"Enggak!"tolak Fathan.


"Plisss kak Fathan pacar aku yang paling ganteng tapi gak sedunia,"bujuk Raina sambil mengedipkan matanya.


"Genit banget untung gw sayang, bisa aja bujuknya kalo kaya gini gw bisa apa yaudah sono jangan lama lama,"ucap Fathan ketus.


"Hehe makasih pacar aku udah ngertiin,"ucap Raina tersenyum sambil menyubit pipi Fathan gemas lalu pergi meninggalkan Fathan.


"Untung gw sayang dia nyubit pipi aja rasanya kaya dipijit gak ada sakit sakitnya,"ucap Fathan sambil mengelus pipinya.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sejak Raina di izinkan berbicara empat mata dengan Aldo ia tidak mau membuang-buang waktu dan berlama-lama dengan Aldo ia ingin secepat mungkin selesai berbicara dengan Aldo.


"Mau ngomong apa Do, langsung aja ke pointnya ya gw gak bisa lama-lama,"ucap Raina.


"Kenapa? Pasti gara-gara cowo tadi ya,"tanya Aldo.


"Jadi lo mau ngomong apa,"Raina menatap jengah Aldo yang berbicara bertele-tele.


"Oke, kayanya lo takut banget sama dia haha, Raina gw suka sama lo dari dulu bahkan sampe sekarang,"ucap Aldo menatap Raina serius.


Sedangkan Raina terkejut mendengarnya sejak dulu ia hanya menganggap Aldo teman tidak lebih hingga tiba tiba ia mendengar pengakuan Aldo yang begitu mengejutkan membuatnya tidak percaya dengan pengakuam tersebut.


"Gw serius,"ucap Aldo.


"Sejak kapan lo suka sama gw,"tanya Raina.


"Udah lama banget yang jelas sebelum lo kenal pacar baru lo itu,"ucap Aldo.


Sedari tadi Fathan bersembunyi di balik pohon mendengarkan pembicaraan mereka ia mengepalkan tangannya sesekali memukul pohon yang tidak bersalah.


"Bener kan apa yang gw duga selama ini tuh orang suka sama Raina, emang dasar Rainanya aja yang gak peka sama keadaan,"omel Fathan.


Raina menatap Aldo dengan penuh selidik mencari ada tidaknya kebohongan, namun Raina tidak menemukan adanya kebohongan dari ucapan Aldo ia merasa bersalah dan tidak enak hati.


"Maaf ya Aldo bukannya gw gak ngehargain perasaan lo ke gw yang udah lama itu, tapi gw gak bisa lebih dari temen sekarang hati gw udah buat kak Fathan apa lagi kita baru aja jadian, tapi kita bisa jadi sahabat kok,"ucap Raina tersenyum.


Aldo memandang Raina penuh kekecewaan namun ia sadar segala hal tidak harus sesuai dengan apa yang ia mau begitu pun perasaan tidak bisa dipaksa ia tersenyum lalu menggengam tangan Raina.


"Oke gw terima alesan lo setidaknya gw lega udah bilang perasaan gw yang gw simpen dari zaman kartun sinchan hehe,"ucap Aldo terkekeh.


"Nah gitu dong kalo ditolak tetep sportif, gw bangga punya temen kaya lo gak egois gini terus ya jangan berubah inget pacaran bisa putus tapi sahabat gak akan apa lagi kita udah kenal dari kecil,"ucap Raina menepuk bahu Aldo dengan tersenyum bangga.


"Iya makasih ya lo gak ngejauh dari gw setelah tau ini, gw mau kita terus jadi sahabat,"ucap Aldo tersenyum.


"Iya kita sahabat, sini peluk dulu yang terakhir nanti lo gak bisa meluk gw lagi bisa bisa digetok lo sama kak Fathan haha,"ucap Raina tertawa sambil merentangkan tangannya.


Mereka berpelukan dan berdamai dengan keputusan masing masing sedangkan yang dibalik pohon sedari tadi susah payah menahan dirinya untuk tidak menghampiri mereka.


"Raina ngapain si ngajak pelukan begitu gak tau apa yang disini panas,"omel Fathan dengan raut wajah yang memerah.


Fathan tidak tahan melihat mereka begitu dekat akhirnya pergi meninggalkan mereka dengan perasaan kesal.

__ADS_1


Fathan tiba di tempat berkumpul teman temannya ia mendudukan diri berusaha menahan emosinya yang berada dipuncak kepala.


"Kak Fathan upik abu lo kemana kok lo sendirian tumben banget biasanya kaya lobang idung beduaan terus,"tanya Lala namun tak direspon oleh Fathan.


"Emang enak dikacangin hahah,"ledek Rama.


"Ledek aja terus,"gerutu lama cemberut.


"Lo kenapa Fath terus itu muka kenapa merah banget abis makan cabe berapa kilo lo,"tanya Rama terkekeh namun hasilnya sama dengan Lala.


"Rasain tuh dikacangin disambelin dikecapin,"ledek Lala tertawa terbahak bahak.


Rama menatap Lala kesal lalu melempari Lala dengan kulit kacang.


"Nih makan tuh kulit kacang,"omel Rama.


"Lala jangan ditanyain, Abang aku lagi emosi deh kayanya, soalnya dia diem gitu terus mukanya merah nanti yang ada kamu kena omelan dia,"bisik Aisyah berusaha mengingatkan Lala.


"Ohh... jadi gitu oke deh Lala gak ngomong lagi sama kak Fathan makasih ya Aisyah udah ingetin sebelum Lala gosong disembur api dari mulutnya kak Fathan,"bisik Lala.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sementara Raina dan Aldo baru saja menyelesaikan urusan mereka lalu bergegas kembali ke tempat teman temannya.


Setibanya disana Raina tersenyum pada Fathan lalu menghampirinya namun Fathan hanya menatap Raina dengan tatapan dingin beranjak dari duduknya meninggalkan Raina.


Sikap Fathan berhasil membuat Raina kebingungan ia menatap teman temannya seolah olah meminta penjelasan namun yang ia dapat hanya gelengan kepala dari mereka dengan cepat Raina berlarian menyusul Fathan.


"Kak Fathan"teriak Raina namun tidak ada respon dari Fathan bahkan orang yang ia kejar terus berjalan dan mempercepat langkahnya hingga masuk ke dalam tenda.


Raina yang berada di depan tenda terus memanggil Fathan ia tidak menyerah dan terus menunggu hingga Fathan keluar dari tendanya tidak peduli ia menjadi pusat perhatian sekitar.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2