
Fathan terus tertawa ia senang menggoda Raina hingga membuat pipinya merah merona seperti dipoles blush on.
"Kalo baper mah gampang tinggal jadian aja hahah, biasanya begitu kan?"ucap Fathan.
"Gak segampang itu bambang, kalo lo nya suka juga si jalannya mulus lah ini mah suka aja kaga gimana mau jadian,"ucap Raina.
"Yaudah buat gw suka biar jalannya mulus."ucap Fathan menatap serius.
Raina tercengang mendengar perkataan Fathan yang seolah olah serius mengatakan hal tersebut, ia menatap Fathan penuh tanda tanya lalu menggelengkan kepalanya menolak apa yang sekarang ada dipikirannya.
"Kok diem"tanya Fathan menaikan sebelah alisnya menunggu jawaban dari Raina.
"Gw gak mau jawab, ntar di bercandain lagi sama lo kak,"ucap Raina cemberut.
Fathan tertawa mendengar perkataan Raina mencubit pipi Raina gemas.
"Terserah lo deh mau percaya apa engga yang tadi gw bilang ke lo tuh beneran,"ucap Fathan.
"Bodoamat gw gak percaya,"ucap Raina mengalihkan wajahnya kesembarang arah.
"Yaudah gw gak paksa lo buat percaya, mending sekarang kita jalan jalan ke dalem mall dulu nanti minggu baru kita main jauh,"ucap Fathan tersenyum.
"Mau ngapain, palingan ujung ujungnya nonton kalo gak timezone,"ucap Raina malas.
"Terserah lo mau ngapain, beli skin care juga boleh kaya orang orang," ucap Fathan terkekeh.
"Dih banyak gaya banget, nih ya gw kasih tau skin care cewe tuh mahal tauuu jangan lo samain sama bakso mba Wiwik,"ledek Raina memukul pelan bahu Fathan.
"Semahal apa si emangnya, sampe jual rumah gak?"tanya Fathan.
"Ya engga selebay itu juga kali, bener nih lo mau beliin gw begituan jangan kaget ya pas Mba kasirnya nyebutin totalnya,"ucap Raina menantang ia berniat mengerjai Fathan.
"Beliin lo novel segerobak aja gw gak kaget haha,"ucap Fathan mengingat bagaimana Raina mengambil banyak sekali buku di salah satu toko buku.
Raina terkesiap merasa tidak enak telah menguras uang Fathan pada saat itu.
"Jadi gak enak, novelnya belum gw buka tau masih di tasnya,ucap Raina tersenyum.
"Baca semuanya tuh buku, kasian bukunya udah lo beli cuma jadi penghuni rumah lo,"ucap Fathan.
Tidak terasa asik mengobrol sambil berjalan mereka sudah sampai di depan toko yang bertulisan guardian (sesungguhnya author tidak di endors ).
Fathan melirik keranjang kecil yang tersedia di depan toko tersebut, ia mengambil satu memberikan pada Raina.
"Nih pake ini aja biar gak ribet,"ucap Fathan.
Raina menatap Fathan heran ia jarang sekali berbelanja menggunakan keranjang disini.
"Ngapain pake keranjang, lo kata gw mau jualan,"ucap Raina bergegas mengembalikan kembali keranjang yang diberikan oleh Fathan namun dicegah oleh Fathan.
"Bawa aja dulu, lo kan kalo belanja begitu kaya mau dagang di pasar malem ngapain dah lo beli harum manis sampe 10, nah gw yakin pasti sekarang lo bisa beli berkardus kardus nih,"ucap Fathan terkekeh.
Raina merasakan panas di pipinya ia melihat wajahnya dari cermin yang tersedia disana lalu menepuk nepuk pipinya pelan saat melihat pipinya yang memerah.
"Udah si kak malu gw hahaha, kali ini gw gak beli banyak kok,"ucap Raina malu.
"Yaudah beli buruan, terus kita pulang takut lo dicariin, kuliah dari awan masih terang bederang sampe gelap, bisa bisa nama lo ilang dari Kartu Keluarga,"ucap Fathan.
"Tenang Kak, Kartu Keluarga di rumah gw udah dilaminating semua jadi gak mungkin bisa ilang,"ucap Raina tertawa sambil melihat lihat tester yang tersedia di toko tersebut.
Fathan merasa jengah mengikuti Raina yang sibuk bolak balik tetapi keranjangnya tidak terisi satu barang pun ia melihat jam tangannya menunjukkan pukul 19.35 lalu berinisiatif memasukkan semua barang secara asal supaya cepat selesai.
Raina merasakan berat pada bahu sebelah kanannya ia terkejut melihat banyak sekali barang yang terletak di keranjangnya.
"Kak Fathan ini semuanya lo yang naro,"tanya Raina.
"Iyalah lo lama banget si dari tadi muter muter satu barangpun gak ada yang masuk ke tuh keranjang, lo kesini nyobain tester doang,"ucap Fathan jengah.
__ADS_1
"Nanti pasti gw beli cuma gw mau liat dulu Kak, kalo kaya begini malah bikin lama, ini juga lo ngapain masukin lipstik warna item lo mau gw jadi nenek sihir,"omel Raina.
"Semua tempatnya warna item gak ada yang warna warni yaudah gw ambil aja ngasal hahah,"ucap Fathan tertawa.
"Yaudah ini balikin lagi ketempatnya kira kira aja kalo masukin barang tuh mubazir kalo gak kepake,"pinta Raina.
Selesai mengembalikan semua barang yang diambil oleh Fathan, Raina mulai memilih beberapa barang yang ia sukai lalu bergegas membayar ke kasir.
Pukul 20.00 mereka baru saja keluar dari toko memutuskan untuk pulang, saat sampai didepan rumah Raina terdapat mobil yang sangat asing di mata Raina.
"Mobil siapa, gw gak pernah liat tuh mobil masa tamunya Papa sama Mama jam segini,"ucap Raina.
"Mana gw tau kok lo malah nanya gw jelas jelas tuh mobil didepan rumah lo bukan di depan rumah gw,"jawab Fathan.
"Gw ngomong sendiri bukan ngomong sama lo Kak,"ucap Raina geram.
Fathan mengerutkan alisnya meletakan telapak tangannya di dahi Raina.
"Jidat lo gak anget tapi kok lo kaya orang stress ngomong sendiri,"ucap Fathan heran.
Raina menatap geram Fathan tangannya melayang ke pinggang Fathan mencubit kecil ala Ibu Ibu yang bisa membuat badan berubah warna seperti bunglon.
"Aduhhhh sakittt ya ampun lo nyubit pake gunting ya pedes banget,"teriak Fathan mengelus ngelus pinggangnya.
"Makanya jangan rese,"ucap Raina ketus membuka pintu mobil bergegas masuk kedalam rumahnya sambil melambai lambaikan tangannya kearah Fathan.
Fathan belum menjalankan mobilnya ia masih sibuk meringis sambil mengelus ngelus pinggangnya yang terasa panas.
"Gilaaa ternyata dia lebih sadis dari pada temennya,"gerutu Fathan.
Fathan barniat meninggalkan rumah Raina tetapi matanya tertuju dengan satu kantong belanjaan Raina yang tertinggal di mobilnya.
"Nih anak kebiasaan banget si tadi tas ketinggalan sekarang belanjaanya bisa bisa kepalanya ketinggalan juga disini, biasanya cewe tuh semangat banget ama beginian dan gak bakal ketinggalan lah ini malah ditinggal,"ucap Fathan melupakan niatnya untuk pulang ia membuka pintu mobilnya berjalan menyusul Raina.
Fathan menghentikan langkahnya ketika melihat Aldo yang sedang berbicara dengan Raina, ia menggengam erat plastik yang berada ditangannya menatap kesal Aldo menghampiri mereka.
"Iya gw haus banget ambilin gw minum buruan,"ucap Fathan ketus.
"Iya iya sabar dong,"ucap Raina berjalan kedalam mengambil minuman.
Tidak butuh waktu lama Raina sudah kembali membawa dua gelas minuman.
"Kalian mau masuk kedalem gak, jadi gak enak gw nerima tamu di teras,"tawar Raina.
Aldo sebenarnya ingin sekali mampir sudah lama ia tidak mengobrol dengan keluarga Raina tetapi ia menyadari adanya tatapan tidak suka yang diberikan oleh Fathan padanya membuat ia mengurungkan niatnya.
"Hm.... gak usah deh Rain gw kesini cuma mau nganterin tas lo yang ditinggal di kampus,"tolak Aldo.
"Gw mau nganteri ini doang, tadi ketinggalan di mobil kebiasaan banget besok besok kepala lo tinggalin di mobil gw sekalian ya,"omel Fathan.
"Ohh iyaa maaf deh gw jadi ngerepotin kalian hehe,"ucap Raina menyengir.
"Jadi lo pergi sama dia Rain sampe ninggalin tas lo di kelas,"tanya Aldo.
"Iya Do, maafin yak gw nyusahin lo mulu dari dulu jangan bosen bosen gw bikin susah haha,"ucap Raina tertawa.
"Besok besok lo nyusahin gw aja gapapa, gak usah ngandelin dia lagi,"ucap Fathan cepat.
Raina terkejut mendengar perkataan Fathan, ia merasa sedang bermimpi Fathan berbicara seperti itu padanya refleks ia menepuk pipinya menggunakan kedua telapak tangannya agak kencang.
"Aduuuhhhhhh sakit. Ternyata gw gak mimpi,"ucap Raina.
Fathan dan Reno melihat tingkah Raina panik ketika Raina memukul wajahya sendiri hingga pipinya memerah mereka menghampiri Raina dan menanyakan keadaan Raina.
"Raina lo gapapa kan,"tanya Aldo panik meraba wajah Raina yang memerah.
Fathan menggertakan giginya meletakkan kantong plastik yang masih ia genggam di meja bergegas meninggalkan rumah Raina.
__ADS_1
"Gw balik ya,"pamit Fathan.
"Kak.... Makasih ya,"ucap Raina.
Fathan menganggukan kepalanya tanpa menoleh, ia berjalan keluar rumah Raina memasuki mobilnya dan meninggalkan rumah Raina dengan perasaan kesal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1