SENIOR

SENIOR
Pengakuan Shasha(2)


__ADS_3

Shasha menceritakan mulai dari saat mereka berada di kampus hingga ia dan kedua temannya mengikuti Fathan sampai ke wahana panjat tebing.


Shasha menghentikan ceritanya sejenak, ia melirik yang lainnya bergantian ingin melihat respon mereka, namun yang shasha lihat hanya raut wajah datar dari mereka.


"Lanjutin Sha gak usah takut," ucap Raka.


Shasha menganggukan kepalanya lalu ia kembali melanjutkan ceritanya hingga akhirnya ia menceritakan siapa dalang dari kecelakaan Raina.


Fathan membelalakan matanya saat mendengar pengakuan dari Shasha, ia menatap Shasha penuh kebencian tangannya mengepal hingga membuat Shasha takut dan menundukan kepalanya tidak berani melihat Fathan.


"Jadi ini semua ulah kalian! Bener-bener gak punya hati kalian, lo liat sekarang keadaan Raina gimana! Sekarang dia gak bisa liat lagi gara-gara lo sama teman-teman lo itu! Lo denger ya gw gak akan maafin kalian seumur hidup gw dan gw bakal buat kalian membusuk di penjara!" Fathan tidak bisa menahan emosinya saat mengetahui siapa orang yang dengan teganya berniat mencelakai Raina.


Shasha berjalan menghampiri Raina dengan raut wajah bersalahnya, Shasha berniat meraih tangan Raina namun dengan cepat Fathan menepis kasar tangan Shasha hingga membuat Shasha terkejut.


"Jangan coba-coba dekatin Raina apa lagi coba buat pegang-pegang dia!" bentak Fathan.


Shasha tersentak tangannya gemetaran ia tidak sanggup melihatan tatapan penuh kebencian yang Fathan berikan padanya. Tidak hanya Fathan namun orang disekitarnya pun menatapnya sama dengan bagaimana Fathan menatapnya kecuali Raka yang memang sudah mengetahuinya terlebih dahulu. Rasanya ia tidak sanggup berada disini dengan keadaan seluruh penghuninya yang menatapnya penuh kebencian, ingin sekali rasanya ia segera pergi dari rumah Raina, namun niat untuk meminta maaf pada Raina lebih besar dari pada keinginannya untuk pergi dari rumah Raina.


Shasha tidak memperdulikan Fathan dan yang lainnya yang terus menatapnya penuh kebencian ia menghampiri Raina lalu meraih tangan Raina.


"Raina gw minta maaf, gw tau maaf aja gak cukup buat nebus semua kesalahan gw, tapi gw ngerasa bersalah banget sama lo, gw tau setelah ini pasti lo bakal benci gw tapi gw mohon maafin gw, apapun bakal gw lakuin buat nebus kesalahan gw asal lo mau maafin gw." Shasha terus memohon pada Raina dengan air mata yang menetes di pipinya, ia sangat merasa bersalah pada Raina. Untuk saat ini yang ia harapkan hanya maaf dari Raina tidak ada yang lain.


"Lo bisa lakuin apa emangnya? Udah kaya begini baru ngerasa bersalah kemana aja lo kemarin Ha! Setelah nabrak Raina gak ada tuh lo ngerasa bersalah justru lo kabur gitu aja kan. Kenapa sekarang tiba-tiba lo ngaku ke kita lo ngerasa bersalah!" Zara membentak Shasha sambil mendorong tubuh Shasha hingga membuat Shasha terhuyung kebelakang dan hampir saja terjatuh namun dengan cepat Raka menahannya.


"Ngapain lo bantuin dia kak Raka, jelas-jelas dia udah jahat sama Raina," ketus Zara.


Aisyah yang berada di samping Zara berusaha menenangkan Zara, ia mengusap lengan Zara berharap emosi Zara mereda.


"Zar sabar. Kita semua sama kaget dan kecewanya, tapi disini yang paling berhak marah sama Shasha itu Raina dan keluarganya jadi kasih kesempatan Raina dan keluarganya buat ngomong ya," ucap Aisyah.


Raka mendelikan matanya, ia menatap Zara jengkel.


"Maaf sebelumnya gw gak ada maksud buat ngebela Shasha, gw cuma mau ngasih saran aja buat kalian jangan teralu menghakimi Shasha karena disini yang salah Maira bukan bukan Shasha." Perkataan Raka sukses membuat yang lainnya menatap Raka dengan bertanya-tanya.


"Lo ada apa sama dia? Udah jelas dia sama teman-temannya yang salah kenapa lo belain dia! Emang faktanya yang nyetir mobil si Maira tapi kan dia ada di dalem mobil itu kenapa dia gak cegah Maira buat nabrak Raina kenapa dia biarin Maira nabrak Raina!" bentak Zara.


Zara sangat emosi pada Shasha, ia tidak bisa terima apa yang dilakukan oleh Maira dan kedua temannya.


Fathan yang sibuk menenangkan Raina yang sedang sesegukan menangis hanya menatap Shasha dengan tatapan kebenciannya.


"Lo gak ngerti rasanya diposisi gw Zar makanya lo bisa ngomong segampang itu. Disana ada banyak anak kecil seandainya gw banting stir ke arah kiri mungkin anak-anak yang ada disana bakal ketabrak semua dan gw gak bisa ngebayangin gimana jadinya nasib anak-anak itu. Waktu itu mobil Maira dalam keadaan kecepatan tinggi kalo pun di rem mendadak gak akan ngaruh jadi gw mohon sama lo jangan terus-terusan mojokin gw, gw cuma manusia biasa dan gw gak punya kekuatan super yang bisa ngerem mobil dalam keadaan kecepatan tinggi secara tiba-tiba" Shasha tidak terima dengan perkataan Zara yang terus-menerus menyudutkannya.


"Kak bantuin aku jalan ke Shasha ya," pinta Raina.


Raina yang sedari tadi bungkam perlahan ia melangkahkan kakinya dengan dibantu oleh Fathan.


"Udah berenti! Kalian jangan ribut terus gw pusing dengernya, gak ada gunanya juga kalian marah-marah sama Shasha toh gak akan ngerubah keadaan, emangnya kalian pikir dengan mojokin Shasha mata gw bakal kembali normal? Engga kan, sekarang kita selesain masalah ini dengan kepala dingin jangan pake emosi, jujur gw pribadi kecewa sama mereka karena selama ini gw gak pernah ngelakuin hal jahat sama mereka tapi kenapa mereka tega ngelakuin hal jahat ke gw, tapi disisi lain gw salut sama Shasha yang berani dateng ke kita dan ngejelasin semuanya bahkan dia minta maaf dan ngerasa bersalah." Raina berusaha mengatur nafasnya yang serasa sesak.


Shasha tercengang mendengar perkataan Raina, ia tidak menyangka Raina memaafkannya dengan semudah itu padahal yang lainnya saja terlihat sangat marah padanya. Keikhlasan Raina membuat rasa bersalahnya pada Raina semakin besar ia merasa tidak pantas mendapat maaf dari seorang Raina. Air mata yang semulanya sudah mengering kembali membasahi pipinya.


Wina melirik sekitar mencari keberadaan Maira dan Sinta di rumahnya namun ia tidak melihat mereka hingga membuatnya membuka suara untuk bertanya pada Shasha.


"Dimana teman kamu yang lainnya, kenapa cuma kamu yang dateng kesini?" tanya Wina dengan nada dinginnya.


"Saya datang kesini berdua sama Raka aja Tante, saya udah gak temanan lagi sama mereka, saya bener-bener menyesal dan saya mau minta maaf sama Raina dan keluarga Raina. Apa yang bisa saya lakuin buat Raina Tante biar saya tenang dan gak dihantuin rasa bersalah terus-terusan? Kalau perlu saya bersedia donorin mata saya buat Raina asalkan saya dapat maaf dari Raina dan keluarga." Shasha berjalan mendekati Wina lalu berlutut di hadapan Wina.


Wina menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka Shasha sampai berlutut padanya dan berniat mendonorkan matanya untuk Raina.


"Kamu jangan kaya gini, kamu duduk di samping Tante jangan berlutut kaya gini," pinta Wina.


Shasha menganggukan kepalanya lalu mendudukan dirinya di samping Wina, sedangkan Wina tersenyum menatap Shasha.


"Shasha ngedonorin mata gak segampang yang kamu pikirin, kornea mata Raina rusak karena kecelakaan itu dan donor kornea mata itu gak sembarangan, orang yang diperbolehkan donor kornea matanya hanya orang yang sudah meninggal sedangkan kamu masih hidup dan Tante yakin pasti kedua orang tua kamu gak akan setuju sama keputusan kamu, Tante menghargai niat baik kamu, Tante juga udah maafin kamu dan Tante bangga sama kamu yang mau jujur sama kita padahal kamu tau apa yang akan terjadi kalau kamu jujur sama kita," ucap Wina.


"Apa yang bisa aku lakuin buat nebus semua kesalahan aku Tante?" tanya Shasha sambil mengusap air matanya.


"Jangan ulangin kesalahan yang sama, gw tau sebenernya lo orang baik Sha, gw mau maafin lo kalo lo mau janji sama gw," sambung Raina.


Seluruh orang yang berada disana menatap Raina heran sekaligus penasaran dengan janji apa yang akan dibuat oleh Raina untuk Shasha.


Shasha mengembangkan senyumnya saat mendengar ucapan Raina yang mau memaafkannya dengan semangat ia menghampiri Raina lalu menggengam tangan Raina.


"Janji apa Raina? Gw bakal lakuin apapun asal lo mau maafin gw," tanya Shasha.


"Lo harus janji sama gw buat jadi orang baik dan lo gak boleh ngebully orang lagi," saut Raina.


Perkataan Raina sukses membuat yang lainnya membelalakan matanya sekaligus heran dengan Raina, mereka tidak menyangka Raina hanya meminta hal tersebut pada Shasha.

__ADS_1


"Raina lo gimana sih kenapa mintanya itu doang, gw kalo jadi lo pasti gw bakal minta mobil, rumah, dan minta dibikinin super market, tapi itu aja gak cukup sih kalo kata gw mah," protes Lala belum selesai Lala berbicara mulutnya sudah terlebih dahulu ditutup oleh telapak tangan Reno.


"Diem, jangan kebanyakan protes," tegas Reno.


"Raina, kamu yakin cuma nyuruh dia janji itu aja?" tanya Fathan.


Raina menganggukan kepalanya membuat Fathan menghela nafasnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi kalau sudah Raina yang memintanya.


"Lagian Shasha gak sepenuhnya salah Kak, gak ada salahnya kan kita kasih dia kesempatan buat berubah," sambung Raina.


"Iya, tapi dia kan juga ada sangkut pautnya sama kecelakaan kamu," ucap Fathan.


"Kali ini aja aku mohon biarin Shasha ngebuktiin janjinya, setelah ini terserah kamu, aku cuma ngehargain kejujurannya aja coba aja kalo dia gak jujur mungkin aja kalian masih sibuk nyari tau siapa pelakunya kan," ucap Raina.


"Yaudah oke, tapi setelah ini kamu gak boleh ngelindungin mereka lagi, stop baik sama orang yang udah jelas-jelas jahat sama kamu, kamu pantes dapetin keadilan jangan biarin mereka bebas gitu aja, aku bakal pastiin Maira nerima balesan dari apa yang dia buat rasanya penjara aja gak cukup buat dia," ucap Fathan.


"Iya Lala setuju sama kak Fathan, besok Lala mau ngamuk-ngamuk di kampus terus jambak-jambak rambutnya si nenek gerandong itu, andai aja disini ada Fano pasti dia bakal bantuin Lala." Lala mengoceh sambil mengepalkan tanganya lalu menarik rambut Reno hingga membuat Reno meringis.


"Ini perempuan apa kingkong si, jangan narik-narik rambut aku Lala sakit tau." Reno berusaha melepaskan tangan Lala dari rambutnya.


Lala menyengir sambil melepaskan tangannya dari rambut Reno.


"Maaf deh maaf, abisan Lala gemes banget sama Maira dan gak sabar juga mau jambak rambut dia kalo perlu nanti Lala siram pake kuah baksonya mba Wiwik biar dia kepanasan," ucap Lala.


******


Keadaan rumah Raina yang semulanya panas penuh dengan emosi kini menjadi ramai dengan obrolan dari penghuninya.


Fathan menatap Raina lekat ia tidak percaya kalau ia bisa mencintai perempuan yang cantik luar dalam seperti Raina, ia merasa beruntung mendapatkan perempuan seperti Raina dan ia merutuki kebodohannya yang sempat menolak Raina.


"Raina, aku bangga banget punya pacar kaya kamu," ucap Fathan.


"Bangga kenapa? Padahal sekarang aku buta pasti nantinya banyak orang-orang yang kasian sama kamu loh karena kamu pacaran sama cewe buta kaya aku, emangnya kamu gak malu?" ucap Raina.


Fathan menggelengkan kepalanya, ia memegang kedua bahu Raina dan menggeser tubuh Raina supaya menghadap ke arahnya.


"Mata kamu emang untuk sementara ini lagi bermasalah tapi mata hati kamu gak buta, banyak orang yang matanya normal tapi mata hatinya buta. Kenapa aku harus malu, seharusnya aku bangga punya pacar sesempurna kamu, aku yakin secepatnya mata kamu bakalan normal lagi aku bakal lakuin apapun biar kamu bisa liat lagi, kalo pun kamu gak bisa liat dalam jangka waktu lama aku akan selalu ada disamping kamu kalo perlu kita nikah aja biar aku selalu ada di samping kamu dan jagain kamu," ucap Fathan.


Raina tercengang mendengar perkataan Fathan, ia menggelengkan kepalanya, ia merasa tidak pantas untuk bersanding dengan Fathan yang begitu sempurna.


Raina menarik tangannya yang berada digenggaman tangan Fathan dengan gemas ia mencubit lengan Fathan hingga membuat Fathan meringis.


"Cubitan kamu pedes juga ya ngalahin cubitan Bunda aku sampe merah nih, makan nasi lah sayang, kalo kamu mau mah sekarang juga aku jabanin kita nikah, aku percaya rezeki orang menikah tuh ada aja yang penting niat kita baik, aku juga gak ngebiarin kamu hidup susah nanti aku cari kerjaan." Fathan berbicara sambil mengusap-usap lengannya yang memerah akibat terkena serangan dari cubitan Raina.


Raina bergedik ngeri mendengarkan perkataan Fathan yang menurutnya sudah melayang kemana-mana, ia tidak munafik juga sejujurnya ia sangat senang Fathan berbicara seperti itu padanya namun lagi-lagi keadaan yang membuatnya pesimis, ia tidak mau Fathan menjadi gosipan orang-orang dan membuat Fathan malu.


"Udah deh mending kamu fokus aja sama kuliah kamu dulu biar jadi sarjana terus baru deh lamar aku He-He, kalo sekarang kamu harus fokus dulu sama cita-cita kamu jangan pikirin aku, kamu liatkan sekarang aku udah biasa sama keadaan aku yang sekarang jadi kamu gak usah berlebihan kaya gitu," ucap Raina.


*******


Berbeda dengan Raina dan Fathan yang sedang asik berduaan yang lainnya kini sedang asik menggoda Raka.


"Ada apa nih kalian berdua kok tiba-tiba dateng berduaan terus tadi pas Shasha lagi disalahin sama kita-kita nih orang malah ngebelain." Rama menatap Raka dan Shasha bergantian membuat keduanya gugup.


"Apaan sih Ram, gw cuma tepatin janji gw aja lagian emang Shasha gak sepenuhnya salah harusnya lo semua ngamuknya ke Maira bukan ke Shasha, terus salahnya gw dimana?" Raka terus membela dirinya karena merasa tidak enak dengan Shasha yang terlihat gugup.


"Udah jangan godain kak Raka sama kak Shasha terus liat tuh muka mereka jadi merah gitu He-He," ucap Aisyah.


"Makan-makan nih kayanya, kak Raka dapet jodoh juga akhirnya," sambung Lala.


"Yah temen gw bakal lepas status single juga nih, terus yang nemenin gw ngejomblo siapa?" keluh Rama.


Raka melempari Rama dengan cemilan yang berada di atas meja dengan geram.


"Berisik lo mending diem aja dah gak penting suara lo disini," ketus Raka.


"Udah-udah jangan ribut, tuh liat Raina sama Fathan lagi berduaan jangan berisik ya biarin mereka berdua dulu kasian Raina seharian nangis terus," ucap Reno.


"Kak Reno katanya mau ngajarin Lala main PS, ayok lah kita main mumpung lagi santai nih sebelum besok kita ngamuk-ngamuk sama Maira mendingan kita refleshing dulu." Lala menarik-narik baju Reno hingga membuat Reno jengkel.


"Gw ikut dah dari pada keder mau ngapain," ucap Rama.


Mereka memutuskan untuk bermain Play Station bersama kecuali Shasha yang memilih untuk menonton televisi.


Raka menghampiri Shasha yang sedang fokus menonton televisi lalu ia mendudukan dirinya di samping Shasha.


"Kenapa Rak?" tanya Shasha.

__ADS_1


"Gw cuma mau ngucapin selamat bergabung. Sekarang lo tau kan jujur itu gak selamanya berdampak buruk, ya emang awalnya banyak orang yang marah sama lo, tapi liat justru sekarang lo di terima sama mereka, jadi jangan pernah takut buat jujur sama orang lain walaupun seberat apapun masalahnya," ucap Raka.


Shasha menatap Raka dengan tatapan kagum, entah sejak kapan ia mulai mengagumi Raka.


"Wei jangan bengong nanti kesambet setan loh," tegur Raka tertawa.


Shasha tersadar dari lamunannya, ia ikut tertawa.


"Abisan sih lo ngomongnya banyak banget bikin gw mikir dulu," saut Shasha.


"Plis jangan ikutan oneng kaya Lala ya Sha cukup satu aja modelan kaya Lala disini." Raka memelaskan wajahnya sambil memohon pada Shasha.


"Eh hati-hati kalo ngomong nanti kalo Lala nya denger bisa rontok tuh rambut dijambak sama Lala, lo liat aja tadi si Lala ngejambak rambut Abangnya Raina padahal dia gak salah sama sekali," ucap Shasha.


"Dia mah emang gak jelas cuma bang Reno doang yang tahan banget ngadepin dia, kalo dia berdua jodoh gak kebayang dah tuh anaknya kaya gimana, pasti bakal lebih rusuh dari emaknya nanti. Kasian tante Wina jadi kepusingan nanti." Raka tertawa sambil melirik ke arah Reno dan Lala yang sedang asik dengan aktivitasnya.


******


Reyhan teringat dengan Kinan yang kemarin sempat menghubunginya dan belum sempat ia kabari, ia berniat menghubungi Kinan, ia yakin sekarang Kinan sedang khawatir memikirkannya, tetapi ia merasa aneh biasanya jika ia sulit dihubungi pasti Kinan datang ke rumahnya menanyakan langsung pada orang rumahnya.


Reyhan mencari kontak Kinan di ponselnya lalu menghubungi nomor Kinan. Setelah menunggu beberapa detik akhirnya Kinan mengangkat panggilannya, Reyhan bingung saat yang mengangkat telponnya bukan Kinan melainkan Mama Kinan.


"Halo, Maaf tante ini Reyhan, Kinannya ada gak Tan?" tanya Reyhan.


"Kinan masuk rumah sakit Rey, dari kemarin Kinan gak sadar sampe sekarang maaf kalo kemarin tante telpon Reyhan terus-terusan soalnya Tante panik banget,"


"Tante shareloc aja di rumah sakit mananya biar nanti Rey nyusul kesana, maaf ya tante kemarin keluarga Rey lagi ada masalah makanya Rey gak bisa angkat telpon dari tante," ucap Reyhan.


Setelah selesai berbicara dengan orang tua Kinan dengan tergesa-gesa ia Reyhan berjalan menuju kamarnya lalu kembali ke ruang tengah untuk berpamitan pada kedua orang tuanya dan yang lain.


"Ma, Pa, bang Ren, Raina dan yang lainnya izin pamit dulu ya, barusan dapet kabar dari Mamanya Kinan kalo Kinan masuk rumah sakit dari kemarin," pamit Reyhan sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


Mereka kebingungan melihat Reyhan yang begitu tergesa-gesa.


"Emangnya Kinan kenapa ya bisa masuk rumah sakit, tumben-tumbenan dia sakit sampe dirawat," tanya Wina.


"Ntahlah kita tunggu aja kabar dari Reyhan nanti, sekarang kita fokus aja dulu ke Raina untuk sekarang ini Raina sangat membutuhkan support dari kita Ma," saut Gio.


"Iya kamu benar kasian Raina," ucap Wina sambil melirik ke arah Raina.


"Mending Mama masak aja gih sana, Papa laper nih pengen makan mie goreng," ucap Gio.


"Bisa aja, yaudah tunggu disini biar Mama masakin sekalian buat Raina dan Fathan Mama yang masakin juga yang lainnya biar pada masak sendiri aja kali ya pasti bisa kan mereka." Wina beranjak dari sofa melangkahkan kakinya menuju dapur.


Wina mendengus saat melihat stok mie instan yang menipis, ia merasa stok mie instan yang ada di dapur tidak akan cukup, ia memutar tubuhnya berjalan menuju ruang tengah.


"Reno, Lala. Mama minta tolong beliin mie instan dong, stok di dapur udah abis gak cukup nanti buat kalian masak," pinta Wina.


"Mau beli dimana Ma?" tanya Reno.


"Mie instan doang kan? Yaudah ayo, kita jajan ke warung tetangga aja bagi-bagi rezeki jangan ke mini market mulu Lala males kesono Mba-mbanya pada genit sama kak Reno," ucap Lala dengan semangat.


"Nah boleh tuh, pokoknya terserah kalian mau beli dimana aja, itu mie instan buat kalian semua kalo buat Mama, Papa, Raina dan Fathan ada di dapur," ucap Wina.


"Yaudah yuk cus kita ke warung." Lala menarik paksa tangan Reno.


Lala dan Reno berjalan menuju pintu rumahnya, Lala menggandeng tangan Reno sembari bersenandung.


"Kak Reno ada sendal swallow gak? tapi yang warna ijo," tanya Lala.


"Ada nih, tapi kegedean di kaki kamu La, pake sendalnya Raina aja nih jangan pake yang itu kaya rembo ayamnya atuk dalang nanti kamu pake sendal kegedean untung aja gak sebelah." Reno mengambilkan sendal Raina lalu meletakkannya tepat di depan kaki Lala.


Lala menggelengkan kepalanya, ia berjalan menghampiri rak sendal lalu mengambil sendal swallow yang sempat di tunjuk oleh Reno lalu memakainya.


Reno menghela nafasnya ia pasrah karena percuma saja melarang Lala pasti gak ada ujungnya.


"Biarin aja ntar kalo kamu jatoh gara-gara sendalnya kegedean aku gak mau nolongin kamu ya ngeyel banget sih kalo dikasih tau heran banget aku sama kamu Lala," ucap Reno.


"Gak bakalan jatoh kak Reno, Lala udah sering make sendal swallow," ucap Lala.


"Yaudah terserah kamu aja La," pasrah Reno.


*****


Bersambung ....


Jangan lupa like dan komentarnya ya gaisss biar aku semangat up nya dan kalo ada kritik dan saran boleh dititipin di kolom komentar kok.

__ADS_1


Semoga terhibur ya sama cerita di episode ini, makasih kalian udah setia bacanya, setia nglike dan setia juga komentarnya walaupun sekarang berkurang hehe tapi aku seneng kok.


Sekian dan terima kasih.


__ADS_2