
Wina dan Gio saling melempar pandang satu sama lain saat melihat Fano dan Cila yang keluar dari arah hutan bersama dengan Fathan, Raina, Reno, Lala dan dua orang yang asing di mata keduanya.
"Loh itu si Fano sama Cila ikut ke hutan? Kapan masuknya mereka, aku gak liat loh," ucap Wina dengan raut wajah kebingungannya.
"Papa juga baru liat Ma. Kebiasaan nih selalu nanya hal yang gak pernah Papa tau jawabannya," keluh Gio.
Fano dan Cila berlarian memeluk Gio dan menghiraukan Wina. Wina mendengus sebal saat melihat dua bocah nakal itu mengacuhkannya dan lebih memilih memeluk suaminya, padahal mereka tidak tahu aja jantungnya serasa mau copot saat melihat dua bocah nakal itu keluar dari hutan. Untung saja ia melihat anak-anaknya yang berada di belakang mereka hingga ia bisa menghela nafas leganya sesaat.
Cila dan Fano memang sengaja menghampiri Gio karena mereka tahu kalau telinga mereka kini dalam keadaan bahaya. Mereka merasa lebih aman jika berdekatan dengan Gio.
Gio terkesiap saat kedua bocah tersebut memeluk dirinya, ia mengalihkan pandangannya ke arah istrinya. Melihat wajah istrinya yang nampaknya sedang menahan kesal membuat dirinya menahan tawa sambil melirikkan matanya pada kedua bocah yang sedang memeluk kakinya.
"Wehhh dua kerucil, ngapain kalian peluk-peluk kembaran siwon. Liat tuh kalian dipelototin, rasain bentar lagi pasti kalian kena sembur," ucap Gio.
"Lindungin kita Papa Gio. Pano gak mau dijewel nanti kuping Pano jadi panjang telus Pano gak kece lagi," rengek Fano.
"Iya Papa Gio tolongin kita. Ini semua gara-gara Fano tuh yang ngajakin Cila ikut lomba ini terus," sambung Cila.
Fano melepaskan tangannya dari kaki Gio, ia berkacak pinggang menatap Cila dengan tatapan garangnya. Ia tidak terima dituduh oleh Cila karena ia sama sekali tidak memaksa Cila.
"Cila kok tuduh-tuduh Pano. Dosa tau gak! Cila boong Papa Gio, jangan pelcaya Cila. Bialin aja nanti mulutnya Cila monyong karena suka boong," ketus Fano sambil memonyongkan bibirnya kemudian mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Itu mulut kamu udah monyong duluan Pano," ucap Cila sambil menunjuk mulut Fano.
Wina menggelengkan kepalanya tak tahan melihat kelakuan dua bocah yang semakin hari semakin membuatnya pusing. Ia mengalingkan pandangannya ke arah Raina, Fathan, Reno dan Lala.
"Ini kalian yang bawa anak-anak ke dalam hutan?" tanya Wina dengan tatapan garangnya.
"Jangan galak-galak dulu dong calon mertua, Fathan sama Raina gak tau apa-apa soalnya pas kita lagi jalan tiba-tiba aja udah liat mereka semua lagi ngumpul. Coba tanyain tuh sama bang Reno, curiga Lala yang bawa deh. Fano sama Cila kan deket banget bagaikan induk dan anaknya," ucap Fathan.
"Raina tolong ya pacar lo ini mulutnya dilakban aja biar gak sembarangan nuduh orang. Baru dateng aja sok tau! Kak Reno pokoknya jangan kasih restu ke mereka berdua!" Lala menatap Fathan sinis. Entah mengapa seharian ini ia gampang sekali terpancing emosi.
"Nah bagus itu jangan kasih restu ke Fathan si muka asem ini. Kasih restunya ke saya aja ya bang," sambung Genta.
"Bisa diem gak lo! Di villa gw laba-laba ada sekarung, mau gw kirimin?" ketus Fathan.
Genta bergedik ngeri saat mendengar ancaman Fathan padanya, tiba-tiba saja terbayang dalam fikirannya laba-laba sekarung sedang menghampirinya.
"Hehe becanda Fathan, gitu aja ngambek. Gak asik nih," ucap Genta sambil cengengesan.
"Kak Fathan ... Gak usah diladenin ih. Lagian aku gak kenal sama kak Genta mana mungkin aku tertarik sama dia," bisik Raina.
"Iya aku tau, lagian gantengan aku kemana-mana lah dibandingkan dia. Dulu aja di SMA banyakan fans aku dari pada dia. Cuma aku sebel aja liat dia deketin kamu terus sayang. Andai aja aku nemu 1 laba-laba aja disini, udah pasti aku kerjain playbly cap lang itu," gerutu Fathan.
Wina menghela nafas gusarnya saat mendapati Fathan dan Raina yang sibuk dengan bisik-bisik mereka.
"Ini lagi kalian berdua malah bisik-bisikan, bukannya ngasih jawaban malah bikin tambah bingung," tegur Wina.
"Tanya Lala aja Ma, soalnya tadi Raina sama kak Fathan dateng terakhir dan udah liat mereka sama dua anak-anak ini aja," ucap Raina.
"Tante gak mau nanya ke saya?" tanya Genta tersenyum pada Wina.
"Emangnya kamu tau. Oh iya kamu siapa, kenapa kamu bisa sama anak-anak saya," ucap Wina.
"Tau dong tante. Kenalin saya Genta ramadhan masa depannya Raina anak tante. Tadi saya dijegat sama anak tante yang ini, awalnya saya kira dia mau begal saya tante eh ternyata dia mau minta tolong. Soalnya pas di hutan dua anak ini hampir aja disenggol sama uler, untung aja saya punya keahlian jadi pawang uler Tan, jadinya saya bisa usir ulernya deh," jelas Genta sambil memasang senyum manisnya.
Wina kaget saat mendengar penjelasan dari Genta, ia menatap Genta kagum kemudian ia menatap kedua anak kecil yang sedang bercerita pada Gio dengan tatapan cemasnya.
"Duh makasih banyak loh Genta. Untung ada kamu coba kalo gak ada kamu, mungkin sekarang tante migrain kali mikirin dua bocah nakal ini," ucap Wina.
"Heleh uler doang bangga, coba kalo mereka dikejar sama laba-laba palingan dia lari duluan," sindir Fathan dengan nada kesalnya.
"Kak Fathan ih, jangan kaya gitu. Kak Genta baik loh udah bantuin Lala sama bang Reno. Lagian kalo Fano sama Cila di deketin sama laba-laba yang ada malah laba-labanya yang takut sama mereka tau," ucap Raina.
__ADS_1
Genta mengembangkan senyumnya saat mendengar ucapan Raina yang membelanya di hadapan Fathan.
"Tuh dengerin kata masa depan gw. Sirik aja sih lo. Gw tau lo iri sama gw soalnya gw dibelain sama mamanya masa depan gw sedangkan lo engga Haha," ucap Genta.
Fathan enggan menyahuti perkataan Genta, ia lebih memilih menutup telinganya rapat-rapat dan menganggap semua yang keluar dari mulutnya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
"Iya Ma, semua yang dijelasin sama Genta ini benar. Tapi bukan kita yang bawa mereka ke dalam hutan. Kita aja gak tau kalau mereka ada di hutan dan kebetulan kita gak sengaja ngeliat mereka disana. Kalo Mama gak percaya coba aja liat di baju mereka ada kartu tanda peserta," jelas Reno.
Mendengar penjelasan Reno membuat Lala menatap Reno geram. Lala sengaja mencubit pinggang Reno hingga membuat Reno meringis kemudian menarik tangan Reno menjauh dari yang lainnya.
"Apa sih Lala. Sakit tau pinggang aku, udah dibantuin cerita malah nyubit," omel Reno.
"Lagian kak Reno nyebelin sih. Kak Reno ngapain ngasih tau ke Mama kalo mereka ikutan lomba. Pasti abis ini mereka dimarahin deh sama Mama. Tau ah Lala marah sama kak Reno pokoknya," ucap Lala.
"Loh kenapa jadi marah sama aku sih. Emangnya aku salah dimananya, lagian kan yang aku omongin semuanya fakta," protes Reno.
Lala berjinjit meraih kepala Reno kemudian dengan gemas ia menyentil kepala Reno.
"Ih sumpah ya Lala gemes banget sama kak Reno. Jelas salah dong kak Reno ... Liat tuh liat mereka diomelin sama mama Wina, kasian tau mereka masih kecil udah dimarah-marahin." Lala menggeser meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Reno kemudian ia mengarahkan kepala Reno pada Cila dan Fani yang sedang dimarahi oleh Wina.
Setelah melihat Fano dan Cila yang dimarahi oleh Wina, Reno menghela nafasnya kemudian kembali menatap Lala.
"Wajar dong mama marah. Dengerin aku ya Lala, mama marah itu karena khawatir sama mereka. Fano sama Cila juga salah, dia kan anak kecil bahaya ikut-ikut ke hutan tapi mereka maksa ikut ke hutan. Kita orang yang lebih tua dari mereka harusnya ngajarin mereka kalo mereka salah. Lagian mama Wina gak berlebihan kok marahinnya," ucap Reno.
"Iya sih, tapi kasian kak. Coba bayangin kalo anak kita yang kaya mereka terus mereka diomelin sama neneknya yang suka ngejewer kuping anak-anaknya pasti mereka sedih banget kan," ucap Lala dengan wajah polosnya.
"Mereka? Satu aja gak punya apalagi mereka. Udah ah intinya mereka wajar ditegur sama Mama karena mereka salah," tegas Gio yang tak mau dibantah.
"Oh iya lupa. Dasar istri durhaka kepala suami dijitak-jitak," ucap Reno.
"Ih kak Reno juga suami durhaka, Lala kan nyetil bukan jitak," saut Lala.
***
Di dalam hutan nampak 2 pasangan yang sedang ribut memperebutkan bendera.
"Apaan sih, gw yang ambil duluan berarti bendera ini punya gw. Kalo lo mau bendera cari lah sana yang lain," ketus Reyhan mendorong tubuh Zara hingga membuat Zara terjatuh.
Farhan menatap keduanya jengah. Farhan melangkahkan kakinya dengan bermalas-malasan kemudian mengulurkan tangannya tepat di hadapan Zara.
Melihat tangan Farhan yang berada di hadapannya, Zara hanya menatap Farhan curiga , ia tidak mau nantinya ia akan diejek oleh Farhan.
"Mau berapa lama kamu duduk disitu. Buruan berdiri," ucap Farhan yang masih setia menyodorkan tangannya di hadapan Zara.
Zara mengulurkan tangannya perlahan menatap Farhan ragu. Farhan yang tidak sabar melihat gerak Zara yang begitu lambat akhirnya ia memutuskan untuk menarik tangan Zara.
"Kelamaan! Udah dibantu bukannya bangun malah diem aja di bawah. Lo juga Reyhan, lo kan cowo harusnya gak usah kasar kaya tadi lah. Di dekat kita ada jurang tuh, kalo dia jatuh ke jurang gimana," ucap Farhan sambil melirik sekilas ke arah jurang.
"Lagian dia rusuh sih. Lo liat sendirikan ini bendera gw duluan yang ngambil dari tempatnya. Emang dia nya aja yang geraknya lambat," ketus Reyhan.
Aisyah memijat kepalanya sendiri yang terasa pening karena sepanjang jalan selalu menyaksikan perdebatan mereka.
"Udah-udah jangan ribut terus, mendingan kita mencar aja deh gak usah bareng-bareng kalo ribut terus kaya gini," ucap Aisyah.
"Dari tadi gw udah bilang sama lo. Lo nya aja yang keras kepala maunya bareng cengcorang betina metal ini," saut Reyhan.
Reyhan dan Aisyah pun akhirnya memutuskan untuk berpencar setelah berbicara beberapa menit pada Farhan dan Zara.
Zara menatap Farhan dengan tatapan penuh selidiknya. Ia heran dengan Farhan yang tiba-tiba saja membelanya.
"Apa liat-liat, lompat nanti itu bola mata kamu," tegur Farhan.
"Dih gak usah kegeeran ya pak dosen. Tuh di rambut pak dosen ada cicak bersayap," ucap Zara dengan asal.
__ADS_1
"Gak lucu. Saya bela kamu bukan karena saya peduli sama kamu tapi saya males aja ngurus hal yang lebih besar dari pada bantuin kamu berdiri. Kalo kamu jatuh ke jurang saya juga kan yang repot," ucap Farhan dengan cuek.
"Padahal gw sanggup berdiri sendiri," gumam Zara.
"Kalo bisa sendiri ngapain kamu terima bantuan saya," saut Farhan.
"Bapak dosen masih muda udah pikun ya ternyata, tadi kan yang narik tangan saya pak dosen. Gak usah pura-pura pikun deh nanti pikun beneran tau rasa," ucap Lala.
***
Farhan dan Raina kini berada di tempat kulineran yang ada di area wisata tersebut. Selesai memesan makanan dan minuman, mereka mendudukkan diri mereka di salah satu kursi kosong sambil menunggu pesanan datang.
Fathan melirik Genta yang berada di kursi sebelahnya dengan sinis. Ia kesal sekali dengan Genta yang terus-terusan mengikutinya.
Menyadari Fathan yang sedang meliriknya, Genta pun berniat meledek Fathan. Ia memasang wajah jeleknya dan menjulurkan lidahnya meledek Fathan.
"Genta, bisa gak sih lo jauh-jauh minimal 10 meter aja deh," ucap Fathan.
"Gak mau ah. Masa depan gw ada disini ngapain gw jauh-jauh," tolak Genta.
Fathan menatap Genta geram. Ia tidak suka saat Genta menyebut Raina sebagai masa depannya.
Bener-bener ya ini orang ngajak ribut banget. Dari tadi gw nyoba nahan tapi dia terus-terusan nantangin gw. Awas lo ya, tunggu pembalasan gw.
"Udahlah kak biarin aja gak usah didengerin. Lagian kan kak Genta beda meja sama kita. Mukanya jelek banget tau kalo marah-marah terus," ucap Raina berusaha mengalihkan perhatian Fathan supaya tidak terus-terusan meladeni Genta.
"Kamu enak tinggal ngomong doang. Lah aku mana bisa liat kamu terus-terusan di deketin sama dia. Coba deh kamu kalo ada di posisi aku. Aku dideketin sama cewe terus aku senyumin cewe itu. Sebel gak kamu?" ucap Fathan dengan wajah kesalnya.
"Yah janganlah. Walaupun dulu aku sering banget liat kamu di deketin cewe-cewe dan aku pun udah kebal, tapi kayanya sekarang aku gak rela deh," ucap Raina dengan cengirannya.
"Yaudah kamu aja gak rela gimana aku. Pokoknya kamu harus janji sama aku jangan mau deket-deket sama dia," ucap Fathan.
"Kalo kak Gentanya yang deketin aku gimana. Terus kalo kita gak sengaja ketemu gimana?" tanya Raina.
"Kalo dia deketin kamu, kamu pergi aja dari sana tinggalin dia atau kamu bilang aja ke aku biar aku siapin laba-laba buat dia," saut Fathan.
"Pacar aku sekarang cemburuan banget ya, padahal dulu setiap aku deket 1 meter aja sama kamu langsung diusir Haha. Lucu ya kalo inget dulu, apalagi inget kamu yang cuek, galak, ngeselin kerjaannya marah-marah terus," ucap Raina tersenyum membayangkan bagaimana awal ia dekat dengan Fathan.
Genta menatap makanan yang baru saja diletakkan oleh pelayan, ia melihat Fathan dan Raina yang asik dengan obrolan mereka. Genta tersenyum dan terbesit niatnya untuk mengganggu mereka.
"Makanannya udah datang noh, pacaran terus kalian berdua sampe gak sadar pesanannya udah di meja," tegur Genta.
Mendengar suara Genta, membuat Raina refleks melihat meja dan benar makanan serta minuman yang dirinya dan Fathan pesan sudah ada di atas meja.
"Loh iya makanannya udah nyampe. Kok aku gak tau ya kak," heran Raina.
"Makanya Raina kamu jangan keseringan sama Fathan si muka asem nanti yang ada kamu gak balik-balik ke dunia," saut Genta.
"Berisik lo! Gw siram nih ya," omel Fathan.
"Gw udah ada minum, masih banyak juga lagi nih. Buat lo aja tuh minumannya jangan dikasih ke gw. Gw yakin pasti lo haus banget kan," saut Genta.
"Kak Genta udah deh jangan mancing terus. Mendingan kak Genta makan aja sana gak usah gangguin kak Fathan terus," tegur Raina.
"Oke deh siap masa depanku. Berhubung kamu yang minta, aku pasti siap kok Raina," ucap Genta sambil mengedipkan sebelah matanya.
Fathan mengepalkan tangannya, ia menggeser kursinya berniat menghampiri Genta namun terlebih dahulu Raina menahan lengan Fathan dan membujuknya.
"Udah ya kamu tenang jangan kepancing sama kak Genta. Dia cuma seneng buat kamu kesal tau gak. Kalo kamu kesal kaya gini yang ada dia makin seneng mancing kamu," ucap Raina.
***
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan saran. Kalau ad saran boleh dititipkan di kolom komentar buat bahan evaluasi aku di bab selanjutnya. Maaf kalo seandainya ada kesamaan di dalam cerita ini dengan cerita yang lain.
Sekian dan terima kasih.