SENIOR

SENIOR
Perempuan


__ADS_3

Setengah jam lamanya Reno dan Lala menunggu Fano namun tidak yang ditunggu tak kunjung menampakan dirinya.


"Ini si Fano kemana sih, jangan-jangan diculik lagi sama tukang kudanya," oceh Reno.


Lala menatap Reno sebal ia melirik kaleng kosong bekas minuman dengan cepat ia mengambilnya lalu melemparkan kaleng tersebut ke arah Reno beruntungnya tepat sasaran.


"Sembarangan lo kalo ngomong ya Kak. Pak Budi tuh baik gak mungkin dia nyulik Fano yang ada Fano yang nyulik pak Budi kali," ketus Lala.


"Yaudah dong biasa aja gak usah lempar-lempar gak ada sopannya banget sih, lagi pula gak ada salahnya juga aku ngomong begitu soalnya si Fano gak balik-balik dari tadi sedangkan pak Budi kamu itu orang yang baru dikenal," omel Reno.


Di tengah keributan kedua manusia tersebut terlihat delman yang sedang berjalan mendekati mereka namun keduanya tidak menghiraukannya dan terus berdebat saling menyalahkan satu sama lain.


Fano yang kini posisinya berada di samping pak Budi melihat kedua kakaknya yang tidak menghiraukan kedatangan kuda pun panik dan berteriak.


"Kak Lalaaa kak Leno minggil nanti diseluduk kuda, huaa pak Bud ini kudanya gak bisa ngelem mendadak ya?" teriak Fano.


"Bisa Pano bisa, jadi Pano maunya gimana?" tanya pak Budi.


"Ohh bisa ya Pano kila gak bisa nanti meleka mental ampe Amelika lagi gala-gala diseluduk kuda, yaudah Pak seluduk dikit aja bial meleka belenti belantemnya," ucap Fano terkikik.


Pak Budi menuruti perkataan Fano ia mengendalikan kuda dengan hati-hati agar tidak berlebihan menyeruduk keduanya dan benar saja karena keahlian pak Budi yang sudah 30 tahun bekerja bersama kuda, kuda tersebut sedikit menyenggol bokong Reno kembuat Reno kehilangan keseimbangannya lalu menabrak tubuh Lala yang berada di hadapannya hingga akhirnya mereka terjatuh bersama di atas aspal.


Fano yang masih berada di atas delman tak hentinya menertawakan mereka ia tertawa terbahak-bahak hingga membuat perutnya sakit.


"Pak Bud punya hp gak?" tanya Fano.


"Ada, tapi hp Bapak jadul emangnya buat apa?" ucap pak Budi.


"Buat poto meleka telus Pano kasih ke mama Wina deh," ucap Fano tersenyum.


Fano melirik seorang anak kecil yang sedang memainkan ponselnya ia mengembangkan senyumnya merapikan rambutnya.


"Pano udah makin ganteng belom, Pak?" tanya Fano.


"Udah," jawab pak Budi.


Fano menghampiri anak tersebut lalu mendudukan dirinya di samping anak itu tak lupa dengan senyum semanis mungkin.


"Hai, kenalin aku Pano masih jomblo," sapa Fano.


Penumpang yang lainnya melirik Fano dengan tatapan berbagai macam, hingga membuat Fano tersadar dengan tujuannya.


"Aku minjem hp nya bental boleh gak? nanti aku kasih nomol wa aku deh," ucap Fano dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa.


Setelah membujuknya sekian lama akhirnya ia mendapatkan ponsel tersebut namun ia sudah terlambat karena keduanya sudah beranjak dari posisi sebelumnya membuatnya mendengus sebal lalu mengembalikan ponsel milik anak perempuan yang baru saja ia dapatkan.


"Demi apa lo tadi nyium jidat gw huaaa kasian jidat gw," teriak Lala mengusap jidatnya berkali-kali.


"Gak sengaja. Ngomel aja noh sama kuda lagian kasian juga bibir aku kayanya besok nih bibir bakal jontor gara-gara nyium jidat kamu," ucap Reno sambil menyentil jidat Lala.


"Cie cie kak Lala poooo kak Leno Pano aduin ah ke mama Wina sama papa Gio, telnyata ide Pano nyuluh pak Bud tablak kalian kelen juga ya " ledek Fano dengan senyum bangganya.


"Oh jadi ini kerjaan kamu ya bandel banget sekarang ya, ayo pulang kalian," omel Reno berjalan menuju mobilnya kedua tanganya sudah berada di telinga Lala dan Fano membawa mereka menuju mobil dengan geram.


"Bentar-bentar gw mau pamit dulu sama pak Budi," ucap Lala segera menghampiri pak Budi untuk berpamitan.


*******


Kini ketiganya sudah berada di depan rumah mereka berjalan memasuki rumah beriiringan dengan tangan Reno yang masih berlanjut menarik telinga mereka.


Terlihat yang lainnya yang sudah berkempul membentuk formasi dengan tatapan garangnya yang siap menghukum Lala.


"Tuh sukurin udah disambut kamu sama mereka liat tuh masing-masing udah megang apa," ucap Reno.


"Mereka kesurupan ya? Kok mukanya pada serem begitu kak Reno baik deh tolongin gw yaaa," ucap Lala bergedik ngeri.


"Pano punya cala bial kak Lala gak dikeloyok sama meleka, mau pake jasa Pano gak ? gelatis kok buat kak Lala," ucap Fano tersenyum sambil terus memegangi telinganya.


"Yaudah terserah Fano dah yang penting gw gak diserbu sama mereka serem banget segala ada yang bawa cangkul sama gayung lagi jadi mistis auranya," ucap Lala pasrah.


Fano tersenyum dengan semangat ia berjalan menuju yang lainnya dengan telinga yang masih ditarik oleh Reno membuat Reno kesusahan dan akhirnya ia menyerah dan melepaskan tangannya dari telinga Fano namun tidak dengan Lala.


"Fano dilepasin gw engga pilih kasih banget sih," ucap Lala cemberut.


Terlihat yang lainnya sudah berjalan menghampiri Lala hendak memukul Lala dengan sapu namun tubuh Lala di halangi oleh Reno hingga Reno yang terkena pukulan tersebut.


"Stoppppppp!" teriak Fano berhasil membuat yang lainnya menghentikan aksi mereka.


"Jangan pukul-pukul meleka, Pano punya belita gembila buat kalian, penasalan gak? pasti penasalan kan" ucap Fano terkekeh.


"Berita apa? awas aja kalo gak penting lo juga kudu ikut sama mereka kita tawuran sekarang," ucap Reyhan.


"Kak Lala kak Leno maapin Pano ya hehe Pano belkhianat dulu ini demi menghindali tawulan di lumah kita," ucap Fano menyengir.


"Meleka pacalan yeayyy," ucap Fano berjoget-joget dengan semangatnya.


Sedangkan yang lainnya memandang Fano dengan tatapan aneh.


"Terus gembiranya dimana sih bambanggggg," ucap Reyhan geram.


"Gembila dong jadinya Papa sama Mama setiap hali gak cemas liat kak Leno yang ngejomblo telus," ucap Fano menyengir.


"Apaan si hoax itu jangan didengerin ya. Kak Reno aja tadi pagi jalan ke toko kue sama pacarnya yang menor mana mungkin kita pacaran," bantah Lala sambil melirik Reno sebal.


"Ini juga hoax, sama aja kalian berdua ini sama-sama rusuh sama-sama penebar hoax," ucap Reno menempelkan telapak tangannya di wajah Lala.

__ADS_1


"Yaampun kasian muka gw ketempelan tangan lo, tadi jidat gw lo cium sekarang muka gw lo pegang huaaa," oceh Lala tanpa ia sadari kini semua mata tertuju padanya seolah-olah sedang meminta penjelasan.


"Hahaha ngaku sendili kan dia tanpa Pano kasih tau sukul deh jadinya Pano gak belhianat," ucap Fano tertawa.


******


Raina dan Fathan sedang berpamitan minta izin keluar rumah pada Wina dan Gio.


"Tante aku izin bawa Rainanya keluar bentar ya," ucap Fathan.


"Mau kemana emangnya?" tanya Wina.


"Aku mau nemenin kak Fathan nyari hadiah buat kembarannya," jawab Raina.


"Loh kamu punya kembaran Fath, ternyata yang begini ada copyan nya juga ya jadi penasaran sama kembaran kamu," ucap Gio.


"Hehe iya punya Om, cuma dia lagi kuliah di london 2 minggu lagi selesai dan balik lagi ke indonesia nanti Fathan bawa kesini kenalan sama Om," ucap Fathan tersenyum.


"Yaudah sono deh hati-hati kalian ya, Mama mau introgasi nih anak dua dulu jangan lupa ya bawain Mama makanan yang aneh-aneh," ucap Wina sambil melirik Reno dan Lala bergantian.


Keduanya berpamitan mencium tangan Wina dan Gio lalu pergi meninggalkan rumah.


"Sekarang Mama mau nanya sama kalian berdua jawab yang jujur!" tegas Wina.


"Ma kan awalnya kalian mau marah sama nih anak gara-gara ngilang kenapa jadi gini sih berasa lagi kegrebek selingkuh sama warga," ucap Reno melirik Lala sebal.


"Yaudah Mama Wina mau nanya apa, btw Lala mau ngingetin nih kita belom beberes rumah tau kan kita dihukum tuh mending sekarang Lala nyapu aja ya," ucap Lala sengaja mengalihkan o


pembicaraan berniat ingin beranjak dari duduknya namun tidak jadi saat melihat Wina yang sudah melotot.


"Bener kalian ciuman?" tanya Wina dengan serius.


Dengan bersamaan mereka menganggukan kepala lalu melirik satu sama lain.


"Kok bisaaaa, wah ini mah kudu buru-buru dinikahin Mah parah lo bedua yaa," ucap Gio dengan heboh.


"Tapi ceritanya gak gitu Papa Gio ciumannya gak sengaja gara-gara kak Reno disruduk kuda terus gak niban Lala gak sengaja begitu, sumpah nih ya jidat Lala dari tadi marah-marah terus gara-gara dicium kak Reno," ucap Lala berusaha menjelaskan pada Wina dan Gio.


"Iya kali ini dia gak hoax, tapi bibir Reno juga dari tadi teriak-teriak minta di cuci nih," ucap Reno.


"Mama gak percaya sama kalian, Fanooo sini Nak," ucap Wina ia sengaja memanggil Fano yang sedang asik tiduran memakan biskuit sambil menonton kartun.


Fano beranjak dari rebahannya menghampiri Wina dengan biskuit di tangannya ia menaik turunkan alisnya menatap Wina.


"Fano anak baik kan jadi jangan boong yaa, Mama mau tanya bener kak Reno nyium kak Lala gak sengaja karena disruduk kuda," ucap Wina menatap lekat Fano yang sedang melirik Lala dan Reno.


"Fano liat Mama aja jangan lirik mereka," sambung Gio.


Fano menganggukan kepalanya membuat Wina memejamkan matanya lalu membiarkan Fano kembali menonton kartun.


"Padahal Mama berharapnya kalian boong tapi yaudahlah gapapa berarti Reno masih inget wejangan Mama," ucap Wina.


Lala menghela nafas pasrah ia beranjak dari duduknya bejalan gontai mengambil sapu disusul oleh Reno.


"Gw kira hukumannya kelar tapi ternyata masih berlanjut," keluh Lala.


"Hukuman kita kan seminggu ya jelas belum kelarlah," saut Reno.


*******


Raina dan Fathan sudah sampai di salah satu mall mereka sudah memasuki beberapa toko namun belum menemukan barang yang cocok.


"Kak mau nyari apaan sih dari tadi kita keluar masuk toko tapi gak ada yang dibeli," tanya Raina.


"Gak tau nih belum ada yang cocok bantuin pilih dong aku gak bakat belanja," ucap Fathan.


Mereka memasuki toko kembali lalu memilih dan akhirnya ketemu barang yang cocok dengan kemauan Fathan mereka berniat membayar barang tersebut menuju kasir, belum sampai disana mereka berpapasan dengan seorang perempuan.


"Fathan? Ini Fathan kan apa Farhan," sapa perempuan tersebut.


Sementara yang Fathan menatap perempuan yang berada di hadapannya dengan dingin ia menarik tangan Raina meninggalkan perempuan yang baru saja menyapanya.


Perempuan tersebut tersenyum dan menggelengka kepalanya saat melihat sikap laki-laki yang baru saja ia temui.


"Fathan tunggu," teriaknya.


"Kak itu dia manggil terus temuin dulu lah kasian sampe teriak-teriak begitu," ucap Raina.


"Udalah biarin aja gak penting," tegas Fathan.


Raina terdiam saat melihat perubahan sikap Fathan sehabis bertemu dengan perempuan tersebut.


Selesai membayar barang yang dipilih Fathan mengajak Raina ke salah satu restoran.


Raina terus memperhatikan perubahan sikap Fathan yang tidak seperti biasanya, ia ingin sekali bertanya tapi ia tidak punya keberanian hingga akhirnya ia lebih memilih diam.


Sementara Fathan sibuk dengan fikirannya sendiri membayangkan pertemuannya dengan perempuan tadi di toko.


Kenapa harus ketemu lagi si, harusnya kan dia di luar negeri kenapa tiba-tiba ada disini.


Pelayan sudah datang menanyakan pesanan mereka namun Fathan tidak bergeming membuat Raina menatapnya sebal.


"Kalo penasaran sama perempuan itu harusnya tadi jangan kabur Kak. Tuh Mba nya udah dateng mau pesan apaan," ketus Raina sambil menepuk tangannya di depan wajah Fathan.


"Ah iya kamu ngomong apa," tanya Fathan yang kaget dengan Raina yang tiba-tiba menepukkan tangannya di depan wajahnya.

__ADS_1


Raina menatap Fathan geram enggan menjawab perkataan Fathan hingga ia memilih memainkan ponselnya.


Pelayan yang menyaksikan drama tersebut tersenyum pada Fathan.


"Mau pesan apa ya?" tanya pelayan.


"Ah iya saya pesan menu paling favorite disini 2 ya," ucap Fathan melirik Raina yang sibuk dengan ponselnya padahal nyatanya hanya bolak- balik menu yang ada di ponselnya saja.


"Gitu ya sekarang diajak ngomong bukannya nyaut malah main hp," sindir Fathan yang belum menyadari kesalahannya.


"Tolong ya berkaca kalo ngomong tuh di samping ada kaca silahkan ngaca," ketus Raina.


"Kamu kenapa sih tiba-tiba ketus begitu kayanya tadi gak gini, lagi pms?" tanya Fathan.


"Udahlah gak usah dibahas bikin tambah kesel," ucap Raina.


Fathan menggelengkan kepalanya menghela nafas pasrah.


Sabar Fathan sabar lo harus ngerti hormon perempuan yang lagi pms tuh suka bikin emosi tapi lo harus sabar.


Suasana menjadi hening tidak ada satu pun dari mereka yang berniat membuka suara hingga pelayan datang membawa pesanan.


"Selamat menikmati," ucap pelayan dengan senyum ramahnya lalu pergi meninggalkan mereka setelah makanan sudah berada diatas meja semua.


Fathan menatap Raina yang masih sibuk dengan ponselnya dengan cepat Fathan mengambil paksa ponsel Raina.


"Makan dulu, main hp gak bikin kenyang," tegas Fathan.


Raina menatap Fathan jengkel ia mengambil sendok tidak santai membuat Fathan mengerutkan alisnya.


"Kamu kenapa sih liatin aku kaya ngeliatin musuh bebuyutan, kalo aku ada salah bilang aja biar aku intropeksi diri," ucap Fathan gusar karena kebingungan dengan sikap Raina.


"Harusnya kamu tanya sama diri kamu sendiri kamu tuh salah apa," ketus Raina sambil memakan makanannya.


"Kalo aku tanya ke diri aku terus yang jawab siapa sayangggg," ucap Fathan geram sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.


Gini banget sih ngeladenin cewe kalo lagi ngambek suka gak jelas ditanyain jawabannya malah bikin tambah bingung padahal tinggal jawab aja masalah selesaikan.


"Gak usah ngomongin aku di dalem hati dosaa tau," ketus Raina membuat Fathan terkejut refleks memegangi dadanya.


"Kamu kok tau?" tanya Fathan heran.


"Kamu ada masa lalu sama perempuan yang tadi aja aku tau," sindir Raina dengan asal nyatanya Raina sama sekali tidak tahu menahu dengan perempuan tersebut ia hanya menduga-duga saja melalui sikap Fathan.


"Perempuan mana? Mba yang tadi nganterin makanan? Ya ampun sayang jadi gara-gara itu kamu ketus begini," ucap Fathan tertawa.


"Bodoamatlah kesel ngomong sama kamu gak ngerti-ngerti," ketus Raina.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.......


Bab terpanjang yang aku buat 😂 selamat membaca yaaa gaisss 😉 terus support aku dengan komentar-komentar gumush kalian 😉


__ADS_2