
Saat sedang asik berfoto-foto menggunakan ponsel orang lain, Lala membulatkan matanya saat melihat Fano dan Cila yang sedang bermain lari-larian.
"Itu beneran mereka apa hantu yang nyamar jadi mereka ya," gumam Lala.
Lala memberikan ponsel pada pemiliknya setelah selesai mengirim beberapa fotonya.
"Mba itu dua anak kecil beneran apa hantu ya Mba. Lala liat sih mereka napak di tanah cuma Lala mau mastiin aja," tanya Lala.
"Anak perempuan sama laki-laki yang lagi lari-larian itu ya," ucap orang tersebut sambil menunjuk ke arah Fano dan Cila.
"Makasih Mba atas segalanya. Lala mau kesana dulu ya soalnya kangen banget sama mereka bye bye," pamit Lala sambil melambai-lambaikan tangannya pada orang tersebut.
"Fanooo ... Cila ..." teriak Lala sambil berlarian menyusul mereka.
Fano dan Cila berhenti kemudian menoleh ke sumber suara yang memanggil nama mereka.
"Ada kak Lala tuh Fan, kita ceritain aja yuk kalo kak Zara berantem sama kak Farhan," ucap Cila.
"Ah iyaaa ayoo kita sampelin juga. Kak Lalaaaa pens sejatinya Pano huaa kangen belat nih Pano." Fano berlarian sambil menggandeng tangan Cila.
Lala tersenyum saat kedua anak kecil yang sangat ia sayangi berlarian menyusul dirinya kemudian memeluknya dengan bersamaan.
"Kak Lala kenapa lama banget sih kesininya. Tadi ada yang selu tau soalnya ada yang belantem. Pano mau kasih tau kalo disini ada olang jahat kak," adu Fano.
"Siapa yang berantem, yah telat dong kak Lala gak bisa ikutan," ucap Lala memasang wajah muramnya.
"Kak Zara sama kak Farhan yang berantem sampe dipukul terus hidungnya berdarah," jawab Cila.
Lala membelalakan matanya saat mendengar jawaban dari Cila, ia tahu anak kecil tidak mungkin berbohong, tetapi ia bingung apa alasan mereka ribut sampai bermain fisik.
"Kalian gak bohongin kak Lala kan?" Lala ingin memastikan kembali bahwa kedua kerucil sedang memberikan laporan yang benar padanya.
Mereka mengangguk bersamaan dengan wajah polos mereka dan Lala yakin mereka sedang tidak membohonginya.
"Kok bisa? Emangnya mereka berantemin apa sih. Terus yang dipukul sampe hidungnya berdarah siapa? Terus keadaannya gimana?" tanya Lala dengan rasa penasarannya menghujani mereka dengan banyak pertanyaan hingga tanpa ia sadari kedua anak tersebut melongo menatap Lala dengan tatapan bingungnya.
"Cila apal gak sama peltanyaan kak Lala? Pano lupa soalnya. Kita bagi dua aja yaa patungan jawabnya," ucap Fano.
Cila menggelengkan kepalanya, sejujurnya ia hanya mengingat dua pertanyaan terakhir Raina selebihnya ia tidak ingat.
__ADS_1
"Cuma 2 doang," saut Cila.
"Kak Lala kalo nanya satu-satu dong. Kalo nanya ke Mbah gugel aja satu-satu masa ke Pano banyak banget," protes Fano.
Lala menepuk dahinya dan menghela nafas pasrahnya, ia lupa kini sedang berbicara dengan anak-anak.
"Oke-Oke. Siapa yang dipukul sampe berdarah dan kenapa bisa dipukul, buruan jawab," ucap Lala.
"Pano jawab yang peltama telus Cila yang kedua ya soalnya kan Pano masih Paud gak bisa jawab soal yang susah-susah," ucap Fano sementara Cila hanya menganggukkan kepalanya pasrah.
"Kak Zala yang tonjok kak ipin, kelen banget ya kak Zala bisa bikin kak ipin K.O . Pano jadi pengen belgulu sama kak Zala bial jago tonjok-tonjokkan," oceh Fano.
"Kalo pertanyaan kedua Cila gak tau banget yang bener kaya apa, tapi menurut hasil pendengaran kita berdua tadi kita denger kalo kak Zara sama kak Farhan berantem gara-gara kak Farhan gak mau percaya sama apa yang dibilangin kak Zara," jelas Cila.
"Telus ada olang jahat disana yang bikin kak Zala sama kak upin belantem. Tapi tenang aja Pano sama kak Zala dan Cila punya misi rahasia buat bikin olang jahatnya kapok, ya gak Cil?" ucal Fano tersenyum bangga.
"Cil cil cil aja kamu Fano disini kan yang bocil kamu Haha," ledek Lala.
"Cil cila maksud Pano. Lagian masih tinggian Pano juga wle," ejek Fano tak mau kalah.
"Emangnya kak Zara ngomong apa sampe kak Farhan gak percaya sama dia," tanya Lala.
"Ada cewe yang mau lusakin semua ini telus ketauan sama kak Zala dan kak Zala malah dimalahin sama kak ipin. Kak ipin oneng banget ya malah pelcaya sama olang jahat, Pano aja yang anak kecil ngelti masa olang gede gak ngelti. Pano gak mau jadi olang gede ah soalnya gak asik," ucap Fano.
"Ada pokoknya cewe," sambung Cila.
"Cantikkan mana sama kak Lala? Pasti kak Lala kan ya," ucap Lala dengan percaya diri.
"Cewe yang tadi," jawab Fano dan Cila bersamaan.
Lala memelototkan matanya pada mereka, ingin sekali rasanya menelan kedua bocah di hadapannya hidup-hidup. Bisa-bisanya mereka jujur sekali mengatakan perempuan tersebut lebih cantik dari dirinya, seharusnya kan mereka bisa berbohong sedikit untuk dirinya.
"Gak jadi kangen kalian deh kalo gitu." Lala memutar tubuhnya membelakangi mereka.
"Gitu aja malah dasal bapelan kaya wapel huuu," sorak Fano.
Raina dan Fathan yang sedang memantau sekitaran tidak sengaja melihat Lala dan kedua bocah biang rusuh sedang bersama. Raina yang melihatnya pun segera berjalan menghampiri mereka.
"Lalaaaa, ya ampun lo kemana aja kenapa baru sampe sih. Lo gak tau ya semuanya udah ada disini kecuali lo. Tadi gw tanya sama Mama lo katanya lo lagi asik foto-foto disini," sapa Raina dengan heboh sambil memeluk Lala.
__ADS_1
"Iya gw suka banget liat dekorasinya Rain. Sumpah keren banget dekorasi pilihan lo makanya gw milih foto-foto disini aja padahal gw laper banget," saut Lala.
"Wuihh sejarah baru seorang tukang rusuh yang doyan makanan tiba-tiba aja nunda makannya cuma buat foto-foto," sindir Fathan sambil bertepuk tangan.
"Gak usah rese ya kak Fathan, mau gw jambak lo sampe botak biar gak perlu ke tukang cukur lagi," ketus Lala.
"Kita dukung siapa ya Cila. Pano jadi galau nih kalo dukung kak Lala nanti kak jungkook kembalan Pano jadi botak kasian. Tapi kalo Pano dukung kak Jungkook bisa-bisa Pano gak ditemenin lagi sama kak Lala, haduh pusing kepala pangelan," keluh Fano sambil memegang kepalanya.
"Cila sih bela kak Lala karena kak Lala segalanya buat Cila, Cila bakalan galau kalo disuruh pilih kak Reno apa kak Lala," ucap Cila tersenyum membayangkan awal mula pertemuannya dengan Lala.
"Yah itu sih Pano bisa lebih galau dali ini Cila gendut kecil," ucap Fano.
"Kamu beldosa sekali Pano ngatain aku telus." Cila sengaja mengikuti cara bicara Fano untuk membuat Fano tersindir.
"Ah iya tadi katanya mereka Zara sama kembarannya dia berantem ya. Sebenernya sih denger mereka berantem udah gak asing, cuman yang gak asing itu pukulannya. Gw tau banget Zara tuh gak mungkin mukul kalo dia gak kesel banget apalagi sampe berdarah," ucap Lala yang belum puas dengan penjelasan dari Fano dan Cila.
"Kita juga kurang tau gimana kejadiannya soalnya sekarang Zara gak mau ngomong sama siapapun keliatannya dia lagi kesel banget, lo mau coba gak ngomong sama dia La, barang kali dia mau diajak ngomong sama lo. Bonusnya lo bisa tau kejadian lengkapnya," ucap Raina.
"Eh gw dapet pesan sekaligus amanah dari para emak-emak kalo lo gak boleh ketemu sama bang Reno ya. Awas aja sampe ketauan gw bakal aduin ke forum emak-emak di dalem," ucap Fathan dengan malas.
Lala mendengus pasrah saat mendengar ucapan Fathan, rasanya telinga dia mulai hafal dengan pesan-pesan dari kumpulan Ibu-ibu yang selalu mengatakan hal yang sama berulang kali.
"Iya-iya gak usah diomongin udah hapal gw di luar kepala bahkan sebelum lo ngomong gw udah tau," ketus Lala berjalan melangkahkan kakinya meninggalkan mereka semua.
"Liat tuh sahabat kesayangan kamu tingkahnya ngeselin banget kalo bukan karena kamu nih ya, udah aku tendang dia ke pluto," keluh Fathan.
"Jangan gitu ah, nanti kalo Lala pergi ke pluto yang galau banyak tau Haha," ucap Raina.
"Ayooo dua bocil kita ke penginapan kalian belum makan kan pasti kalian laper banget deh, ada es krim loh di kulkas," ajak Fathan menggendong keduanya.
"Huaaa asikkkk kita digendong Cila Haha," teriak Fano dengan heboh.
Raina yang melihat kehebohan Fano hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu gak pegel kak gendong mereka berdua, kalo gak kuat turunin aja biar mereka jalan sendiri," ucap Raina menatap iba pada Fathan yang terlihat kelelahan.
***
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya gais. Kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar yaaa.
Sekian dan terima kasih.