
Fathan dan Raina panik mereka terus berkeliling mencari Fano disekitar pintu masuk.
"Kak Fathan tadi kan Fano digendong sama lo kok bisa terbang sih tuh anak,"omel Raina.
"Tadi gw turunin bentar soalnya berat udah gitu kita ngantri lagi diloket,"ucap Fathan.
"Ya terus gimana ini, pokoknya cari sampe ketemu kalo belum ketemu kita gak usah pulang bisa bisa abis gw diocehin Mama seminggu penuh,"omel Raina.
Sementara Fano yang berada disekitar loket terus melirik sekitar dan memegangi perutnya yang berbunyi.
"Duh Pano lapel lagi, telnyata jadi anak ilang gak enak ya,"keluh Fano.
Fano beranjak dari duduknya mendekati penjaga pintu masuk dan bergegas mencari makanan.
"Mba cantik Pano mau kesana bental ya mau makan dulu tempat Pano jagain ya nanti Pano balik lagi,"ucap Fano tersenyum lebar.
"Okey, nanti balik lagi ya jangan pergi kemana mana takutnya nanti Kakak Fano kesini,"ucap Penjaga pintu masuk.
"Ahsiappppp. "ucap Fano berjalan menghampiri penjual makanan.
Fano berada dihadapan penjual pecel ia menatap Ibu penjual dengan tersenyum lebar.
"Ibu, Pano lapel tapi gak punya uang Pano ngutang dulu boleh gak nanti kalo Pano punya uang Pano bayal,"ucap Fano.
"Emangnya orang tua Pano mana,"tanya Ibu penjual pecel.
"Olang tua Pano lagi jalan jalan Pano gak diajak jaat bangetkan Bu, Pano dititipin di Mama Wina tapi Pano kesini sama kak Jungkook dan kak Laina telus meleka ilang,"ucap Fano cemberut.
"Duh kasian banget si yaudah Pano mau apa,"tanya
Penjual pecel.
"Bu tapi nama aku Pano bukan Pano,"protes Fano.
"Sama aja atuh, Pano doyan pecel gak,"ucap Penjual pecel.
"Pano doyan Bu,"jawab Fano semangat.
"Yaudah Ibu ambilin dulu ya, tunggu sebentar,"ucap Penjual pecel.
Penjual pecel mengambilkan 1 porsi pecel untuk Fano ia sedikit bingung ketika bertemu anak kecil yang menyukai pecel.
Fano melihat Penjual yang dengan cekatan memasukan sayur kedalam kertas pembungkus ia mengerutkan alisnya saat melihat apa yang dimasukan oleh penjual.
"Bu kok pecelnya sayul semua, ikan lelenya mana,"tanya Fano bingung.
"Ini pecel sayur, pecel sayur gak pake ikan lele,"jawab Penjual tertawa.
Orang sekitarnya yang sedang menunggu pecel ikut dibuat tertawa melihat tingkah Fano.
"Yaudah deh gapapa, Pano suka sayul kok yang banyak ya Bu pano lapel banget,"ucap Fano mengelus perutnya.
Ibu penjual pecel selesai membungkus makanan untuk Fano ia memberikan makanan tersebut beserta sendoknya.
"Makasih ya Bu, nanti kalo Pano punya uang Pano bayal deh sekalang Pano ngutang dulu ya,"ucap Fano sembari merogoh kantong celananya ia mengembangkan senyumnya saat menemuka uang koin bertulisan 500.
"Nih Bu Pano nemu uang, Pano bayal segini dulu ya nanti nyusul kulangnya,"ucap Fano memberikan uang koin pada Penjual pecel.
Fano kembali menuju loket dengan bersenandung ria sembari menggoyang goyangkan kantong yang berisi bungkusan pecel.
"Hallo Mba cantik, Pano mau makan pecel dulu ya,"sapa Fano kembali duduk di tempat ia duduk sebelumnya.
Mba Penjaga pintu melihat Fano yang membuka bungkusan makanan ia terkaget melihat isinya sebungkus pecel sayuran.
"Fano suka makan pecel sayur,"tanya Mba penjaga
pintu.
"Pano mah suka apa aja Mba, tapi aneh deh Mba masa pecelnya gak pake ikan Lele biasanya Pano kalo beli pecel sama Papa pasti ada ikan lelenya,"ucap Fano sembari memasukan pecel ke dalam mulutnya.
Raina merasakan kakinya pegal sedari tadi berputar putar mencari Fano yang tidak kunjung ketemu.
__ADS_1
"Kak kaki gw pegel,"ucap Raina menghentikan langkahnya.
"Kuat jalan gak, kalo gak kuat naik aja kepunggung gw,"tanya Fathan yang tidak tega melihat Raina
kelelahan.
"Gak ah malu banyak orang, yaudah yuk lanjut cari lagi,"tolak Raina memaksakan mencari Fano kembali.
"Coba kita ke loket lagi deh kali aja Fano balik ke loket,"ucap Fathan.
"Kita udah cari disitu mana mungkin dia ada disitu,"ucap Raina.
"Gak ada yang gak mungkin, udah yuk ikut aja,"ucap Fathan menarik tangan Raina.
Fathan dan Raina sampai diloket mereka menghela
nafasnya lega bercampur kesal saat melihat Fano asik makan di samping loket. Mereka menghampiri Fano dengan perasaan jengkel.
"Enak yaaa,"tegur Raina.
"Enak banget telnyata pecel sayul gak kalah enak sama pecel Lele,"ucap Fano tanpa menoleh terus memasukan pecel ke dalam mulutnya.
Fathan melirik apa yang dimakan oleh Fano sampai membuatnya tidak menoleh saat disapa oleh Raina, ia menatap bingung kearah Fano baru ini ia melihat anak seumuran Fano lahap sekali memakan pecel sayuran.
"Mba cantik mau gak tapi udah mau abis,"tawar Fano menyengir dan menoleh.
Fano tercengang melihat Raina dan Fathan yang sudah berada dihadapannya ia bersujud dan mengucapkan doa dan rasa syukurnya saat bertemu mereka.
"Akhirnya Pano gak jadi anak ilang, muka ganteng Pano gak jadi ditempelin di tiang listlik,"ucap Fano berloncat loncatan.
"Eh kemana aja lo bocil, capek tau gak nyariin lo muter muter taunya asik makan disini,"omel Raina.
"Jangan dimarahin nanti nangis lo yang pusing gw gak mau bantuin ya,"ucap Fathan.
"Fano kemana aja, terus itu makanan dapet dari mana emang Fano punya uang,"tanya Fathan mensejajarkan tubuhnya dengan Fano.
"Fano gak kemana mana dali tadi sini sama Mba cantik, telus Pano lapel pelut Pano bunyi bunyi kaya konsel, enggak adanya gope, Pano ngutang sama Ibu yang jualan kak Jungkook bayalin ya utang Pano nanti Pano dilapolin kepolisi gimana gala gala gak bayal utang,"ucap Fano.
"Yaampunnn Fano, siapa yang ngajarin ngutang,"ucap Raina gemas.
"Aku liat kak Ley waktu itu ngutang sama temennya dia bilang ngutang dulu ntal bayalnya kalo punya uang telus dikasih sama temennya, yaudah Pano ikutin aja deh telus telnyata ampuh,"jawab Fano menyengir.
"Yaudah Ibunya dimana, kita bayar dulu abis itu masuk ke dalem ya,"tanya Fathan.
"Itu disitu, nanti dulu ya nanggung makanan pano belum abis kak Jungkook mau gak enak tau kak Laina gak boleh minta soalnya dia malah malah telus sama Pano,"ucap Fano membuang muka.
Fathan terkekeh mendengar perkataan Fano ia mencubit gemas pipi Fano.
"Ih jangan cubit pipi Pano kak Jungkook yang galak kak Laina cubit aja pipi dia sampe bolong,"ucap Fano dengan pipi yang menggembung karena pecel yang ia masukan ke dalam mulutnya teralu banyak.
"Oh iyaa yaa oke dehh,"ucap Fathan mencubit kedua Pipi Raina gemas.
"Ih apaan si sakit tauuuu, nyubit gak kira kira pake perasaan kek nyubitnya,"omel Raina memukul mukul kedua tangan Fathan yang berada di kedua pipinya.
"Kalo nyubit pake perasaan namanya ngelus bukan nyubit,"ucap Fathan.
Fano yang baru saja menyelesaikan makannya, membereskan sampah makanannya lalu mencari tempat sampah ia dibiasakan selalu membuang
sampah pada tempatnya.
"Udah selesaiii, ayoooo kita bayal utang sebelum Pano dipenjala,"ajak Fano menarik tangan Fathan.
Sesampainya di depan penjual pecel, Ibu yang berjualan mengerutkan dahinya saat melihat Fano
yang kembali.
"Pano udah selesai makanannya, mau lagi?"tanya Penjual pecel.
"Udah Bu Pano kenyang pecelnya enak banget sekalang Pano haus Ibu punya minum gak,"pinta Fano Ibu beranjak dari duduknya membelikan Fano air mineral.
Raina menahan geramnya saat mendengar Fano meminta minum pada penjual sampai membuat Ibu tersebut berjalan meninggalkan dagangannya.
__ADS_1
"Fanooo gak boleh gitu, kita kan kesini mau bayar utang kamu kenapa kamu minta lagi sama ibunya,"omel Raina.
"Sekalian kak Laina, nanti kasih uang yang banyak ya ke Ibu baik itu,"ucap Fano tersenyum lebar.
Ibu penjual pecel kembali dengan membawa 1 botol air meneral ditangannya ia membuka tutup botol memberikan pada Fano.
"Makasih banyak Ibu baik, Pano mau bayal utang nih jangan lapolin Pano ke Pak polisi ya,"ucap Fano.
"Bu makasih banyak ya Ibu udah baik banget sama anak nakal ini, berapa Bu yang dimakan sama minumnya sekalian,"ucap Raina.
Ibu tersebut kaget saat mengetahui Raina dan Fathan merupakan keluarga dari Fano, ia menggelengkan kepalanya ia ikhlas memberikannya pada Fano.
"Pano baik kok Neng gak nakal makanya Ibu seneng ngasih dia, gak usah diganti Ibu ikhlas,"tolak penjual pecel.
Fano mendengar perkataan Penjual pecel berjingkatan senang ia memeluk Ibu penjual.
"Benelan Bu tapi Pano gak dipenjalakan, Ibu baik banget Pano ngepens sama Ibu pokonya,"ucap Fano.
"Gapapa Bu ambil aja, kita gak enak kalo gak bayar,"paksa Fathan memberikan 2 lembar uang seratus ribu.
Ibu kaget melihat uang yang diberikan kebanyakan."Ini kebanyakan Mas,"ucap Ibu.
"Gapapa Bu ambil aja, saya pamit dulu yaa mau masuk ke dalam,"pamit Fathan.
"Tunggu dulu,"cegah Fano.
"Pano mau dibungkusin pecel buat di dalem, Pano mau piknik sambil makan pecel yang enak banget,"ucal Fano.
Fathan dan Raina menggelengkan kepalanya."Yaudah Bu bungkusin aja 3 sekalian,"ucap Fathan.
Penjual membungkuskan sesuai dengan permintaan mereka."Nih ambil aja gak usah bayar lagi,"ucap Ibu.
"Makasih banyak ya Bu, Pano mau masuk ke dalem dulu mau liat golila bye bye Bu muahhh,"pamit Fano mengedipkan matanya.
Mereka berjalan menuju pintu masuk, Fano tersenyum lebar saat bertemu dengan Mba yang selalu menemaninya saat menjadi anak hilang.
"Hai Mba cantik Pano sekalang udah gak jadi anak ilang, Pano mau liat golila dulu yaa bye bye,"sapa Fano mengedip ngedipkan matanya.
Raina yang melihat tingkah Fano memutar bola matanya geram."Ngedip ngedip mulu cacingan lo ya,"ledek Raina.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1