
Zara, Lala dan Aisyah membalikkan langkahnya kembali menghampiri Raina.
"Maira lo hobi banget si nyiram nyiram orang. Raina udah mandi tau gak perlu lo siram lagi,"ucap Lala.
"Berisik lo, mending lo diem aja deh gak usah ikut ikutan,"ucap Sinta.
"Kalian bertiga kurang kerjaan ya gangguin Raina terus pergi gak sebelum aku siram nih pake kuah bakso,"ancam Aisyah.
"Gw tau lo adenya Fathan jadi gw minta lo gak usah ikut ikutan dari pada lo gw siram juga,"omel Maira.
"Maksudnya apa lo bikin berita kaya gitu mau nyari sensasi!"bentak Maira.
Raina sedari tadi menahan geramnya ia berusaha sabar agar masalah tidak runyam perlahan ia tidak bisa menahan emosinya karena Maira yang terus menerus memojokannya dengan kata kata mencari sensasi.
"Denger ya, gw bukan lo yang kerjaannya tiap hari nyari sensasi biar dikenal satu kampus, buat apa gw bikin berita begitu yang ada gw yang rugi diomongin satu kampus. Lo tuh siapa si tiap hari datengin gw terus gak ada capeknya kalo lo begini gara gara kak Fathan ya lo kejar kak Fathan dong gak usah ngebully gw segala bawa dayang dayang lo, selama ini gw diem karena males ngeladenin orang gak penting kaya lo,"ucap Raina menatap Maira tajam matanya tertuju pada salah satu mahasiswa yang membawa minuman ditangannya.
"Ntar gw ganti,"ucap Raina pelan.
Byurrrrrrr!
Suara air es yang ditumpahkan oleh Raina tepat membasahi tubuh Maira berhasil membuat Maira emosi amarahnya semakin memuncak.
"Gw juga bisa nyiram doang, jangan banyak gaya deh mentang mentang di diemin malah makin jadi,"ucap Raina.
"Berani yaaaa lo nyiram gw,"teriak Maira menggertakan giginya.
"Yang bilang gw takut sama lo siapa, nyiram lo berkali kali juga gw berani sayangnya gw bukan orang yang suka nyari sensasi kaya lo,"ucap Raina ketus.
Disisi lain terlihat Rama yang sedang berlarian menuju kelasnya.
Raka mengerutkan alisnya saat melihat Rama yang berlarian secepat itu sehabis dari toilet ia berfikir kalau Rama habis bertemu dengan penunggu toilet.
"Kenapa lo, kaya abis ketemu setan aja,"ledek Raka.
Rama berusaha mengatur nafasnya yang sesak saat berlari.
"Ini lebih serem dari setan, Fathan istri baru lo berantem noh sama istri tua di kantin,"ucap Rama sembari mengambil air mineral yang terletak di meja.
Fathan menatap Rama kebingungan dengan perkataan Rama.
"Itu loh istri lo yang lagi jadi bahan gosipan sekampus, au ah susah ngomong sama lo Fath itu Raina berantem sama Maira dia disiram sama maira pake air, heran gw cewe kalo ribut segala siram siraman,"ucap Rama.
"Serius lo Ram?"tanya Fathan.
"Seriuslah lo pikir gw lari lari kaya tadi becanda, capek woyyyyy ogah banget gw becanda nyusahin diri sendiri,"ucap Rama.
Fathan berjalan dengan tergesa menuju kantin, ia menatap geram kearah keributan lalu berjalan menghampiri mereka.
Maira menyadari ada Fathan ia memeluk lengan Fathan dengan wajah yang dibuat sedih.
"Fathan liat gw disiram sama dia,"adu Maira menunjuk Raina.
"Lo yang nyiram gw duluan,"ucap Raina santai.
"Tangan lo minggir bisa gak,"ucap Fathan ketus.
"Fathan kamu harus belain aku, aku disiram sama dia,"rengek Maira.
"Iya Fath lo harus belain Maira,"ucap Sinta.
Raina dan teman temannya memandang Maira dengan tatapan malas ketika melihat drama yang diciptakan Maira.
Fathan memutar bola matanya malas berusaha melepas tangan Maira yang berada dilengannya lalu menarik tangan Raina.
__ADS_1
"Gak usah drama, lain kali jangan nempel nempel ya risih gw,"ucap Fathan berjalan menggandeng tangan Raina.
Maira melihat hal tersebut bergerutu kesan dan menghentakan kakinya.
"Ih Fathan kok malah jalan sama dia segala gandengan lagi,"gerutu Maira dengan muka yang memerah karena kesal.
Zara, Aisyah dan Lala yang masih berada di kantin saling melempar pandang, mereka terkejut sekaligus senang saat Fathan membawa Raina.
"Lala boleh ketawa gak Maira,"tanya Lala menahan tawanya.
"Diem deh lo, mau gw siram juga,"bentak Maira.
"Dih orang jahat kalo lagi kesel begini ya kaya sinetron indosiar, kasian deh dicuekin kak Fathan hahah,"ucap Lala.
"Ya jelaslah Lala Abang aku pasti milih Raina dibanding dia,"ucap Aisyah melirik sinis Maira.
Sementara Fathan yang membawa Raina melirik sekitar merasakan tempat ia berhenti sudah jauh dari posisi Maira dan teman temannya.
"Seneng banget ya disiram sama Maira,"ucap Fathan mengeringkan rambut Raina menggunakan sapu tangannya.
"Enggak lah ngaco lo kak, ini apaan lagi ngelap rambut gw pake sapu tangan yang ada sapu tangannya yang basah kuyup tapi rambut gw gak kering,"ucap Raina.
"Diem aja deh cerewet banget, bawa baju ganti gak lo,"tanya Fathan.
"Bawa, sekarang gw selalu bawa baju ganti jaga jaga kalo disiram Maira biar gak pusing nyari baju,"jawab Raina.
"Lo juga kalo mau disiram nangkis kek ngelak kek ngapain aja dah pokonya biar gak kesiram,"omel Fathan terus mengelap rambut Raina.
Raina menatap Fathan lekat lekat ia tersenyum senang mengulang kembali bagaimana Fathan lebih memilihnya dibanding Maira.
"Kak makasih ya,"ucap Raina.
"Kalo lo terus kaya gini yang ada tiap hari lo bakalan bilang makasih sama gw,"ucap Fathan terkekeh.
"Hm,"Fathan hanya merespon dengan dehaman kembali sibuk dengan aktivitasnya mengelap rambut Raina.
Tanpa mereka sadari sedari tadi Aldo memperhatikan mereka dengan menggertakan giginya kesal ia sengaja mengikuti Raina dan Fathan.
"Gw keduluan sama dia, maafin gw Rain gw gak bisa jadi yang pertama nolongin lo kaya dulu, gw gak bakal telat lagi,"ucap Aldo pergi lain kali meninggalkan mereka.
Raina teringat dengan gosip yang beredar tentangnya hingga membuat satu kampus sibuk membicarakannya dan Fathan.
"Kak lo udah liat gosip tentang kita yang lagi diomongin sama anak satu kampus,"tanya Raina.
"Iya tadi gw liat dikasih tau sama Rama, lo keganggu sama berita itu,"tanya Fathan.
"Sedikit sih soalnya kata kata diberita itu gak sesuai fakta,"jawab Raina.
"Terus lo maunya gimana, kalo gw sih udah biasa sama gosip gosip gak jelas kaya gitu dan gw diemin aja selagi gak nyakitin hati dan pikiran,"ucap Fathan tersenyum.
"Terus menurut lo gw harus apa gw bingung kak, tadi sih dikelas Lala udah bantuin ngejelasin ke temen kelas gw dan mereka percaya lumayanlah gw gak terintimidasi banget jadinya,"ucap Raina.
"Yaudah bagus dong, keseharian lo bareng temen kelas terus temen kelas lo udah percaya yaudah nikmatin aja kita gak bisa buat orang lain suka sama kita Raina, seandainya lo jelasin ke semua orang belum tentu orang orang itu nerima penjelasan lo, lagian punya anak kaya Fano gak rugi kok hahaha,"ucap Fathan diselingi dengan tertawa.
Raina kagum mendengar penuturan Fathan yang sangat dewasa saat mendengar perkataan terakhirnya ia menatap Fathan kesal dan melempari Fathan dengan sapu tangan yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya.
"Bisa mati bediri gw kak punya anak kaya Fano,"ucap Raina.
"Hahaha sama sodara sendiri gitu banget, yaudah mending sekarang lo ambil baju terus ganti ntar masuk angin,"ucap Fathan.
"Ada tolak angin santai aja,"ucap Raina.
"Gak usah aneh aneh deh yang aneh cuma Lala doang, buruan bediri gw anter ke kelas lo,"ucap Fathan beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Saat mereka sampai di kelas pandangan anak satu kelas tertuju pada mereka.
"Lo abis ujan ujanan dimana Raina, perasaan terang begitu,"tanya Bimo.
"Disiram Maira,"jawab Raina.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1