
Zara dan Farhan kini menjadi pusat perhatian pengunjung toko kue karena tingkah menggemaskan keduanya yang membuat pengunjung toko tersenyum bahkan menggelengkan kepalanya.
"Saya tunggu 2 menit kalau kamu gak nemuin kue yang pas sama selera saya, tugas kamu saya tambahin," ucap Farhan santai.
"Gak usah ngada-ngada dikasih waktu seharian pun pasti gw gak bisa nyari kue yang cocok sama kemauan lo bapak dosen yang gila hormat," ketus Zara.
"Terserah, Saya gak peduli. Intinya saya kasih waktu 2 menit," ucap Farhan acuh.
Zara menggertakan giginya sambil mengepalkan tangan dengan sengaja ia menginjak kaki Farhan sepenuh tenaga yang ia punya.
Baru dua langkah Zara melangkahkan kaki meninggalkan Farhan ia dibuat terkejut oleh sebuah kaki yang menyelengkat kakinya hingga membuat keseimbangannya tak stabil akhirnya ia pun terjatuh tepat diatas lantai.
Farhan tertawa terbahak-bahak melihat Zara tersungkur dilantai dan tak berniat sedikit pun membantunya.
"Lemah banget gitu aja oleng," ledek Farhan.
"Bodoamat!" ketus Zara.
Zara pergi meninggalkan Farhan lalu menghampiri pelayan toko kue, selama 2 menit ia melirik kue namun ia tidak tahu kue yang mana yang akan ia pilih dan ia tunjukkan pada Farhan hingga akhirnya ia memilih kue dengan asal.
"Ini aja Mba," ucap Zara tangannya menunjuk kue yang warnanya lebih dominan dengan warna hijau.
Zara berlarian menghampiri Farhan tanpa memikirkan kue yang berada ditangannya yang sewaktu-waktu bisa terjatuh.
Farhan melihat hal tersebut cemas, dalam hatinya terus berdoa supaya kue tidak melompat dari tangan Zara.
"Itu kue belum dibayar jangan lari-lari," omel Farhan.
"Cerewet! Liat aja kuenya masih aman-aman aja nih ditangan gw," ucap Zara.
Farhan melirik kue sambil menganggukan kepala, ia berjalan mendahului Zara menuju kasir toko, sedangkan Zara mengikutinya dari belakang.
"Kasih ke Mbanya biar dibungkus," ucap Farhan.
Zara tercengang lalu menatap kuenya kebingungan, ia menyodorkan kue pada pelayan toko.
Padahal gw milihnya ngasal tapi kok dia setuju, gw kira bakalan ribet hm, tau gitu mah dari awal gw ngasal aja gak usah mikir dulu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Fathan dibuat panik dan cemas karena sudah berulang kali ia mencoba menghubungi Raina namun tidak ada respon sedikit pun dari Raina, ia juga sudah menanyakan pada Reno namun jawabannya tidak sesuai yang ia harapkan, ia teringat beberapa hari yang lalu ia mengatur lokasi pada ponsel Raina hingga ia bisa melacak keberadaan Raina.
Fathan kebingungan saat mendapati lokasi Raina yang berada di salah satu perumahan yang tidak asing untuknya.
"Ngapain dia sampe kesini," gerutu Fathan.
Fathan segera pergi meninggalkan mall menuju lokasi yang tertera di ponselnya.
****
Sesampainya di lokasi ia berhenti di depan sebuah rumah yang sangat asing.
"Ini rumah siapa?" gumam Fathan.
Fathan keluar dari mobilnya berjalan menuju pagar rumah dan memencet bel rumah tersebut.
Keluar asisten rumah tangga dari dalam rumah yang berjalan menghampirinya.
"Maaf siapa ya?" tanya Bibi.
"Saya Fathan Bu, saya kesini nyari Raina, Rainanya ada gak?" jawab Fathan.
"Non Raina temannya Lala ya, yuk masuk Bibi panggilin dulu orangnya lagi di kolam berenang," saut Bibi mempersilahkan Fathan masuk.
Fathan menatap sekeliling rumah Lala ini pertama kalinya ia berkunjung ke rumah Lala.
"Ini rumahnya Lala, baru tau gw bocah rese tukang palak rumahnya gede," gumam Fathan.
__ADS_1
Fathan berjalan menuju kolam berenang dengan terburu-buru, matanya berbinar saat melihat Raina yang berada di tepi kolam sedang mengobrol dengan Lala.
Lala menolehkan kepalanya dan sedikit kebingungan saat melihat Fathan yang sedang berjalan menuju kolam.
"Raina kok ada kak Fathan ya disini, dia tau dari mana rumah Lala," tanya Lala.
Raina belum menyadari keberadaan Fathan rasanya ia enggan sekali untuk menolehkan kepalanya karena ia yakin Lala membohonginya.
"Gak usah aneh-aneh, kak Fathan gak tau rumah lo makanya gw kesini, lagian gak mungkin juga dia kesini sekarang tuh dia lagi sama Fahira," ucap Raina dengan nada malasnya.
Fathan yang berada di belakang Raina tersenyum, sedangkan Lala terdiam matanya menatap Fathan yang berada tepat di belakang Raina.
"Kata orang-orang sok tau itu bisa bikin cepat tua loh," ucap Fathan.
Raina mengerutkan dahinya saat mendengar suara yang sangat ia kenal dengan cepat ia menggelengkan kepalanya dan meyakinkan diri bahwa ia salah dengar.
"Raina gak usah kaya di film-film si, itu tuh kak Fathan di belakang lo." Lala menempelkan telapak tangannya di kedua pipi Raina lalu menggeser kepalanya agar menoleh ke belakang.
Raina kaget saat melihat Fathan yang benar-benar berada si belakangnya ia mengusap matanya berulang kali meyakinkan ia tidak salah lihat.
"Lo masih gak yakin juga, nih maap ya kak Patan." Lala melayangkan tangannya menepuk pipi Fathan.
"Apaan sih La, sakit oneng!" omel Fathan.
"Tuh liat sakitkan berarti lo gak halu sono pulang kalian, Lala mau main sama kak Reno sama Fano bentar lagi, makasih loh kak Fathan datang diwaktu yang tepat," ucap Lala dengan wajah polosnya.
"Lala teman macam apa lo teman dateng mau curhat lo malah ngusir," omel Raina.
"Ih Raina bukannya ngusir tapi lo udah di datengin tuh sama mas pacar dan sekarang waktunya tepat buat selesain masalah lo sama kak Patan," ucap Lala.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Gitu aja norak liat nih ya abis ini gw pergi sama pacar gw, awas lo nyariin gw," saut Reyhan.
"Kak kinan gak mau jalan-jalan sama kak Ley soalnya kak Leyhan pelit, udah yuk tinggalin aja kak Ley disini sendilian," ucap Fano.
Fano menarik-narik paksa tangan Reno hingga membuat Reno sedikit kesusahan berjalan.
"Kak Leno nanti kasih kado apa buat kak Lala? Pasti kelenan kado Pano dali pada kado kak Leno," ucap Fano dengan wajah percaya dirinya.
"Emangnya Fano ngasih kado apa buat manusia rese itu?" tanya Reno.
"Pano kadoin duit yang banyak telus tadi Pano ke walung sama Papa Gio sekalian beli kado-kadoan halganya selebuan kelen banget ada gambal-gambalnya," ucap Fano.
Reno terkekeh mendengar perkataan Fano tangannya terangkat mengusap gemas rambut Fano sambil membayangkan bagaimana bentuk kado Fano.
"Gituan mah banyak di warung terus dimana kerennya, kak Reno bisa beli sekardus kaya gituan," ucap Reno.
"Kak Leno gak boleh sombong, soalnya di walung udah abis tinggal buat Pano doang jadi kak Leno gak bisa beli wle," ucap Fano.
"Warung ada banyak tinggal cari di warung lain," tantang Reno.
"Yaudah cali aja sana pasti gak ada soalnya kata ibu walungnya itu limited edition khusus buat Pano doang," ucap Fano.
Reno menggelengkan kepalanya dan memilih untuk fokus mengendarai mobilnya.
Sesampainya mobil Reno di rumah Lala dengan cepat Fano keluar dari mobil berlarian menuju pintu rumah Lala, Fano mengetuk rumah Lala dengan tidak sabar membuat orang yang berada di dalam sedikit kesal.
"Ada apa," ketus Bibi.
Fano terkikik melihat raut wajah Bibi yang memerah menahan kesal.
"Hallo Bibi ibu maapin Pano ya udah bikin Bibi ibu kesel soalnya Pano gak sabar mau ketemu kak Lala," ucap Fano.
Fano menyeludup masuk tanpa menunggu dipersilahkan masuk oleh Bibi. Hal tersebut membuat Reno sedikit kesal.
"Maafin ya Bi, anaknya suka kaya gitu jangan marah ya Bi," ucap Reno.
Bibi tersenyum pada Reno sejujurnya tak ada sedikit pun rasa marah Bibi untuk Fano justru Bibi merasa gemas dengan Fano.
"Bibi gak marah kok yang ada Bibi gemes banget sama si Fano pecicilan banget anaknya," ucap Bibi.
"He-He Lalanya ada kan Bi?" tanya Reno.
"Ada tuh kebetulan banget ada non Raina sama pacarnya juga, masuk aja ke dalem nanti Bibi buatin minum dulu, mas Reno susul aja ke kolam berenang," saut Bibi.
__ADS_1
"Siap Bi, Reno jalan duluan ya nyusul yang lainnya," ucap Reno.
Reno berjalan menuju kolam berenang sedangkan Bibi menuju dapur.
Bibi dibuat terkejut dengan Fano yang berada di depan kulkas sedang memakan beberapa cemilan.
"Loh Pano ngapain disini katanya Pano mau ketemu kak Lala," tanya Bibi.
Fano berusaha menelan makanan yang berada di dalam mulutnya dengan susah payah, setelah berhasil menelan semua makanan yang di mulutnya ia meneguk air putih.
"Bibi ibu nanyanya gak pas nih untung Pano gak keselek, Pano tadi nyaliin kak Lala tapi nyasal kesini kalena Pano liat banyak makanan di kulkas yaudah Pano mampil aja dulu, emangnya kak Lala dimana?" jelas Fano.
Bibi tertawa saat mendengar penjelasan Fano ia mengusap gemas rambut hitam Fano.
"Kenapa sih olang-olang tua suka banget ngacak-ngacak lambut Pano kan jadi belantakan lambut Pano," ucap Fano cemberut.
"Fano gemesin sih, udah sana susulin kak Lala di kolam berenang kak Reno juga udah kesana tenang aja nanti Bibi bawain makanan kesana," ucap Bibi tersenyum.
"Oke Bibi ibu, Pano pelgi dulu bye bye," pamit Fano.
Fano berlarian dengan gaya pecicilannya sesekali ia melompat-lompat.
****
Fathan dan Raina saling berdiam diri berbeda dengan Lala yang asik bermain di dalam air.
Setelah sekian lama saling berdiam diri akhirnya Fathan memutuskan untuk membuka suara.
"Raina kenapa jadi kaya gini sih? Terus kenapa kamu ninggalin aku di mall, kamu gak tau apa aku cemas banget nyariin kamu keliling mall tapi gak nemu-nemu dan ternyata kamu ada di rumah Lala, harusnya kamu kabarin aku Raina biar aku gak khawatir sama kamu," oceh Fathan.
"Kamu terlalu asik sama Fahira buat apa aku kabarin kamu, justru aku ngiranya kamu gak akan nyariin aku," saut Raina.
"Kamu kok ngomongnya begitu, jelas aku bakal nyariin kamu Raina, kamu itu pacar aku. Kenapa sih kamu masih aja ungkit soal Fahira, aku udah jelasin sama kamu kita gak ada hubungan apapun," ucap Fathan.
Raina menghela nafas panjang, ia menatap Fathan dengan tatapan tajam.
"Aku denger sendiri kok di resto pas kamu makan berdua sama dia, kamu ngomong ke Fahira kalo kamu masih ada perasaan ke dia, mau ngeles kaya apa lagi Kak?" ucap Raina.
"Raina kamu dengernya setengah doang kamu gak tau kelanjutannya aku mohon percaya sama aku," ucap Fathan.
Belum sempat Raina menjawab perkataan Fathan, Reno datang menyapa keduanya hingga membuat keduanya terpaksa menghentikan pembicaraan.
"Eh ganggu ya? Sorry sorry gak tau," ucap Reno tersenyum kikuk.
"Santai aja bang Ren, kaya sama siapa tau nih, pasti bang Reno nyari Lala ya?" saut Raina.
"Iya nih aku udah janjian sama anak itu pas nyampe sini malah belom ngapa-ngapain orangnya," jawab Reno.
"Maklumlah Lala kan makhluk paling santuy Bang," saut Fathan.
"Noh di kolam orangnya, lah itu si Fano sejak kapan ada disitu, ngeri nyebur tuh anak ke kolam, udah gak pake pelampung lagi." Raina mengarahkan jari telunjuknya ke arah kolam dengan raut wajah cemasnya saat melihat Fano begitu pecicilan di tepi kolam berenang.
"Lah iya aku juga baru sadar tuh anak udah nyampe disini aja, aku kesana dulu ya De takutnya si Fano nyebur, kita mau pergi takutnya basah bajunya kan repot," pamit Reno.
Reno berjalan menuju kolam menarik tangan Reno agar menjauh dari tepi kolam.
"Kak Leno gak asik nih Pano lagi main ail tau," protes Fano dengan raut wajah ditekuk.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya ya biar aku semangat melanjutkan cerita ini hehe
Terima kasih supportnya buat author lainnya makasih juga masih support aku, maaf belum bisa berkunjung 😳