SENIOR

SENIOR
kesal


__ADS_3

Saat sampai di kantin mereka memesan cemilan lalu mencari kursi kosong.


"Coba ceritain sama gw. Itu si Fathan kenapa emosi banget mukanya terus kenapa dia narik-narik dua perempuan tadi. Kenapa kalian bilang dia berdua udah bikin Raina buta." Aldo berbicara sambil mendudukan dirinya di atas kursi kosong.


"Ih lo selama ini kemana sih Aldo, kabar buruk tentang Raina aja lo gak tau katanya lo suka sama Raina, gimana sih lo ewh," ejek Lala.


Aldo mendelikkan matanya sebal rasanya ia sangat malas merespon perkataan Lala karena rasa penasaran yang bersarang di dalam kepalanya.


"Gw sibuk sama tugas, kita kan gak satu kelas dan beda dosen jadi gak usah ngeledek ya Lala," geram Aldo.


"Udah gak usah debat biar Shasha aja nih yang jelasin, sok atuh sa jelaskeun." Raka berbicara dengan logat sunda dan mengembangkan senyumnya pada Shasha.


Aldo mengalihkan pandangannya pada Shasha, ia tersentak saat melihat keberadaan Shasha yang satu meja dengannya karena sejujurnya sedari tadi ia tidak menyadari keberadaan Shasha.


"Loh sejak kapan Shasha ada disini?" heran Aldo.


"Nanya terus! Kapan dijelasinnya ini sedangkan lo dari tadi nanya mulu," keluh Raka.


Shasha menarik nafasnya dan menghembuskan perlahan, ia melirik Aldo dan yang lainnya secara bergantian dan menggeser kursinya sedikit.


"Yaudah gw jelasin aja biar gak ribut, mungkin lo bingung kenapa gw bisa ada disini jadi gw mau ngasih tau dulu kenapa gw bisa disini. Gw gabung sama mereka dari kemarin karena gw ada masalah sama Shasha yang ada sangkut pautnya sama kecelakaan Raina yang buat Raina buta." Shasha menghentikan ceritanya sejenak lalu melihat ke arah Aldo melihat bagaimana reaksi Aldo saat mengetahui dirinya bergabung dengan Raina dan yang lainnya.


Aldo terdiam menunggu kelanjutan cerita Shasha, kini pertanyaan makin banyak di dalam benaknya.


"Lanjutin aja Sha, liat mukanya kebingungan kaya anak ilang Haha," ucap Zara.


Shasha menganggukkan kepalanya, sejujurnya ia tidak mau mengulang cerita tersebut karena lagi-lagi rasa bersalahnya pada Maira dan Sinta kembali melintas di fikirannya.


"Singkatnya gini waktu itu gw sama kedua teman gw ngikutin Fathan dan Raina sampe ke wahana panjat tebing terus disana Maira emosi banget liat Fathan sama Raina yang deket banget dia ngerasa seharusnya dia yang ada di posisi Raina. Terus pas kita mau pulang Maira kaya orang kalap gitu dia bawa mobil ngebut banget dan akhirnya dia nabrak Raina terus kabur dan sekarang keadaan Raina buta, makanya Fathan marah banget sama dia." jelas Shasha menundukkan kepalanya.


***


Fathan dan Rama kini berada di parkiran sedang berdebat dengan Maira yang terus menerus meronta dan berteriak meminta Fathan melepaskan tangannya.


Fathan melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Maira, ia menatap Maira dengan tatapan dingin menunggu Maira berbicara.


"Lo gak bisa kaya gini dong sama gw Fath. Emangnya lo punya bukti apa sampe lo seyakin itu kalo gw yang lakuin ke Raina." Maira meringis kesakitan mengusap-usap lengannya yang terlihat memerah.


"Lepasin tangan lo! Lagian gw gak ada urusan sama lo!" ketus Sinta memelototi Rama hingga akhirnya Rama menarik tangannya yang berada di tangan Sinta.


"Kepedean banget lo. Gw juga males kali megang tangan penjahat kaya lo. Kalo bukan gara-gara Fathan gak bakalan sudi gw gandeng-gandeng lo sampe sini, mendingan gw ikut yang lainnya ke kantin bikin kenyang perut." Rama mendelik sebal lalu mengalihkan pandangannya pada Fathan seolah memberi kode apa yang akan dilakukan selanjutnya.


"Gak perlu bukti! Semua orang juga tau lo satu-satunya orang yang gak suka sama Raina dan teman lo sendiri yang ngaku kalo lo yang nabrak Raina. Mending lo nyerahin diri sebelum gw seret lo ke kantor polisi!" tegas Fathan dengan penuh penekanan ia berbicara pada Maira dan menatapnya dengan tatapan tajam.


Maira terdiam berusaha menetralkan rasa cemas sekaligus takutnya pada Fathan, ia menengadahkan kepalanya menatap Fathan dengan tatapan menantang.


"Buat apa gw ngakuin kesalahan yang gak gw lakuin. Gak usah teralu percaya diri Fathan, lo gak tau siapa aja orang yang gak suka sama pacar kesayangan lo itu. Lo pikir gw sebodoh itu mau aja ngakuin kesalahan yang sama sekali gak gw lakuin." Dengan santainya Maira berbicara sambil bersidekap dada.

__ADS_1


"Halah pinter banget lo ya ngelesnya terus itu omongannya Shasha boong gitu?" sambung Rama.


"Mana gw tau, lo tanya aja ke orangnya," ucap Maira.


Fathan menatap Maira malas ia menghela nafas gusarnya lalu kembali menarik tangan Maira.


"Udah selesai waktu drama-drama gak jelas lo. Sekarang lo ikut gw ke kantor polisi silahkan lo tunjukkin keahlian drama lo disana." Fathan menarik paksa tangan Maira hingga membuat Maira terkejut dan mengikuti langkah Fathan dengan terseret.


"Fathan lepasin gw! Bukan gw yang nabrak dia!" teriak Maira.


"Lo jelasin di kantor polisi aja, gw gak butuh penjelasan lo," ucap Fathan dengan nada dinginnya.


Fathan mendorong punggung Maira memasuki mobil Reno lalu berputar menuju kursi pengemudi.


"Ram awasin mereka jangan sampe kabur," ucap Fathan.


"Siap bos, jangan kabur kalian ya kalo kalian kabur berarti kalian salah," ucap Rama.


Fathan mulai mengemudikan mobilnya keluar dari area parkir, ia menghentikan mobil sejenak saat ia melihat Reno yang berjalan menghampirinya.


"Lo ke kantin aja Bang. Gw mau ngurus mereka dulu, gw minjem mobilnya bentar," ucap Fathan.


Reno mengalihkan pandangannya ke kursi penumpang, ia menatap Maira dan Sinta dengan lekat.


"Mereka yang sengaja nabrak Raina?" tanya Reno dengan gaya angkuhnya.


"Iya ini penjahatnya bang Reno, enaknya diapain ya," saut Rama.


Reno tersenyum miring menatap Maira dan Sinta dengan tatapan kebencian, ia kembali teringat dengan kondisi Raina yang kini tidak bisa melihat bahkan terpaksa mengambil cuti kuliah dengan jangka waktu yang tidak tahu sampai berapa lama.


"Seandainya di negara ini tidak ada hukum mungkin sekarang kalian sudah saya habisi dengan tangan saya sendiri. Bawa dia ke kantor polisi pastiin mereka gak akan bisa lepas dari hukum. Untuk kalian berdua penjara aja gak cukup buat bayar lunas perbuatan yang udah kalian lakuin ke Raina." Emosi Reno mengepul tangannya mengepal menatap keduanya penuh kebencian.


Rama menyadari perubahan raut wajah Reno, ia bergedik ngeri lalu berusaha mencari alasan untuk menghindari emosi Reno.


"Bang Reno tahan dulu ya emosinya mereka biar jadi urusan kita aja. Sekarang mendingan lo ke kantin aja soalnya yang lain pada di kantin terus tadi lo dicariin juga tuh sama Lala katanya dia kangen." Rama berbicara dengan tegas dan sengaja mengkambing hitamkan nama Lala supaya tidak terjadi keributan di parkiran.


Maafin Abang lo ini ya Lala udah pake nama lo buat jadi alesan, gw yakin pasti bang Reno ngaruh deh sama omongan gw.


Emosi Reno sedikit mereda saat mendengar ucapan Rama. Ia sedikit tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke arah Rama.


Rama yang sedari tadi sibuk berkomat-kamit berharap Reno terpengaruh dengan ucapannya.


Nah kan dia liat ke arah gw, pasti dia lagi mastiin deh gw bener apa boong haha.


"Bener kok gw gak boong, kalo gak percaya lo tanya aja sana ke Lala nya," ucap Rama dengan percaya diri.


"Yaudah bang lo nyusul yang lainnya aja ke kantin biar ini jadi urusan gw dan biar cepat kelar, pasti tante Wina udah nungguin kita di rumah," ucap Fathan.

__ADS_1


"Oke. Pastiin dua perempuan ini masuk penjara dan jangan biarin mereka lolos," geram Reno.


***


Saat sampai di kantin Reno mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin, ia tersenyum saat melihat segerombolan orang yang sangat ia kenal sedang asik bercanda.


Reno berjalan cepat menghampiri mereka tanpa ia sadari kini ia menjadi pusat perhatian orang di kantin.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ....


Jangan lupa like dan komen gais


Sekian dan terima kasih

__ADS_1


__ADS_2