
Lala dan Reno berada di parkiran hampir 3 jam lamanya hingga membuat kaki mereka terasa pegal-pegal.
"Mau berapa lama lagi kita berdiri disini La, kalo kita masuk ke dalam pasti 10 porsi makanan udah abis nih, mending kamu telpon mereka aja deh biar kita gak semakin lama berdiri disini," keluh Reno.
Lala yang sedang berdiri di depan mobil Fathan mengalihkan pandangannya pada Reno kemudian ia berjalan mendekati Reno yang sedang duduk di bangku kayu yang tidak jauh dari posisi parkir mobil Fathan.
"Kalo dari tadi mereka angkat telpon Lala pasti mereka udah ada disini dan kita gak akan nungguin mobil yang lagi parkir disini kak Reno," geram Lala.
"Iya aku tau. Harusnya kamu coba lagi dong, kalo kaya gini terus bisa-bisa kita berdiri disini sampai restoran ini tutup Lala," saut Reno.
Keduanya hanyut dalam perdebatan mereka hingga tidak menyadari Fathan dan Raina yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Reno yang tidak sengaja mengalihkan pandangannya ke arah mobil Fathan dibuat kaget saat melihat Fathan dan Raina yang sudah memasuki mobil.
"Itu mereka masuk ke mobil, kamu kenapa kesini sih Lala. Ayo buruan kejar jangan sampai mereka pergi," ucap Reno sambil menarik tangan Lala.
"Kak Reno berdiri di depan mobilnya kak Fathan ya jangan biarin kak Fathan jalanin mobilnya. Biar Lala yang ngomong sama mereka," perintah Lala.
Lala berlarian menuju pintu mobil, ia mengetuk-ngetuk kaca mobil dengan kencang hingga membuat Fathan yang berada di dalam mobil berdecak kesal, ia menatap Lala dengan tatapan tajamnya.
Fathan memutuskan untuk menurunkan kaca mobilnya.
"Ngapain sih, banyak duit lo ya buat ganti kaca mobil gw," ketus Fathan.
"Kaca mobilnya masih baik-baik aja kok. Mendingan kaca mobil yang rusak dari pada nanti kalian yang penyok gara-gara nabrak. Buruan keluar atau Lala pukulin nih mobilnya," teriak Lala dengan raut wajah paniknya.
Raina melihat raut wajah Lala yang sangat panik tersebut membuatnya penasaran, apalagi saat melihat Reno yang menghadang mobil Fathan. Raina yakin mereka ingin menyampaikan suatu hal yang sangat penting hingga Lala terus-menerus memaksa Fathan keluar dari mobilnya bahkan sampai mengancam Fathan.
"Yaudah ikutin aja kak, pasti ada yang penting," ucap Raina.
Fathan mendengus sebal sambil melirik Lala dengan kesal.
"Males ah. Aku udah masuk ke dalam mobil soalnya," saut Fathan dengan malas.
Lala berusaha memutar ide-ide yang ada di dalam isi kepalanya. Lala mengalihkan pandangannya pada Reno yang berada di depan mobil Fathan. Seketika ia tersenyum, ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk membuat Fathan keluar dari mobilnya.
"Kak Renoooo! Liat nih kak Fathan gak mau keluar dari mobilnya terus tadi katanya dia gak takut sama kak Reno. Katanya dia gak butuh restu dari kak Reno, parah banget kan dia kak. Marahin aja kak gapapa kok Lala ikhlas," teriak Lala.
Fathan membelalakan matanya saat mendengar teriakan Lala yang memfitnahnya. Dengan cepat ia melepas sabuk pengamannya kemudian membuka pintu mobilnya dengan kasar hingga membuat Lala terjatuh akibat terkena pintu mobil.
Melihat hal tersebut berhasil membuat Reno panik, ia berlarian menghampiri Lala kemudian ia membantu Lala untuk berdiri. Perasaan cemas begitu terlihat dari wajah Reno hingga membuat Fathan merasa bersalah karena sudah teralu kencang mendorong pintu mobilnya.
"Kamu gapapa? Ada yang sakit?" tanya Reno sambil mengecek keadaan Lala.
"Gapapa kak Reno, cuma dengkul Lala doang yang sakit nih kayanya luka deh," jawab Lala.
Benar apa yang diucapkan oleh Lala. Reno melihat lutut Lala yang luka dan mengeluarkan sedikit darah. Reno berlarian menuju mobilnya untuk mencari kotak P3K.
Tidak perlu waktu lama, Reno sudah kembali dengan membawa obat merah, plester, kapas dan air mineral di tangannya. Ia mendudukkan dirinya di pinggir aspal kemudian menarik kaki Lala.
Melihat obat merah yang dipegang oleh Reno membuat Lala panik. Ia melirikkan matanya pada luka yang ada di lututnya yang tidak begitu parah.
"Kak mau ngapain? Lala gapapa kok. Bentar lagi juga sembuh gak usah pake beginian lah," ucap Lala menepis pelan tangan Reno.
Raina yang baru saja turun dari mobil, melihat lutut Lala yang terluka dan melihat Reno yang membawa obat merah membuat dirinya kembali teringat dengan kejadian saat masa-masa sekolahnya. Ia teringat bagaimana Lala yang berteriak begitu keras ketika obat merah diteteskan di atas kakinya.
Raina senyum-senyum menatap Lala. Tetapi disisi lain ia kesal dengan Fathan yang membuat Lala terjatuh hingga terluka.
"Kalian jangan masuk ke mobil, nanti kita ceritain alasannya kenapa kita larang kalian. Sekarang kita ke dalam aja dulu, kamu juga Fathan kalo buka mobil jangan kasar kaya tadi untung Lala cuma luka kecil aja. Kalau dia kenapa-kenapa aku gak akan maafin kamu," ucap Reno.
Setelah berbicara Reno menundukkan tubuhnya kemudian membopong Lala. Sedangkan Raina dan Fathan menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti Reno dari belakang.
__ADS_1
"Mereka mau ngomong apa sih. Kenapa gak disana aja sekalian biar gak lama," bisik Fathan pada Raina.
"Aku kan dari tadi sama kamu, mana aku tau mereka mau ngomong apa. Lagian dari tadi kan Lala udah nyuruh kamu keluar tapi kamu nolak terus dan sekalinya keluar kamu bikin Lala nyungsep. Nah sekarang kita balik lagi ke resto, berarti karena kamu juga kak, jadi berhenti ngedumel nya ya. Kita ikutin aja apa yang kak Reno bilang, aku yakin mereka mau ngomongin hal yang penting," jelas Raina kemudian melangkahkan kakinya mendahului Fathan.
Sekarang mereka sedang berada di dalam restoran, Reno sengaja memesan makanan dan minuman terlebih dahulu. Kemudian ia mulai membersihkan lutut Lala.
"Lala kamu ceritain apa yang ngebuat kita nahab mereka ya, aku mau ngobatin dengkul kamu dulu," ucap Reno
"Engga! Kak Reno aja yang cerita, kaki Lala udah sembuh kok. Kalo kak Reno ngobatin Lala pake obat ini yang ada Lala gak bisa cerita dan kaki Lala yang udah sembuh jadi semakin sakit," protes Lala.
"Yaudah kamu cerita dulu sana, liat tuh kamu udah dipelototin sama Fathan," ucap Reno.
Lala menghela nafas pasrahnya kemudian ia menganggukkan kepalanya pada Reno.
"Jadi gini ya kita sengaja nungguin kalian selama 3 jam karena kita mau bilang hal penting ini sama kalian berdua tau gak. Eh pas mau bilang malah digebok pintu mobil emang kejam banget pacar lo Raina," ucap Lala dengan wajah muramnya.
Tanpa Lala sadari Reno mulai mengobati kaki Lala saat Lala sedang bercerita pada Fathan dan Raina.
"Jadi hal pentingnya apa? Kalo penting kenapa lo gak telpon gw atau Raina. Ngapain kalian nungguin kita 3 jam di parkiran," tanya Fathan.
"Coba kalian cek hp masing-masing. Liat berapa banyak panggilan tak terjawab dari gw sama kak Reno. Kita juga gak mau kali berdiri di parkiran selama 3 jam padahal perut laper banget. Tapi kalian sama sekali gak angkat telpon kita," ucap Lala dengan nada kesalnya.
Fathan dan Raina mengecek ponsel mereka masing-masing dan benar saja banyak sekali panggilan tak terjawab dari Reno dan Lala.
"Iya nih banyak banget. Maaf ya La, kita gak tau. Emangnya ada apa? Kenapa kalian sampe rela nungguin kita 3 jam di parkiran, pasti penting banget ya," ucap Raina menatap Lala penasaran.
"Iya jelaslah ini sangat penting dan emergency tau gak sih. Kalo kita gak tahan kalian, mungkin mobil lo udah penyok kak Fathan terus kalian juga ikut penyok," saut Lala.
Fathan mengerutkan dahinya berusaha menerka-nerka hal penting apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Lala dan Reno.
"Langsung aja ke intinya, gak usah berbelit-belit bikin pusing," ucap Fathan.
Fathan dan Raina terkejut saat mendengar penjelasan Lala. Mereka saling melempar pandang satu sama lain.
"Lo serius La? Lo liat orangnya kaya gimana?" tanya Fathan berusaha meyakinkan kembali.
Lala menganggukkan kepalanya dengan mantap. Ia berusaha kembali mengingat orang yang sempat berada di sekitaran mobil Fathan.
"Lala sih serius. Tapi Lala gak tau orangnya siapa soalnya Lala gak liat mukanya, tapi kalo kalian gak percaya cobain aja bawa mobilnya palingan nanti kalian penyok," saut Lala.
"Eh kalo ngomong gak disaring dulu," tegur Reno.
"Ini mulut bukan teh yang harus disaring kak Reno," saut Lala.
"Kira-kira orang itu siapa ya, Fahira sama Maira kan udah di penjara terus siapa lagi yang punya niat jahat ke kita kak. Padahal kita gak pernah jahat sama orang tapi kenapa ada aja orang yang jahat sama kita ya," keluh Raina dengan raut wajah yang panik sekaligus cemas hingga membuat Fathan kebingungan.
"Sebenernya bukan soal kalian pernah jahat atau tidak ke orang lain. Tapi ini tentang iri satu sama lain. Mereka yang berusaha ngejahatin kalian itu karena mereka iri sama apa yang kalian punya sekarang ini," sambung Reno.
"Kamu tenang ya, kita bakal baik-baik aja. Kalo gitu nanti ini mobil kita coba cek ke bengkel biar jelas apa yang rusak. Oh iya makasih ya bang Reno, lo juga Lala. Maaf tadi niatnya cuma mau nyenggol lo doang tapi gak sengaja malah jatoh beneran. Tapi tenang aja udah di obatin tuh sama dokter cinta lo Haha," ucap Fathan dengan tawanya.
Raina mengalihkan pandangannya pada kaki Lala yang sudah diplester. Ia menatap Lala tak percaya karena sedari tadi Lala sama sekali tidak berteriak kesakitan bahkan mengeluh sakit atau perih saja tidak.
"Wuih keren juga abang gw ya, bisa ngobatin cacing tanah tanpa ngebuat dia teriak-teriak. Harusnya dulu bang Reno lanjutin ke kedokteran aja ya," ucap Raina dengan kagum.
Lala sama herannya dengan Raina, ia tidak percaya kalau kakinya sudah diberikan obat merah karena ia sama sekali tidak merasakan sakit yang biasanya ia rasakan saat diobati pakai obat merah, hanya saja tadi sempat terasa perih tetapi ia mengira itu hanya efek lukanya yang belum diobati.
"Pasti ini cuma ditempelin hansaplast aja ya kan," ucap Lala.
Reno tersenyum menatap Lala kemudian ia mengambil bekas kapas yang ia gunakan untuk mengobati lutut Lala dan menunjukkannya pada Lala.
__ADS_1
"Nih bekas obat merahnya, ternyata gak susah ya ngobatin istri yang gak bisa diem," ucap Reno sambil menaik turunkan alisnya.
***
Farhan, Zara dan Aisyah kini berada di salah satu kedai siomay yang lokasinya tidak jauh dari lokasi kampus mereka.
"Ais, kenapa harus ada dia sih. Kita kan mau makan siomaynya berdua aja dan gak nambah orang lagi," ucap Zara.
"Gak usah kegeeran, saya juga gak minat makan bareng kamu. Kalau bukan karena Aisyah yang minta, saya gak akan mau buang-buang waktu jadi supir kaya gini," saut Farhan.
"Bang Han! Ais aduin bunda ya kalo bang Han ngomongnya kasar gitu ke cewe," ancam Aisyah.
"Kenapa adik aku sekarang jadi tukang ngadu dan suka ngancam abangnya ya. Jangan-jangan gara-gara perempuan bar-bar ini yang ngajarin kamu ya" ucap Farhan melirik sinis Zara.
Zara yang tak terima dituduh yang tidak-tidak oleh Farhan, refleks ia memukul kepala Farhan hingga membuat Farhan meringis kesakitan dan mobilnya sedikit oleng.
"Gila kamu ya, untung jalanan sepi kalo rame bisa-bisa sekarang kita pindah tempat ke rumah sakit," ketus Farhan.
"Lagian lo mulai duluan sih, makanya jangan suka nuduh gw sembarangan. Nyetir aja yang bener makanya jangan ngoceh terus," ucap Zara.
Aisyah menggelengkan kepalanya menghela nafas pendeknya, ia menatap ke arah jalanan dengan perasaan yang was-was karena sekarang jalanan terlihat lumayan ramai.
"Kalian jangan ribut terus dong, nanti kalo nabrak orang gimana. Zara sini aja gak usah dengerin Abang aku kalo dia ngomong," ucap Aisyah.
"Udah sana kamu duduk aja di samping Aisyah gak usah dekat-dekat sama saya," usir Farhan.
Zara terkesiap saat menyadari dirinya yang berada di belakang Fathan dengan jarak yang sangat dekat. Dengan cepat Zara menjauhkan tubuhnya dari Reyhan.
"Kalian lucu banget ya kaya tom and jerry kadang suka saling melindungi kadang suka saling mencela satu sama lain Haha," goda Aisyah.
"Ih amit-amit, apanya yang melindungi yang ada dia tuh nyakitin mulu. Omongannya yang pedes itu tuh ngalahin cabe yang nyakitin hati orang," bantah Zara.
Farhan sedang fokus dengan kemudinya, ia tidak mau teralu banyak merespon apa yang diucapkan oleh Aisyah dan Zara.
"Jangan ngaco Ais," ucap Farhan.
Zara kebingungan saat melihat mobil Farhan berhenti di salah satu penjual ketoprak, ia menatap Farhan dengan tatapan bertanya-tanya.
"Kita mau makan siomay bukan ketoprak, kuping masih berfungsi dengan baikkan?" ucap Zara.
"Sama aja intinya ada bumbu kacangnya, saya lagi mau makan ketoprak terserah kalian mau apa engga intinya saya gak mau kemana-mana lagi," ucap Farhan dengan tegas.
Setelah memparkirkan mobilnya Farhan keluar dari mobilnya kemudian mencari meja kosong lalu ia mendudukkan dirinya disana.
Zara menatap Farhan dari dalam mobil dengan tatapan kesalnya.
"Nyebelin banget sih Abang lo Aisyah," keluh Zara.
"Yaudah gapapa kita makan ketoprak aja. Aku suka ketoprak juga kok," ucap Aisyah.
****
Bersambung ....
Jangan lupa like, komen dan sarannya ya. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar buat bahan evaluasi aku di bab selanjutnya.
Terima kasih buat kalian yang sudah komen dan untul author yang sudah mensupport dengan mampir ke karyaku yang ini mohon maaf aku belum bisa berkunjung ke karya kalian untuk sementara ya. Nanti kalau ada waktu senggang aku mampir kok.
Sekian dan terima kasih.
__ADS_1