
Fathan mengarahkan Raina dengan sangat hati-hati, ia mengarahkan Raina ke arah kursi tunggu lalu membantu Raina mendudukkan dirinya.
Fathan terdiam dibelakang Raina dengan tangan yang masih memegang pundak Raina, hal tersebut membuat Raina heran karena Fathan tidak duduk di sampingnya.
"Kok masih berdiri aja sih Kak? Kenapa gak duduk?" tanya Raina.
Fathan terlihat gelisah karena ia merasa sudah tidak sanggup lagi menahan panggilan alam yang sedari tadi dengan susah payah ia menahannya karena ia tidak tega meninggalkan Raina duduk sendirian disana.
"Kak Fathan, masih disini kan?" tanya Raina dengan ragu.
"Iya aku disini kok, maaf ya bikin kamu kebingungan, aku berdiri karena lagi berusaha nahan panggilan alam Hehe," saut Fathan dengan gugup.
Raina terkekeh menggelengkan kepalanya, kemudian ia meraih tangan Fathan yang berada di pundaknya.
"Ya ampun kenapa gak ke kamar mandi sih kamu Kak, nanti kalo kamu ngompol disini siapa yang beresin. Sana buruan ke kamar mandi, jadi ngerasa bersalahkan aku gara-gara bikin pacar aku nahan pipis," ucap Raina.
Wajah Fathan memerah menahan malu, tetapi ia merasa lebih baik menahan panggilan alam dari pada meninggalkan Raina sendirian.
"Kalo aku ke toilet nanti kamu sendirian disini, aku gak mungkin tega ninggalin kamu sendirian, mending kamu ikut aku aja yuk ke toilet." Saking gugupnya Fathan karena menahan ia berbicara sambil berjingkat-jingkatan.
Raina bergedik ngeri dengan kesal ia memukul punggung tangan Fathan, kemudian ia mendorong pelan tubuh Fathan supaya Fathan segera pergi ke toilet.
"Sembarangan kamu kalo ngomong. Masa aku disuruh nungguin di depan toilet Haha. Buruan sana ke toilet, aku tebak sekarang kamu lagi keringet dingin, gemeteran terus jingkrak-jingkrakan sendiri pasti nih," ucap Raina.
Fathan tidak kuat lagi menahan, bulu kuduknya mulai merinding hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengiyakan perkataan Raina yang menyuruhnya pergi ke toilet.
"Oke aku ke toilet sekarang. Tapi kamu diem disini dan jangan pergi kemana-mana, Oke," tegas Fathan.
"Iya sayang, ternyata pacar aku ini makin hari makin cerewet ya. Buruan sana ke toilet sebelum kamu ngompol," ucap Raina.
Setelah berpamitan dengan Raina. Fathan berlarian menuju toilet yang berada di kantor polisi.
Fahira yang berada di balik tembok kini sedang menatap tajam ke arah Raina, ia mengepalkan kedua tangannya kemudian ia berjalan menghampiri Raina.
"Liat aja gw bales lo. Gara-gara lo sekarang Fathan lebih memprioritaskan lo ketimbang gw yang jelas-jelas udah kenal lama sama dia." Fahira terus mengumpati Raina.
Fahira mendudukkan dirinya di samping Raina tanpa mengeluarkan suara sedikit pun dari mulutnya, ia mengayunkan tangan kanannya tepat di hadapan wajah Raina untuk memastikan kebenaran dari dugaannya.
Raina yang menyadari keberadaan seseorang di sampingnya refleks menolehkan kepalanya, ia kebingungan siapa orang yang berada di sampingnya. Raina terdiam sejenak kemudian ia mengembangkan senyumnya.
"Kak Fathan udah deh gak usah sok-sokaan mau ngerjain aku, gak lucu tau," ucap Raina.
"Oh ternyata bener ya dugaan gw kalo lo buta," ucap Fahira dengan angkuh.
Raina menggerakkan tangannya berusaha mencari keberadaan orang yang mengajaknya berbicara, ia merasa tidak asing dengan suara tersebut namun ia lupa.
"Maaf siapa ya? Kak Fathannya mana?" tanya Raina kebingungan.
"Ternyata bukan mata lo aja ya yang buta ingetan lo pun udah gak berfungsi sampai lupa sama suara gw," ucap Fahira.
Raina terdiam dan berusaha menduga-duga siapa perempuan yang kini berada di sampingnya.
"Fahira?" tebak Raina.
"Gw gak nyangka banget kalo karma itu datengnya cepet banget, tuhan memang adil sama gw. Sekarang lo buta pasti hidup lo selamanya bakal nyusahin orang lain termasuk Fathan dan gw heran kenapa Fathan masih mau sama lo seharusnya kan dia ninggalin lo." Fahira tidak menyauti ucapan Raina, ia mengalihkan dengan mengeluarkan kata-kata tajamnya yang membuat Raina menjadi sedih.
Raina sontak terkejut mendengar ucapan Fahira yang begitu menusuk, ia tidak menyangka Fahira bisa berbicara seperti itu padanya.
"Kenapa lo ngomong kaya gitu. Gw sama sekali gak pernah mau ada di posisi ini dan gw juga gak pernah maksa kak Fathan buat terus sama gw. Ternyata mulut lo jahat ya Fahira, gw kira lo sahabat kak Fathan yang baik ternyata gw salah." Raina berusaha untuk tidak terlihat lemah di hadapan Fahira supaya Fahira tidak semakin menyakitinya dengan ucapan-ucapan yang tajam dari mulut Fahira.
Fahira melirik Raina sinis, ia tersenyum simpul kemudian ia menggeserkan tubuhnya menghadap Raina.
"Gak salah lo ngomong kaya gitu ke gw? Adanya lo yang jahat sama gw, lo rebut Fathan dari gw dan lo juga udah berhasil ngebuat Fathan lupa sama gw. Harusnya sekarang lo sadar diri Raina sama keadaan lo yang sekarang. Lo itu sekarang buta dan lo bakal nyusahin Fathan tiap hari. Lo egois Raina, di keadaan lo yang buta ini tapi lo gak mau ngelepas Fathan. Harusnya gw yang sekarang di samping Fathan bukan lo! Lo liat aja gw bakal rebut Fathan lagi dari lo dan gw akan buat Fathan menjauh dari lo selama-lamanya." Fahira menekankan setiap kata yang muncul dari mulutnya hingga membuat Raina tidak kuat mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut Fahira.
Raina menutup telinganya berharap tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Fahira.
Tanpa ia sadari Fathan sudah berada di hadapannya sambil menatap Raina heran, ia mengedarkan pandangannya di sekitar namun ia tidak melihat apapun disana.
"Raina, kamu kenapa? Ini aku Fathan," tanya Fathan dengan cemas.
__ADS_1
Saat mendengar suara Fathan, Raina berusaha mengatur nafasnya kemudian ia menengadahkan kepalanya tersenyum.
"Oh kamu, Aku kira tadi hantu makanya aku tutup kuping serem banget abisnya hehe," saut Raina terkekeh.
Fathan menatap Raina curiga karena ia sangat mengetahui Raina. Ia tahu Raina sedang berbohong karena yang ia ketahui Raina bukan sosok perempuan yang takut pada hal-hal seperti itu setelah ia mengingat kembali bagaimana Raina saat memasuki wahana rumah hantu. Fathan mendudukkan dirinya di samping Raina kemudian mengusap gemas kepala Raina.
"Kamu gak pinter boong sama aku loh, udah jujur aja ada apa? Aku percaya kalo yang ngomong kaya tadi si Lala," ucap Fathan.
Raina mendesis ia merutuki dirinya sendiri yang teralu bodoh karena bisa-bisanya ia memberikan alasan yang sama sekali tidak masuk akal.
"Engga kok aku gak boong, liat aja hidung aku gak makin panjang kan? Lagian namanya orang walaupun dia gak takut hantu tapi kan bisa aja dia takut juga," ucap Raina terus berdoa dalam hatinya berharap Fathan mempercayainya.
"Yaudah iya terserah kamu aja deh. Jadi ketemu sama Maira dan Sinta gak?" tanya Fathan.
"Jadi dong, aku mau ngobrol sama mereka," saut Raina dengan mata berbinar dan penuh harap.
"Semangat banget ketemu sama orang-orang gak penting kaya mereka," ketus Fathan.
***
Lala, Reno dan Fano kini berada di lokasi yang tidak jauh dari rumah, mereka sengaja menggunakan sepeda karena Lala mengajak mereka untuk jajan di dekat salah satu sekolah yang biasanya banyak sekali pedagang makanan disana.
"Masih jauh gak?" tanya Reno.
"Dikit lagi, nanti kita belok kiri terus ketemu SD nya deh," jawab Lala.
Fano melirik Lala dan Reno bergantian, ia mendengus sebal karena Lala dan Reno yang mengendarai sepedanya dengan lambat membuat nya geram.
"Bawa sepedanya kaya keong nih, kita balapan aja yuk yang nyampe duluan halus telaktil," tantang Fano.
"Halah palingan juga tetap aku yang bayar, lagian uang dari mana buat traktir? Emangnya Fano bawa uang?" ucap Reno dengan malas.
"Hehe engga sih. Tapi Pano bosen soalnya bawa sepedanya pelan banget kaya lagi jalan kaki, tadi Pano diledekin tuh sama anak yang lambutnya kelibo kaya mie sakula lagi jalan itu soalnya Pano kalah sama dia." Fano mencibirkan bibirnya sambil menunjuk ke arah anak kecil berambut keriting yang sedang berjalan.
Mereka memutuskan untuk menuruti permintaan Fano, kini ketiganya sedang bersiap-siap kemudian Lala mulai berhitung.
"Siap ya. Satu ... Dua ... Tigaaaa." Lala menggowes sepedanya dengan cepat mendahului Reno dan Fano.
Fano semakin semangat menggowes sepedanya saat melihat anak kecil berambut keriting yang sempat meledeknya, kemudian dengan sengaja ia mendekati anak tersebut kemudian meledeknya.
"Sukulin Pano balap emangnya enak makanya jangan ngeledek Pano." teriak Fano.
Anak tersebut menolehkan kepalanya menatap Fano jengkel.
"Gua sumpahin jatoh kecebur got lo bocah jelek kaya bebek," saut anak tersebut.
"Enak aja Pano ganteng gak jelek. Bye bye kelibo kaya mie sakula," ejek Fano.
"Fano gak boleh ngeledekin orang kaya tadi," tegur Reno mulai mengurangi kecepatannya dan mensejajarkan posisi sepedanya dengan posisi Fano.
"Bialin aja ah si kelibo ngeselin soalnya, tadi dia nyumpahin Pano kecebul got lagi, awas aja kalo Pano benelan kecebul got," gerutu Fano.
"Lain kali kalo ketemu orang gak boleh kaya gitu ya, nanti Fano gak punya teman loh," ucap Reno.
"Dia yang ledekin Pano duluan masa Pano diem, Pano kan jagoan gak telima diledekin," bantah Fano.
Reno menatap ke arah depan, ia mencari keberadaan Lala yang tidak terlihat.
"Tuh kan gara-gara Fano kak Lalanya ilang," ucap Reno.
"Gitu aja galau, kak Lala tadi belok kesana tuh," ucap Fano sambil mengarahkan tangannya ke belokkan.
Keduanya mengendarai sepeda mereka kemudian mereka terkejut saat melihat sepeda Lala yang berada di pinggir jalan namun Lala tidak terlihat disana.
"Itu sepeda kak Lala tapi olangnya ilang atau mungkin kak Lala jalan kaki ya soalnya dia capek naik sepeda," ucap Fano.
Reno meletakkan sepedanya di sembarang tempat, ia melangkahkan kakinya mendekati sepeda Lala karena sedari tadi ia mendengar suara teriakan Lala namun tidak jelas saat ia sampai di dekat sepeda Lala ia menepuk dahinya. Ia bingung harus cemas atau tertawa saat melihat Lala berada di dalam selokan yang lumayan dalam namun tidak ada airnya.
"Kamu ngapain disitu? Katanya mau jajan," tanya Reno menahan tawanya.
__ADS_1
"Kak Leno ngomong sama siapa? Di got ada olang emangnya?" tanya Fano.
Fano melepas sepedanya hingga membuat sepedanya terjatuh begitu saja, ia berlarian menyusul Reno.
Fano terkikik geli saat melihat Lala yang berada di dalam selokan, ia memajukan posisinya melihat selokan.
"Haha pelasaan tadi yang disumpahin masuk got sama si kelibo Pano deh, kenapa kak Lala yang nyungsep ya, tapi gotnya gak ada isinya jadi kak Lala gak belubah walna jadi item." Fano menertawakan Lala sambil memegangi perutnya.
Sedangkan Lala yang berada di dalam sana hanya mendengus sebal sambil menatap Fano kesal, ia menjulurkan tangannya ke arah Reno berharap Reno segera membantunya.
"Jatoh sendiri bangun sendiri lah masa minta bantuin, nanti yang ada aku ikut masuk kesana lagi," ucap Reno.
"Ih kak Reno bantuin, Lala nangis nih ya nanti Lala aduin ke mama Wina biar kak Reno dimarahain," ucap Lala.
"Ya ya ya dasar tukang ngadu, sini buruan tangannya awas aja kalo kamu narik aku buat ikut nyemplung kesana juga, Aku bakal marah sama kamu sebulan," ancam Reno.
Reno menarik tangan Lala supaya Lala bisa keluar dari selokan yang lumayan dalam.
"Sini Pano bantuin, kak Lala kan belat kaya kingkong pasti kak Leno gak kuat sendilian." Fano menarik tangan Lala dengan semangat.
Reno dan Fano berjalan kembali menuju sepedanya setelah berhasil membantu Lala.
"Kenapa bisa jatoh kesitu sih?" tanya Reno.
"Tadi ada mobil yang lewat terus Lala panik refleks belok ke kiri dan nyemplung deh kesana, emang ya tuh mobil kurang diajar banget orang naik sepeda diklaksonin jadi kaget kan," kesal Lala.
Lala mengendarai sepedanya dengan lambat karena kakinya masih terasa sakit.
"Tuh Sd nya, yuk kita jajan untung masih banyak yang jualan," ucap Lala dengan semangat sampai lupa dengan rasa sakit di kakinya.
"Huaaa ada yang jualan lumah-lumahan keong, Pano mau beli." Fano meninggalkan sepedanya begitu saja di pinggir jalan ia berlarian dengan semangat menghampiri pedagang.
"Tuh kan rese, sepedanya ditinggal gitu aja siapa yang mau bawa dah. Kak Reno sih gara-garanya ngizinin Fano bawa sepeda. Fano! Ini sepedanya ambil kak Lala loakin nih ya," teriak Lala.
Fano sengaja menutup telinganya saat mendengar teriakan Lala, ia sibuk dengan keong-keong yang ditawarkan oleh pedagang.
"Pano gak dengel suel deh," teriak Fano.
Fano kebingungan saat melihat keong yang berada di tangan salah satu murid SD yang bersekolah disana bisa berjalan.
"Bang kenapa keongnya dia ada kakinya? Kok punya Pano gak ada kakinya," tanya Fano.
"Gini nih biar dia keluar dikasih jigong dulu," saut salah satu anak SD.
Fano mengikuti saran dari beberapa anak yang ada disana, ia membuka mulutnya kemudian mengarahkan keong di depan mulutnya, ia kaget saat kaki keong tersebut mulai keluar dari cangkangnya refleks ia melepaskan hewan tersebut.
"Bang kok selem kaya monster," heran Fano sambil menjauhkan posisinya dari hewan tersebut.
"Sukurin, banyak gaya sih," ledek Lala sambil menertawakan Fano.
"Ih ini cantik banget warnanya pink gambar bunga-bunga, bang mau yang itu dong satu," pinta Lala.
Fano menjauhkan dirinya dari Lala saat melihat Lala yang memegang keong tersebut.
"Liat deh kak Reno lucu banget, tangan Lala jadi kaya dikelitikin gitu, beli ini yaaa," pinta Lala.
Fano membulatkan matanya sambil menggelengkan kepala.
"Jangannnn!" teriak Fano.
***
Bersambung ....
Oh iya ada yang tau gak keong yang ditiup-tiup langsung keluar dari cangkangnya? Sering dijual di sekolahan sama abang-abang terus ada rumahnya juga itu namanya apa?
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya gais, kalo ada saran silahkan di tinggalin aja di kolom komentar.
Semoga kalian semua terhibur baca episode ini ya hehe.
__ADS_1
Sekian dan terima kasih.