SENIOR

SENIOR
Gara-gara Lala


__ADS_3

Lala mencibirkan bibirnya saat terus menerus tidak dihiraukan oleh Reno, ia menggeser kepalanya menatap televisi, ia membelalakan matanya saat ada pemain dari salah satu tim memasukkan bola ke gawang.


"Gol! Gol! Gol!" Lala berteriak sambil berjingkat-jingkatan.


Tanpa Lala sadari ia sedang ditatap oleh Reno dengan tatapan tajamnya.


"Kenapa kamu teriak-teriakan? Berisik tau," ketus Reno.


"Itu gol barusan, biasanya Papa Lala selalu kaya gitu kalo nonton bola, kak Reno bukan bola sejati nih masa biasa aja liat ada yang bobol gawang," ucap Lala.


Reno mendelikan matanya, ia menatap Lala sebal bagaimana ia tidak sebal dengan Lala. Lala berteriak kesenangan saat lawan main dari tim favoritenya membobol gawang, hal tersebut membuat Reno geram, ingin sekali rasanya Reno menelan Lala hidup-hidup.


"Itu yang masukin bolanya bukan tim jagoan aku Lala. Sono dah mending tidur gak usah disini, rusuh banget sih." geram Reno tangannya mendorong pelan tubuh Lala supaya tidak membuat Lala terjatuh


"Oh gitu toh, ngobrol dong dari tadi Lala kan gak tau kalo yang masukin bolanya ke gawang bukan jagoannya kak Reno." Lala terkekeh lalu kembali mendudukan dirinya diatas sofa.


Reno melirik Lala dari sudut matanya, ia menggertakan giginya menahan rasa geramnya pada Lala kemudian kembali fokus pada televisi yang sedang menyala.


Lala menolehkan kepalanya menatap Reno yang sedang fokus melihat ke arah televisi.


"Kak Reno, Lala mau nanya boleh gak?" tanya Lala.


"Gak! Udah sana balik ke kamarnya Raina, cewe gak boleh begadang," ketus Reno.


"Ih gitu banget padahal Lala serius nanya loh. Pasti kak Reno masih marah ya sama Lala, yaudah maaf deh maaf mana yang sakit sini biar Lala tiup." Lala meraih wajah Reno lalu meniup-niup wajah Reno.


Berbeda dengan Lala yang sedang meniup-niup hidung Reno, terlihat Reno yang gugup saat menerima perlakuan Lala yang begitu spontan hingga membuat dirinya tidak bisa menyiapkan diri untuk menahan dirinya saat berada di dekat Lala.


Terlihat Fathan yang sedang berdiri di dekat tangga sambil membawa sebotol air mineral. Berulang kali Fathan mengusap matanya memastikan penglihatannya tidak mengalami masalah.


"Lagi rame sok jaim giliran berduaan deket banget kaya lobang hidung, samperin aja kali ya ngerinya hilaf nanti mereka kalo dibiarin berduaan," gumam Fathan.


Fathan melangkahkan kakinya menghampiri Reno dan Lala yang sepertinya sedang berada di dunia lain.


Fathan kini berada di hadapan mereka namun keduanya sama sekali tidak beranjak dari posisinya hingga membuat Fathan menatap heran keduanya.


Padahal gw udah di depan mereka, tapi dia gak sadar juga, gw cipratin air dingin seger kali ya.


Fathan membuka botol air mineral lalu menuangkannya ke tutup botol, sejenak ia menatap keduanya sambil mengembangkan senyumnya kemudian tanpa banyak berfikir dengan cepat ia menuangkan air yang berada di tutup botol ke arah mereka.


Fathan tertawa terbahak-bahak saat melihat reaksi keduanya ketika air dingin mengenai wajah keduanya.


Berbeda dengan Fathan kini Reno dan Lala menatap Fathan sebal sekaligus merasa malu karena ketahuan oleh Fathan.


"Kenapa gak nyiram sebotol aja sekalian, nanggung banget nyiran segitu doang, disiram ketanaman juga ga ngaruh tau," ketus Lala.


"Oh ... Yakin mau sebotol? Gw siram nih." tantang Fathan sambil mengacungkan botol air mineral yang masih terlihat penuh.


"Lagian kalian berdua ini ada-ada aja, giliran depan orang bilangnya gak suka lah, cuma teman lah dan segala macem alesan kalian keluarin. Eh pas berdua kaya begini ternyata, gw aduin ke tante Wina seru kayanya nih pasti nanti bakal ada resepsi dadakan." Fathan berbicara sambil menatap keduanya secara bergantian.


Lala menggelengkan kepalanya dengan gemas ia melempari Fathan dengan bantal sofa.


"Jangan ngada-ngada deh Kak, Tadi tuh gw cuma mau ngobatin kak Reno tau. Ini semua gara-gara gw gak sengaja nendang mukanya kak Reno jadinya dia marah sama gw, gak usah sok tau makanya," omel Lala.


"Kalo ngobatin gak gitu ya teletabis kw, masa ngobatin gak sadar kalo gw udah di depan lo. Gini ya gw kasih tau ke kalian berdua disini ada anak kecil, gimana kalo Fano yang liat bisa-bisa jadi contoh yang gak baik. Lo ngerti pasti lah bang Reno secara lo lebih tua dari gw," ucap Fathan.


Reno menghela nafasnya sambil mengusap kasar wajahnya, ia menatap Fathan dan Lala malas.


"Gak usah diperpanjang. Kejadian tadi gak sengaja, makasih nasihatnya ya Fath." Reno menatap Fathan sambil menepuk-nepuk bahu Fathan.


Fathan menganggukan kepalanya dan tersenyum pada Reno.


"Iya bang Reno, lain kali jangan kaya gitu. Kalo kalian emang udah klop satu sama lain mending langsung aja lah bilang ke tante Wina nanti gw sama yang lain bantuin urus semuanya He-He. Lagi pula lumayan mengurangi jatah nunggu gw, tinggal Reyhan doang nih gampang lah dia mah Ha-Ha." Fathan berbicara dengan diselingi candaan hingga membuat Lala memicingkan matanya menatap Fathan geram.

__ADS_1


Lala melempari Fathan dengan bantal-bantal sofa yang ada di sekitarnya hingga membuat beberapa bantal berserakan di atas lantai.


"Ngomong sono lo sama tembok! Pergi sono! Siapa juga yang mau nikah cepat, kuliah aja gw belom lulus apa kata lele-lele peliharaan gw di rumah!" Lala terus berteriak hingga membuat orang-orang yang berada di lantai dasar terbangun dan menghampiri mereka.


"Ada apa sih ribut-ribut, bukannya tidur kalian ini liat tuh udah jam berapa? Mama siram kalian bertiga ya!" omel Wina.


"Maaf Tante, salahin Lala tuh yang kaya tarzan suka teriak-teriak gak jelas, lagian Fathan tuh awalnya ke bawah mau ambil minum ke dapur, tapi Fathan liat bang Reno sama Lala dekat banget kaya gini nih Tante." Fathan menyalakan layar ponselnya lalu melihatkan hasil gambar yang ia ambil sebelum ia menyiram keduanya menggunakan air mineral.


Lala membelalakan matanya lalu mengalihkan pandangannya ke arah Reno berusaha memberi kode untuk mencegah Fathan.


"Kalian berdua ya bener-bener, sini ikut Mama dan duduk disana, Fathan balik aja ke kamarnya ya," pinta Wina.


Fathan menganggukan kepalanya sambil mengancungkan kedua jempol lalu tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya ke arah Reno dan Lala.


"Siap Ibu calon mertua, Jangan kasih longgar ya kalo perlu besok harus ada kabar resepsi dadakan Ha-Ha, Bye bye calon iparku," ucap Fathan.


Lala menatap Fathan geram sedangkan Fathan hanya merespon dengan menjulurkan lidahnya lalu berjalan menuju tangga meninggalkan yang lainnya.


"Awas lo ya kak Fathan gw bales!" ancam Lala.


Sejak kapan sih kak Fathan jadi kepo sama urusan orang ini mah namanya pangeran es berubah jadi lambe turah. Awas aja gw jambak-jambak nanti si kak Fathan.


Lala terus mengumpat Fathan di dalam hatinya hingga ia tidak menyadari kalau Wina memanggilnya sedari tadi.


****


Fathan membuka pintu kamarnya sambil cekikikan. Terlihat yang lainnya yang sedang duduk di atas kasur dengan raut wajah mengantuknya.


"Loh kompak amat bangunnya," heran Fathan.


"Ada apaan sih di bawah rame amat kaya ada maling," tanya Rama.


"Kalo lo liat langsung mungkin mata lo bakal melek dan dibikin penasaran terus-terusan," jawab Fathan.


"Emangnya apaan? Jadi penasaran gw, lo mau turun gak Ram?" tanya Raka.


"Udah gak usah, nanti pagi juga bakal diceritain sama tante Wina. Udah lo pada tidur aja lagi, percuma aja kalo kalian ke bawah yang ada nanti diusir sama tante Wina," ucap Fathan.


"Hadeh udah bikin penasaran ditunda lagi sampe pagi. Yaudah lah tidur lagi aja, semoga aja gak kebawa mimpi," keluh Rama.


Rama kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur dan disusul oleh Raka. Tidak butuh waktu lama kini ketiganya sudah tertidur dengan lelap.


***


Aisyah yang semulanya tidur kini terusik dengan gerakan tubuh Raina.


"Raina, kok belom tidur, kenapa?" tanya Aisyah sambil mengusap matanya.


"Tadi gw tidur kok, cuma kebangun aja dan tiba-tiba aja kepikiran soal Maira, kira-kira besok bakal gimana ya? Gw takut kak Fathan emosinya berlebihan," ucap Raina.


Aisyah menatap Raina dan mengembangkan senyumnya.


"Sebenernya wajar kalo nanti Abang Aku marah sama Maira karena apa yang udah dia lakuin ke kamu itu udah kelewat batas. Raina kamu harus tau bang Fath gak akan ngebiarin orang yang dia sayang disakitin sama orang lain. Kamu gak tau gimana paniknya Abang Aku pas kamu kecelakaan dan gimana sedihnya Abang Aku pas tau kamu gak bisa ngeliat lagi. Aku orang yang kenal Bang Fath dari kecil dan aku paham betul apa yang dia rasain, jadi kali ini biarin aja dia lakuin apa yang seharusnya dia lakuin," ucap Aisyah sambil mengelus bahu Raina.


Raina terdiam sejenak mencerna perkataan Aisyah lalu ia tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Makasih ya berkat nasihat lo sekarang gw jadi lega, yaudah kita tidur lagi aja yuk, nanti lo ngantuk lagi pas ke kampus, gw sih bisa tidur sampe siang karena gw gak ngampus He-He," ucap Raina sambil menunjukkan cengirannya.


Aisyah terdiam dan menolehkan kepalanya untuk memastikan sesuatu yang sedari tadi membuatnya sedikit merasa aneh.


"Nah itu si Lala dari tadi gak naik-naik ke atas? " tanya Aisyah.


"Gak tau deh soalnya gw gak bisa liat Ais He-He. Tapi dari tadi sih gw gak ngerasa ada yang masuk ke kamar mungkin aja dia masih betah di bawah," saut Raina.

__ADS_1


Aisyah terdiam ia merasa bersalah pada Raina, ia merutuki dirinya yang bisa-bisanya menanyakan keberadaan Lala pada Raina


"Raina maafin Aku ya, Aku gak ada maksud apa-apa," ucap Aisyah.


"Iya santai aja, gw gak tersinggung kok mendingan lo susulin Lala deh ke bawah, tumben-tumbenan tuh anak betah di bawah sendirian," pinta Raina.


"Gapapa nih Aku gw tinggal sebentar?" tanya Aisyah dengan ragu.


"Iya, lagian kan disini ada Zara tuh, walaupun dia tidur He-he, kayanya kecapekan deh nih anak pules banget tidurnya," ucap Raina terkekeh.


"Yaudah Aku ke bawah dulu ya," pamit Aisyah.


Aisyah beranjak dari kasur lalu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar dan membuka pintu kamar Raina kemudian ia berjalan menuju ruang tengah.


Aisyah memicingkan matanya saat melihat Lala, Reno dan Wina serta Gio yang sedang berbicara di ruang tengah dengan wajah seriusnya.


"Itu lagi pada ngapain sih? Mukanya pada kaku banget kaya ketauan abis kriminal," gumam Aisyah.


Perlahan Aisyah berjalan menuruni anak tangga dan berjalan mendekat ke arah ruang tengah.


Aisyah tercengang saat tidak sengaja mendengar pembicaraan Mereka, ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya lalu.


"Maaf tante Wina dan om Gio, Aku gak sengaja dengar omongan kalian, jujur Aku gak ada niatan nguping. Aku kesini mau nyamperin Lala karena dari tadi dia gak naik ke atas." Aisyah berbicara dengan gugup ia sangat takut kalau kedua orang tua Raina akan memarahinya.


"Iya gak apa Aisyah. Ini juga ngomonginnya dadakan kok He-He. Raina gimana? Udah tidur dia?" tanya Wina.


Aisyah menghembuskan nafas leganya, ia sangat senang saat mendengar respon Wina yang sama sekali tidak marah padanya hingga tanpa sadar ia mengembangkan senyumnya.


Sedangkan Lala hanya menatap Aisyah dengan tatapan memelasnya.


"Tadi sempat kebangun Tante, makanya Aku kesini karena disuruh Raina buat ajak Lala ke atas. Eh pas sampe sini malah dapet surprise Ha-ha." Aisyah mulai merasa tenang saat Wina memberi respon positif padanya.


"Yaudah deh Tante, Om maaf ya Aisyah ganggu obrolannya He-He. Aku pamit balik ke atas ya. Gak jadi ajak Lala ke atas deh He-He. Bye bye Lala." Aisyah berpamitan pada kedua orang tua Raina, lalu tersenyum pada Lala sambil melambai-lambaikan tangannya.


Fano keluar dari kamar nya dengan posisi mata terpejam, ia berjalan perlahan menuju ruang tengah dengan mata terpejam.


Hal tersebut membuat Aisyah melihat ke arah Fano dengan bingung.


"Itu si Fano gimana ceritanya sih jalan sambil merem, ngeri nabrak tembok tuh anak," gumam Aisyah.


"Pano kesatria bertopeng yang paling ganteng di seluruh dunia," gumam Fano sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri.


Gio yang melihat Fano berjalan ke arah mereka hanya menggelengkan kepalanya.


"Hm ... Kebiasaan nih bocil lagi tidur aja masih pecicilan untung gemes," umpat Gio.


Gio beranjak dari sofa lalu menggendong Fano membawanya kembali menuju kamarnya.


"Yuk balik yuk, dasar bocil tidur aja bisa jalan-jalan," ucap Gio mengusap gemas rambut Fano.


"Gapapa Aisyah santuy aja nih anak emang ajaib lagi tidur aja bisa jalan-jalan, kalo mau ke atas jalan aja biar Fano Om lempar ke asalnya Ha-Ha," ucap Gio terkekeh.


Aisyah menggelengkan kepala dan membalikan badannya lalu berjalan menaiki anak tangga meninggalkan Gio.


"Raina kalo tau semua ini pasti ketawa deh, ternyata diem-diem mereka merencakan sesuatu tapi tadi katanya tante Wina dadakan, biarin ajalah itu urusan mereka, Aku gak usah ikut-ikutan tunggu kabarnya aja nanti pagi," gumam Aisyah.


***


Bersambung ....


Jangan lupa like dan komentarnya gais biar aku makin semangat lanjutinnya, kalo ada saran juga boleh kok silahkan tinggalin di kolom komentar, aku siap nampung hehe.


Semoga terhibur dengan cerita di bab ini, maaf ya di bab ini kebanyakan Lala soalnya lagi dapat ide kesana gaissss haha.

__ADS_1


Sekian dan terima kasih


__ADS_2