
Keesokkan harinya tepat pukul 7.30 yang kebetulan sekali Raina sedang tidak ada kelas pagi hingga ia kini bisa bermalas-malasan diatas kasurnya sambil menunggu waktu kelas siangnya tiba.
"Senangnya bisa rebahan lebih lama kaya gini, rasanya udah lama banget deh gak nonton drama korea lagi, sampe lupa sama cerita drakor yang baru ditonton setengah," gumam Raina.
Raina meraih ponselnya dari atas meja kemudian ia menyalakan layar ponselnya mulai mencari drama korea yang belum sempat ia tonton hingga selesai. Baru beberapa detik film mulai ia tonton tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk dengan kencang hingga membuatnya berdecak kesal.
"Ntar dulu! Sabar dong, itu pintu bukan gendang!" teriak Raina.
Raina meletakkan ponselnya diatas kasur kemudian menghela nafas kesalnya lalu ia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar yang memang sengaja kunci.
Raina membuka pintu kamarnya dan terlihat wajah Lala di depan pintunya sambil menunjukkan cengirannya. Melihat hak tersebut semakin membuat Raina kesal.
"Ngapain lo kesini," ketus Raina.
Lala melengos masuk ke dalam kamar Raina yang diikuti oleh Raina dari belakang kemudian ia mendudukkan dirinya diatas kasur Raina.
"Songong banget, udah getok-getok kamar gw kenceng banget sekarang masuk ke kamar gw seenak mata kaki lo aja dan sekarang lo duduk di kasur gw. Bener-bener lo ya Lala," omel Raina.
Lala melihat ponsel Raina yang berada di sampingnya kemudian ia mengambil ponsel tersebut dan membuka pola ponsel milik Raina yang sangat ia hapal. Ia terkekeh sambil menggelengkan kepalanya saat melihat layar ponsel Raina yang menampilkan drama korea yang sempat terpaksa Raina hentikan karena mendengar pintu kamarnya yang diketuk.
"Masih aja nontonin drakor heran gw mah sama lo Raina. Jangan gitu lah mukanya serem amat, gw sengaja kesini karena mama Wina nyuruh gw ke kamar lo buat nyeret lo ke meja makan. Mentang-mentang masuk siang maunya rebahan mulu bukannya bantuin emak lo, gimana sih lo Raina," ucap Lala sambil mengacak-acak beberapa menu yang ada di ponsel Raina.
Raina tidak terima dengan apa yang diucapkan Lala padanya. Menurutnya antara dirinya dan Lala sama saja. Bahkan Lala lebih parah dari pada dirinya perihal masak memasak.
"Noh kaca di depan meja gw gede, sono lo ngaca deh. Kalo masih kurang juga, tenang aja masih ada kaca jendela noh. Sembarangan aja lo kalo ngomong, gw bisa masak ya gak kaya lo," omel Raina.
Lala mengerutkan dahinya kemudian ia meletakkan ponsel Raina kembali pada tempat semula.
"Siapa yang bahas masak? Gw kan cuma bilang gini nih bukannya bantuin emak lo maksud gw tuh bantuin yang lain bukan masak doang. Emangnya mama Wina kerjaannya masak doang, udah marah-marah aja lo," saut Lala.
****
Fano sedang asik bermain dengan kucing yang ia beri nama Atun sambil memberi makan kucing tersebut di depan pintu rumah.
"Atun makan yang banyak ya bial cepet gede, bial bisa ngalahin macan. Nih Pano kasih ikan lele buat Atun, tapi gak ada nasinya ya atun," ucap Fano sambil mencubit ikan dan memberikannya pada kucing tersebut.
Saat sedang sibuk memberikan makan pada kucingnya, tidak sengaja Fano melihat seseorang di depan pagar rumah yang terlihat sedang mengawasi rumah Wina. Orang tersebut terlihat tidak jelas karena ia memakai hoodie yang menutupi kepalanya dan juga memakai penutup wajah hingga membuat Fano sulit untuk mengenali orang tersebut.
"Atun liaat deh itu yang di depan pagel siapa kok jelek banget ya pake topengnya kaya monstel," ucap Fano sambil menatap ke arah orang tersebut.
Tidak mendapat respon dari kucingnya, Fano menolehkan kepalanya kemudian ia berkacak pinggang sambil menggelengkan kepalanya.
"Atun bukannya dengelin Pano malah makan telus. Liat aja besok Pano kasih makan cabe bial kepedesan," oceh Fano.
Fano melangkahkan kakinya sambil membawa ikan lele menuju pagar rumah sambil mengendap-endap supaya orang tersebut tidak menyadari keberadaannya.
"Kenapa Pano kesini ya, halusnya kan Pano ngadu aja ke olang-olang gede bial olang jelek ini ditangkep. Pano kan anak kecil gak imbang kalo lawan monstel gede," gumam Fano.
Fano memutuskan untuk kembali ke dalam rumahnya, ia berlarian menuju dapur dengan tergesa-gesa. Fano sedikit kesulitan saat berlari karena kucing peliharaannya terus mengikutinya dan menghalangi jalanya.
"Atun minggil gak jangan halangin Pano. Nanti Pano tendang nih ya," omel Fano.
Melihat Fano yang berbicara dengan kucing membuat semua orang yang ada di dapur menepuk dahinya.
"Kalo gak mau diikutin itu kembarannya si Lala lempar aja ke kucingnya, tuh kucing ngincer itu ikan," ucap Reyhan.
Fano mengalihkan pandangannya pada ikan Lele yang berada di tangan kanannya, ia menyengir kuda saat menyadari ikan lele tersebut masih berada di tangan kirinya. Refleks Fano langsung membuang ikan tersebut secara asal.
Wina yang melihat hal tersebut membelalakan matanya, ia menatap Fano sebal.
__ADS_1
"Fanoooo! Kenapa di lemparnya di dalam rumah sih. Pasti nanti jadi berantakan kemana-mana terus kalo kaki ketusuk tulang ikannya gimana. Ih bener-bener ya gemes jadinya" omel Wina.
"Tiba-tiba aja tangannya gelak sendili mama Wina, jangan salahin Pano plisss. Ini semua gala-gala Pano abis liat monstel jelek di depan pagel lumah padahal tadi Pano udah ngasih ikannya di depan pintu," ucap Fano.
"Monster apaan pagi-pagi," tanya Gio penasaran.
"Itu monstel jelek pokoknya ada di depan, buluan ayo ikut Pano nanti monstelnya kabul aja," ucap Fano menarik-narik tangan Wina dan Gio.
Mereka pun pasrah mengikuti Fano begitu pun dengan Reno dan Reyhan yang ikut menyusul di belakang.
"Sini kita ngumpet dulu, tuh liat monstelnya menculigakan sekali," adu Fano sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah pagar rumah.
Orang yang dimaksud Fano tersebut menyadari kalau keberadaannya mulai diketahui oleh keluarga Raina. Ia memutuskan untuk pergi secepatnya dari rumah tersebut sebelum ia ditangkap oleh mereka.
"Yah kan kabul, mama Wina sih tadi pake ngomelin Pano dulu jadi kabul kan monstel jeleknya," oceh Fano.
"Yakan mama gak tau Fan kalo kamu mau ngasih tau ada orang asing di depan rumah kita. Kalo mama tau pasti mama tunda dulu ngomelnya," saut Wina.
"Udah jangan ribut terus, sekarang coba kita pikirin kira-kira orang itu siapa. Fano tau gak? Atau Fano liat gak orang itu kaya apa bentuknya," tanya Gio.
Fano terdiam dan berusaha kembali mengingat apa yang ia lihat sebelumnya kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Pano gak tau dia siapa, tapi bentuknya kaya monstel papa Gio selem banget topengnya," ucap Fano bergedik ngeri.
"Mending kita liat cctv yang ada di depan pagar aja, barang kali ada petunjuk disana," saran Reno.
"Nah bener tuh cerdas anak Papa ini. Sini peluk dulu biar makin pinter," ucap Gio sambil merentangkan tangannya yang langsung ditepis oleh Wina.
"Bukan waktunya bercanda Papa," geram Wina.
Lala dan Raina yang sempat ke dapur dan tidak menemukan keberadaan mereka memutuskan untuk mencari yang lainnya hingga akhirnya keduanya menemukan mereka tepat di balik pintu.
"Itu sih Fano pagi-pagi bikin heboh. Dia abis liat orang gak dikenal di depan pager rumah terus pas kita liatin dia langsung pergi gitu aja," ucap Reyhan.
"Loh kok bisa, orang nyari alamat kali terus nyasar. Kenapa semuanya panik begini," ucap Raina.
"Kalo orangnya biasa aja kita mah gak panik anakku sayang. Masalahnya itu orang pake topeng terus pake hoodie kaya lagi ngincer rumah kita gitu. Mama takut deh itu orang komplotan maling mendingan kita ngungsi dulu yuk ke rumah siapa kek gitu," heboh Wina yang mulai panik dan merasa tidak tenang.
Reno melangkahkan kakinya mendekati sang Mama, ia tidak tega melihat wajah Mamanya yang begitu cemas.
"Mama tenang dulu jangan panik, ini kan rumah kita ngapain kita yang pergi sih Ma. Kalo kita pergi berarti kita ngebiarin mereka masuk kesini dengan gampang," ucap Reno sambil mengusap-usap bahu Wina.
"Gimana Mama gak panik sih Ren, itu orang penampilannya kaya gitu masa kita tenang-tenang aja sih," bantah Wina.
"Bang Reno bener ma, Raina setuju sama bang Reno kita gak perlu pergi dari sini. Ngapain kita takut sama dia, ini kan rumah kita," ucap Raina.
"Lala juga setuju karena Lala istrinya kak Reno jadi Lala setuju soalnya Lala gak mau jadi istri durhaka," ucap Lala sambil menaik turunkan alisnya menatap Reno yang juga sedang menatapnya.
"Reyhan juga ma. Lagian kita ada banyak kaya gini masa takut sama satu orang," ucap Reyhan.
"Iya Papa juga setuju, para anak bawang juga pasti setuju kok," ucap Gio sambil menatap Cila dan Fano.
Lala terdiam merasakan ada yang kurang, ia berusaha mencari tahu apa yang kurang dan akhirnya menepuk dahinya saat mengingat kalau baby Vico masih ada di dalam kamarnya.
"Lala lupa kalo Vico masih di kamar. Lala ke kamar dulu ya takut Vico nanti diculik sama orang itu," ucap Lala dengan panik.
Lala berlarian dengan tergesa-gesa menuju kamarnya dengan Reno. Lala membuka pintu kamar dengan tidak santai hingga membuat Vico yang berada di dalam kamar terkejut dan menangis.
"Alhamdulillah ternyata kamu masih aman,Nak. Maafin Ibu ya Vico yang udah ninggalin Vico dan sekarang bikin Vico kaget sampe nangis kaya gini, yuk kita ke depan jangan nangis lagi ya ... Cup cup cup anak gantengnya Ibu gak boleh nangis ya nanti mukanya jadi mirip ondel-ondel loh," ucap Lala sambil mengambil Vico dari boxnya kemudian menggendong Vico membawanya keluar dari kamar.
__ADS_1
Kini semua sedang duduk di ruang tengah menunggu Reyhan yang sedang mengambil rekaman cctv di ruang kerja Gio.
Melihat Lala yang duduk di sampingnya, Reno mengalihkan pandangannya pada Vico, ia melihat mata Vico yang berair seperti habis menangis.
"Abis nangis ya, kamu apain anaknya kenapa bisa nangis," ucap Reno.
"Iya, kayanya kaget deh soalnya tadi Lala buka pintu kamarnya kekencengan," saut Lala.
"Gak usah kamu kasih tau soal itu La, semuanya juga udah liat kalau kamu buka pintunya kenceng banget untuk gak rusak itu pintu. Kalo pintunya rusak, kamu yang benerin ya," ucap Reno.
"Vico liat deh Ayah kamu galak banget, masa Ibu diomelin sama dia cuma gara-gara bikin kamu kaget. Ibu kan udah minta maaf sama kamu ya Vico, masa Ayah kamu yang marah," ucap Lala sambil mengelus-elus pipi Vico.
Reyhan yang baru saja keluar dari ruang kerja Gio kemudian melangkahkan kakinya dan tidak sengaja ia mendengar percakapan antara Lala dan Reno.
"Maklumin aja Vico emak sama bapak baru lo itu masih magang belum pengalaman makanya kerjaannya bikin kaget terus," sambung Reyhan.
Reyhan mulai memutarkan video cctv melalui laptop miliknya.
"Tuh kan benel ada monstel jelek di depan pagel lumah. Gak pelcaya sih dibilangin," ucap Fano sambil menunjuk laptop milik Reyhan dengan tidak santai.
"Biasa aja dong bos, awas aja kalo laptop gw patah, gw goreng kucing lo itu ya," omel Reyhan.
"Ili bilang boss ... Pelit amat sih jadi olang cuma pegang doang gak boleh. Nanti Pano minta beliin juga sama Papanya Pano bial kak Ley makin ili sama Pano wle," ejek Fano sambil meledek Reyhan.
"Sono minta, palingan itu laptop cuma jadi bantal doang kaya bisa aja mainnya," tantang Reyhan.
"Udah-udah kok jadi kalian yang ribut, kita semua fokus dulu kesini ya. Kita harus cari tau orang ini siapa," ucap Gio dengan wajah seriusnya.
"Iya Pano juga ikut ya," saut Fano dengan sigap.
"Anak kecil ikut-ikutan aja," ledek Raina sambil tertawa.
Brrrrr! Brrrr!
Suara perut keroncongan terdengar jelas di telinga semua orang yang ada di ruang tengah hingga membuat Raina sang pemilik perut menunduk malu.
"Weh Raina cacing diperutnya udah demo tenyata Haha. Mendingan kita makan dulu yuk nanti aja ngomongin orang misteriusnya. Kasian cacing pita di perut Raina kayanya udah gak tahan," ucap Lala cekikikan menatap Raina.
Wina terkekeh saat mengetahui perut anaknya bunyi, saking paniknya ia sampai lupa kalau keluarganya belum sarapan.
"Iya ya kita belum sarapan. Mama sampe lupa gara-gara panik abis liat orang asing di depan rumah. Yaudah yuk kita sarapan dulu pasti pada udah laper semua deh," ucap Wina beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju dapur mendahului yang lainnya.
"Dari tadi kek, susah payah gw nahan ini oerut biar gak bunyi padahal," gumam Reyhan kemudian ikut beranjak dari duduknya mengikuti Wina berjalan menuju dapur.
"Makan ... Makan ... Makan ... Yeay hole hole wi didit, mau kemana kita?" heboh Fano sambil berjoget joget.
"Ke dapul!" lanjut Fano dengan berteriak kemudian berlarian dengan pola zig zag menuju dapur.
"Dasar anak kecil cadel gak bisa berenang, gak bisa ngomong R," gumam Cila berlarian mengikuti Fano.
"Cila! Fano! Jangan lari-larian nanti jatoh, meskipun kalo jatoh itu ke bawah tapi rasa sakitnya tetap ada tau," tegur Lala.
****
Bersambung ....
Jangan lupa like, komen dan saran. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar untuk bahan evaluasi aku di bab selanjutnya ya gais.
Sekian dan terima kasih.
__ADS_1