
Kini Raina, Zara dan Aldo berada di rumah Raina, mereka berkumpul untuk merundingkan rencana mereka untuk mengerjai Fathan balik.
Raina baru saja kembali dari dapur membawa minuman dan cemilan untuk Zara dan Aldo.
"Tumben sepi banget nih rumah pada kemana Rain," tanya Aldo sambil mengedarkan pandangannya keseluruh sudut rumah.
"Pada gak di rumah biasalah kak Rey ngampus, bang Ren kerja sama Papa kalo Mama lagi ngaterin Fano sekolah," jawab Raina sambil mendudukan diri di atas sofa.
"Si Fano udah sekolah?" tanya Aldo.
"PAUD dia mah, gak tau dapet hidayah dari mana dia tiba-tiba minta masuk sekolah padahal dari kemaren bolos terus," ucap Raina.
Zara menatap Aldo dan Raina bergantian ia sedikit bingung dengan pembicaraan mereka hingga membuatnya terdiam.
"Jadi gimana rencana buat kerjain kak Fathan," ucap Zara dengan sengaja menyinggung tujuan utama mereka berkumpul.
"Ah iya jadi lupa kan kita kesini mau ngapain," ucap Raina.
"Jadi gini Raina untuk sekarang ini lo boleh liat status apapun yang dibuat sama Fathan tapi jangan lo komen terus kalo seandainya Fathan ngchat lo gak usah lo bales lo baca aja gapapa," ucap Aldo dengan raut wajah seriusnya.
Raina hanya menganggukan kepalanya sambil memakan cemilan sedangkan Zara asik bermain ponsel sambil mendengarkan perkataan Aldo.
"Ini khusus lo Zar, kalo Fathan tiba-tiba ngechat lo nanya-nanya soal Raina lo gak usah respon, kalo mau respon kasih respon yang gak ngasih jawaban ke dia," ucap Aldo sambil melirik Zara.
"Udah gitu doang?" tanya Zara.
"Iya gitu aja, nanti kelanjutannya bakal gw kasih tau di grup chat aja ya kalo ngumpul begini terus gak enak," ucap Aldo.
Disela-sela obrolan mereka terdengar suara Wina dan Fano yang baru saja pulang ke rumah.
"Gambal Pano kelen deh mama Wina nanti mama Wina halus liat Pano dapet bintang 3 kelenkan," ucap Fano.
"Emangnya Fano gambar apa,Nak?" tanya Wina dengan senyum yang mengembang.
"Pano gambal pemandangan yang indah," saut Fano ia berlarian saat melihat Raina dan yang yang lainnya.
"Hallo gaiss ada Pangelan ganteng disini," teriak Fano sambil menatap Aldo dan Zara bergantian.
"Kak Lala mana kok gak ada," tanya Fano.
"Di rumahnya lah," saut Raina.
"Katanya mau kesini kak Lala boongin Pano nih," Fano merengut sambil mencibirkan bibirnya pergi ke dapur meninggalkan Raina dengan menghentak-hentakan kakinya.
"Si Fano nyarinya Lala terus kapan nyariin gw sih tuh anak," ucap Aldo.
"Lo harus mirip kaya Lala dulu Do," ucap Zara terkekeh.
***********
Lala kini sedang menunggu seseorang di depan rumahnya ia sudah memiliki janji dengan orang tersebut untuk menemaninya beli kado.
"Kak Reno lama banget nih bilangnya lagi di jalan tapi gak nyampe-nyampe," keluh Lala.
Seseorang yang Lala tunggu adalah Reno yang sebelumnya sudah berjanjian dengannya hari ini mereka akan pergi mencari kado untuk teman Reno.
Reno baru saja sampai di depan rumah Lala ia mengklakson mobil supaya Lala keluar namun Lala tidak keluar-keluar dari rumahnya ia memutuskan untuk keluar dari mobilnya lalu masuk ke dalam rumah Lala.
Sebelum Reno masuk ke dalam rumah ia bertemu dengan Linda yang sedang menyiram tanamannya sambil berjoget-joget.
Ya ampun Ibu sama Anak somplaknya sejajar gak ada tingkatannya.
Reno menghampiri dan menyapa Linda lalu mencium tangannya hingga akhirnya ia disuruh masuk ke dalam rumah.
"Ada di dapur tadi anaknya sekarang gak tau lagi dimana kamu samperin aja Ren ke dalam," ucap Linda.
Reno menggelengkan kepalanya saat melihat Lala yang sedang asik menonton kartun spongebob sambil rebahan dan mulutnya tidak berhenti mengunyah.
Dengan rasa geram yang menggebu-gebu di hatinya ia melangkahkan kakinya mendekati Lala dengan cepat tangannya menyentil lengan atas Lala.
"Songongnya makin-makin ya sekarang aku udah di depan nungguin bukannya disamperin malah asik-asikan nonton, ditelpon gak diangkat lagi padahal hp di depan muka," omel Reno.
"Gini ya kak Reno tadi tuh Lala udah nungguin di depan lama banget tapi kak Reno gak dateng-dateng yaudah Lala nonton aja dulu salah sendiri ngaret janjian jam berapa nyampenya taun depan," oceh Lala.
"Yaudah ayo buruan," ajak Reno menarik tangan Lala sambil mematikan televisi.
"Fano mana? Kok dia gak diajak," tanya Lala.
"Nanti dijemput, aku kan baru pulang dari kantor langsung kesini makanya buruan jalan teletabis abis itu kita jemput Fano," ucap Reno.
*************
__ADS_1
"Kak Laina Pano mau pamel gambal Pano cakep banget," ucap Fano sambil merogoh isi tasnya.
Fano menunjukan hasil karyanya pada Raina, Zara dan Aldo.
Aldo dan Zara tertawa terpingkal-pingkal melihat gambar Fano yang mendapat nilai bintang tiga.
"Ini mah kalo gw yang jadi gurunya gak gw kasih bintang haha," ucap Aldo.
"Fano sejak kapan matahari warnanya pink udah gitu mataharinya ada 3 lagi warnanya beda-beda," ucap Zara sambil menunjuk kertas hasil karya Fano.
"Ih bial telang makanya Pano bikin matahalinya ada tiga, telus bumi jadi belwalna Pano bosen liat matahali walnanya kuning telus," ucap Fano.
"Terus ini apa? Kok disawah ada pocongnya harusnya petani tau," ucap Raina tertawa terbahak-bahak.
Fano menatap Raina jengkel dengan cepat tangannya menoyor kepala Raina dengan gemas.
"Ini tuh kak Lala tau bukan pocong, kak Lala kan membelnya teletabis makanya Pano gambal kaya gitu jadi celitanya kak Lala lagi libulan di lumah neneknya yang dekat sawah," jelas Fano.
Lagi-lagi Raina dan yang lainnya dibuat tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar penjelasan Fano mengenai karyanya.
"Ini nih kalo Lala tau bisa ribet nih haha," ucap Aldo.
"Iya, gokil banget sepupu lo Rain masa Lala dibikin begitu gw mau foto gambarnya ah," ucap Zara.
Fano menarik kertasnya menatap Zara sebal.
"Jangan poto-poto kalya Pano kalo mau poto bayar selibu," ucap Fano sambil menyembunyikan kertas di balik punggungnya.
"Nih kak Zara punya 50.000 bisa beli permen banyak loh," ucap Zara melihatkan selembar uang berwarna biru.
Mata Fano berbinar dengan cepat ia menyodorkan kertas yang sempat ia sembunyikan pada Zara.
"Nih poto aja yang banyak, tapi jangan diambil ya soalnya mau Pano kasih ke kak Lala pasti dia seneng banget deh soalnya ada kak Lalanya di gambal Pano," ucap Fano tersenyum senang.
"Yang ini ceritanya apaan nih," tanya Aldo sambil menunjuk kertas.
"Oh yang ini kak Leno dia lagi main sama ikan Lele telus disampingnya ada Atun," ucap Fano.
Aldo membelalakan matanya lagi-lagi ia tertawa sama halnya dengan Raina dan Zara.
"Kok gedean ikan lele sama kucingnya dari pada kak Reno nanti kalo kak Reno dimakan sama mereka gimana," ucap Raina.
"Terus Fanonya mana? Kalian kan tiga serangkai masa Fanonya gak ada," tanya Raina.
"Pano lagi on the way naik pesawat, nih pesawatnya, Pano gak keliatan. Soalnya setiap Pano gambal dili Pano hasilnya jelek telus kaya tuyul.
"Gemes banget sih," ucap Zara mencubit gemas pipi Fano.
Lala dan Reno baru saja sampai mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
"Fanoooo," teriak Lala.
"Gak usah teriak teletabis titisan tarzan kamu ya," tegur Reno.
"Iya kak Renoku suyung galak banget sih nanti makin tua tau rasa terus gak ada yang suka," ucap Lala berlarian menghampiri Fano.
"Wei lo berdua ada disini juga, ngapain kalian disini parah gak ngajak-ngajak," sapa Lala.
"Kak Lala Pano punya hadiah tapi ini buat beldua soalnya kelayon Pano abis telus Pano capek juga gambalnya jadi kalian beldua aja ya kalo mau banyak di poto kopi aja," ucap Fano sambil menyodorkan kertas pada Lala.
Reno penasaran dengan hadiah yang diberikan Fano ia mendekatkan diri pada Lala sambil melirik kertas dan Reno tak bisa menahan tawanya saat melihat gambar tersebut.
"Fano ini hadiah macam apa sih, terus ini juga kenapa bisa dapet nilai bintang tiga sih, Fano kasih apa ibu gurunya kok bisa dapet nilai segitu," ucap Lala dengan raut wajah memelas memandang setiap inci gambar Fano.
"Pano gak kasih apa-apa, tapi kelen gak gambal Pano," ucap Fano sambil menyengir kuda.
"Hm, kak Lala sedih liat gambarnya terus ini kenapa ada pocong siang-siang di sawah, ceritanya pocongnya jadi petani gitu?" ucap Lala lemas.
Raina, Zara dan Aldo tertawa terbahak-bahak saat mendengar pertanyaan Lala.
"Lo tau gak La pocong yang lagi bertani siang-siang itu siapa," tanya Raina sambil tertawa.
"Gak tau lah, kesian pocongnya ntar gosong soalnya mataharinya ada tiga begini," ucap Lala.
"Itu lo Lala," ucap ketiganya berbarengan dengan tawa yang terbahak-bahak.
Lala membelalakan matanya melihat gambar tersebut dan menatap Fano kesal.
"Iya itu kak Lala hehe, kak Lala seneng kan? Liat deh ada kak Lala disini telus kak Leno ada Atun sama lele," ucap Fano sambil menyengir.
"Seneng apanya sih ya ampun Lala sedih yaAllah liat gambar ini," keluh Lala.
__ADS_1
"Kak Lala halusnya bangga kak Zala aja suka sama gambal Pano tadi dia poto gambal Pano bayal lima libu," ucap Fano memamerkan selembar uang berwarna biru bertulisan 50.000 sambil menyengir.
"Fano tega banget sih masa kak Lala disamain sama pocong udah gitu hidup di dunia yang ada 3 matahari bisa-bisa kak Lala jadi butiran debu disitu," keluh Lala sambil memelaskan wajahnya.
"Kenapa mataharinya warna pink, ungu sama hijau kok gak ada yang kuning," tanya Reno sambil tertawa.
"Pano bosen sama walna kuning, oh iya kak Lala tenang aja matahalinya gak Panas soalnya walnanya gak kuning," ucap Fano.
"Bodoamat ah, buruan sono ganti baju mau ikut kita gak," ketus Lala.
"Kemana?" tanya Fano.
"Jalan-jalan," saut Reno.
"Tunggu Pano bental ya," teriak Fano.
Dengan semangat Fano beranjak dari duduknya berlarian menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
"Sumpah gokil banget si Fano, ngefans lah gw sama tuh anak," puji Aldo.
"Kayanya gw juga ngefans dah sama dia, sukses banget dia bikin visual Lala digambarnya," ucap Zara sambil meledek Lala.
Perkataan Zara membuat Lala mengerucutkan bibirnya menatap keempat orang yang sedang menertawakannya.
"Semoga kalian kena azab gak bisa berenti ketawa selama-lamanya," ketus Lala.
"Si Fano ya bener-bener bocah somplak ngeselin," gerutu Lala.
"Sama kaya kamu kan," bisik Reno.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..........
Happy reading jangan lupa komen dan likenya ya, terima kasih selalu selalu setia menunggu cerita ini up 😉
Love you guys 😍
__ADS_1