SENIOR

SENIOR
Gara gara serbet


__ADS_3

Lala menatap serbet yang penuh dengan bercak sambal yang berada digenggamannya lalu meletakan serbet sembarang tempat.


Lala memandang celana Raina yang sedikit mulai mengering ia merasa bersalah.


"Raina sekali lagi maaf ya jadi belang belang begitu deh celana lo, gw gak tau kalo tangan gw pengen nyelem di dalam kuah bakso,"ucap Lala menunduk.


"Iya gapapa lain kali tuh tangan diiket ya untung nyiramnya ke gw bukan ke maira bisa perang siram siraman lo sama dia La,"ucap Raina terkekeh.


"Gw udah pernah nyiram dia jadi gak takut, seorang Lala gak takut apapun kecuali sama kuntilanak,"ucap Lala tersenyum bangga.


"Oh iya tangan gw ini membawa berkah loh ternyata, gara gara tangan gw lo jadi deket sama kak Fathan terus lo harus sukuran 3 hari 3 malem Raina terus itu tangan lo laminating sekalian biar bekas tangan kak Fathan gak ilang,"ucap Lala tersenyum membayangkan kejadian Fathan yang membersihkan tangan Raina.


"Heh Lala darah tinggi gw denger lo ngomong lama lama,"ucap Zara gemas.


"Lala mana bisa tangan di laminating,"ucap Aisyah terkekeh.


"Emang gak bisa si hehe, yaudah gak jadi deh Rain terserah lo mau diapain itu tangan,"ucap Lala menyengir.


"Udahlah gak usah dengerin Lala stress lama lama kita,"ucap Zara.


"Kalian tuh cocok deh jadi sahabatan saling melengkapi gitu, ada Zara yang emosian, ada Aisyah yang adem kalem, ada Lala yang pecicilan cerewet pokonya gak bisa diem terus Raina yang stok sabarnya tinggi ngadepin Lala dan Zara yang ribut terus,"ucap Aldo tertawa.


Disela sela pembicaraan mereka Lala teringat dengan janjinya pada Linda untuk mengajaknya berkunjung ke rumah keluarga Raina.


"Ah iyaa Raina gw sama Mama mau main ke rumah lo pas weekend lo gak boleh pergi kemana mana ya,"ucap Lala.


Raina mengernyitkan dahinya, mendengar Lala ingin berkunjung bahkan menginap di rumahnya ia sudah biasa tetapi jika dengan Mamanya ia sedikit heran.


"Tumben lo ke rumah ngajak mama lo, mau ngelamar bang Reno lo ya,"tanya Raina terkekeh.


Lala tercengang mendengar pertanyaan Raina, ia menoyor pelan kepala Raina.


"Sembarangan kalo ngomong, gw juga gak tau Mama mau ngapain ke rumah lo yang gw tau dia penasaran aja sama keluarga lo terus mau bilang makasih,"ucap Lala.


"Gak perlu gitu juga kali, kita sekeluarga ikhlas kok disusahin sama lo apa lagi Papa gw dia seneng banget ada lo di rumah, kapanpun lo ke rumah gw pintu rumah gw selalu kebuka buat lo berlaku juga buat kalian,"ucap Raina tersenyum.


"Hehe jadi terharu deh,"ucap Lala berkaca kaca."Besok besok gw nyusahin kalian lagi


ah,"ucap Lala tertawa.


"Lala sering nginep di rumah kamu Rain,"tanya Aisyah.


"Iya, sekali kali coba deh lo nampung nih anak bisa darah tinggi kak Fathan di buat dia,"ucap Raina tertawa.


"La serbet Mba kamu bawa kemana,"teriak mba Wiwik.


Lala menepuk dahinya ketika mendengar teriakan mba Wiwik lalu memutar tubuhnya mencari serbet yang ia letakkan sembarangan.


"Aldo lo ngambil serbet yang gw tadi gw pegang ya,"ucap Lala.


"Nuduh nuduh orang tanpa bukti dosa tau La, buat apa serbet kotor begitu gw ambil,"ucap Aldo.


"Iya juga ya, ya udah gw minta maaf ya Aldo tapi serbet gw mana tadi gw pegang kok tiba tiba ilang,"ucap Lala mondar mandir mencari serbet yang hilang ntah kemana.


Zara yang baru saja kembali dari toilet dibuat kebingungan melihat Lala mondar mandir mengelilingi meja.


"Nyari apa si La mondar mandir kaya gosokan,"tanya Zara.


"Nyari serbetnya Mba Wiwik yang tadi gw bawa kesini, bantuin nyari dong nanti kalo gw di jadiin adonan bakso sama mba Wiwik gimana gara gara serbetnya gw ilangin,"ucap Lala terus mencari serbet hingga ke kolong meja.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sementara Fathan yang baru saja sampai di kelas mendudukan dirinya berusaha mengontrol rasa kesal yang ia rasakan sedari tadi, ia tidak mengerti mengapa ia bisa sekesal ini ketika melihat Raina yang begitu dekat dengan teman laki lakinya.


Raka dan Rama yang baru saja sampai mendudukan dirinya mengatur nafas masing masing.


"Fathan lo lari apa terbang si cepet bangat,"ucap Raka.


"Tau nih capek sumpah,"ucap Rama dengan nafas yang tersenggal senggal.


"Gw tau lo panas liat mereka di kantin tapi gak gini juga,"ucap Raka.


"Ngomong apa si lo,"ucap Fathan ketus.


Rama melirik Fathan dan Raka bergantian berusaha mencerna apa yang dibicarakan oleh mereka tetapi ia gagal mencerna akhirnya memutuskan untuk menanyakan langsung.


"Ngomongin apa si ? siapa yang suka sama Raina terus siapa yang nyesel,"tanya Rama.


"Itu suaminya mba Wiwik demen sama Raina,"ucap Raka asal.


"Serius lo berarti si Raina pelakor ya,"ucap Raina.


"Sembarangan lo kalo ngomong, ntar kedengeran sama orang lain jadi gede masalahnya,"ucap Fathan menoyor kening Rama.


"Lagian si yang Raka bilang begitu,"ucap Rama bingung.


"Udahlah gak usah diladenin Fath pusing ngomong sama nih anak lama lama si Rama lemotnya kaya si teletubies petakilan itu,"ucap Raka kesal.


"Itu serbet siapa yang lo bawa, bekas sambel semua lagi,"tanya Fathan.


"Itu bukannya serbet yang di bawa bawa sama Lala tadi ya,"ucap Raka.


Rama melirik serbet yang berada digenggamannya dan mengingat bagaimana serebet itu bisa berada digenggamannya.


"Oh iya ini serbetnya Lala sengaja gw ambil biar tau rasa tuh anak masa kita makan 3 porsi bakso+ 3 gelas es teh totalnya jadi 300 ribu cuma gara gara dia yang ngelayanin,"ucap Rama tersenyum.


"Kenapa lo ambil, dijambak Lala lagi tau rasa lo kaya waktu itu lo ambil permennya,"ucap Fathan terkekeh.


"Kalo dia jambak rambut gw lagi nanti mukanya gw tutupin pake nih serbet biar pedes sekalian,"ucap Rama sembari membayangkan.


Rama memikirkan perkataan Raka dan Fathan sejujurnya ia enggan mengembalikan serbet tersebut pada Lala.


"Biarin ajalah biar dia kesini ambil sendiri,"ucap Rama malas.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Lala merasa lelah mencari serbet kesana kemari tidak menemukannya sedangkan teman temannya hanya menertawakannya, ia memutuskan menyerahkan diri pada mba Wiwik.


Raina dan teman teman sebenarnya tahu dimana serebet tersebut berada tetapi mereka sepakat tidak membari tahu Lala.


"Mba Wiwik maafin Lala ya, serbetnya pergi ninggalin Lala tadi Lala taro di atas meja tapi tiba tiba pergi, ikhlasin aja ya Mba tau gak si Mba Lala capek minta maaf mulu dari tadi kaya lebaran,"ucap Lala menundukan kepalanya.


Mba Wiwik berusaha menahan tawanya melihat ekspresi Lala yang sangat lucu ketika meminta maaf padanya, ia bersekongkol dengan Raina dan teman temannya juga untuk mengerjai Lala.


"Mba Wiwik kok diem aja si, diem tandanya ia loh,"ucap Lala masih setia menunduk.


"Cari dulu serebetnya sampe ketemu baru Mba maafin,"ucap Mba Wiwik menahan tawa.


Sebenarnya Mba Wiwik tidak tega perihak serbet bisa dibeli lagipula serbetnya sudah sangat kotor tetapi karena ia sudah bekerja sama dengan teman temannya Lala untuk mengerjai Lala akhirnya terpaksa ia menyuruh Lala mencari serbetnya sampai ketemu.


"Oke deh demi dapet maaf dari Mba Wiwik aku cariin, nanti kalo udah ketemu aku kesini lagi ya, tapi jangan pecat aku jadi pelanggan setia mba Wiwik ya,"ucap Lala bergegas kembali ke meja.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung......


__ADS_2