
Raina mengembangkan senyumya saat Gio mengatakan bahwa hari ini ia diperbolehkan pulang dengan syarat ia harus rawat jalan untuk mengontrol kondisinya.
"Akhirnya pulang juga, sehari di rumah sakit rasa setahun lamanya," ucap Raina.
Zara, Aisyah dan Lala menerobos pintu ruang rawat Raina dengan tidak sabaran hingga membuat ketiganya nyangkut di pintu.
"Tuh kan gara-gara Zara sama Ais nih Lala jadi nyangkut, ini gimana caranya bisa bebas dari sini Huaaa Lala gak mau jadi penunggu pintu," ucap Lala.
Zara menatap Lala gemas tangannya terangkat menepuk jidat Lala.
"Heh ini salah lo juga ya, ngapain lo nyempil-nyempil, coba tadi lo biarin Aisyah sama gw duluan yang masuk pasti gak bakalan nyangkut," omel Zara.
Aisyah yang berada diantara Lala dan Zara hanya bisa menutup telinganya.
Reno menghembuskan nafasnya sambil melirik ke arah pintu lalu berjalan menghampiri pintu tersebut tangannya terangkat menepuk kening ketiga perempuan yang sedang tersangkut di pintu dengan gemas.
"Ini kan ada pintu satu lagi harusnya di buka kaya gini ya Adik-adik, kenapa kalian drama sekali sih hal sepele dibuat susah," ucap Reno.
Reno membuka pintu sebelah kanan lalu membalikan badannya kembali menuju tempatnya semula.
Ketiganya bersamaan menghela nafas leganya saat mereka terbebas.
Lala melirik pintu yang sempat di buka oleh Reno, lalu ia menutupnya kembali.
"Kenapa Lala gak kepikiran buka pintu satu lagi ya," gumam Lala.
Raina mendengar adanya keributan menjadi penasaran apa yang terjadi ruangnya.
"Itu ada apa sih kok ribut-ribut kaya suaranya Lala, Zara sama Aisyah, mereka ada disini juga?" tanya Raina.
"Iya mereka ada disini dateng-dateng udah buat rusuh aja, pake drama segala lagi di depan pintu," saut Reno melirik ketiganya dengan raut wajah malas.
Raka dan Shasha kini berada di salah satu cafe yang posisinya tidak jauh dari kampus mereka, sebelum mereka mengobrol terlebih dahulu mereka memesan makanan dan minuman.
"Lo bisa cerita sekarang," ucap Raka.
Shasha menghela nafasnya lalu melirik sekitar, sejujurnya ia tidak nyaman di tempat tersebut karena tempatnya berdekatan dengan kampus mereka.
"Lo yakin ceritanya disini? Gw takut nanti ada yang denger omongan kita," ucap Shasha ragu.
"Engga bakalan ada yang dengar asal lo ceritanya gak teriak-teriak," ucap Raka dengan santai.
Shasha mendengus sebal sambil menatap Raka geram.
Ngeselin banget sih jadi orang siapa juga yang mau teriak-teriakan, gak ngerti banget maksud gw apa, pasti pacarnya dia ngebatin mulu nih gara-gara cowonya gak peka.
"Buruan cerita, gak usah ngedumel dalem hati terus. Gw ngajak lo kesini buat cerita bukan liatin lo ngomong di dalem hati," ucap Raka.
Shasha membelalakan matanya, ia menatap Raka dengan tatapan heran, ia bertanya-tanya di dalam hatinya mengapa Raka bisa mengetahui isi hatinya.
Nih orang dukun kali ya bisa tau apa yang gw omongin di dalem hati. Gw cerita di dalem hati aja kali ya biar gak didenger orang lain lagian juga dia bisa dengerin suara hati gw.
Shasha mulai bercerita dalam hatinyanya sesekali menatap Raka yang sedang menatapnya.
Sedangkan Raka sedang berusaha menahan kesalnya karena sudah 5 menit ia menunggu Shasha untuk bercerita namun Shasha tak kunjung membuka suaranya justru Shasha hanya menatapnya.
Nih orang bener-bener nguji kesabaran gw ya, liat aja 15 detik dia gak ngomong gw cipratin air.
Raka membalas tatapan Shasha dengan tatapan tajamnya yang seolah-olah sedang memberi kode pada Shasha untuk segera bercerita.
Shasha mengerutkan alisnya saat mendapatkan tatapan tajam dari Raka.
Pasti dia marah deh, padahal gw baru ceritain Maira, Sinta sama gw ngikutin Raina ke tempat panjat tebing gimana nanti kalo gw cerita kejadian pas Maira nabrak Raina bisa-bisa gw digorok nih, sumpah gw takut.
Shasha bercerita di dalam hatinya dengan bibir bergetar ia menundukan kepalanya tidak berani menatap Raka seperti sebelumnya.
Raka mengepalkan tangannya, ia tidak bisa lagi menahan kesalnya pada Shasha, tangannya mengambil air mineral yang sempat ia pesan lalu membukanya kemudian menuangkan air ke tangannya lalu ia cipratkan ke wajah Shasha.
"Rasain nih," gerutu Raka.
Shasha terkesiap saat percikan air mengenai wajahnya, ia menatap Raka jengkel lalu melempari Raka dengan kentang goreng yang berada di atas mejanya.
"Lo apa-apaan sih Rak, bener-bener cocok lo ya jadi dukun selain bisa baca isi hati orang lo juga suka nyipratin orang pake air," teriak Shasha membuat orang yang berada di sekitarnya menatapnya dengan tatapan sebal.
"Bodoamat. Lo juga disuruh cerita bukannya cerita malah ngeliatin gw mulu untung aja gw gak sawan," omel Raka.
"Apa sih dari tadi tuh gw cerita panjang lebar dan sekarang lo bilang gw cuma ngeliatin lo doang, lo gak usah bercanda deh Rak," ucap Shasha tidak mau kalah.
Raka mendelikan matanya, ingin sekali rasanya ia menendang Shasha ke kutub utara.
"Halu lo ya Sha. Dari tadi lo tuh duduk disitu terus sambil natap gw lama banget nah abis itu lo nunduk, lo gak ngomong apapun dari tadi," ucap Raka sempat menunjuk ke kursi yang sedang di duduki oleh Shasha.
Shasha menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan perkataan Raka.
"Dari tadi gw tuh ngomong ya walaupun di dalem hati sih, tapi lo kan bisa denger apa yang gw bilang di dalem hati, jadi gak usah ngeles terus, tadi gw cerita sampe mana ya? Biar gw lanjutin lagi ceritanya," ucap Shasha
"Shasha! Ya ampun sabar banget gw ngomong sama lo. Lo pikir gw dukun yang bisa tau isi hati lo. Udah buruan cerita gak usah ngeles mulu, buang-buang waktu gw aja lo awas aja sampe lo gak cerita!" Raka menggertakan giginya menatap Shasha jengkel.
Shasha tercengang saat mendengar ucapan Raka, ia menghela nafas dan menepuk dahinya sendiri.
__ADS_1
"Jadi dari tadi gw cerita di dalem hati sampe di tempat panjat tebing lo gak tau sama sekali? Ya ampun bilang dong dari tadi kalo lo gak denger apa-apa," ucap Shasha.
"Buruan cerita gak usah ngeles! Kesabaran gw udah abis, gw gak mau buang-buang waktu gw cuma buat ngeladenin hal gak penting," tegas Raka.
"Iya-iya ish gak sabaran banget sih jadi orang." Ingin sekali rasanya Shasha memukul kepala Raka menggunakan batu bata.
"Jadi kemarin tuh gw sama Maira dan Sinta gak sengaja liat Raina sama Fathan jalan berduaan ke arah kelasnya Raina nah kita bertiga ngikutin dia berdua." Shasha menghentikan ceritanya lalu melihat Raka, ia ingin memastikan bahwa kali ini Raka mendengar ceritanya.
Raka terdiam menahan kesalnya sambil menunggu kelanjutan cerita Shasha.
"Raka lo denger gak sih?" Shasha melambai-lambaikan tangannya tepat di hadapan wajah Raka.
"Denger! Buruan lanjutin gak usah ngalihin topik kemana-mana," tegas Raka.
"Iya-iya kirain gak denger lagi kaya tadi, ini gw ngomong beneran loh awas aja sampe gak denger lagi, lama-lama gw tulis juga nih," ucap Shasha.
"Nah singkat cerita kita ngikutin mereka sampe ke wahana panjat tebing yang gak jauh dari lokasi dimana Raina kecelakaan. Kita liat Raina sama Fathan main di wahana panjat tebing terus si Maira cemburu liat mereka dan gak terima liat Raina berduaan sama Fathan karena menurut dia seharusnya dia yang ada disana bukan Raina." Lagi-lagi Shasha menghentikan ceritanya lalu meraih gelas yang berisi jus jeruk.
"Apa hubungannya lo ngikutin Fathan dan Raina terus Maira cemburu liat kedekatan mereka sama lo yang tiba-tiba ada di depan ruang rawat Raina dan lo ketakutan pas liat gw," tanya Raka menatap Shasha penuh selidik.
Shasha menyeruput jusnya lalu kembali meletakkan gelas yang berisi jus ke meja, ia mendelikan matanya lalu melihat Raka.
"Gw belom kelar cerita jadi gak usah nanya-nanya dulu," ucap Shasha.
"Terus kenapa lo berenti cerita siii," geram Raka.
"Gini ya gw cerita manual pake mulut sendiri gak pake batin jadi gw haus dan perlu minum dari pada gw keselek pas cerita emangnya lo mau tanggung jawab?" saut Shasha.
"Sekarang lo udah minum kan? Jadi buruan cerita gak usah banyak alesan," ketus Raka yang sudah merasa jengkel dengan Shasha.
"Oke gw lanjutin. Selesai main panjat tebing si Raina sama Fathan ke lapangan main layangan nah disitu Maira makin sebel banget terus dia kabur, niatnya kita mau pergi dari sana tapi tiba-tiba aja Maira nyuruh Sinta bawa mobilnya ngebut tapi Sinta gak dengerin omongannya Maira dan Maira maksa mau bawa mobil sendiri, dia kaya dendam gitu bawa mobilnya dan ternyata di tengah jalan ada Raina tapi mobilnya justru makin ngebut dan akhirnya nabrak Raina, tapi sumpah gw gak tau kalo Maira bisa senekat itu," ucap Shasha menundukan kepalanya merasa bersalah.
Raka kaget sekaligus tidak menyangka dengan semua yang dijelaskan oleh Shasha, ia tidak habis fikir dengan Maira yang tega sekali menabrak Raina hanya karena rasa cemburunya.
"Jadi bener dugaan gw kalo lo ada hubungannya sama kecelakaan Raina." Raka mengusap kasar wajahnya, sekarang ia sudah mengetahui siapa pelaku yang sengaja menabrakan mobilnya pada Raina namun di sisi lain ia menghargai kejujuran Shasha, ia tahu jika ia memberitahu pada Fathan kalau Maira adalah dalang dari kecelakaan Raina bukan hanya Maira saja yang kena imbasnya tetapi Shasha dan Sinta pun ikut terseret.
"Kenapa lo biarin Maira lakuin itu dan gak cegah Maira," tanya Raka.
"Lo tau sendiri Maira itu orangnya keras kepala, gw kenal Maira udah lama dia orangnya susah buat dicegah," saut Shasha.
"Kenapa kemarin lo ada di rumah sakit ngintipin kita dari depan ruang rawat Raina" tanya Raka.
"Abis kejadian tabrakan itu gw ngerasa bersalah banget gw kepikiran terus sama keadaan Raina bahkan sebelum gw pergi ke rumah sakit gw sempat debat sama Maira dan sekarang gw udah gak temanan lagi sama Maira. Apa lagi kalo dia tau gw cerita soal kecelakaan Raina ke lo mungkin dia bakal dendam sama gw dan anggep gw musuhnya," jelas Shasha.
"Kenapa lo gak temanan lagi sama dia? Bukannya lo udah lama kenal dia." Raka terus mengintrogasi Shasha sampai ia mendapatkan informasi yang tepat dan lengkap.
"Gw gak mau punya teman yang cuma mentingin egonya aja. Menurut gw dia udah kelewat batas gw gak boleh terus menerus dukung dia, gw gak mau dia jadi penjahat," ucap Shasha dengan raut wajah sedihnya, ia kembali teringat dengan pertemuannya pertama kali dengan Maira.
Raka terdiam sesaat, ia tidak menyangka Shasha mempunyai sisi baik juga, ia bangga dengan keputusan Shasha yang memilih untuk menjauhi Maira.
"Gw mohon sama lo buat rahasiain ini sementara dari yang lainnya, gw tau kok kejahatan mau di simpan kaya apapun pasti bakal kebongkar juga, tapi gw gak bisa liat Maira di penjara mau bagaimana pun dia tetap teman gw Rak," pinta Shasha.
"Ini kriminal Sha, lo tau kan Raina sampe gak bisa liat lagi karena ulah Maira. Mata Raina bisa normal lagi kalo dia dapet donor kornea mata, lo tau sendiri kan nyari pendonor kornea mata itu gak gampang rasanya hukuman penjara gak cukup buat Maira Sha," ucap Raka.
"Iya gw paham, pasti berat banget buat Raina nerima kenyataan kalo dia gak bisa ngeliat lagi. Gw cuma gak mau liat mereka di penjara, gw gak bisa bayangin gimana kecewanya orang tua mereka dan pastinya gw bakal keseret juga ke penjara." Shasha menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Raka tidak tega melihat Shasha, ia tahu sebenarnya Shasha tidak bersalah, ia hanya terperangkap dalam kejahatan yang sudah di lakukan oleh Maira.
"Lo tenang aja gw bakal pastiin lo gak akan ikut masuk penjara dan gw bakal jamin itu semua, tapi maaf gw gak bisa nutupin ini semua dari Fathan karena Raina juga berhak dapetin keadilan, kalo bukan karena ulah Maira sekarang Raina gak bakalan ada di rumah sakit dan kehilangan penglihatannya," ucap Raka.
"Ta ... Tap ... tapi Rak gw gak tega sama Sinta dia juga gak bersalah dia sama kaya gw," ucap Shasha.
"Masalah itu biar Sinta aja yang selesain yang jelas sekarang tanggung jawab gw cuma lo, gw bakal jamin lo bebas dari kasus ini, sekarang lo ikut gw ya ketemu sama Raina dan yang lain, lo bantu gw jelasin ke mereka," ucap Raka.
Shasha menatap Raka tidak percaya, raut wajahnya menjadi pucat tangannya gemetar ia tidak bisa membayangkan bagaimana ia harus mendengarkan amarah dari teman-teman Raina.
"Gw takut Rak. Gw takut mereka marah sama gw dan gak mau maafin gw. Kalo emang lo mau cerita sama ke mereka silahkan itu hak lo, tapi gw belom siap buat ketemu Raina dan yang lainnya, lo aja ya Rak yang ketemu sama mereka." ucap Shasha.
Raka menggelengkan kepalanya, ia berusaha meyakinkan Shasha kalau semua itu hanya fikirannya saja dan tidak akan terjadi, kalau pun terjadi Raka akan membantunya menjelaskan pada yang lain. Setelah beberapa menit Raka berusaha meyakinkan Shasha akhirnya Shasha menganggukan kepalanya.
Raka mengembangkan senyumnya lalu mengajak Shasha untuk segera ke rumah sakit menemui Raina dan yang lainnya, sebelum mereka pergi terlebih dahulu Raka mengirimkan pesan ke grup chat mengabari pada yang lainnya untuk berkumpul karena ada hal penting yang ingin ia bahas.
Raina dan yang lainnya kini sudah berada di rumah Raina. Raina terdiam sejenak saat pertama kali menginjakan kakinya di rumahnya sendiri, ia tidak menyangka bahwa mulai dari sekarang ia harus menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa lagi melihat keadaan rumahnya.
Lala dan yang lainnya menyadari perubahan raut wajah Raina, mereka ikut merasakan kesedihan Raina.
Lala berjalan menghampiri Raina, ia menepuk pundak Raina berniat memberikan semangat pada Raina.
"Raina jangan sedih, rumah lo masih sama kok kaya biasanya belum berubah, lo tutup mata aja terus bayangin aja lo lagi masuk ke rumah, Lala ikutan deh tutup mata biar kita samaan," ucap Lala.
Lala menutup matanya, lalu mulai berjalan memasuki rumah Raina dengan tangan yang terangkat sambil meraba sekitar. Saat sedang berjalan tiba-tiba kakinya tersandung ember yang berada di pojokan hingga menbuatnya terjatuh.
Suara tawa terdengar dari arah dimana Raina dan yang lainnya masih berdiri, mereka menertawakan Lala yang tersandung ember sedangkan Reno hanya menggelengkan kepalanya ia tidak habis fikir dengan sikap cerobohnya Lala yang tidak pernah berubah.
"Selalu ceroboh dan sok tau," gumam Reno.
Raina perlahan berjalan dibantu oleh Wina dan Gio dengan hati-hati mereka menuntun Raina berjalan karena kondisi kaki Raina belum cukup baik.
"Sukurin nyungsep, makanya jangan kebanyakan gaya sakitkan Ha-Ha-Ha," ledek Zara lalu berjalan menyusul Raina dan Gio.
__ADS_1
Lala mendengus sebal ia mencibirkan bibirnya, ia menatap ember jengkel lalu melempari ember tersebut dengan sendal-sendal yang berserakan disekitar sana, ia meluapkan kekesalannya dengan menyalahkan ember yang tidak bersalah.
"Gara-gara lo gw diketawain sama orang-orang, rasain nih lemparan gw," omel Lala.
"Udah gak waras kamu ngomong sama ember? Sini buruan bangun betah banget duduk disitu." Reno menjulurkan tangannya tepat di hadapan Lala.
"Kalo ngomong gak disaring dulu ya, gw waras tau." Lala menatap Reno sebal sambil menarik tangan Reno.
"Makanya jadi perempuan tuh jangan ceroboh dan sok tau, kamu pikir gak bisa ngeliat itu gampang, kamu rasain sendiri kan gimana rasanya nabrak ember padahal embernya di pojokan," ucap Reno.
"Iya-iya maaf," ketus Lala.
*****
Raina dan yang lainnya kini sedang berkumpul di ruang tengah, Aisyah mengecek pesan di ponselnya, ia melihat pesan yang dikirim oleh Raka di grup yang baru saja sengaja di buat oleh Rama untuk mengabari keadaan Raina.
"Liat apa sih serius banget," tanya Zara.
"Ini kak Raka ngasih kabar kalo dia mau ngomong hal yang penting kita disuruh kumpul di rumah sakit tapi kan Raina udah pulang terus gimana ya," jawab Aisyah.
"Kabarin aja kalo Raina udah pulang, takutnya yang lain pada pergi ke di rumah sakit," ucap Zara.
Aisyah menganggukan kepalanya, lalu mulai mengetik di layar ponselnya memberitahu kalau Raina sudah kembali ke rumahnya kemudian ia mengirimkan pesan tersebut ke grup.
*****
Raka dan Shasha sedang berada diperjalan menuju rumah sakit. Terlihat Shasha yang sangat gelisah dan disadari oleh Raka.
"Lo tenang aja gak usah grogi kaya gitu berasa mau ketemu calon mertua aja lo." Raka sengaja menyelipkan sedikit lelucon pada ucapannya supaya Shasha menjadi lebih tenang.
"Gw takut nanti mereka semua marah sama gw, apa lagi orang tuanya Raina pasti dia bakal marah banget dan benci sama gw Rak," keluh Shasha.
"Percaya sama gw, semua bakal baik-baik aja justru lo bakal diterima disana asal lo ngomong sejujur-jujurnya sama mereka." Lagi-lagi Raka berusaha meyakinkan Shasha.
Raka melirik Shasha sekilas lalu mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang sempat berbunyi.
"Oh iya Sha, gw boleh minta tolong gak ambilin hp gw terus baca chatanya, kayanya ada chat masuk dari grup," sambung Raka.
Shasha menganggukan kepalanya dengan segera ia mengambil ponsel Raka, ia menatap Raka dengan tatapan sebal.
"Passwordnya apa?" tanya Shasha.
"Oh iya, 290616," jawab Raka.
Shasha membuka isi pesan grup lalu membacakan isi pesan tersebut pada Raka.
"Untung aja belum sampe rumah sakit, makasih ya Sha udah bantuin gw liat chatnya," ucap Raka.
Shasha menganggukan kepalanya dan tersenyum pada Raka.
******
Kini yang lainnya sudah berkumpul di rumah Raina tanpa terkecuali, mereka merasa heran mengapa Raka membawa Shasha menemui mereka. Hal tersebut membuat mereka penasaran dengan hal penting apa yang akan diberitahu oleh Raka sampai Raka membawa Shasha menemui mereka.
"Ada apa sih Rak, lo mau ngomong apaan sampe bawa Shasha kesini. Temannya yang dua itu mana? Gak lo ajak mereka?" Rama menatap Raka dan Shasha bergantian.
"Udah kumpul semua kan?" tanya Raka.
"Udah. Tinggal nungguin lo ngomong doang Kak," saut Zara.
Raina berusaha menyimak pembicaraan mereka, ia sama halnya dengan Rama yang kebingungan karena Raka membawa Shasha.
"Sebenernya lo mau ngomong apa kak Raka? Gw denger katanya lo ngajak Shasha juga ya," tanya Raina.
Kecurigaan Raina semakin menjadi mengenai kecelakaannya, ia sangat penasaran dengan hal penting apa yang akan disampaikan oleh Raka.
Raka menghela nafasnya, ia menatap Shasha yang terlihat gelisah dan ketakutan perlahan ia menarik tangan Shasha supaya mendekat kepadanya.
"Sebelumnya gw mau kalian tenang dulu dan dengerin ceritanya sampe selesai jangan dipotong-potong dan kalo kalian udah dengar ceritanya gw harap kalian bisa nyikapin semuanya dengan bijak," ucap Raka.
Raka menatap Shasha memberi kode pada Shasha untuk menceritakan apa yang sudah ia ceritakan padanya, ia merangkul Shasha lalu membisikan sesuatu pada Shasha.
"Lo gak usah takut cerita aja apa yang lo tau, disini ada gw tenang aja gw bakal bantuin lo," bisik Raka.
Reyhan mulai jengah dengan Raka yang lama sekali menceritakan hal penting yang ia ucapkan.
"Woi Raka lama banget lo timbang cerita doang, jangan bilang lo mau ngasih tau ke kita kalo lo baru aja jadian sama cewe yang lagi lo rangkul itu, heleh bikin penasaran aja lo," ucap Reyhan.
"Sok tau lo ah, diem aja dulu ini penting soalnya tapi kalo kalian gak mau dengerin juga gapapa," saut Raka.
"Hm jadi gini sebelumnya gw minta maaf ya sama kalian, gw mau cerita soal kejadian kecelakaan Raina kemarin." Shasha membuka suaranya dengan bibir yang gemetar dan keringat dingin yang bercucuran dari dahinya.
"Gw tau lo orang baik, gw yakin lo bisa kok dan inget jangan takut buat ngebela kebenaran," bisik Raka.
Shasha menarik nafasnya dan menganggukan kepalanya, ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa melewati semua ini, ia sudah siap menerima respon apapun yang akan ia dapat dari mereka, ia sadar kejahatan selama apapun ia simpan cepat atau lambat akan terbongkar juga, lebih baik ia mengatakannya sekarang dari pada mereka mengetahuinya sendiri dan semakin menyalahkan dan membencinya.
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya ya gais, kalo ada saran silahkan dititipin di kolom komentar hehe.
__ADS_1
Semoga terhibur dengan cerita ini.
Sekian dan terima kasih.