
Setelah memparkirkan mobil masing-masing, Rama dan yang lainnya berlarian memasuki rumah sakit menuju ruang ICU.
Mereka terdiam bersamaan saat melihat Fathan sedang melamun dengan wajah sedihnya.
Perlahan mereka melangkahkan kaki menghampiri Fathan.
Raka mendekati Fathan lalu menepuk pelan bahu Fathan.
"Fath," sapa Raka.
Fathan melirik Raka sekilas lalu kembali menatap pintu ruang ICU yang tak kunjung terbuka.
"Lo yang tenang ya gw yakin Raina baik-baik aja," ucap Raka.
Zara melirik Fathan dan Raka, ia sangat penasaran mengenai apa yang terjadi dengan Raina hingga membuat Raina masuk rumah sakit.
"Kak gimana ceritanya Raina bisa kecelakaan," tanya Zara.
"Ih Zara nanti aja nanyainnya, kasian kak Fathan sedih banget mukanya, mendingan kita semua doain Raina biar Raina gak kenapa-kenapa," sambung Lala.
"Nah ide bagus itu, pintar kamu Lala," puji Farhan.
Dengan dipimpin oleh Farhan mereka bersama-sama mendoakan Raina yang berada di dalam sana dan sedang ditangani oleh dokter.
Selesai mereka mendoakan Raina. Reno dan Wina datang dengan raut wajah cemasnya, keduanya menghampiri Fathan berniat menanyakan bagaimana keadaan Raina.
"Fath gimana keadaan Raina," tanya Wina dengan cemas.
Fathan beranjak dari kursinya lalu mencium tangan Wina terlebih dahulu, ia menghela nafasnya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pintu ruang ICU yang tertutup.
"Raina masih ditanganin sama dokter Tante. Fathan minta maaf ya Tan, Fathan gak bisa jagain Raina," ucap Fathan dengan raut wajah menyesalnya.
Pintu ruang ICU terbuka terlihat dokter dan perawat yang keluar dari sana, refleks membuat perhatian teralihkan kepada dokter dan perawat.
"Dokter gimana keadaan anak saya?" tanya Wina dengan nada cemasnya.
Dokter terdiam dan menundukan kepalanya sejenak lalu melihat orang-orang di sekitarnya.
"Bisa saya berbicara dengan keluarga dari Raina?" ucap Dokter.
"Saya Mamanya, Dok, bagaimana kondisi anak saya Dok," ucap Wina.
"Ibu bisa ikut ke ruangan saya terlebih dahulu, ada hal yang perlu saya sampaikan mengenai Raina," ucap Dokter sambil tersenyum ramah.
"Baik Dok," ucap Wina.
"Ma, aku ikut ya," ucap Reno dan di respon anggukan kepala oleh Wina.
Fathan dan yang lainnya masuk ke dalam ruang ICU tanpa memperdulikan perawat yang sedari tadi melarang mereka.
Lala yang berada di belakang menyaksikan bagaimana pasrahnya wajah perawat, ia tersenyum lalu menghampiri perawat.
"Maaf ya Mba suster, kasian bebep Lala di dalem sendirian pasti dia butuh teman jadi Mba suster sini aja ikut kita liat Raina biar di dalem makin rame pasti Raina seneng deh," ucap Lala sambil menarik tangan perawat.
Perawat mengikuti Lala sambil menatap Lala heran.
Saya udah dari tadi kali di dalem malahan udah bosen, nih orang ada-ada aja tingkahnya.
Fathan menatap Raina dengan tatapan sedih sekaligus merasa bersalah, ia mendekatkan dirinya ke arah Raina yang sedang terbaring lalu menggenggam tangan Raina.
"Raina aku minta maaf, aku gak bisa jagain kamu, gara-gara aku kamu jadi kaya gini," bisik Fathan tepat di depan telinga Raina.
Rama dan yang lainnya ikut prihatin melihat Fathan begitu sedih dan terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Fath, lo jangan nyalahin diri sendiri, gw yakin Raina bakal sedih kalo tau lo kaya gini," ucap Rama.
"Iya Fath, bener kata Rama, lo gak boleh nyalahin diri lo sendiri,"sambung Raka.
"Iya kak Patan, Lala yakin bentar lagi Raina sadar kalo gak percaya itung aja sampe 10," ucap Lala dengan percaya diri.
Belum sempat Lala berhitung jari-jari tangan Raina perlahan bergerak membuat Lala yang melihat hal tersebut membelalakan matanya lalu menunjuk ke arah jari-jari tangan Raina.
"Tangan Raina gerak-gerak!" teriak Lala.
Tingkah Lala berhasil membuat yang lainnya kaget dan ikut melirik ke arah jari-jari tangan Raina.
Fathan yang melihat hal tersebut segera membisikan beberapa kata di telinga Raina.
Raina yang mendengar bisikan dari Fathan perlahan membuka matanya, ia mengerjapkan matanya berkali-kali namun yang ada di dalam penglihatannya hanya warna hitam, ia tidak bisa melihat apapun disekitarnya namun ia bisa mendengar suara-suara di sekitarnya.
Fathan menatap Raina dengan mata berbinar ia terus mengucapkan puji syukur di dalam hatinya atas kesadaran Raina dari pingsannya.
"Akhirnya kamu sadar juga sayang, aku gak bisa bayangin kalo kamu terbaring disini lama-lama, pasti hidup aku udah kaya zombie," ucap Fathan dengan mata berbinar, ia menatap Raina sambil tersenyum.
Raina terus berusaha mengerjapkan matanya bahkan sampai mengusap matanya berkali-kali hingga kini matanya berair.
"Raina jangan dikucek terus matanya, tenang aja mata lo gak ada beleknya kok," ceplos Lala berhasil mendapat tatapan tajam dari orang-orang sekitar.
Raina berusaha meraba-raba mencari keberadaan teman-temannya.
"Ini mati lampu ya? Kok gelap banget, kalian dimana? Jangan ngerjain gw dong," ucap Raina.
Perkataan Raina berhasil membuat yang lainnya tercengang dan saling melempar pandang satu sama lain, mereka kebingungan dengan maksud perkataan Raina.
"Harusnya kita yang bilang kaya gitu ke lo Raina, lo gak usah becanda ini bukan waktunya buat receh-recehan," ucap Zara.
"Tau nih Raina ada-ada aja orang terang begini dibilang gelap, kalo mau ngeprank yang canggihan dikit kek," saut Rama.
Raina mulai panik saat mendengar perkataan Rama dan Zara, ia terus berusaha mengerjapkan matanya bahkan ia juga terus mengucek matanya sampai ia bisa melihat warna lain di matanya selain hitam.
Raina mulai gelisah karena penglihatannya tidak kunjung normal.
"Ini kenapa gelap terus? Mata gw kenapa?" tanya Raina dengan raut wajah paniknya.
Fathan yang semulanya biasa saja, kini mulai merasa cemas saat melihat Raina yang terus menerus mengusap matanya dan mengatakan bahwa penglihatannya gelap.
Dengan cepat Fathan memeluk Raina ia berharap dengan cara tersebut rasa panik Raina akan berkurang.
"Kamu tenang dulu ya, pegang tangan aku, sekarang kasih tau ke aku apa yang kamu liat sekarang ini," ucap Fathan dengan gemetar.
Raina merasakan tangan Fathan yang berada digenggamannya namun ia tidak dapat melihat hal tersebut, Raina menggelengkan kepalanya berusaha menepis fikiran-fikiran negatifnya.
"Masih sama kaya tadi yang aku liat cuma warna hitam aja, mata aku kenapa? Kak aku kenapa?" ucap Raina mulai histeris.
Fathan dan yang lainnya kaget saat mendengar pernyataan Raina mereka berusaha menenangkan Raina yang mulai histeris.
"Ini mata gw kenapa! Kenapa kalian diam aja, plis jawab pertanyaan gw!" teriak Raina.
Fathan gelagapan ia bingung harus melakukan apa, ia sedih melihat keadaan Raina, tanpa ia sadari perlahan air matanya turun membasahi pipinya, Fathan terus memeluk Raina dan menenangkannya.
Kenapa jadi kaya gini, ini semua salah gw, coba aja tadi gw terus awasin Raina pasti kejadian kaya gini gak bakalan ada dan Raina gak bakalan ngalamin masalah di matanya, Argh ... Lo bodoh Fath.
Dibalik Fathan yang terus berusaha kuat menenangakan Raina sebenarnya Fathan merasa rapuh dan merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Raina.
"Oke kalo kalian gak mau jawab pertanyaan gw! Kak Fathan aku mohon jawab pertanyaan aku, aku kenapa? Kenapa aku gak bisa liat kalian semua," ucap Raina yang perlahan mengeluarkan air matanya.
Fathan tidak tega melihat air mata Raina yang terus menerus membasahi pipinya, ia tidak tahu harus memberi jawaban apa pada Raina hingga ia lebih memilih untuk bungkam.
"Kak Fathan! Kamu denger aku kan? Kenapa kalian diam semua? Ini mimpi ya ?" teriak Raina.
"Kamu gak mimpi Raina, kamu tenang dulu ya, kita semua gak tau mata kamu kenapa, nanti kita tanya dokter sementara kamu tenangin dulu diri kamu ya, kamu harus tenang ya ada aku disini," ucap Fathan dengan lembut.
__ADS_1
Perlahan Raina terdiam namun masih terdengar isak tangisnya.
Reno dan Wina yang baru saja selesai berbicara dengan dokter langsung menyusul Raina keruang ICU, mereka tersenyum saat melihat Raina yang sudah sadar.
Fathan yang melihat Wina dan Reno masuk, ia melepaskan pelukannya lalu bergeser sedikit memberi ruang untuk Wina dan Reno.
Wina berlarian kecil menghampiri Raina lalu memeluk anak bungsunya dan mengusap wajah Raina.
"Raina syukurlah kamu sudah sadar Nak, Mama khawatir banget sama kamu loh, Mama takut kehilangan kamu Nak," ucap Wina.
Raina mengangkat tangannya lalu berusaha mencari keberadaan Wina dengan cara meraba-raba, Fathan yang melihat hal tersebut segera membantu Raina mengarahkan tangannya ke arah Wina.
Wina dan Reno heran melihat sikap Raina, Reno menatap Fathan seolah sedang bertanya apa yang terjadi pada Adiknya.
"Maaf Tante dan bang Reno, pas Raina sadar dia cerita sama kita kalo pandangannya gelap dan dia gak bisa liat apa-apa, makanya Raina jadi kaya gitu tadi Raina sempat ngamuk-ngamuk tapi Fathan berhasil nenanginnya," ucap Rama.
Wina dan Reno terkejut saat mendengar penjelasan Rama, Wina menitikkan air matanya ia tidak menyangka dengan apa yang terjadi menimpa anak bungsunya.
"Tapi tadi dokter gak bilang apa-apa soal mata Raina," ucap Wina.
"Kita juga gak tau Tan, tiba-tiba aja Raina ngeluh kalo dia gak bisa liat apa-apa, awalnya kita ngiranya Raina bercanda tapi ngeliat Raina yang sesedih itu kita gak yakin kalo Raina bercanda," ucap Raka.
Sedangkan Aisyah, Zara dan Lala hanya terdiam menyimak apa yang dibicarakan oleh yang lainnya, mereka menatap Raina sedih ingin sekali rasanya mereka memeluk Raina.
"Reno panggil dokter Ren, Mama mau ngomong sama dokter, kita harus periksa kondisi mata Raina, kamu tenang ya Nak, jangan takut ada Mama disini," ucap Wina.
Raina memilih diam saja ia tidak ingin membuat orang sekitarnya menjadi sedih dan panik karena dia.
Gw gak boleh panik, gw harus yakin gw baik-baik aja ini cuma sementara, gw gak boleh buat yang lainnya khawatir sama keadaan gw.
Raina mengelup punggung Wina, ia tersenyum lalu mengusap air matanya.
"Iya Ma, Raina gak takut kok, Mama juga gak boleh sedih ya kan Raina gak kenapa-kenapa, ini cuma sementara aja kok," ucap Raina.
Fathan menatap Raina kagum ia tidak menyangka Raina sekuat itu, sudah jelas-jelas matanya bermasalah namun ia tetap tersenyum bahkan ia menyemangati Ibunya supaya tidak sedih.
"Oh iya maafin gw ya udah buat kalian khawatir sama keadaan gw, maaf juga tadi gw sempat rusuh soalnya gw panik banget takut gak bisa ngeliat selama-lamanya," ucap Raina terkekeh.
Bisa-bisanya anak ini ketawa disaat keadaannya kaya begini, gw kalo jadi lo pasti ngamuk-ngamuk seminggu Raina kok lo bisa ya ngamuknya bentar doang, lo emang teman gw yang paling kuat dan gak secengeng gw.
Lala terus menatap Raina sambil membatin, ia mendekatkan dirinya ke arah Raina lalu memeluk Raina dengan erat hal tersebut membuat Wina yang berada di tengah-tengah mereka merasakan sesak.
"Lala! Minggir dulu kasian Mama gw pasti nyesek dia ditiban kudanil," ucap Raina.
Lala menjauhkan tubuhnya dari Raina lalu mengerucutkan bibirnya.
"Ih Raina gitu banget sih lo masa gw disama-samain sama kudanil," protes Lala.
Raina terkekeh ia berusaha meraba dan mencari keberadaan Lala dengan sigap Fathan kembali membantu mengarahkan tangan Raina.
"Walaupun mata gw gelap, gw bisa nebak kalo sekarang bibir lo pasti lagi monyong-monyong kaya ikan mas koi," ucap Raina.
"Tuh kan sekarang malah ngeledek gw mirip kaya ikan, bener-bener ya lo Raina teman yang tidak berperiketemanan," ucap Lala.
Reno datang bersama dengan dokter, ia menggelengkan kepalanya saat mendengarkan keributan yang diciptakan oleh Lala.
"Udah-udah jangan ribut terus, jangan bikin heboh ini rumah sakit La. Dokter udah dateng mau periksa keadaan Raina, jadi mending kamu ikut aku keluar biar gak rusuh disini," ucap Reno sambil menarik tangan Lala keluar dari ruangan.
"Dokternya udah dateng, kamu tenang ya Nak, biar dokter periksa dulu keadaan mata kamu," ucap Wina sambil melepaskan pelukannya.
Dokter memeriksa keadaan mata Raina, sejenak ia menggelengkan kepalanya lalu menatap wajah Raina dengan tatapan iba.
"Raina, kamu jawab pertanyaan saya ya, apa yang kamu liat sekarang," tanya dokter.
"Saya gak liat apa-apa dok, penglihatan saya gelap," jawab Raina.
Dokter hanya menganggukan kepalanya, lalu kembali menatap Raina.
"Satu kali lagi ya, coba kamu jawab ini angka berapa?" tanya dokter.
"Mohon maaf dengan terpaksa saya harus mengatakan hal tersebut, mata Raina mengalami kerusakan pada kornea matanya hingga membuatnya tidak bisa melihat kembali," ucap Dokter dengan hati-hati.
Bagaikan disambar petir pernyataan Dokter berhasil membuat orang-orang disekitaran meneteskan air matanya secara bersamaan tak terkecuali Raina.
"Dok, tolong bilang sama saya kalo dokter salah periksa, ini cuma sementara kan Dok?" ucap Raina.
"Maaf Raina tapi memang seperti itu keadaannya, saya permisi ya, masih ada beberapa pasien yang menunggu saya," ucap dokter lalu pergi meninggalkan ruangan.
Raina menangis ia masih sulit untuk mempercayai perkataan dokter, ia terus berusaha mengusap matanya dan berharap penglihatannya akan kembali, hal tersebut membuat Fathan makin merasa bersalah.
Fathan mendekati Raina lalu menahan tangan Raina supaya tidak terus menerus mengusap matanya, ia khawatir keadaan matanya akan semakin parah jika Raina terus mengusap matanya.
"Raina, udah jangan dikucek lagi matanya, nanti mata kamu sakit," ucap Fathan.
"Engga bisa kak, aku harus usaha biar mata aku bisa liat lagi, aku harus buktiin sama dokter kalo diagnosa dia salah," ucap Raina terus bersikukuh.
"Raina aku mohon jangan buat aku semakin merasa bersalah," ucap Fathan.
"Kamu gak salah Kak, kamu gak usah ngerasa bersalah, aku cuma mau buktiin sama dokternya kalo dokter tadi salah, aku baik-baik aja kok, palingan kepala aku aja yang sakit," ucap Raina.
Air mata Fathan mengalir dengan deras ia tidak tahan melihat Raina yang terus memotivasi dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Berbeda dengan keadaan di rumah sakit, kini Maira dan teman-temannya sedang berada di salah satu restoran dengan Shasha yang tidak berhenti mengoceh.
"Maira lo tega banget sih nabrak orang kaya tadi dan parahnya lagi yang lo tabrak Raina, lo gak suka sama orang jangan gitu juga kali kalo ada apa-apa sama Raina kita bertiga bisa dipenjara," omel Shasha.
Maira melirik Shasha malas, ia merasa apa yang ia lakukan memang sudah tepat.
__ADS_1
"Berisik banget sih lo! Kalo lo gak ember kita gak akan ketauan jadi lo santai aja lah gak usah panik kaya gitu, lagian gw ngerasa apa yang gw lakuin ini benar kok," ucap Maira.
Shasha membelalakan matanya saat mendengar perkataan Maira, ia menggelengkan kepalanya ia tidak habis fikir dengan Maira.
"Apa sih Maira, lo manusia apa jin sih? Abis ngelakuin hal kejam kaya gitu lo ngerasa baik-baik aja bahkan lo sama sekali gak ngerasa bersalah, Sinta lo bantuin gw dong ngomong sama Maira! Ini semua gak bisa dibiarin gw harus bilang sama Fathan, kalo gak gw bisa gak tenang seumur hidup karena dihantuin rasa bersalah setiap hari," ucap Shasha.
Shasha beranjak dari kursinya ia berniat pergi menemui Fathan dan menceritakan hal tersebut pada Fathan.
Maira menatap Shasha tajam saat melihat Shasha yang mulai beranjak dari kursinya.
"Silahkan lo kasih tau aja ke Fathan, gw yakin pasti lo ke seret juga ke masalah ini karena lo ada di dalam mobil gw dan nyaksiin gimana gw mau nabrak Raina," ucap Maira dengan santai.
Sinta yang semulanya bungkam mulai menahan Shasha untuk tidak pergi dan menceritakan semuanya pada Fathan ataupun orang lain.
"Udahlah Sha mending lo duduk lagi, gak usah macem-macem, lo gak mau kan ikut keseret juga ke penjara," ucap Sinta.
Sejujurnya Sinta sedikit kesal dengan Maira yang begitu nekat mengambil tindakan tanpa memikirkan dampak untuk ke depannya bagi dia ataupun orang lain.
Shasha mendelikan matanya ia menghentakan kaki lalu kembali mendudukan dirinya di kursi yang sempat ia tempati.
"Kenapa gak jadi pergi? Takut juga kan lo?" tanya Maira.
"Gw gak takut, cuma gw banyak mikir ke depannya, kalo gw cerita ke Fathan bukan lo doang yang kena tapi Sinta juga kena, lo egois Maira, lo gak mikirin orang lain kita sahabat lo bukan pembantu lo yang selalu nurutin apa kata lo," omel Shasha.
Maira sedikit tersentak ketika mendengar ucapan Shasha, ia menatap Shasha jengkel.
"Oh jadi selama ini lo gak betah temanan sama gw, yaudah lo pergi aja sana lagian gw gak butuh teman kaya lo, sok baik!" bentak Maira.
"Oke! Mulai sekarang kita bukan sahabat lagi, gw juga gak mau punya sabahat yang kriminal, setelah gw fikir-fikir persahabatan Raina sama teman-temannya lebih seru dibanding persahabatan kita yang apa-apa semuanya tentang kejahatan, lo harusnya inget dulu tuh kita gak kaya gini Maira, lo harus sadar!" bentak Shasha.
Shasha pergi meninggalkan Maira dan Sinta dengan keadaan emosi yang memuncak ia mencari taksi disekitaran sana, ia kembali teringat dengan awal mula ia bersahabat dengan Maira.
"Gak sadar diri dan gak bersyukur, padahal dulunya lo tuh korban bullying, semenjak udah berubah jadi semena-mena nyesel gw belain lo," gerutu Shasha.
"Kira-kira sekarang keadaannya Raina gimana ya, pasti parah banget deh soalnya tadi Maira nabrak dia dalam keadaan mobilnya cepet banget, gak habis fikir gw sama Maira apa yang ada diisi kepalanya itu sampe nekat nabrak Raina," gumam Shasha.
Berhubung tidak ada taksi yang melintas disekitarannya, akhirnya Shasha memutuskan untuk memesan taksi online menggunakan ponselnya.
Tidak butuh waktu lama, taksi online pun datang, Shasha segera menaiki taksi lalu menuju lokasinya.
Gw harus liat gimana keadaan Raina sekarang, gw gak bisa diem kaya gini terus, kalo gak gw bakal gak tenang seumur hidup gw, Maira yang nabrak gw yang gak tenang, pokoknya gw gak mau temanan sama Maira lagi!
Shasha turun di depan rumah sakit yang tidak jauh dari posisi panjat tebing, ia berusaha menebak-nebak lokasi Raina, sebelumnya ia sudah menanyakan dimana kamar rawat Raina.
"Ternyata Raina sempat masuk ICU dan untungnya udah sadar," gumam Shasha sambil mengelus dadanya.
Saat sampai di depan pintu kamar dimana Raina di rawat Shasha terkejut saat mendengar percakapan mereka, ia menggelengkan kepalanya ia merasa semakin bersalah.
"Ini semua gara-gara Maira, gw gak nyangka Raina jadi buta gara-gara ulah Maira, gak kebayang gimana nanti Raina bakal ngejalanin aktivitasnya," gumam Shasha.
Shasha segera pergi dari sana karena sedari tadi Raka memperhatikannya, Raka sadar dengan keberadaannya saat ini Shasha berharap Raka tidak memberitahu yang lainnya mengenai keberadaanya.
"Duh ketauan lagi tadi sama Raka, semoga aja Raka gak ngasih tau ke yang lain dulu," ucap Shasha.
Shasha segera pergi keluar dari rumah sakit, ia takut nantinya makin banyak orang yang menyadari keberadaannya dan akan membuat orang lain menjadi curiga dengannya.
Shasha kembali memesan taksi online tanpa ia sadari sedari tadi Raka berada tidak jauh dari posisinya.
"Ternyata benar yang gw liat tadi Shasha, tapi ngapain ya dia di depan ruangannya Raina kaya ngintip-ngintip gitu, mending gak usah gw kasih tau dulu kali ya ke yang lainnya takutnya nanti malah ribut, biar gw cari tau dulu besok ada apa sebenernya Shasha tiba-tiba ada di depan kamar rawat Raina," gumam Raka.
Raka membalikan badannya kembali memasuki rumah sakit menuju ruangan dimana Raina di rawat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
Jangan lupa apresiasi dengan like dan komentar kalo ada saran juga boleh aku nampung kok.
Semoga terhibur dengan cerita ini ya hehe.
__ADS_1
Cuma mau kasih tau kalo ini bab terpanjang yang pernah aku buat loh (udahlah gak penting wkwk)
Sekian dan terima kasih