
Ponsel Reno yang berada di atas meja berdering berkali-kali membuat Lala risih mendengarnya, ia mengedarkan pandangannya mencari Reno namun Reno tidak terlihat. Ia pun memutuskan untuk melihat ponsel Reno dan melihat siapa yang menghubungi Reno terus-menerus.
"Kemana sih kak Reno, ketoilet lama banget," gerutu Lala.
Lala mengerutkan dahinya saat melihat kontak bertulisan Papa di layar ponsel Reno, refleks Lala menepuk dahinya dan merutuki diri sendiri karena bisa-bisanya ia lupa mengabari mama Wina dan papa Gio.
"Hallo." Lala menyapa dengan nada was-wasnya, ia sudah menyiapkan mental untuk telinganya jika ia harus menerima teriakan dari seberang sana.
"Loh Lala yang angkat. Reno kemana La?" tanya Gio dengan penasaran.
"Ah iya itu kak Reno lagi ke toilet Pa, mungkin sebentar lagi balik kali," jawab Lala.
Beberapa detik kemudian dede bayi yang berada di gendongan Lala menangis hingga terdengar sampai ke telinga Gio. Lala pun panik dan berusaha menenangkan dede bayi.
"Cup ... Cup ... Cup jangan nangis ya, Lala lagi nelpon nih nanti kalo Lala diomelin gimana. Cila biasanya kalo dede bayi nangis dikasih apa?" Lala dibuat kelimpungan hingga ia melupakan Gio.
"Dede bayi haus kak," jawab Cila.
"Duh kak Reno kemana sih bukannya bantuin malah pergi awas aja nanti Lala cubit," gerutu Lala.
Lala menghela nafas leganya saat melihat Reno yang sedang berjalan mendekatinya.
"Kak Reno kemana aja sih. Lala kerepotan kaya gini bukannya bantuin malah asik-asikan di toilet," omel Lala.
Reno menatap Lala kesal, ia menyentil kening Lala.
"Asal aja kalo ngomong ya, orang mana yang asik-asikkan di toilet Lala, tadi tuh aku gak sengaja ketemu temen aku pas mau jalan kesini yaudah aku ngobrol dulu. Plis jangan ngomel-ngomel terus kasian kuping aku pusing," keluh Reno sambil menutupi kedua telinganya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Baru tau ternyata kak Reno rumpi ya, pasti ngeghibah ya?" tuding Lala.
Gio yang berada di seberang sana berusaha menahan kesal karena sedari tadi ia tidak dianggap.
"Hmm gitu ya. Disuruh kesana perginya kesini. Dasar anak bandel kalian berdua ya. Udah salah malah ngacangin Papanya lagi," sindir Gio.
Lala dan Reno membelalakan matanya saat mendengar suara Gio, Reno menatap Lala seolah bertanya mengapa ada suara Papanya. Lala pun memberi kode dengan menunjuk layar ponsel Reno menggunakan jari telunjuknya.
"Sini hp nya biar aku yang ngomong sama Papa, kamu beres-beres aja dulu abis itu kita pulang soal prewedd bisa diatur lah." Reno tidak tega melihat Lala yang kelelahan mengurus dua anak sekaligus dengan pengalaman yang tidak ada sama sekali.
__ADS_1
"Hallo Pa, ada apa?" tanya Reno yang belum menyadari kesalahannya.
"Santai banget kamu ya nyautinnya, sekarang kamu dimana?" tanya Gio.
"Di mall pa," jawab Reno.
"Mama nyuruh apa ke kamu sama Lala?" tanya Gio.
"Hehe maaf ya Pa, Reno lupa ngabarin ke mama sama Papa. Soalnya kejadiannya dadakan banget Pa. Aku sama Lala nemu anak di jalan Pa, si Lala gak tega terus dia bawa anaknya. Kalo gak gini aja deh kita ketemu di rumah biar nanti Reno jelasin lengkapnya," ucap Reno.
"Gimana mau pulang Reno. Kamu lupa adik kamu lagi operasi lama-lama papa jitak kamu ya," geram Gio.
"Yah terus gimana Pa, apa kita samperin ke rumah sakit aja," tanya Reno.
"Gak usah Ren, kamu kan bawa anak-anak dan lingkungan rumah sakit gak baik buat anak-anak. Gini aja kamu sama Lala pulang ke rumah sekalian urusin Fano ya, soalnya tadi Bibi telfon buat izin pulang, kasian Fano gak ada yang nemenin di rumah jadi kalian harus urus Fano ya, itu hukuman juga buat kalian yang gak ngikutin apa yang disuruh sama Mama," Jelas Gio.
"Iya Pa. Yaudah Reno tutup ya telponnya," pamit Reno.
Reno mendengus sambil mengusap wajahnya, kemudian ia menolehkan kepalanya ke arah Lala.
Bukan anak-anak yang membuatnya frustasi tetapi kekurangan pada dirinya lah yang membuatnya frustasi karena ia tidak bisa membantu Lala mengurus anak-anak. Mungkin kalau Fano ia bisa mengawasinya tetapi kalau bayi ia menyerah karena bayi tidak bisa berbicara jika ia menginginkan sesuatu, bayi hanya bisa menangis dan itu yang membuat Reno pusing.
"Jauh lebih menyenangkan jadi CEO ternyata," gumam Reno.
Reno pun berjalan kembali menghampiri Lala, ia membantu Lala membawa tas berisi perlengkapan bayi yang baru mereka beli kemudian menggandeng tangan Cila.
"Ayo kita pulang. Tugas kamu cukup urus si bayi aja biarin aku yang bawa tas ini sama Cila," ucap Reno.
***
"Gimana Pah?" tanya Wina.
Sejujurnya Wina merasa khawatir dengan keadaan mereka, ia takut terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan hingga membuat mereka tidak bisa datang ke studio foto.
"Anak dan calon mantu kamu itu ajaib banget Ma, disuruh foto prewed malah berburu bayi kayanya mereka gak sabar pengen punya bayi dah," saut Gio.
Wina tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh suaminya berulang kali ia berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh suaminya.
__ADS_1
"Maksudnya gimana? " tanya Wina.
"Nanti mama juga paham kalo udah sampe rumah. Sekarang kita fokus dulu sama Raina, mereka aman kok sekarang mereka otw rumah," ucap Gio.
Dokter keluar dari pintu ruangan membuat orang disekitarnya refleks menoleh ke arah dokter.
"Gimana operasinya Dok?" tanya Fathan dengan cemas.
"Tenang dulu ya Mas. Operasi berjalan dengan lancar, hanya saja pasien belum sadarkan diri. Kalau kalian mau menjenguk silahkan masuk tetapi jangan sampai mengganggu pasien ya," ucap dokter tersenyum ramah.
Mendengar penjelasan dokter semua bernafas lega karena doa mereka dikabulkan. Fathan menolehkan kepalanya pada Wina dan juga Gio mempersilahkan mereka untuk masuk terlebih dahulu setelah itu yang lainnya mengikuti dari belakang.
"Raina, akhirnya bentar lagi lo bisa liat gw lagi sumpah gw kangen banget sama lo," ucap Zara dengan heboh.
"Berisik nih Zara. Kasian Raina nanti kebangun dia kan abis operasi perlu istirahat yang banyak," omel Rama.
"Iya-Iya, namanya juga orang lagi seneng sirik aja sih lo Kak," ketus Zara.
Reyhan yang berada disana terus menatap ke arah mata Raina, Ia sedang membayangkan saat Raina membuka matanya dan ia harus melihat kornea mata milik kekasihnya.
Bahagia disana ya Kinan. Aku gak akan lupain kamu. Makasih banyak disaat terakhir-terakhir sisa hidup kamu, kamu masih mau berkorban untuk aku. Aku kangen banget sama kamu Kinan semoga aja dengan melihat mata Raina rasa kangen aku terobati ya.
Aisyah menyadari perubahan raut wajah Reyhan, Ia merasa iba dengan Reyhan ingin sekali rasanya ia mendekati dan memberi semangat pada Reyhan namun ia tidak berani karena ia takut nanti Reyhan risih bahkan marah padanya.
"Kasian banget kak Rey," gumam Aisyah.
"Lo ngomong apa Ais?" tanya Zara yang berada di sampingnya.
Aisyah dibuat gelagapan dengan cepat ia menggelengkan kepalanya berharap Zara tidak terus menanyakan apa yang Zara dengar.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya ya gais. Kalo ada saran boleh kok dititipkan di kolom komentar.
Sekian dan terima kasih.
__ADS_1