SENIOR

SENIOR
Surprise


__ADS_3

Raina dan Zara masuk ke dalam salon mereka bertemu dengan Aldo dan Aisyah yang sudah menunggu mereka.


"Nah tuh orangnya udah dateng, bisa di mulai dah tuh acak-acak aja mukanya dia kita semua rela," ucap Aldo sambil tertawa.


"Enak aja lo kalo ngomong seenak jidat, ini aman kan ya?" ucap Raina menatap pegawai ragu-ragu.


"Aman, tenang aja kita propesional," ucap pegawai.


Raina mendudukan dirinya di salah satu kursi pegawai salon mulai menggambar wajahnya setelah selesai ia terkejut melihat hasil lukisan pegawai salon diwajahnya.


"Ini muka gw kenapa kaya hantu arwah penasaran sih serem banget merah-merah semua," teriak Raina memandangi wajahnya sambil meraba-raba setiap inci wajahnya.


Zara tertawa melihat reaksi Raina ia menatap wajah Raina dengan lekat.


"Sumpah ya ini sih keren banget gw sampe gak bisa ngenalin muka lo saking ancurnya muka lo hahaha," ucap Zara sambil menunjuk mukanya Raina menatap Aldo dan Aisyah.


Aisyah dan Aldo yang semulanya hanya duduk sambil melihat-lihat sekitaran salon mulai penasaran saat mendengar perkataan Zara mereka mendekati Raina lalu menatapnya.


"Iya bener Zar kata kamu, aku jadi ngebayangin gimana paniknya kak Fathan liat mukanya Raina," heboh Aisyah.


"Iya nih bagus hasilnya, berarti tinggal foto aja buat alat bantu Rama sama Raka ngibulin Fathan," ucap Aldo.


***********


"Kak Leno, Pano mau beli kado buat kak Jungkook bial nanti kalo Pano ulang taun dikasih kado juga sama kak Jungkook, tapi Pano bagi duit ya," ucap Fano.


"Emangnya kak Fathan ulang tahun ya?" tanya Lala.


"Iya," jawab Reno asal.


"Yaudah yuk beli kado ke pasar," ajak Lala.


"Pano gak mau ke pasal nanti Pano ketemu kuda poni bal-bal," tolak Fano.


"Gak usah beli kado, acaranya dadakan gak usah ribet deh buruan pulang," ucap Reno.


"Dasal pelit bilang aja gak punya duit," cibir Fano sambil memalingkan wajahnya lalu menghentakan kaki berlarian menuju parkiran toko kue.


Reno hanya menggelengkan kepalanya melangkahkan kakinya menyusul Fano hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah Wina.


********


Waktu menunjukan pukul 17.17 di rumah Raina semua sudah berkumpul, sedangkan Fano yang baru saja bangun tidur hanya mengenakan kaus dalam dan celana dalam keluar kamar sambil mengucek matanya.


"Kenapa lame banget Pano lagi mimpi apa benelan lame," gumam Fano sambil berjalan menghampiri Wina yang sedang mengobrol dengan yang lainnya.


Fano terdiam saat melihat Raina sesekali mengedipkan matanya memastikan penglihatannya tidak salah ia berjalan menghampiri Raina.


"Ini siapa? Kenapa mukanya ancul kasian banget," tanya Fano bergedik ngeri.


"Itu kak Raina," saut Wina.


Fano membelalakan matanya ia memicingkan mata berjalan memutari tubuh Raina sambil menatapnya memastikan bahwa Wina tidak membohonginya.


"Kak Laina kenapa jadi makin jelek?" tanya Fano dengan wajah polosnya tangannya asik meraba wajah Raina.


"Sakit gak?" tanya Fano.


"Sakit banget. Aduh... Tolongin dong," teriak Raina sambil menahan tawanya.


Teriakan Raina membuat Fano panik segaligus cemas perlahan Fano mendekati wajah Raina lalu meniup-niup wajah Raina.


"Tuh udah Pano tiupin pasti besok sembuh," ucap Fano sesekali menguap


"Mandi sana bau kambing," ledek Raina sambil menutup hidungnya.


"Pano wangi soalnya tadi sebelum tidul Pano pake minyak wangi yang banyak bial bangun-bangun jadi wangi," ucap Fano dengan percaya diri.


Fano meloncatkan dirinya kearah Reyhan yang sedang asik menonton televisi bersama Kinan hingga membuat Reyhan meringis kesakitan saat tidak sengaja Fano menginjak jari-jari tangannya.


"Pacalan telus, gantian ah Pano mau nonton upin ipin," teriak Fano mengambil remot televisi lalu menggantinya.


"Wei kaki lo awas bocil sakit nih," teriak Reyhan.


"Gak usah teriak-teriak gitu Rey," tegur Kinan.


"Lagian rusuh banget dateng-dateng," kesal Reyhan.


"Bialin siapa suluh kak Ley ngambil tipi Pano," ucap Fano.


"Acaranya jam berapa?" tanya Reno.


"Nanti jam 18.45 kalo bisa sih kalian sampe disana lebih awal," saut Raina.


"Emangnya ada apa sih?" tanya Lala penasaran.


"Kepo!" ucap Aldo.


"Parah banget kalian masa Lala gak di kasih tau, kak Reno bagi tau Lala ada acara apa kalo gak kita gak temanan lagi," ucap Lala sambil menarik-narik lengan Reno.


"Ganjen banget megang-megang tangan cowo," ketus Zara.

__ADS_1


"Tau Lala huuu," sorak Aisyah.


Lala mendengus sebal sambil memutar bola matanya jengah perlahan melepaskan tangannya dari tangan Reno.


"Serba salah kaya Raisa kan jadinya," ucap Lala.


"Lo gimana sama Rama udah siap belum, nanti abis maghrib kalian langsung ke rumah Fathan ya Rak," ucap Aldo sambil menatap Raka.


"Siapppp tenang aja bakal berjalan lancar kok," ucap Raka mengacungkan kedua jempolnya.


Lala menatap semua orang bergantian sesekali ia melirik Reno berharap dengan berbaik hati Reno akan memberitahunya.


"Gak usah liat-liat aku kaya gitu nanti baper aku gak tanggung jawab," bisik Reno membuat Lala terkesiap lalu memukul lengan Reno.


"Kepedean banget lo, udah sana jangan dekat-dekat Lala," ketus Lala.


********


Rama dan Raka kini sedang berada di rumah Fathan, Raka membuka ponselnya dan memasang wajah terkejut dan sepanik mungkin.


Fathan menoleh menatap Raka penasaran saat melihat perubahan wajah Raka yang begitu panik dan terkejut ketika melihat ponsel.


Farhan yang berada disana sama penasarannya dengan Fathan lalu ia mendekatkan dirinya pada Raka menoleh sedikit ke arah ponsel Raka.


"Kenapa sih?" tanya Farhan.


Raka mengeluarkan seluruh keahliannya dalam berdrama dengan wajah paniknya ia menyerahkan ponsel pada Farhan.


"Raina kecelakaan? Weiii Fath pacar lo kecelakaan nih kasian banget ayo buruan kita samperin," teriak Farhan bergegas dari sofa mengambil kunci mobil dan jaketnya.


Sementara Raka dan Rama dibuat tercengang melihat Farhan yang begitu panik sedangkan Fathan masih enggan untuk berdiri.


"Kok malah dia yang panik harusnya kan lo Fath," ucap Rama sambil menyenggol lengan Fathan.


Fathan menggelengkan kepalanya sambil menatap Rama dan Raka curiga ia kembali melihat ponsel Raka terus memperbesar gambar untuk meyakinkan bahwa yang berada di foto tersebut Raina.


Beberapa menit kemudian masuk pesan berisi foto Raina dengan wajah yang berlumuran darah dan berhasil membuat Fathan panik tanpa banyak berbicara ia berlarian tanpa mengganti pakaiannya ia menarik Farhan yang berada di depan pintu lalu mengambil kunci mobil yang berada ditangan Farhan.


Rama dan Raka tersenyum saat melihat keduanya sudah keluar rumah mereka bertos ria lalu mengabari yang lainnya bahwa rencana sampai saat ini berhasil.


"Gilaaa ya tuh orang tadi santai banget abis itu kabur gitu aja," ucap Rama terkekeh.


"Yaudah yuk buruan mending kita susul mereka nanti yang ada mereka curiga," ajak Raka.


Kini mereka berada di dalam satu mobil dengan Fathan yang mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata-rata.


"Ini lokasinya dimana?" teriak Fathan.


"Budek semua nih, rumah sakit mana? Buruan!" teriak Fathan.


"Lo ikutin aja arahan gw Raina ada disana," saut Raka.


Tanpa banyak bicara Fathan mengikuti perkataan Raka, ia sedikit heran dan bingung saat Raka mengarahkannya ke lokasi yang jauh dari rumah sakit.


"Mau kemana sih? Di daerah sini kan jauh rumah sakitnya, lo ngerjain gw ya?" kesal Fathan.


"Raina emang gak di rumah sakit dia ada di restoran itu tuh," jawab Rama sambil menujuk restoran.


Fathan mengerutkan dahinya menatap kedua temannya tidak percaya.


"Apaan sih pada gak waras ya orang kecelakaan bukannya dibawa ke rumah sakit malah dibawa ke resto kalo Raina kenapa napa gimana?" bentak Fathan.


Fathan emosi saat mengetahui Raina kini berada di Restoran bukan di rumah sakit dengan cepat ia memakirkan mobilnya di perkarangan restoran lalu keluar dari mobil berlarian memasuki restoran yang gelap.


"Ini restoran apa rumah kosong sih gelap banget saklarnya dimana lagi nih," geram Fathan.


Sedangkan yang lainnya kini dibuat kebingungan saat mendengar suara Fathan, kemudian Aldo menyuruh Fano menyambut Fathan terlebih dahulu.


Fano menganggukan kepalanya ia berlarian menyusul Fathan sesekali menabrak pintu restoran.


"Pano jadi susah jalannya sakit jidat Pano nih," gumam Fano.


Lampu perlahan menyala sebagian ia melihat Fano dari kejauhan sedang bergerutu membuat Fathan kebingungan.


"Hallo kak Jungkook kembalan Pano, cie ulang taun Pano juga bental lagi ulang taun," ucap Fano menampakan senyum manisnya.


Fathan semakin dibuat bingung oleh perkataan Fano ia tidak merasa sedang ulang tahun, perasaannya kini campur aduk belum hilang rasa cemas dan paniknya kini ditambah lagi rasa kebingungan yang diciptakan oleh Fano.


"Kak Raina mana?" tanya Fathan.


"Ada disana, kak Laina selem banget deh kaya hantu jeluk pulut," ucap Fano sambil menunjuk pintu yang di dalamnya ada banyak orang termasuk Raina.


Fathan semakin panik mendengar perkataan Fano ia berlarian menerobos pintu dan lagi-lagi ia dibuat terkejut melihat wajah Raina yang begitu hancur namun ia tersenyum di dalam gelapnya ruangan.


"Raina," teriak Fathan dengan rasa cemas yang begitu menggunung ia menghampiri Raina tanpa memikirkan beberapa kursi yang terjatuh akibat tersenggol oleh kakinya lalu meraba wajah Raina.


"Raina, kasih tau sama aku apa yang sakit? Kita ke dokter ya kenapa orang-orang bodoh banget sih bukannya dibawa ke rumah sakit malah ke restoran," kesal Fathan tanpa sadar ia menitikan air mata melihat kondisi wajah Raina.


"Yang bodoh tuh kamu Kak, polos banget sih dikerjain aja gak sadar," ucap Raina dengan gemas mencubit pipi Fathan.


"Wah mantan pacar aku nangis, ini nangis karena takut kehilangan aku atau nangis karena takut sama gelapnya restoran nih," sambung Raina sambil terkekeh.

__ADS_1


Tiba-tiba lampu menyala bersamaan dengan suara sorak-sorak yang lainnya membuat Fathan terkejut sambil melirik sekitar ia tidak menyangka akan dikerjai oleh mereka.


"Argh... Jadi ini kerjaan kalian semua. Gila si parah banget lo semua ya, lo juga La ngapain lo ikut-ikutan mereka lo kan udah setuju ikut gw," kesal Fathan.


Tidak bisa dipungkiri dalam hati kecilnya ia merasa begitu senang bukan kepalang dan berusaha menduga apakah ini hanya mimpi atau nyata ia melihat Raina dalam keadaan sehat tanpa ada yang kurang sedikit pun kini ia berusaha susah payah menahan air matanya supaya tidak meluncur kembali dan ia tidak ingin dilihat oleh Raina betapa lemah dirinya hari ini.


"Gw bawa mobil udah kaya bawa pesawat untung gak terbang beneran, biangnya siapa ini? " ketus Fathan.


Dengan bersamaan mereka menunjuk Aldo sedangkan Aldo yang ditunjuk hanya menyengir kuda sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Damai lah bang keren gak tuh rencana gw, tapi sekali lagi gw mau pamer nih surprise gw lebih manjur dari pada surprise lo haha," ucap Aldo terkekeh.


Fano berjalan mendekati Fathan sambil membawa kue yang sempat ia beli di toko kue.


"Selamat ulang tahun kak Jungkook kembalan Pano," ucap Fano tersenyum.


"Siapa yang ulang tahun?" tanya Fathan sambil melirik Raina.


Raina menoleh ke arah kue ia menghela nafasnya saat melihat desain kue.


"Kenapa desainnya begitu sih, itu mah kue buat Fano bukan buat kak Fathan," keluh Raina.


"Bialin yang penting kelen wle, Yaudah kalo kak Patan gak ulang taun kuenya buat Pano," ucap Fano membalikan tubuhnya mencari kursi lalu meletakan kue diatas meja.


Mereka tertawa melihat tingkah Fano kemudian mereka mengalihkan kembali pandangannya pada Raina dan Fathan.


Fathan menggengam tangan Raina sambil menatap Raina lekat ia mengembangkan senyumnya.


"Raina aku minta maaf soal yang kemarin beneran aku gak ada niatan buat ganjen sama bule-bule disana, itu yang ada di instagram aku fotonya Farhan, tolong percaya sama aku," ucap Fathan dengan lembut matanya sayu menatap Raina.


"Iya Kakak ipar itu foto gw masa lo gak bisa bedain sih mana muka pacar lo mana muka orang lain," sambung Farhan membuat yang lainnya terkejut kecuali Rama, Raka dan Aisyah.


"Kak Jungkook membelah dili kaya cacing, huaaa milip banget Pano punya kembalan banyak jadinya," ucap Fano heboh dengan mulut yang penuh oleh kue ia menuruni kursi berlarian menghampiri Farhan.


"Hallo ini Fano kan ? Kita pernah ngobrol loh waktu itu," sapa Farhan sambil melambaikan tangannya pada Fano.


"Iya beneran mirip banget jangan-jangan yang waktu itu lo tonjok kembarannya kak Fathan lagi Zar, hayoo tamatlah riwayatmu Zara," ucap Lala pada Zara yang berada tepat di sampingnya.


"Lagian dia gak ngasih tau kalo dia bukan kak Fathan berarti gw gak salah dong," bantah Zara menatap Farhan pucat.


"Gak tau soalnya Lala bukan hakim yang bisa mutusin siapa yang bersalah," saut Lala sambil menaikan bahunya.


"Kak Patan yang ini kak Palhan yang ini? Kenapa milip banget sih kaya upin ipin halusnya kak patan botak kak palhan lambutnya ada satu telus kak leyhan jadi ijat kak Laina jadi mei mei huaaa Pano ketemu upin ipin, Pano halus pamel sama temen-temen Pano yang di PAUD," ucap Fano heboh.


"Raina mending kita minggir dulu dari sini, aku mau ngomong sama kamu," ajak Fathan menarik tangan Raina menjauh dari kerumunan.


"Mau ngomong apa Kak?" tanya Raina.


"Soal hubungan kita aku mau kita lanjutin lagi hubungan kita, aku minta maaf aku udah egois dan cepat banget ngambil keputusan, kamu mau kan maafin aku? ," saut Fathan.


Raina tersenyum malu lalu menganggukan kepalanya.


Fathan bahagia tangannya terangkat merangkul Raina ia sempat berfikir bahwa hubungannya sama Raina benar-benar sampai disini saja namun takdir berkata lain dalam kejadian ini dia memetik banyak sekali pelajaran.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Hallo apa kabar? Kalian sehatkan? hehe


Pasti sehatlah ya 😉


Selamat membaca guys 😉


Jangan lupa like dan komennya mau kasih saran dan kritik juga boleh, aku nampung kok 😂


Sekian dan terima kasih bye bye 🖑😂

__ADS_1


__ADS_2