SENIOR

SENIOR
Iri


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 19.20


Seluruh keluarga Raina kini sedang berkumpul di ruang tengah karena Wina dan Gio yang memang sengaja mengumpulkan mereka.


"Ada sidang apa nih disini, kenapa kita dikumpulin semuanya," tanya Reyhan sambil menatap Gio dan Wina bergantian.


"Pasti ada pembagian duit ya. Gak usah papa Gio suel dah. Pano udah banyak duit," ucap Fano dengan wajah polosnya.


"Berisik nih bocil, gw lempar bantal nih ya," omel Reyhan.


"Ayo jadiin kita tawulan lagi. Emangnya kak Ley doang yang punya bantal, Pano juga punya nih. Lasain lempalan Pano," ucap Fano kemudian melemparkan bantal sofa yang ada di belakangnya pada Reyhan, namun lemparan tersebut melenceng dan terkena wajah Raina hingga membuat Raina kesal.


"Fanooo! Gak bisa diem banget sih," teriak Raina.


Fano menunjukkan cengirannya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Maap kak Laina, Pano gak salah suel deh kalo mau malah sana malah aja sama kak Leyhan. Gala-gala kak Ley ngeles jadinya kak Laina yang kena, bukan salah Pano ya," ucap Fano berusaha membela dirinya.


Gio dan Wina bersamaan memijat pelipisnya. Keduanya mulai berdeham memberi kode pada yang lainnya untuk tidak berisik karena mereka akan memberitahukan apa tujuan mereka mengumpulkan yang lainnya.


"Diem kalian ya anteng-anteng aja duduk yang manis, jangan ribut terus. Kita mau ngomongin hal penting soal Cila dan Vico," ucap Gio dengan santai.


Semua pandangan tertuju pada Gio, mereka menatap Gio penasaran.


"Emangnya Vico sama Cila kenapa,Pa. Orangtua mereka jemput apa gimana?" tanya Raina.


Gio menggelengkan kepalanya sambil melirik Vico yang berada di dalam gendongan Lala kemudian ia melirik Cila yang sedang duduk di samping Fano.


"Bukan. Kita mau bahas soal hak asuh Vico dan Cila. Mereka kan tinggal disini, kalo didenger dari ceritanya, ada kemungkinan Ibu tiri mereka pasti gak akan ngambil mereka lagi, jadi Papa mau bahas soal hak asuh mereka. Lagian si Cila kan umurnya udah 6 tahun sebentar lagi pasti dia akan sekolah. Kalo kita urusnya nanti-nanti jadinya sayang dong kalo dia telat sekolah," jelas Gio.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Gio, semua menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dijelaskan oleh Gio.

__ADS_1


"Terus Papa maunya gimana," tanya Reno.


"Jangan sama Mama semua, kasian Mama ngurus banyak bocah nanti yang ada Mama kecapekan terus sakit lagi," ucap Raina sambil menatap Wina.


"Engga kok sayang, tenang aja. Niatnya Mama mau kasih ke kalian aja malahan, itung-itung latihan punya anak biar gak kagok nantinya," saut Wina tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


"Terus gimana ngasihnya Ma, kita ada banyak begini," ucap Lala.


"Niatnya Mama mau masukin Cila dan Vico ke kartu keluarga kalian berdua, berhubung di keluarga ini yang sudah pisah kartu keluarga cuma kalian, berarti mereka akan jadi anak angkat kalian. Tapi tenang aja soal ngasuh bisa ganti-gantian kok," ucap Wina sambil menatap Lala dan Reno.


Setelah menikah Lala dan Reno memang sudah mengurus kartu keluarga mereka supaya nantinya tidak pusing lagi mengurus berkas-berkas. Namun kartu keluarga mereka masih dalam tahap proses.


"Kita kan baru aja ngajuin pembuatan kartu keluarga Ma, ini aja belum jadi. Palingan tunggu kartu keluarganya jadi aja kali ya baru Vico dan Cila dimasukin ke kartu keluarga kita. Lagian aku sama kak Reno sama sekali gak keberatan kalo mereka jadi anak kita, malahan Lala seneng banget punya anak kaya mereka bahkan langsung dua lagi Hehe," ucap Lala tersenyum pada Wina.


Wina tersenyum senang saat mendengar ucapan Lala yang setuju untuk menjadikan Vico dan Cila anak angkat mereka.


"Nah baguslah kalo kamu gak keberatan La, Mama ikut seneng dengernya, tapi meskipun kalian udah punya 2 anak jangan lupakan pesanan Mama ya buat kasih Mama dan Papa copyannya Reno, kalo kamu gimana Reno? Mau kan jadi Papa dari mereka, kasian loh mereka," ucap Wina.


"Kalau Lala gak setuju aku bisa apa Ma. Kalau aku bilang gak setuju bisa-bisa habis rambut aku dijambakin sama dia," adu Reno menatap Lala dengan tatapan jengkelnya.


Lala terkesiap saat mendengar ucapan Reno, ia memicingkan matanya menatap Reno sebal. Dengan sengaja Lala berdiri dari sofa kemudian menginjak kaki Reno hingga membuat Reno kaget.


"Tuh kan liat tuh menantu Mama sama Papa. Baru ngomong kaya gitu aja aku udah diinjek, kdrt ini mah namanya," ucap Reno sambil mengusap-usap kakinya.


"Lagian kak Reno ngeselin banget sih ngaduin yang jelek-jelek ke papa Gio dan mama Wina. Lala gak terima lah," saut Lala.


"Ini mah kita ngumpul cuma buat nontonin penganten baru ribut, jadi ngantuk nih," sindir Raina dengan nada malasnya.


"Yaudah berarti intinya Vico sama Cila udah fix bakal masuk ke kartu keluarganya Reno dan Lala. Mama dan Papa berharap kalian bisa jadi orangtua sambil yang baik buat Cila dan Vico. Mama percaya sama kalian berdua, terutama kamu Reno. Mama tau kamu anak yang bisa diharapkan," ucap Wina tersenyum pada keduanya kemudian menepuk-nepuk bahu Reno.


"Iya dong. Mulai sekarang Vico sama Cila panggil aku Ibu dan panggil kak Reno Ayah aja ya. Kalau bisa sih kita gak usah bahas-bahas soal mereka yang statusnya anak angkat. Lala mau semua orangtaunya mereka anak Lala bukan anak angkat," ucap Lala.

__ADS_1


Cila menganggukkan kepalanya, ia sangat senang saat mengetahui ia dijadikan anak oleh Lala dan Reno. Disaat seperti ini dirinya memang sangat butuh sosok orangtua yang akan menjaganya dengan senang hati. Sejak kedua orangtuanya meninggal dan ia tinggal bersama Ibu tirinya, ia tidak pernah merasakan kasih sayang orangtua. Namun kini berbeda semenjak ia bertemu dengan Lala dan Reno lalu dibawa ke rumah, ia kembali merasakan kasih sayang yang sudah lumayan lama tidak ia rasakan.


Fano menatap semuanya bergantian, ia menatap Lala dan Reno sebal karena sedari tadi semua orang terus-terusan membahas Cila dan Viko hingga membuat dirinya terlupakan. Mendengar Vico dan Cila yang dijadikan anak angkat oleh Lala dan Reno berhasil membuat Fano jengkel. Ia iri dan sama sekali tidak rela dengan keputusan yang lainnya.


"Semuanya pada ngomongin Cila sama Pico. Sekalang Pano dicuekin. Pano juga mau jadi anaknya kak Lala po sama kak Leno. Masa Cila sama Pico doang, semuanya gak adil Pano malah sama semuanya," kesal Fano sambil bersidekap dada kemudian ia memalingkan wajahnya.


Semua dibuat kebingungan dengan sikap Fano, mereka saling melempar pandangannya satu sama lain.


"Fano kan masih ada mama sama Papanya, masa Fano iri sama Cila dan Vico sih. Kasian loh mereka," ucap Raina.


"Tau nih bocah segala iri-irian. Ini kalo mak sama bapak lo denger bakal dicoret lo dari kk mereka," saut Reyhan sambil menggelengkan kepalanya.


"Gak mau tau pokoknya Pano juga mau jadi anak angkatnya kak Lala po sama kak Leno. Kalo Pano gak boleh Cila sama Pico juga gak boleh," ketus Fano.


"Fano dengerin kak Lala. Walaupun Fano bukan anak angkat kak Lala tapi Fano tetap nomor satu di hati kak Lala," ucap Lala tersenyum pada Fano.


"Tapi Pano mau ikut masuk ke kaltu kelualga juga kaya Cila. Pano sama Cila gak boleh pisah soalnya kita udah besplen polepel," bantah Fano


Semua menghela nafas gusar sambil menepuk dahinya saat mendengar ucapan Fano.


"Tau ah males jelasinnya, ini bocah atu kadang-kadang pikirannya suka ketinggilan sampe keluar angkasa," keluh Reyhan.


"Jangan gitu bang Rey, gitu-gitu itu bocah sodara kita tau. Coba dah lo bujukin bang biar gak ngeyel terus si Fanonya," ucap Raina.


***


Bersambung ....


Jangan lupa like, komen dan sarannya ya gais. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar ya buat bahan evaluasi aku di bab selanjutnya.


Sekian dan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2