SENIOR

SENIOR
Dikejar angsa


__ADS_3

Fathan terlihat gelisah seperti ingin menyampaikan suatu hal penting hingga membuat Raina penasaran lalu menghampirinya dan menarik tangannya menjauhi yang lain.


"Kenapa sih gelisah banget ada yang mau diomongin?" tanya Raina.


"Iya, besok aku ke london nyusul Farhan tiba-tiba dimajuin gitu aja kayanya kita gak jadi jalan-jalan seharian karena sekarang aku harus pulang packing baju-baju aku maaf ya ini diluar dugaan banget," ucap Fathan merasa bersalah.


Raina menghela nafas memejamkan matanya ada rasa kecewa dari dalam hatinya namun ia tidak boleh egois dan berusaha untuk memaklumi keadaan Fathan.


"Iya gapapa yang penting kamu balik lagi ya kesini Kak, nanti aku diledekin terus sama Lala gara-gara kamu kelamaan disana," ucap Raina sambil cemberut.


"Jadi pengen aku cepet pulang karena gak mau diledekin Lala doang bukan karena takut aku kepincut bule-bule disana," ucap Fathan terkekeh.


"Bulenya gak bakalan mau sama kamu," ledek Raina.


"Yah belom tau aja pacar kamu ini tingkat pesonanya tuh udah level tinggi jangankan bule nih ya ibu-ibu aja suka sama aku," ucap Fathan dengan bangga.


"Hih... Nih ya yang aku tau pacar aku ini tingkat percaya dirinya sangat tinggi sampe halu jadinya," ucap Raina tertawa.


"Gak percaya, nanti pas aku sampe disana aku kirimin foto-foto aku bareng bule yang ngedeketin aku," ucap Fathan.


"Palingan juga kamu yang ngejar-ngejar bule terus minta foto ngakunya bulenya yang minta foto tipuanmu gak mempan Mas," ucap Raina tertawa.


"Liat aja nanti ya jangan cemburu liat aku bareng bule, aku mau pamit dulu lah sama camer biar jadi calon menantu idaman kali aja balik-balik dari london disuruh nikah sama kamu," ucap Fathan menaik turunkan alisnya sambil berjalan mencari keberadaan Gio dan Wina.


Setelah berpamitan dengan Gio dan Wina mereka berjalan beriringan menuju mobil Fathan.


"Aku pulang ya, hm jangan rindu aku ya, gak sampe 2 minggu kok," pamit Fathan sambil mengacak-acak gemas rambut Raina.


"Yaudah sono setahun juga gapapa aku rela," saut Raina.


"Yakin? Oke... Awas ya kalo aku denger kabar kamu lagi galau gara-gara kangen sama aku," ucap Fathan.


"Udah ah sono pulang, hati-hati bawa mobilnya jangan ngebut karena aku lebih rela liat kamu pergi ke london bertahun-tahun dibanding pergi ke alam lain selama lamanya dan gak balik lagi," usir Raina sambil mendorong pelan tubuh Fathan.


Fathan terkekeh mendengar perkataan Raina dengan cepat tangannya menarik gemas hidung Raina.


"Ini ceritanya nyumpahin aku meninggal ya," ucap Fathan.


"Enggalah, jangan sampe ngebucinnya baru sebentar masa udah pergi aja," ucap Raina cemberut.


"Yaudah deh aku pamit beneran nih, kalo ngobrol terus gak pulang-pulang aku," pamit Fathan melangkahkan kakinya meninggalkan Raina yang terdiam.


Raina melambaikan tangannya saat mobil Fathan keluar meninggalkan perkarangan rumahnya ia bergegas menutup kembali pagar rumah dan masuk ke dalam rumahnya.


Sebenernya mah kesel tapi yaudah lah mau gimana lagi keluarga no.1 gw kalo ada diposisi kak Fathan pasti milih keluarga.


Raina berjalan ke dalam rumah sambil memikirkan beberapa hal yang selalu mengganggu pikirannya terutama tentang perempuan yang ia temui di toko saat membeli hadiah untuk Farhan yang membuat sikap Fathan menjadi aneh. Tanpa ia sadari baru saja Fano melewatinya sambil berlarian dengan tawa yang begitu kegirangan menuju pagar rumah selang 1 menit muncul Reno dan Lala yang berteriak memanggil Fano.


"Raina liat Fano gak," tanya Lala sambil mengatur nafasnya.


Raina menggelengkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya memasuki rumah.


"Aneh banget tuh anak ditanyain kaya gak ada semangat hidupnya," gerutu Lala.


Reno melirik sekitar pandangannya tertuju pada Fano yang berada di dekat pagar rumah.


"Tuh dia ayooo kejar dia," teriak Reno sambil menarik tangan Lala.

__ADS_1


Fano panik melihat Reno dan Lala yang hampir saja mendekatinya tanpa banyak berfikir ia mendorong pagar dengan sekuat tenaga lalu berlarian keluar rumah.


Saat berlarian tidak sengaja Fano menabrak anak angsa dan induknya membuat induk angsa marah lalu mengejar Fano.


"Ampun Maminya angsa kecil Pano gak sengaja salahin noh kak Leno sama kak Lala yang ngejal-ngejal Pano," teriak Fano sambil berlarian.


"Angsa kecil cemen nih belaninya ngadu ke Maminya gak adil Mami Pano kan gak ada disini coba ada disini Maminya angsa pasti kalah sama Mami Pano," gerutu Fano.


Fano terus berlarian hingga ia lelah namun angsa tetap mengejarnya sementara Lala dan Reno sedari tadi asik menertawakan Fano dengan sengaja mereka mengunci pagar rumah.


"Hahaha sukurin rasain tuh rasanya disosor soang," ledek Reno.


"Kak bantuin aja yuk keenakan soangnya nyosor Fano," ucap Lala berniat membuka pagar.


"Nanti kalo kita ikutan dikejar juga gimana," ucap Reno.


"Gak bakalan pasti soangnya takut liat muka lo yaudah yuk buruan bantuin," ucap Lala menarik paksa tangan Reno berlarian menghampiri Fano sambil mengusir angsa namun bukannya pergi malahan mereka ikut disosor dan dikejar oleh soang.


"Tuhkan bener kata aku ngeyel si kamu teletabis kalo dibilangin," omel Reno.


"Yakan Lala gak tau kalo soangnya bar-bar kaya gini kalo tau begini Lala gak bakalan sok pahlawan, Fano apain si soangnya bisa kaya begitu," ucap Lala.


"Gak Pano apa-apain angsanya aja yang genit kejal-kejal Pano," ucap Fano.


"Yaudah mendingan kita balik ke rumah minta bantuan Papa Gio," teriak Lala sambil mempercepat larinya menuju rumah diikuti dengan yang lainnya.


Mereka berlarian ke dalam rumah hingga lupa mengunci pagar dengan angsa yang terus mengejarnya.


"Papa Gio tolongin Panoooo," teriak Fano berlarian mencari keberadaan Gio.


Sedangkan yang lainnya panik dan terkejut melihat ketiga biang rusuh datang sambil berteriakan yang lebih membuat terkejut ada dua ekor angsa yang mengikuti mereka sampai dalam rumah membuat seisi rumah menjadi gaduh dan berlarian menjauhi angsa.


"Mami angsa pelgi sono ampun deh ampun Pano kan gak sengaja nabrak anaknya Mami angsa, gak sopan loh masuk-masuk lumah olang tanpa pelmisi nanti Mami angsa dikila maling loh," ucap Fano.


"Mumpung si Fano lagi ngobrol sama soangnya mending kita kabur sakit nih kaki aku disosor sama soang bar-bar itu," ajak Reno perlahan Reno dan Lala menjauhi Fano dan kedua angsa.


Angsa terdiam lalu merebahkan dirinya diatas karpet yang berada di ruang tamu sambil melirik televisi.


"Ini angsa sok tau banget sih segala nonton tipi kaya ngelti aja, oh iya Pano kan punya film yang ada angsanya Pano setel aja ah kali aja Maminya angsa gak malah lagi sama Pano," ucap Fano dengan semangat mulai menyetel film kartun yang ia maksud.


"Tuh liat tuh ada Papinya angsa masuk tipi kalian halus bangga ya sama Papi kalian," ucap Fano asal.


"Si Fano bener-bener ya bukannya kabur malah duduk santai diatas sofa nemenin soangnya nonton padahal dia udah banyak banget kena sosoran soangnya," ucap Lala.


Fano ikut hanyut dengan kartunnya ia merebahkan diri di sofa menikmati kartun yang sedang tayang tiba-tiba datang kucing yang belum sempat ia kasih nama menghampiri angsa lalu kucing tersebut mengeong hingga ekornya berdiri membuat angsa kabur ketakutan.


Fano melirik kucing kebingungan lalu mengambil kucing dan menciuminya dengan gemas.


"Unchh Pano jadi sayang deh sama Atun," ucap Fano sambil mengelus bulu kucing.


"Kenapa gak dali tadi sih nolongin Panonya liat nih Tun kaki Pano melah semua dipatok sama Maminya angsa besok-besok Atun belain Pano lagi ya nanti Pano beliin ikan Lelenya bu Sulti yang banyak deh," ucap Fano tersenyum senang.


Fano terlihat senang sekali berbeda dengan yang lainnya yang kebingungan melihat tingkah Fano dari kejauhan.


"Telnyata benel kata pak ustad nolongin dan melihala kucing bakal dapet belkah dan pahala, mulai sekalang kita jadi besplen ya cing dan sekalang kucing bakal Pano kasih nama Atun," ucap Fano memeluk kucing dengan gemas berjalan menghampiri Reyhan sambil menyodorkan kucing.


"Jauhin gak kucingnya hatchii...Hatchii," teriak Reyhan menepis kasar kucing tersebut.

__ADS_1


"Sukulin siapa suluh tadi ngeljain Pano mulai sekalang senjata tawulan Pano ganti jadi Atun bukan centong mama Wina lagi," ketus Fano.


"Bocah somplak, sableng, alay sono gak bawa kucingnya jauh-jauh," teriak Reno.


"Iya-iya dasal lemah sama angsa takut sama kucing takut belaninya sama nyamuk doang nih, yaudah yuk Tun kita pelgi nyali makanan pasti Atun lapel," gerutu Fano berjalan menuju dapur.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2