
Reyhan menggenggam erat tangan Kinan kerena teralu panik tanpa ia sadari air mata membasahi pipinya.
"Engga! Aku gak izinin kamu donorin kornea mata kamu buat Raina apa lagi kamu pergi ninggalin aku. Kita bisa cari donor buat Raina bareng-bareng Kinan. Aku mohon berjuang buat aku, aku yakin kalau Raina tau pasti dia gak akan setuju. Aku yakin kamu bisa bertahan. Aku janji bakal ikutin semua mau kamu kalau kamu siap berjuang, aku mohon jangan tinggalin aku." Reyhan tak ada bosan-bosannya menyemangati Kinan dengan ucapan-ucapannya.
Ibu menangis tersedu-sedu melihat anak perempuan satu-satunya yang ia miliki sedang sekarat. Dokter datang bersama dengan perawat membuat Ibu menggeserkan tubuhnya sedikit memberi jalan dokter untuk segera menangani Kinan. Ibu berjalan mendekati Reyhan berusaha membujuk Reyhan untuk keluar dari ruangan terlebih dahulu supaya dokter fokus menjalankan tugasnya.
"Rey, ayo kita keluar dulu biarin dokter ngerjain tugasnya, Kinan pasti baik-baik aja kok. Kalo kamu kaya gini yang ada omongannya Kinan jadi kenyataan," bujuk Ibu.
Perkataan Ibu berhasil membuat Reyhan tersadar kemudian ia menganggukkan kepalanya berjalan mengikuti Ibu dari belakang namun baru beberapa langkah ia meninggalkan tempat sebelumnya, Kinan bersuara memanggil Reyhan hingga membuat Reyhan menghentikan langkahnya.
"Aku harap setelah ini kamu harus hidup bahagia ya Rey, Aku sayang sama kamu," ucap Kinan dengan nada lemahnya.
"Bukan aku tapi kita Kinan, berjuang demi aku, aku yakin kamu bisa." Reyhan tersenyum kaku.
Mendadak alat monitor pasien menunjukkan detak jantung Kinan semakin melemah hingga akhirnya monitor menunjukkan garis lurus hal tersebut membuat dokter dan perawat panik mereka mengambil tindakan dengan menggunakkan alat kejut jantung.
Reyhan yang masih berada di dalam ruangan ikut merasakan cemas, ia terus berdoa supaya Kinan terus bertahan.
Dokter yang sudah berusaha semaksimal mungkin akhirnya menyerah karena denyut jantung Kinan tak kunjung menunjukkan adanya perubahan di monitor. Melihat hal tersebut sontak membuat Reyhan panik ia berlarian mendekati Kinan yang wajahnya baru saja ditutupi kain oleh perawat.
"Dokter, kenapa dokter berenti? Pacar saya sekarat dok, saya mohon dokter bantu dia buat balik lagi dok, saya yakin dia bisa bertahan. Kinan bangun! Buktiin sama dokter kalau kamu lebih hebat dibandingin mereka yang lemah dan gampang nyerah." Reyhan berteriak sambil menepuk-nepuk pipi Kinan.
Dokter dan perawat yang menyaksikan kesedihan Reyhan pun ikut merasakan apa yang Reyhan rasakan, namun apa daya mereka hanya manusia biasa hanya perantara yang bekerja dengan alat, jika tuhan sudah berkehendak mereka bisa apa.
"Maaf saya sudah bekerja semaksimal mungkin. Semua sudah kehendak yang kuasa. Tuhan lebih sayang sama pacar anda berusahalah mengikhlaskannya supaya pacar anda tenang di alam sana. Cukup simpan kenangan kalian di hatimu." Dokter menepuk-nepuk bahu Reyhan sambil tersenyum kemudian ia keluar bersamaan dengan perawat.
Sulit untuk Reyhan mempercayai semua yang telah terjadi rasanya semua begitu cepat terjadi, ia menyesal disaat beberapa hari terakhir sebelum Kinan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya ia tidak menemani Kinan justru ia dibuat sibuk dengan acara keluarganya.
"Arghh! Ini gak mungkin kan? Kinan tolong bangun buka mata kamu. Aku yakin kamu mau bales aku kan yang kemarin terlalu sibuk sama yang lain sampe lupain kamu. Aku janji aku gak akan lupain kamu. Bangun Kinan!" Reyhan terus berteriak sambil menepuk pipi Kinan berkali-kali.
Ibu pun tidak kalah sedihnya dengan Reyhan, kini ia tidak tahu harus berbuat apa rasanya menangis saja tidak cukup dan tidak akan membuat putri semata wayangnya kembali ke dunia.
"Kinan Ibu percaya kamu bahagia disana. Doakan Ibu nak supaya Ibu bisa melupakan kesedihan Ibu," ucap Ibu.
"Bu maafin Rey, Rey gagal jagain Kinan. Ibu pukul Rey aja bu. Rey emang bodoh pantes buat dipukul," ucap Reyhan.
Ibu menggelengkan kepalanya kemudian mengusap air matanya.
"Engga Rey, ini murni kecelakaan. Semua takdir bukan salah kamu, Ibu harap kamu bisa mengikhlaskan kepergian Kinan supaya Kinan tenang disana. Lakukan amanat Kinan tadi, donorkan kornea matanya untuk Raina," ucap Ibu berjalan mendekati Kinan.
Air mata kembali menetes saat Ibu melihat jasad Kinan, tangisnya pecah ia memeluk Kinan dengan erat.
"Maafin Ibu ya nak, Ibu yakin kamu bahagia disana dan gak akan ngerasain sakit lagi," bisik Ibu.
Beberapa hari yang lalu Kinan masuk ke rumah sakit dikarenakan kecelakaan yang menimpanya dengan bersamaan saat asam lambungnya yang kambuh ia sedang menyeberang di jalan terpaksa berhenti karena lambungnya yang terasa sakit dan membuatnya tidak sanggup berjalan. Disaat bersamaan pula dari arah yang berlawanan bus mobil dengan kecepatan yang lumayan cepat menabraknya.
__ADS_1
"Maafin aku Kinan yang gagal dan gak nepatin janji aku buat jaga kamu," gumam Reyhan.
Reyhan berjalan gontai keluar ruangan meninggalkan Ibu. Ia mengambil ponselnya dari saku celana bertepatan dengan panggilan masuk yang berasal dari Raka. Ia menarik nafasnya sejenak kemudian menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Hallo."
"Sukurlah lo masih hidup. Sumpah ini si Shasha panikan nyuruh telpon lo terus Rak. Siapa yang sakit?" Raka dari seberang sana menghembuskan nafas leganya karena setelah berpuluh-puluh kali ia berusaha menghubungi Reyhan akhirnya Reyhan menjawab panggilannya telponnya.
"Kinan," jawab Reyhan dengan nada gemetar.
"Sakit apa? Terus gimana keadaannya sekarang? Pantes aja lo bawa motor kaya kerasukan ternyata pujaan hati yang sakit," ucap Raka terkekeh.
"Dia udah gak ada." Reyhan kembali teringat dengan Kinan hingga ia tidak bisa menahan air matanya.
Raka sontak terkejut mendengar ucapan Reyhan, ia beranggapan Reyhan sedang membohonginya.
"Rey jangan bercanda lo. Gw tau lo tengil tapi soal kaya ginian jangan lo becandain," ucap Raka.
"Terserah lo mau percaya apa engga, gua minta tolong aja kabarin yang lainnya juga." Suara Reyhan parau karena menangis. Sebelum Raka menjawab perkataannya terlebih dahulu Reyhan mengakhiri sambungan telfonnya.
Raka yang mendengar suara parau Reyhan refleks membuat Raka terkesiap dan panik.
Shasha pun ikut panik, ia penasaran dengan apa yang Raka dengar hingga membuat raut wajah Raka sepanik itu.
"Kenapa sih Rak, keliatannya lo kaget banget? Pasti bener deh si Reyhan jatoh, kebanyakan gaya sih dia," ucap Shasha.
"Kinan pacarnya Reyhan meninggal," ucap Raka.
Shasha tercengang mendengar kabar duka cita tersebut, ia menutup mulutnya dan menundukkan kepala.
"Serius? Jadi tadi dia bawa motor kaya tadi gara-gara pacarnya meninggal? Ya ampun jadi ngerasa bersalah udah ngatain dia kaya tadi, Rey maafin gw ya," ucap Shasha.
"Udah gak usah ngerasa bersalah gitu lo gak salah Sha. Mending kita samperin yang lainnya kasih tau kabar duka cita ini ke yang lain," ajak Raka menarik tangan Shasha.
***
"Ngapain lo bedua kesini lagi? Udah abis makanannya noh tinggal toplesnya doang, ya gak Fano?" ucap Rama.
"Iyaa benel kata kak Lama lagian sih telat datengnya," ucap Fano.
"Kenyang duluan gw liat lo makan. Gw kesini mau kasih kabar duka cita dari Reyhan barusan gw dapet kabar Kinan meninggal," ucap Raka.
Rama dan Fano kaget dengan bersamaan mereka yang mulanya malas-malasan menanggapi Raka kini mereka menegakkan tubuhnya menatap Raka lekat.
"Boong gak lo?" tanya Rama penuh selidik.
__ADS_1
"Ngapain gw boong soal beginian. Kaya gak ada hal lain aja yang lebih bagus dibuat boong-boongan," saut Raka.
"Kak Kinan meninggal? Hiks kak Kinannnn! Ayo buluan kita sampelin kak Kinan," teriak Fano dengan cepat ia berdiri.
"Nanti dulu ya Fano kita kabarin ke yang lain dulu biar kita semuanya pergi bareng kesananya," ucap Shasha.
"Repot banget lo nyari satu-satu, mendingan telpon aja biar hemat waktu, suruh semuanya kumpul disini," ucap Rama.
Raka menepuk jidatnya gemas, ia tidak kepikiran dengan hal tersebut padahal tadi ponselnya berada di tangannya.
"Saking kagetnya sampe gak kepikiran gw," ucap Raka.
Raka mendudukan dirinya di atas sofa kemudian ia mulai menghubungi yang lainnya untuk segera berkumpul di ruang tengah karena ada hal penting yang harus ia sampaikan.
Setelah 10 menit menunggu akhirnya semua sudah berkumpul menatap Raka penasaran.
"Ada apa sih Rak?" tanya Fathan.
"Tau nih segala ditelpon, menang undian lo Kak," sambung Lala.
"Barusan gw dapet kabar dari Reyhan kalo Kinan baru aja meninggal, Reyhan minta tolong buat kabarin ke kalian, itu alasannya kalian semua disini termasuk para orang tua," ucap Raka.
Raina terkejut bukan main ia menggelengkan kepalanya.
"Kak Raka jangan bercanda gak mungkin kak Kinan meninggal, kak Kinan sehat-sehat aja kemarin dia masih ngobrol kok sama gw ditelpon," ucap Raina tak percaya.
"Itu yang gw denger langsung dari Reyhan dari pada kalian semua tanya sama gw terus. Mendingan semuanya buruan siap-siap kita pergi ke rumah sakit kasian Reyhan pasti dia butuh banget support dari kita," ucap Raka.
Mereka menganggukkan kepalanya dengan cepat mereka berhamburan mengambil barang-barangnya kemudian mereka pergi bersamaan ke rumah sakit menyusul Reyhan.
Fathan ikut gelisah saat melihat Raina yang sangat gelisah, terlihat raut wajah Raina yang sangat sedih.
"Sayang tenang, aku jadi ikut panik kalo kamu kaya gini," ucap Fathan.
"Gimana aku bisa tenang kak. Ini yang meninggal kak Kinan pacar Abang aku dan aku sayang banget sama Kinan. Aku juga gak bisa bayangin gimana sedihnya bang Rey pasti dia terpuruk banget sama kenyataan yang terpaksa harus dia terima," keluh Raina.
"Udah kalian jangan ribut terus, tenangin diri masing-masing aja. Kalau kalian panik siapa yang nanti ngasih semangat ke Reyhan gak lucu kan sampe sana malah Reyhan yang ngasih semangat," ucap Reno.
"Tau nih dengerin tuh kata kak Reno, meskipun panik harus bisa kontrol diri sendiri," ucap Lala.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya ya gais. Author turut berduka cita atas meninggalnya Kinan huhu.
__ADS_1
Sekian dan terima kasih.