SENIOR

SENIOR
Terkilir


__ADS_3

Reno menatap Lala penasaran ketika Lala sedang mengangkat ponselnya.


"Ada apa Fathan nelpon?" tanya Reno.


"Dia minta tolong buat cepet- cepet balik ke rumah soalnya ada Fano," jawab Lala.


"Loh kok bisa ada titisan kamu disitu bukannya dia baru aja beberapa hari yang lalu pulang," heran Reno.


"Bisa dong, Fano kan sepupu kak Reno mungkin aja dia dateng mau liat Raina, Fano gak sendirian kok dia dateng sama orangtuanya," ucap Lala.


"Yaudah biarin aja lagian di rumah banyak orang masa iya gak ada yang bisa ngurus Fano," ucap Reno.


"Kalo kata Lala nih ya mendingan kita pulang aja, Lala juga kangen banget sama Fano pas banget tuh dia dateng nanti Lala bakalan ajak dia buat ngerjain Maira." Lala tersenyum sembari menaik turunkan alisnya menatap Reno.


*****


Lala berjalan cepat memasuki rumah sambil membawa dua kantong plastik berwarna hitam lalu dengan sengaja ia lempar asal ke arah sofa hingga mengenai Fathan.


Fathan menatap Lala kesal ingin sekali rasanya ia melempari Lala dengan batu bata, namun apa daya di belakang Lala ada salah satu restu masa depannya yang melindungi Lala. Jika ia nekat melempari Lala sekarang bisa-bisa diusir detik ini juga.


"Raina kenapa kamu bisa punya teman ngeselinnya kaya Lala sih," keluh Fathan.


Raina tertawa saat mendengar keluhan Fathan walaupun ia tidak bisa melihat apa yang dilakukan oleh Lala hingga membuat Fathan geram itu pada sahabatnya namun sangat paham betul bagaimana rusuhnya salah satu sahabatnya itu.


"Emang kamu diapain kak sama Lala jangan marah-marah mulu ah cepet tua nanti. Dari tadi kamu marah-marah terus loh gak pegel jantungnya," ucap Raina.


"Dia ngelempar aku pake kantong belanjaannya untung isinya mie instan coba kalo isinya batako bisa remuk nih badan. Untung aja ada bang Reno kalo gak ada aku lempar balik nih mie ke dia," oceh Fathan.


"Jangan gitu ah. Lala gak sengaja kali, dia kan mau ketemu Fano tuh kamu dengerin aja dia heboh banget ketemu Fano," ucap Raina.


"Yaudah lah lupakan si perusuh itu, kamu bosen gak disini? Kalo bosen aku mau ajak kamu jalan-jalan di sekitaran rumah kamu aja biar kamu gak suntuk," ucap Fathan.


Terlihat raut wajah Raina yang berubah sumringah saat mendengar ajakkan dari Fathan, ia menganggukan kepalanya dengan semangat.


"Ayo, tapi kamu temanin aku kan?" tanya Raina.


"Iya dong," jawab Fathan.


Fathan beranjak dari duduknya membantu Raina berdiri lalu menuntun Raina dengan sabar. Mereka berpamitan dengan yang lainnya lalu berjalan keluar rumah.


****


Setelah lelah berteriakan memanggil Fano, Lala mendudukan dirinya di atas karpet.


"Pano ngapain disini," tanya Lala.


"Kak Lala po ngapain disini juga? Ini kan lumahnya Pano sama mama Wina sama papa Gio," ucap Fano tanpa melihat Lala, ia sedang asik bermain ular tangga bersama Shasha.


Setelah Fano menanyakan beberapa hal yang bersarang di dalam otaknya pada Shasha akhirnya Fano mau bermain dengan Shasha meskipun ia tidak mengerti dengan jawaban yang Shasha berikan padanya.


"Kak Lala kesini mau temenin kak Raina biar dia gak ngerasa kesepian, mulia sekali kan hati aku," ucap Lala tersenyum membanggakan dirinya sendiri.


Fano menengadahkan kepalanya lalu melirik Reno dan Lala bergantian dengan tatapan yang amat sangat menggemaskan.


"Temanin kak Laina apa temanin kak Leno?" ucap Fano.


Pertanyaan Fano berhasil mengalihkan perhatian yang lainnya yang dengan bersamaan menolehkan kepalanya ke arah Fano, Lala, Reno dan Shasha yang sedang berkumpul.


"Tuh anak kecil aja ngarti," celetuk Rama.


"Omelin aja Fano. Masa parah banget ngaku-ngakunya mau temenin Raina tapi malah nempelnya kemana-mana." Zara berusaha memanasi keadaan dengan cara mengompori Fano.


"Fano gak boleh suudzon ya, kak Lala disuruh sama mama Wina ke warung beli mie instan tuh buktinya kantongnya ada di sofa," ucap Lala sambil menunjuk ke arah sofa.


Fano mengalihkan pandangannya ke arah permainan ular tangganya ia tidak memperdulikan ucapan Lala.


Lala menatap Fano sebal sambil menyilangkan kedua tangannya diatas dada.


"Ngeselin banget sih orang ngomong panjang-panjang malah dicuekin, awas aja besok gak aku ajak ke kampus buat jambak-jambak Maira," ketus Lala.


Fano tersenyum miring hingga membuat pipi sebelah kanannya menjadi memggembung, ia mengikuti gaya Lala.


"Bialin aja Pano gak teltalik wle, nanti Pano nebeng aja sama Jungkook kalo gak sama kembalannya kak Jungkook kalo gak sama kak Sasa sama kak Lama, kak Laka kak Zala telus kak Aisyah," ucap Fano.


"Coba aja sana pasti mereka gak mau ajak Fano soalnya Fano masih kecil, awas nanti ya deket-deketin kak Lala," ucap Lala.


*****


Waktu menunjukkan pukul 17.18 terlihat yang lainnya yang sedang siap-siap ingin berpamitan dengan kedua orang tua Raina.


"Kita pamit dulu ya Tante udah sore gak enak juga sama Raina. Raina perlu banyak istirahat kan kata dokternya," ucap Aisyah tersenyum.


"Udah gak usah pamit-pamitan kalian nginep aja disini sekalian temanin Raina, emangnya kalian gak mau temanin Raina?" ucap Wina.


Sejujurnya Aisyah dan Zara ingin sekali menemani Raina namun mereka merasa sungkan dengan keluarga Raina, mereka tidak mau merepotkan keluarga Raina.


"Tau nih udahlah nginep aja, gw aja nginep," saut Lala.


"Lala mah emang gak tau malu semua rumah orang dianggep rumahnya sendiri," celetuk Zara.


"Ih iri bilang bos," ledek Lala.


****


Setelah melewati beberapa perdebatan akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di rumah Raina.


Keadaan rumah Raina kini sangat berantakan seperti kapal pecah akibat ulah dari masing-masing penghuni baru.


Setelah meminta izin pada orangtuanya untuk menginap di rumah Raina, Shasha mengecek ponselnya terlebih dahulu dan ia sedikit kaget saat melihat pesan yang masuk dari akun instagramnya terlihat disana Maira membalas insta storynya dengan mengatakannya penghianat, hal tersebut membuat Shasha sedikit merasa bersalah pada Maira.


Reno yang kebetulan berada di samping Shasha tidak sengaja ia membaca isi pesan yang sedang dibuka oleh Shasha, ia menolehkan kepalanya menatap Shasha yang terlihat sedang melamun.


"Kenapa?" tanya Reno.


Shasha terkesiap saat mendengar suara Reno, ia sedikit canggung saat mengetahui Reno menegurnya karena semenjak ia bergabung dengan teman-teman Raina ia sama sekali tidak ada komunikasi dengan Reno. Shasha hanya mengetahui Reno adalah salah satu Abang Raina yang juga sangat dekat dengan Lala.

__ADS_1


"Engga ada apa-apa Kak." Jawab Shasha dengan gugup.


Reno menganggukan kepalanya dan sedikit tersenyum pada Shasha.


"Dia marah sama kamu? Maaf tadi saya sempat baca isi pesan kamu, tapi itu semua gak sengaja," ucap Reno.


Shasha sedikit bingung dengan sikap Reno karena sepenglihatannya cara bicara Reno ketika berbicara dengan Lala atau pun Fano sangat berbeda sekali ketika Reno berbicara dengannya.


Kayanya kalo lagi ngomong sama Lala gak kaya begini dah ini mah kaku banget kaya pak Joko dosen di kampus.


"Iya Kak, Maira marah sama gw, kayanya dia gak sekedar marah sama gw mungkin aja sekarang dia benci sama gw," ucap Shasha menundukkan kepalanya.


"Kamu harusnya bangga sama diri kamu sendiri, kamu bisa jujur, ya walaupun resikonya berat tapi kamu harus yakin semua bakal baik-baik aja ke depannya, biarin aja mereka marah sama kamu toh semuanya demi kebaikan mereka juga biar mereka gak ngulangin kesalahan yang sama lagi, kalo kamu nutupin kesalahan mereka yang ada mereka semakin merasa kalo tindakan mereka benar." Reno menasehati Shasha dengan pelan-pelan supaya Shasha bisa mengerti dan tidak merasa bersalah disisi mana pun.


Shasha menatap Reno kagum, ia tersenyum pada Reno setelah ia pikir ada benarnya juga perkataan Reno, Maira salah jadi Maira harus tanggung jawab.


"Makasih ya kak Reno nasehatnya, aku jadi lega dan gak ngerasa bersalah terus menerus, aku mau tanya boleh gak Kak?" ucap Shasha.


"Mau tanya apa, asal jangan aneh-aneh aja dan stop nanyain hubungan saya sama Lala," ucap Reno.


"Sebenernya salah satunya itu, cuma gak jadi deh He-He. Setelah kak Reno tau kalo Maira dalang dari semua ini apa yang bakal kak Reno lakuin nanti?" tanya Shasha.


Reno menghembuskan nafasnya, ia terdiam sejenak sejujurnya ia sangat marah pada Maira karena ulah dia adik perempuan satu-satunya kehilangan penglihatannya yang entah sampai kapan akan seperti itu.


"Liat besok aja," saut Reno.


Raka tidak sengaja melihat Lala yang sedang melirik ke arah Reno dan Shasha yang sedang mengobrol, saat ia mengetahui Raka sedang melihat kearahnya dengan cepat Lala mengalihkan wajahnya ke sembarang arah lalu menyibukan dirinya sendiri. Raka menahan senyumnya kemudian merangkak mendekati Fano yang sedang asik bermain game yang berada di tablet miliknya.


"Fano tau lagu hareudang gak?" bisik Raka.


Fano menganggukan kepalanya refleks ia menyanyikan lagu tersebut sebelum Rama memintanya untuk bernyanyi.


"Haledang haledang haledang panas panas panas." Fano bernyanyi sambil berjoget-joget membuat siapapun yang melihat tingkah gemasnya ingin sekali mencubit kedua pipi Fano.


"Si Fano gemes banget sih," ucap Aisyah mencubit gemas pipi Fano.


"Pano disuluh nyanyi lagu itu sama kak Laka tuh, maap ya kak Isah aula kece Pano jadi beltebalan," ucap Fano.


Lala melirik Raka dengan sinis, ia tahu maksud Raka menyuruh Fano menyanyikan lagu tersebut, saat Raka melirik ke arahnya Lala memelototkan matanya.


Pasti kak Raka sengaja deh nyuruh-nyuruh Fano nyanyi, lagian siapa yang panas tau orang Lala biasa aja, namanya juga punya mata digunain buat ngeliat ya wajar aja kalo Lala ngeliatin kak Reno sama Shasha lagi ngobrol.


"Sumpah gais serem banget orang kalo lagi kepanasan jadi takut liatnya beda sama Fathan dan Raina noh yang lagi adem enak diliat," sindir Raka.


Perkataan Raka membuat yang lainnya kebingungan, mereka tidak menyadari maksud perkataan Raka yang berniat meledek Lala.


"Emang siapa yang kepanasan, perasaan disini adem dah," tanya Zara.


"Ada tuh orangnya lagi melototin gw," ucap Raka.


Tenang Lala tenang jangan disautin, kalo lo nyaut berarti lo merasa jadi lo tenang aja ya anggep aja ga denger apa-apa.


Lala merasa mendapat panggilan alam ia beranjak dari duduknya lalu berlarian pergi menuju toilet tanpa berpamitan terlebih dahulu pada yang lainnya hingga membuat yang lainnya menatap Lala heran.


"Kenapa dia tiba-tiba lari aneh banget tuh bocah," tanya Rama.


"Mau guyuran kali di kamar mandi karena gak tahan sama panas di hati." Raka tertawa sambil menatap ke arah toilet.


Zara membulatkan matanya setelah menemukan titik terang dari teka teki yang diciptakan oleh Raka.


"Oh jadi dari tadi ngomongin Lala, ya ampun sumpah gw gak nyadar Ha-Ha, panas kenapa dia?" Setelah bertanya pada Raka refleks Zara mengalihkan pandangannya pada Reno dan Shasha.


Raka menganggukan kepalanya sambil tertawa ia pun melirik ke arah Reno dan Shasha sama hal nya dengan Zara.


"Pantes aja kabur dia Ha-Ha, gw ikut prihatin ya Lala lo yang sabar ya nanti kita bikin audisi Lala mencari jodoh deh di kampus!" Zara sengaja berteriak supaya Lala mendengar suaranya.


"Udah-udah kalian ini ngeledekin Lala mulu nanti disiram sama Lala satu-satu tau rasa, gw gak mau belain ya," ucap Raina.


Reno terlihat kebingungan dengan maksud mereka yang meledek Lala sambil melihat ke arahnya, ia tidak mau ambil pusing dan memilih untuk tidak memperdulikan ucapan mereka.


Dugh!


Terdengar suara yang lumayan keras dari arah toilet membuat yang lainnya melirik toilet dengan cemas.


"Aduh!" teriak Lala.


Setelah beberapa detik mendengar suara bagaikan durian yang baru saja jatuh dari pohonnya lalu mereka mendengar suara teriakan Lala. Mereka beranjak dari duduknya berlarian ke arah toilet dengan raut wajah khawarit kecuali Raina dan Fathan.


"Lala lo ngapain di dalem? Panas si panas tapi jangan bunuh diri juga kali kasian Mama lo nanti sedih weh." Raka berteriak di depan pintu sambil menggedor-gedor pintu dengan keras.


Sedangkan Lala yang berada di dalam kamar mandi hanya bisa meringis karena kakinya terasa sakit sekali.


"Apaan sih siapa juga yang mau bunuh diri. Gw kepleset tau, salit banget nih kaki gw gak bisa berdiri." Lala berteriak dari dalam membuat yang lainnya bernafas lega semulanya mereka mempercayai ucapan Raka yang mengatakan bahwa Lala berniat bunuh diri karena rasa cemburunya kecuali Reno dan Shasha.


Reno yang semulanya berdiri di belakang dengan santai menjadi panik saat mendengar teriakan Lala, ia menggeser tubuh Raka dari depan toilet lalu ia mendobrak toilet tersebut.


Terlihat Lala yang sedang duduk di atas lantai toilet dengan celananya yang basah sambil meringis kesakitan.


Reno mendengus kesal sambil menatap Lala tajam, ia menundukan tubuhnya lalu mengangkat Lala dan membawanya keluar dari kamar mandi.


Kebiasaan gak sayang sama diri sendiri, kebiasaan ceroboh dipelihara. Sengaja banget buat semua orang khawatir sama dia, liat aja abis ini aku kerjain kamu La.


Reno menatap Lala sebal dengan sengaja ia melempar tubuh Lala ke sofa. Lala membelalakan matanya saat kakinya membentur tangan sofa.


"Aduh! Nolongin gak niat banget sih! Kalo gak niat gak usah nolongin!" teriak Lala sambil mengelus kakinya yang sakit.


"Lala kenapa?" tanya Raina dengan raut wajah cemasnya.


"Lala abis kepleset dari kamar mandi terus ditolongin sama kak Reno eh ternyata dia gak ikhlas nolonginnya terus Lala dibuang ke sofa sama kak Reno, kaki Lala sakit Raina tolong marahin kak Reno nya ya." Lala memelaskan wajahnya sengaja mengadu ke Raina berharap dapat pembelaan.


"Maaf ya Lala, gw gak berani lawan Abang gw sendiri," saut Raina.


Lala berdecak sebal, ia meraih ponselnya dari saku celana, sebelumnya ia sangat bersyukur karena sempat menaruh ponselnya di saku bagian depan hingga ponselnya pun tak ikut merasakan sakit.


Untung hp gw masih sehat.

__ADS_1


Lala mengusap-usap ponselnya, lalu menyalakan layar ponselnya berniat menghubungi seseorang untuk membantunya.


"Nelpon siapa lo?" tanya Zara.


"Ambulance," jawab Lala dengan santai.


"Ngapain nelpon ambulance emangnya lo mau lahiran atau jatoh dari lantai sepuluh segala telpon ambulance?" tanya Raka.


"Kak Lala po boong. Pano liat dia telpon Mamanya tuh tadi Pano baca Ma Ma (Mama) kelen kan Pano bisa baca," ucap Fano.


Lala mendelikan matanya, ia mematikan layar ponselnya saat orang yang ia hubungi tidak menjawab panggilannya.


"Lagian percaya aja sama gw. Orang gw telpon Mama gw, gw mau ngadu kalo gw abis jatoh dari kamar mandi," ucap Lala.


Sebenarnya memang benar Lala ingin menghubungi Linda karena sebelumnya Linda sempat menghubunginya berkali-kali.


Lala merebahkan tubuhnya di atas sofa lalu memejamkan matanya, ntah ia ngantuk berat atau bagaimana tiba-tiba saja yang lainnya melihay Lala tertidur pulas bagaikan habis mengonsumsi obat tidur.


"Loh tuh anak tidur," heran Rama.


"Lah iya Ram, ade lo tipe-tipe orang yang kena empuk-empuk langsung molor ya," ucap Raka.


Lala yang sedang menikmati kebisingan di sekitarnya, dalam hatinya ia terus mengutuk Raka yang terus menerus meledeknya.


Orang lagi tidur aja masih diomongin bener-bener ya, apa lagi gw gak ada disini mungkin gw jadi topik pembicaraan kali ya. Mereka gak tau aja kalo gw cuma merem doang gak tidur beneran. Tapi kaki gw kok sakit banget ya, kayanya tulang kaki gw encok dah.


Reno menatap Lala iba sejujurnya ia tahu sekali bagaimana rasanya tergelincir di kamar mandi pasti rasanya sangat sakit sekali, namun ia juga merasa kesal pada Lala yang ceroboh dan tidak pernah mau berhati-hati.


Reno berjalan mendekati Lala meraih pergelangan kaki Lala berniat memijat kaki Lala, belum sempat ia memijat kaki Lala wajahnya terlebih dahulu terkena tendangan dari kaki Lala.


"Mau ngapain megang-megang kaki Lala? Tuh kan jadinya ketendang mukanya pasti sakit deh." Lala berusaha bangkit dari sofa berniat memegang wajah Reno namun terlebih dahulu ditepis oleh Reno.


"Gak tau terima kasih banget jadi orang, mau ditolongin bukanya bersyukur ini malah nendang muka orang," omel Reno.


Lala terdiam menatap Reno yang menjauhinya, ia merasa bersalah dengan Reno, ia berniat menghampiri Reno namun ia lupa dengan kakinya yang terkilir hingga membuatnya terjatuh.


Aduh ... Kok makin sakit ya, jangan-jangan kaki Lala patah. Huaaa Mama tolongin Lala. Lala belom sempat jambak Maira soalnya.


Lala hanya berteriak di dalam hatinya sambil memegang kakinya yang terasa sangat sakit. Lala dibantu Shasha untuk kembali mendudukan dirinya di sofa.


"Makasih Sasa ajinomoto masako royco," ucap Lala melempar senyum pada Shasha.


"Widih akur, gw kira setelah ini bakal ada drama permusuhan disini gara-gara cemburu, eh ternyata gw salah justru mereka malah damai, ini mah namanya senangnya dalam hati kalau beristri dua," ucap Raka.


"Rak, lo sehat? Dari tadi gak jelas banget lo," tanya Fathan.


Lala diam saja mendengar ucapan Raka, ia memilih memainkan ponselnya tanpa memperdulikan keadaan kakinya ia berfikir nanti akan hilang sendiri sakitnya seperti biasa saat ia terjatuh.


***


Maira dan Sinta sedang berada di salah satu villa keluarga Sinta yang berada di puncak sedang sibuk mengurus mobil Maira yang sempat digunakan untuk menabrak Raina.


"Lo yakin disini aman?" tanya Maira.


"Untuk sementara aman, lo siap-siap aja pasti besok lo bakal diamuk abis-abisan sama mereka. Terutama Fathan gw yakin Fathan bakal marah banget sama lo bukan sama lo doang sih tapi gw juga bakalan kena," ucap Sinta.


"Argh! Ini semua gara-gara Lala coba aja dia diem aja gak usah ngasih tau ke mereka mungkin kita gak bakalan kepusingan kaya gini buat ngumpetin mobil, awas aja ya tuh anak gw bales biar dia tau siapa orang yang dia khianatin ini," geram Maira.


"Soal Shasha mah gampang bisa diurus nanti yang penting semuanya aman dulu," saut Sinta.


"Yaudah sekarang kita pulang, besok ada kelas soalnya," ajak Maira.


*****


Waktu menunjukkan pukul 23.24


Kini tinggal Lala dan Aisyah yang berada di ruang tengah sedangkan yang lainnya sudah kembali ke kamar mereka untuk mengistirahatkan diri masing-masing.


Aisyah berulang kali menguap, ia menahan rasa kantuknya hanya untuk menemani Lala.


"Lala ayo ke atas, aku udah ngantuk nih besokkan kita ada kelasnya pak Farhan nanti kesiangan lagi," ajak Aisyah.


"Aisyah ke atas aja duluan nanti Lala nyusul, Lala masih pengen nonton disini," ucap Lala.


"Yaudah aku duluan ya, jangan asik nonton terus nanti kesiangan," pamit Aisyah sambil menepuk-nepuk bahunya.


Lala menatap kepergian Aisyah, ia mendengus sebal sejujurnya sedari tadi ia sudah sangat mengantuk tetapi kakinya sakit sekali hingga akhirnya ia memutuskan untuk menetap saja di sofa dengan beralasan menonton televisi.


Reno dari kejauhan menggelengkan kepalanya, ia berjalan menghampiri Lala lalu berjongkok tepat di hadapan Lala meraih kakinya dan memijatnya perlahan. Perlakuan Reno berhasil membuat Lala bingung bahkan Lala sama sekali tidak merasakan sakit saat Reno menarik kakinya karena ia teralu sibuk memikirkan sikap Reno.


"Gak usah kaget kaya gitu kamu La, orang jahat gak harus dibales jahat, coba berdiri masih sakit gak," pinta Reno.


Lala terkesiap tanpa merespon perkataan Reno, perlahan Lala mulai berdiri ia menginjak-injakan kakinya lalu mulai melangkahkan kakinya.


"Udah gak sakit kok bisa ya? Kak Reno pernah kursus pijat ya?" tanya Lala.


Reno tidak menyauti pertanyaan Lala, ia mendudukan dirinya di atas sofa lalu mengambil remote televisi yang sempat Lala letakkan di atas meja dan mengganti channel televisi menjadi acara pertandingan bola.


Lala menatap Reno yang sedang menatap televisi, ia menepuk-nepuk pelan pundak Reno


"Kak Reno masih marah ya sama Lala? Minta maaf deh sumpah Lala gak sengaja nendang muka kak Reno, masih sakit ya mukanya?" Lala menatap Reno dengan tatapan melasnya.


"Kamu tidur aja sana, besok ada kelas kan, jangan nyusahin yang lain buat nungguin kamu yang telat," ucap Reno.


"Gak ah, Lala mau disini aja," tolak Lala.


Reno membiarkan Lala duduk di sampingnya tanpa mengajak Lala berbicara sedangkan Lala asik mengoceh terus menerus.


.


.


Bersambung ....


Jangan lupa like dan komentarnya ya gais

__ADS_1


Semoga menghibur dan mohon maaf kalo episode ini kurang menghibur kalian semua hehe.


Sekian dan terima kasih


__ADS_2