SENIOR

SENIOR
Kedatangan Aldo


__ADS_3

Lala kembali menuju ruang tamu dengan wajah ditekuk sambil menghentak-hentakan kakinya.


"Kenapa lo biang rusuh," tanya Reyhan.


"Kepo!" ketus Lala.


"Palingan ribut sama Fano kan gw mah jago ngeramal, btw lo beli apaan si sampe si Fano dibuntutin terus sama kucing ampe dalem rumah," tanya Reyhan.


"Pecel lele, udah belinya penuh perjuangan sampe dipatok lele pas sampe rumah lelenya disedekahin gitu aja sama Fano ke kucing," Lala terus bergerutu dan mengumpati Fano.


"Oh kirain pecel Lala kembar nama lo sama lele La, Yaudah lo bagi aja punya Fano gitu aja susah ," saut Fathan.


"Bodoamat! gw lagi kesel sono-sono kalian pergi ngapain kek pacaran sono atau apalah yang penting pergi yang jauh sebelum kalian gw jadiin pecel lele," usir Lala.


******


Setelah diusir oleh Lala, Fathan dan Raina mengalah dan pindah ke teras melanjutkan obrolan mereka.


"Gila ya tuh si Lala yang punya rumah malahan yang diusir," omel Fathan.


Raina tertawa melihat Fathan yang begitu kesal dan terus mengatai Lala tiada henti dengan lembut ia mengusap wajah Fathan hingga membuat Fathan berhenti mengoceh.


"Nah kan begini enak jangan marah-marah terus nanti cepet tua masa aku pacaran sama aki-aki sih, ternyata ampuh juga ya ngusap muka kamu pake tangan bisa buat kamu jinak," ucap Raina tertawa entah sejak kapan kosa katanya berganti menjadi aku kamu yang jelas author pun tidak mengerti.


"Gapapa kamu kan nenek jadi pas sama aki-aki hehe, aku udah dapet lampu hijau nih dari orang tua kamu tinggal kamu nanti yang ketemu Bunda sama Papa aku abis itu kita nikah deh terus punya anak kaya Fano pasti lucu deh," ucap Fathan sambil berkhayal masa depan yang ia rancang melalui khayalannya.


Raina bergedik ngeri melihat Fathan yang sedang senyum-senyum sendiri dengan sengaja ia melempari Fathan dengan kacang kulit yang sudah ia lepaskan dari kulitnya.


"Ngayal terus, gak segampang itu kak Fathan pacarku yang sangat bucin," ucap Raina gemas.


Fathan terkekeh dengan sengaja tangannya mengacak-acak rambut Raina.


"Kamu tau gak? kalo lagi kesel gini muka kamu lucu banget jadi gemes pengen cubit terus," ucap Fathan sambil mencubit pipi Raina gemas.


Di tengah obrolan mereka terdengar suara motor yang memasuki rumah Raina membuat mereka mengalihkan pandangan pada orang yang baru saja memasuki rumah Raina.


Raut wajah Fathan berubah menjadi masam saat pemilik motor tersebut membuka helmnya, ia menatap pemilik motor dengan tatapan yang sangat tidak suka.


Berbeda dengan Fathan, Raina mengembangkan senyumnya saat pemilik motor tersebut berjalan menghampiri mereka.


"Gak usah senyum-senyum mau selingkuh ya?" bisik Fathan.


"Sembarangan kalo ngomong, Aldo tuh tamu mana ada tamu dijudesin aneh kamu mah," saut Raina.


Aldo menyapa keduanya secara bergantian tersenyum pada Raina dan Fathan, Aldo menahan tawanya saat melihat raut wajah Fathan yang amat sangat tidak bersahabat dengannya.


"Biasa aja dong mukanya gak bakalan gw ambil kok Rainanya," tegur Aldo sambil mengusap wajah Fathan.


Refleks Fathan mengibaskan wajahnya menatap Aldo tajam.


"Siapa yang izinin lo megang muka gw banyak virusnya tuh tangan," omel Fathan.


Raina hanya menghela nafas panjangnya dan menggelengkan kepala melihat tingkah kedua laki-laki yang tidak pernah akur ini.


"Ribut terusss... Ada apa nih jam segini lo ke rumah gw?" tanya Raina.


Aldo melirik Fathan yang menatapnya dengan tatapan membunuh jika tatapan bisa membunuh seseorang mungkin Aldo sudah mati.


Raina menyadari arah pandangan Aldo ia tersenyum tangannya terangkat dan berhenti tepat di wajah Fathan lalu menggeser wajah Fathan agar menatapnya.


"Kak Fathan liatin Aldonya jangan kaya gitu aku jadi cemburu liat kamu natap Aldo sampe segitunya jangan-jangan kamu suka ya sama Aldo," ucap Raina sengaja menggunakan cara tersebut agar Fathan tidak terus menerus menatap Aldo dengan tatapan tidak bersahabatnya.


"Aku seneng kamu cemburu tapi cemburu kamu tuh gak wajar mana mungkin aku suka sama dia, aku masih normal ya," omel Fathan sambil menunjuk Aldo sementara yang ditunjuk hanya terkekeh.


Orang kalo lagi kasmaran gitu ya. Perasaan gw gak gitu-gitu amat, yaudahlah maklumin aja.


Aldo terus membatin sambil menunggu Raina selesai berbicara dengan Fathan hingga Fathan berhenti menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Oke tuh udah jinak dia, sekarang lo ngomong dah ada apa jam segini mampir kesini," ucap Raina tersenyum.

__ADS_1


"Jangan senyum!" saut Fathan.


"Gw kesini mau ketemu Lala, ketemu LALA ya bukan mau ketemu PACAR orang yang lagi ngebucin," ucap Aldo sengaja menekankan perkataannya untuk menyindir Fathan.


Fathan mengerutkan alisnya saat mendengar ucapan Aldo ia merasa aneh dengan Aldo yang tiba-tiba mencari Lala.


"Gak dapat Raina lo pindah ke Lala ceritanya?" tanya Fathan.


"Kepo banget pacar lo Raina, Lala ada kan?" ucap Aldo enggan menyauti perkataan Fathan.


"Ada tuh di dalem tapi lagi ngambek orangnya hati-hati dicakar ntar lo sama dia," ucap Raina sambil tertawa lalu ia mengajak Aldo masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Fathan.


"Lalaaaa dicariin Aldo nih mantep juga lo sekarang ada yang ngapelin," ledek Raina sengaja berteriak supaya terdengar oleh semua orang yang berada di ruang tamu termasuk Reno yang sedang fokus pada PlayStationnya.


Benar saja teriakan Raina berhasil membuat seisi ruangan mengalihkan pandangannya kecuali Lala yang masih asik dengan ponselnya.


"Ini Aldo yang dulu suka main kesini ya, ya ampunn beda banget kamu ya sekarang," heboh Wina memutar-mutar tubuh Aldo yang punya tubuh hanya menyengir.


"Do, lagi sakit lo ya? mau aja ngapelin si biang rusuh," saut Reyhan.


Raina gemas melihat Lala yang tidak ada gerakannya dan asik dengan ponsel yang berada di tangannya dengan cepat ia menghampiri Lala mengambil paksa ponselnya.


"Lalaaaa denger gak sih dari tadi gw ngomong main hp mulu," ucap Raina kesal.


"Enggak," saut Lala dengan raut wajah polosnya.


"Hahaha sukurin capek doang lo teriak-teriak, De," ledek Reyhan.


"Bodoamat ah kesel gw, tuh lu dicariin sama Aldo gih sono Do samperin orangnya gw emosi ngomong sama Lala," ucap Raina pasrah lalu menarik tangan Fathan agar mengikutinya.


Sejujurnya Raina sangat penasaran dengan tujuan Aldo yang tiba-tiba datang ke rumahnya hanya ingin bertemu dengan Lala padahal besok saat di kampus pun bisa kalau sekedar mengobrol biasa.


Raina mendudukan dirinya tepat di samping Reno lalu menepuk sebelahnya menyuruh Fathan duduk. Ia menolehkan kepalanya memastikan reaksi Reno saat melihat Aldo yang mulai menghampiri Lala.


"Bang Ren gak cemburu liat Lala diapelin cowo lain," bisik Raina.


Namun bukannya jawaban yang ia dapat malahan sentilan di dahi yang ia dapat tanpa sepatah kata pun yang terlontar dari mulut Reno.


"Makanya kamu tuh kalo nanya yang bener aja untung disentil doang bukan dismackdown," saut Fathan terkekeh.


"Oh sekarang gitu ya bukan bela pacarnya malah berpihak sama Abang aku sono jangan deket-deket aku, aku mau nyamperin Aldo aja ah," ucap Raina sengaja ingin membuat Fathan kesal dengannya.


"Yaudah sono, Aldonya aja kesini mau ketemu Lala bukan ketemu kamu berarti kamu nikung temen sendiri namanya udahlah gak usah macem" sama aku aja sini," ucap Fathan santai sambil merangkul Raina.


Raina mengerucutkan bibirnya ia kesal karena Fathan tidak termakan oleh perkataannya.


"Makanya gak usah aneh-aneh aku gak bakalan cemburu soalnya kan Aldo udah mepetin Lala walaupun masih sedikit curiga si tapi aku gak sekesel dulu yang ada tuh yang di samping kamu yang lagi kebakaran," ucap Fathan santai tanpa ia sadari Reno sudah meliriknya dengan sinis.


"Tuh orangnya denger gak dapet restu dari dia tau rasa kamu," ucap Raina terkekeh.


"Hehe maaf yaa bang Ren tapi yang gw bilang benerkan ? butuh es batu gak buat pendingin?" ucap Fathan dengan raut wajah tanpa dosanya ia berkata tanpa beban sedikit pun.


Reno geram mendengar perkataan Fathan lalu ia melirik malas Lala yang sedang berbicara dengan Aldo. Ia beranjak dari duduknya pergi meninggalkan semua orang yang ada diruang tamu menuju dapur.


Reno mengembangkan senyumnya saat melihat Fano yang sedang asik berbicara dengan kucing terbesit niatnya untuk mengerjai Lala.


"Eh ada kak Leno, liat deh kucingnya gak jadi nangis belalti benel dugaan Pano kalo kucingnya lapel makanya dia sedih sekalang udah gak sedih lagi kalena udah kenyang besok beliin ikan lele lagi ya buat kucingnya," ucap Fano semangat.


"Iya gampang itu mah, mau berapa lele nanti kak Reno beliin," ucap Reno.


"Asikkk, tuh cing mulai hali ini kamu gak kelapelan lagi tunggu yaa nanti Pano mau kasih nama buat kucing tapi Pano belum nemu nama yang kelen," ucap Fano sambil mengelus kepala kucing.


"Fano tau gak ada dongeng tentang tulang ikan yang dikubur bisa numbuh jadi pohon emas atau pohon uang," ucap Reno dengan nada serius.


Fano terdiam dan berfikir sejenak lalu mendekatkan dirinya pada Reno.


"Masa si kak Leno judul dongengnya apa? Pano belom pelnah dengel yaudah yuk kita coba siapa tau benel telus kita jadi punya pohon uang ajak kak Lala juga, asik... Pano bisa beli ikan lele seembel gede buat kucing, cing doain Pano yaaa," ucap Fano semangat sambil berloncat-loncatan.


"Nah makanya Fano samperin kak Lala soni bawa tulang ikannya nih, kalo dia gak mau paksa aja nanti kak Reno bantuin gali tanahnya, Okey," pinta Reno.

__ADS_1


"Siapppp, Pano nyampelin kak Lala dulu ya kak Leno jangan pelgi ya nanti yang gali kubulannya siapa kalo kak Leno pelgi," ucap Fano mengacungkan kedua jempolnya.


"Iya kak Reno tunggu disini ya, nih bawa piringnya sekalian," ucap Reno memberikan piring yang berisi tulang ikan sisa makan Fano.


Reno tertawa saat melihat Fano yang pergi meninggalkan dapur sambil membawa piring.


"Rasain tuh dikerjain Fano haha," gerutu Reno terkikik.


Fano berlarian membawa piring plastik yang berisi tulang ikan menghampiri Lala, saat sampai di ruang tamu ia melihat Lala yang sedang mengobrol dengan laki-laki yang tidak ia kenal dengan cepat ia menghampiri keduanya lalu duduk di tengah-tengah mereka.


"Kak Lalaaaaa Pooo panutanku yang cantik dan kiyut tapi boong ikut Pano yuk," teriak Fano dengan tangan yang sudah menarik lengan Lala.


"Mau ngapain si males ah gw masih marah sama lo udah sono jangan deket-deket gw," omel Lala.


"Mau ngapain lagi tuh si Fano bawa-bawa tulang ikan," tanya Fathan tertawa.


"Gak taulah Kak yang jelas bakalan terjadi hal aneh," saut Raina.


"Kak Lala ikut Pano ayooo pokonya ikut Pano, Pano punya misi lahasia nih yang bisa bikin kita jadi milionel," ucap Fano tidak menyerah terus menarik-narik tangan Lala.


"Iya-iya ntar gw lagi ngobrol nih bentar nanti kalo udah kelar baru Fano ngomong ya," ucap Lala.


Fano mencibirkan bibirnya dan berkacak pinggang menatap Aldo.


"Kak Lala gak asik sekalang lebih milih kakak ini dasal pengkhianat gak setia sama team pokonya sekalang kalo kak Lala gak ikut Pano bakalan malah kita jadi musuan," ucap Fano.


Reno dari jauh menyaksikan bagaimana Fano terus memaksa Lala tidak kuat menahan tawanya.


"Sukurin emangnya enak digangguin Fano, ternyata Fano bisa diandelin juga kalo lagi kaya gini haha," gumam Reno terkekeh.


Lala mendengus sebal dengan terpaksa ia menuruti Fano dan mengikuti maunya ia beranjak dari duduknya meninggalkan Aldo.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung......


__ADS_2