
Lala mengedarkan pandangannya melirik yang lainnya satu per satu kemudian ia tertawa saat melihat raut wajah penasaran dari mereka.
"Apasih Lala gak jelas banget malah cekikikan sendiri," omel Reyhan.
"Tau ih kak Lala po mulai gak walas, sabal ya buat semuanya," sambung Fano yang tidak diketahui sejak kapan ia sudah berada di belakang Lala.
"Kenapa kalian penasaran banget sih? Padahal cuma ginian doang. Yaudah deh Lala jawab nih ya, berhubung semuanya pada setuju Lala bisa apa 1 lawan banyak pasti gak akan menang, tapi Lala punya banyak permintaan nih," ucap Lala.
"Permintaan apa? Kamu mau minta rumah, mobil, perhiasan atau apa silahkan sebutin semoga aja Reno sanggup ya Hehe," ucap Gio sambil menepuk-nepuk pundak Reno yang berada tepat di sampingnya.
"Lala baru nemu satu nanti sisanya nyusul aja ya, Lala mau nanti kalo udah nikah beneran kak Reno harus baik sama Lala jangan jahat sama Lala, bisa gak?" ucap Lala dengan serius.
Reyhan mengambil toples yang berisi kacang, kemudian ia mengambil beberapa kacang dan melemparnya tepat mengenai Lala.
"Permintaan macam apa sih itu gak berbobot banget. Lo kata Abang gw ada tampang-tampang suami jahat apa? Ada juga lo yang nantinya bakal nyiksa Abang gw, Belom jadi istri Abang gw aja lo udah nguras duitnya dan nyusahin dia terus," ucap Reyhan.
Lala membelalakan matanya, ia menatap Reyhan sebal kemudian mengambil kacang yang terjatuh di dekat dirinya lalu melemparkannya ke arah Reyhan.
"Gak sopan ya, gini-gini gw calon kakak ipar nih derajat gw lebih tinggi dari lo kak Rey," ketus Lala.
"Dih bodoamat, baru juga calon udah sombong sekali anda ini." Reyhan menatap Lala malas.
"Oke berarti semua setuju ya, tinggal nentuin tanggal baiknya aja," ucap Linda tersenyum.
Lala teringat sesuatu dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah Raina, Ia menatap Raina dengan tatapan gelisah. Sejujurnya ia ingin sekali Raina ikut hadir diacara pernikahannya dan menyaksikan pernikahannya dengan keadaan normal, rasanya egois sekali ia mengadakan pesta pernikahan disaat Raina baru saja terkena musibah.
Shasha menyadari perubahan sikap Lala, ia menepuk-nepuk bahu Raka dengan pandangannya yang tetap pada Lala.
"Lala kenapa kok keliatannya bingung dan gelisah gitu ya," tanya Shasha dengan sedikit berbisik.
"Lala kan emang dari dulu begitu, mukanya panikan lagi loncat-loncatan aja mukanya panik Haha," bisik Raka.
"Ih gak gitu Raka, walaupun gw deket sama Lala baru-baru ini tapi gw paham dia lagi kebingungan dan gelisah banget, kaya mau ngomong tapi gak enak gitu mau ngomongnya," ucap Shasha.
__ADS_1
Raka menatap Shasha ragu kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Lala.
"Ah masa si? Lala kan tipe orang yang ceplas-ceplos apa aja diomongin sama dia, kalo dia mau ngomong pasti udah ngomong dari tadi," ucap Raka.
Lala mengusap-ucap punggung tangannya, sedari tadi ia berusaha meyakinkan dirinya untuk berbicara.
"Maaf sebelumnya Lala punya 1 permintaan lagi, Lala mau nikah kalau mata Raina udah kembali normal lagi. Dari dulu Lala selalu ngebayangin pernikahan yang seru disana ada Raina, ada Zara dan Aisyah juga ada dan mereka ikut seru-seruan kalo perlu nanti mereka jadi ngerasa iri terus pengen nikah juga, jadinya kan kita bisa nikah dibulan yang sama pasti seru banget deh." Lala tersenyum membayangkan bagaimana serunya pernikahan mereka nantinya yang akan dilaksanakan dibulan yang sama.
"Ngayal terus sampe suksesss," sindir Reno.
"Eh gak boleh gitu sama calon istri, gini-gini calon istri nih," ucap Lala dengan bangga.
Raina merasa bersalah pada Lala. Lala sampai mengajukan permintaan seperti itu hanya karena dirinya.
"Gak perlu Lala kalau nunggu gw dapet donor kornea mata kalian nikahnya lama dan lo bakal ngecewain orang banyak termasuk gw dan gw bakal marah sama lo kalo lo jadiin gw alesan buat nunda pernikahan lo. Gw bisa kok nikmatin acara walaupun gw gak bisa ngeliat. Kalo lo ngomong kaya tadi secara gak langsung lo ngehina gw, lagi pula yang rusak cuma mata gw sedangkan yang lainnya normal, gw masih bisa kok seru-seruan bareng." ucap Raina.
Lala mendesis ia tidak menyangka ucapannya membuat Raina tersinggung. Padahal tidak ada sedikit pun niat untuk menghina Raina, ia hanya ingin Raina ikut merasakan pernikahaannya secara normal sama dengan yang lain.
"Raina maafin gw. Tapi maksud gw gak kaya gitu ih, masa lo gak ngerti sih maksud gw apa," ucap Lala dengan raut wajah paniknya.
"Gw ngerti kok, lo ngomong kaya tadi karena lo maunya yang dateng ke nikahan lo orang-orang normal semua, lo malu kan punya sahabat sekaligus calon adik ipar yang buta kaya gw," tegas Raina.
"Ih siapapun tolong bantuin Lala ngomong sama Raina, kenapa Raina jadi marah sama Lala. Kak Reno pasti ngerti kan maksud Lala apa? Tolong dong bantuin Lala plisss." Lala sengaja meminta bantuan pada Reno karena ia bingung harus bagaimana lagi menjelaskannya pada Raina.
Reno hanya diam enggan menggubris ucapan Lala yang terus merengek padanya, ia tahu mengapa Raina berbicara seperti itu pada Lala dan ia pun tahu ending perdebatan mereka mengarahnya kemana jadi ia lebih memilih bungkam.
Fano celingak-celinguk memperhatikan wajah semua orang yang disana, ia menggaruk kepalanya frustasi karena tidak mengerti dengan pembicaraan mereka karena sebelumnya ia sudah berusaha menguping dan berusaha mencerna pembicaraan mereka namun tetap saja Fano tidak paham.
"Kalian ngerti gak mereka ngomongin apa? Biasanya Pano pintel tapi kok sekalang Pano jadi oon ya, Pano halus bimbel lagi nih kayanya," tanya Fano.
Kedua teman Fano dengan bersamaan menggelengkan kepalanya sambil menaikkan kedua bahunya.
"Biarin aja Fano itu urusan orang gede kita anak kecil gak boleh kepo," ucap Fajar.
__ADS_1
"Tapi Pano kepo banget Pajal, kalo Pano belum tau Pano gak bisa tidul, olang gede kenapa libet banget sih bikin kepo aja," ucap Fano.
Fano melangkahkan kakinya mendekati Lala dan Reno kemudian ia sengaja mendudukkan dirinya diatas pangkuan Reno.
"Kak Leno kenapa ya kok Pano gak ngelti kak Lala ngomong apa?" keluh Fano.
"Kak Reno juga gak ngerti dia ngomong apa," saut Reno.
"Keliatannya kak Lala lagi berantem ya sama kak Laina, kenapa kak Leno diem aja nanti kalo kak Lala dicakal sama Raina gimana," ucap Fano.
"Tenang aja Fano. Kalau pun ada adegan cakar-cakaran pasti korbannya Raina bukan Lala," ucap Reno.
Farhan menggeser tubuhnya sedikit, ia gemas dengan perdebatan antara Raina dan Lala. Akhirnya Farhan memutuskan untuk angkat suara.
"Gini aja deh gak usah ribut-ribut. Lala tetap jalanin aja acaranya sesuai tanggal yang udah ditetapi sama kedua pihak keluarga. Kita semua juga berusaha cariin donor kornea mata buat Raina secepatnya syukur-syukur dapetnya sebelum resepsi pernikahan mereka berdua. Tapi kalau seandainya Raina belum dapet donornya sampai hari H acaranya kita tetap lanjutin pernikahan mereka dengan kondisi mata Raina yang belum normal. Gimana? Semuanya setuju gak?" Farhan mengedarkan pandangannya pada semua orang yang ada di sekitarnya.
Mendengar saran dari Farhan semua orang menganggukkan kepalanya dengan bersamaan mereka sangat setuju dengan saran yang diberikan oleh Farhan.
"Nah gitu aja bagus dari pada ribut terus pusing aku liatinnya," sambung Aisyah.
"Nah tumben lancar, memang saudara kembar yang sangat membanggakan kau wahai kisanak tidak sia-sia Bunda buang kau ke luar negeri Haha," ledek Fathan.
"Iya-iya suka-suka kau lah upin," saut Farhan dengan malas.
"Yaudah soal tanggal-tanggalan biar kita aja para orangtua yang urus ya, pokoknya dalam waktu dekat ini kita pastikan Lala dan Reno akan menikah. Sekarang bebas kalian mau ngapain aja, silahkan mau ngegosip, joget, salto, masak, nyanyi pokoknya terserah kalian," ucap Wina.
***
Bersambung ....
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya gais. Kalo ada saran boleh lah dititipkan di kolom komentar.
Semoga kalian semua terhibur ya sama eps hari ini ya hehe.
__ADS_1
Sekian dan terima kasih.