
Setelah selesai mengganti bajunya, Zara terdiam sejenak memperhatikan lengannya yang membiru di dua bagian, ia merutuki kebodohannya karena sudah memilih baju lengan pendek dan melupakan memar yang ada di tangannya.
"Oon banget sih lo Zar, kalo kaya gini pasti banyak orang yang liatin bukan cowo rese itu aja. Kalo bukan karena Papa gw, gak bakalan gw biarin mereka ngerjain gw kaya tadi," ucap Zara.
Farhan berulang kali menolehkan kepalanya ke arah ruang ganti yang masih tertutup, ia terlihat gusar sambil melirik jam tangannya berkali-kali karena sudah 25 menit ia menunggu Zara namun tidak ada tanda-tanda Zara akan keluar dari ruang ganti.
"Ini perempuan satu ganti baju doang lama banget sih, mau ngerjain gw kali nih anak ya. Awas aja 5 menit lagi dia gak keluar itu ruang ganti gw pindahin ke kalimantan," oceh Farhan.
"Yaudah lah biarin aja, toh dia gak bakalan merhatiin gw juga. Kalo dia kepo gak usah dijawab kan beres," ucap Zara.
Zara pun memutuskan untuk keluar dari ruang ganti. Melihat pintu ruang ganti yang terbuka Farhan menghela nafas leganya, ia berjalan menghampiri Zara kemudian menarik tangan Zara mengikutinya ke kasir untuk membayar baju yang sekarang digunakan oleh Zara.
"Bayar tuh," ucap Farhan santai.
Zara terlihat kebingungan lalu menatap Farhan. Sejujurnya ia tidak membawa uang sepeser pun, saat itu yang ada dalam fikirannya hanya bertemu dengan Farhan di taman tanpa memikirkan uang sehingga membuatnya pergi begitu saja tanpa membawa tasnya.
Duh kenapa bisa lupa bawa uang sih, gimana nih malu banget gw baju udah dipake masa gak ada uangnya. Kayanya terpaksa deh gw harus nurunin gengsi minta bayarin sama cowo rese ini, sekali aja ya Zar besok gak lagi kok huh.
Zara memejamkan matanya sejenak kemudian menjinjitkan kakinya mendekati telinga Farhan.
"Bayarin dulu ya nanti gw ganti soalnya gw gak bawa uang," bisik Zara.
Farhan menolehkan kepalanya pada Zara saat mendengar bisikan dari Zara, ia menatap Zara dengan tatapan meremehkan.
"Ada ya orang ke toko baju dan udah pake bajunya tapi gak ada uang. Udah deh gak usah drama mulu buruan bayar jangan teralu banyak berharap saya bakalan bayarin baju kamu," ucap Farhan.
Zara menggertakkan giginya mengepalkan tangannya dan menatap Farhan gemas andai saja laki-laki yang berada di sampingnya ini bukan manusia mungkin saja sudah ia lempar ke kandang macan biar jadi menu makan siang untuk macan.
"Gw beneran gak ada uang terus mau bayar pake apa. Makanya gw minjem dulu sama lo nanti gw bayar deh pas di kampus. Kalo gak percaya lo liat aja nih gw bawa tas apa engga." Zara merentangkan tangannya kemudian memutar-mutarkan tubuhnya.
Farhan menatap Zara penuh selidik, ia tidak habis fikir dengan perempuan yang kini berada di hadapannya dan bertanya-tanya di dalam hatinya kenapa bisa perempuan sepertinya pergi tanpa membawa uang padahal Zara tahu mereka akan pergi keluar kota.
"Menyusahkan." Farhan mengeluarkan beberapa lembar uang cash yang berada di dalam dompetnya kemudian menyerahkan pada kasir.
"Hutang kamu 200 ribu sama saya. Dalam waktu seminggu kalo kamu gak bayar jadi berbunga 3 kali lipat," ucap Farhan sambil memberikan struk pembayaran dari toko baju tepat di depan wajah Zara kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari toko.
Zara membelalakan matanya ketika mendengar ucapan Farhan dengan cepat ia berlarian menyusul Farhan.
Gila nih orang mau jadi rentenir kali ya, keadaan kepepet kaya gini bisa aja dia bisnisin. Nanti pas sampe Bandung gw pinjem uang Raina dulu kali ya dari pada nanti bablas jadi berkembang biak utang gw.
"Tungguin Woi," teriak Zara.
***
Raina terlihat sibuk bersama dengan beberapa pegawai yang mengurus dekorasi di sekitaran taman.
Dekorasi telah selesai dibuat, Raina menatap kagum pada seluruh pegawai yang begitu cepat dalam mengerjakan semua dekorasi dalam satu hari. Mereka sampai tidur bergantian bahkan ada yang sampai begadang mengerjakan pekerjaan mereka, ia sangat puas melihat kinerja mereka yang begitu bagus.
"Raina jadinya kita pake kolam aja nih ya, tapi beneran mau bikin air kolamnya sedengkul?" tanya pegawai yang usianya tidak jauh beda dari Raina yang diketahui bernama Meli.
"Engga dong. Pokoknya bikin kaya semestinya aja ya, biar nanti kak Fathan gw aja yang urus, nanti yang punya acara bakal dateng sore buat liat dekorasinya mungkin mereka mau nambahin apa gitu, nanti lo sama yang lainnya tunggu aja disini. Apa lagi yang kurang selain kolam?" ucap Raina tersenyum melihat dekorasi yang sudah selesai 96%.
"Gak ada, udah kelar semua. Palingan kita tinggal pantau aja, takut ada yang rusak atau ada yang harus ditambahkan," saut Meli tersenyum ramah pada Raina.
__ADS_1
"Gak nyesel deh gw pake jasa WO kalian, bener-bener kompeten dan kerja tim nya bagus banget. Makasih ya Mel, nanti kalo ada acara lagi pasti gw bakal pake jasa kalian lagi," ucap Raina merangkul Meli.
"Santai aja kali itu kan udah kerjaan kita tiap hari bukan hal yang ngagetin banget kalo kita disuruh kerja deket-deket acara. Next lo ya yang order buat nikahan sama yang tadi Haha. Tenang gw bakal siapin kolam cetek yang khusus bocah khusus buat nikahan lo sama cowo yang tadi, biar kolamnya gak keliatan aneh." Meli tertawa saat membahas kolam kemudian melirik sekilas pada Fathan. Meli merupakan sosok yang sangat mudah bergaul dan ramah pada siapapun jadi tidak heran dengan mudahnya ia bisa dekat dengan Raina dalam waktu yang singkat.
Raina ikut mengalihkan pandangannya pada Fathan yang sedang sibuk berbicara dengan beberapa pegawai.
"Jangan dibahas terus dong yang itu, berasa kaya pacar durhaka gw dari tadi ngegosipin dan ngetawain ke anehan pacar sendiri," ucap Raina tertawa.
***
Fahira bernafas lega saat terbebas dari Ita dan ia mengetahui dimana tempat acara resepsi akan diadakan dari Ita, kini ia sedang berada di jalan berniat menyusul mereka ke Bandung.
"Liat aja ya Han, gw bisa sampe disana tanpa bantuan lo. Gw bakal buat acara itu hancur biar Raina dan Fathan disalahin sama yang punya acara." Fahira berjalan menyusuri trotoar jalanan sambil menunggu taksi online yang ia pesan.
"Walaupun itu bukan acara yang dibuat untuk kalian tapi gw bakal bikin itu acara berantakan karena kalian berdua yang atur semuanya dan pastinya kalian bakalan kena amuk sama keluarga masing-masing. Pastinya Raina bakalan dibenci sama sahabatnya sendiri karena udah ancurin acara berharganya," ucap Fahira menunjukkan senyum jahatnya terlihat sekali aura wajahnya memancarkan dendam yang mendalam.
***
Kini di rumah Wina terlihat sekali penghuninya yang sibuk bolak balik kesana kemari. Mereka nampak sedang bersiap-siap untuk menyusul Raina dan juga Fathan yang sudah berada di Bandung lebih dulu dari mereka.
"Ayooo buruan, udah kesiangan nih nanti takut kemaleman sampe sana," heboh Wina.
"Rey nyusul besok aja gimana Ma? Jadi Rey dateng pas acaranya aja," pinta Reyhan yang langsung direspon dengan pelototan oleh Wina.
"Gak! Gak ada. Ini acara Abang kamu bukan acara tetangga ya Rey. Kamu harus ada disana hari ini dan bantu yang lainnya buat urus apa aja yang belum selesai," tegas Wina tidak mau dibantah.
Mendengar ucapan Wina membuat Reyhan terdiam dan kehilangan cara untuk membuat alasan yang dapat diterima oleh sang Ibu. Reyhan menghela nafas pasrahnya kemudian berjalan menuju kamarnya untuk menyiapkan beberapa keperluannya selama berada di Bandung.
"Haduh berasa banget jomblonya ini mah, Abang gw nikah dan gw sendirian. Padahal dulunya gw selalu ngeledek dia. Jadi kangen Kinan," gumam Reyhan menatap bingkai foto dirinya bersama dengan Kinan.
"Udah, tapi tadi belum mandi masih bau kuda poni. Yakan Cila," ucap Fano melirik Cila sekilas kemudian kembali fokus dengan tasnya memasukkan beberapa mainan yang sudah ia siapkan.
"Engga tau, soalnya Cila lagi pilek," saut Cila yang membuat Fano menatap Cila kesal.
Disela pembicaraan mereka terlihat Reno yang sedang berjalan menuruni anak tangga menyusul mereka.
"Itu kak Reno," ucap Cila sambil menunjuk ke arah Reno.
Wina yang baru saja selesai menyiapkan segala keperluan mereka selama di Bandung dibuat kesal saat melihat Reno yang menuruni anak tangga dengan santai.
"Renoooo! Kamu santai banget ya bukannya siap-siap. Kita udah telat nih tadi Mama dapet kabar dari keluarganya Lala kalo mereka udah berangkat ke Bandung loh," teriak Wina.
"Emangnya kita berangkat sekarang Ma?" tanya Reno kebingungan.
"Tahun depan!" sambung Fano tanpa menolehkan kepalanya.
"Nyambung-nyambung aja kaya tiang listrik, gak ditanya malah jawab-jawab aja huuu." Reno menyoraki Fano sambil mengacak-acak rambut Fano yang sudah dibuat serapi mungkin oleh Fano.
Fano memicingkan matanya menatap Reno garang, ia beranjak dari duduknya kemudian menunjukkan kuda-kuda ala pesilat handal.
"Berani-beraninya kau acak-acak rambutku pelguso, telima selangan dali pangelan," ucap Fano memberikan beberapa pukulan di pinggang Reno.
"Pelguso pelguso pelguso aja, gak boleh ikut ke Bandung nih ya," ancam Reno.
__ADS_1
"Gak takut, pasti mama Wina sama papa Gio ajak Pano selalu yakan yakan," ucap Fano dengan percaya diri.
***
Setelah selesai mengambil kue dan souvenir Zara dan Farhan pun segera pergi menuju lokasi yang sempat di bagikan oleh Raina.
Farhan menghentikan kemudinya saat melihat lampu lalu lintas berubah warna menjadi warna merah. Ia melirik Zara sekilas dan rasa penasaran mulai bermunculan di atas kepalanya.
"Kamu tau kan kita pergi ke Bandung?" tanya Farhan.
Zara menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan suaranya.
"Kalo tau kenapa kamu gak ada persiapan bahkan gak bawa uang lagi, ah bukan uang aja tadi baju kamu berantakan sekali dan bau nya aneh. Tingkat percaya diri kamu tinggi juga ya, pede berangkat ke Bandung dengan tampilan yang kaya tadi, saya yakin sih kamu baru keluar dari mobil ini pasti udah diusir dari sana sama orang-orang yang ada disana." Farhan menatap Zara dengan tatapan yang amat sangat membuat Zara kesal.
"Udah deh gak usah ngehina gw terus, lo gak tau kejadian aslinya kaya apa. Mending gas itu mobil dah dari pada diklaksonin sama orang-orang, lampu ijo tuh," ketus Zara.
Sejujurnya Farhan sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Zara tetapi ia memutuskan untuk menyimpan semuanya sampai nanti ketika mereka sampai di Bandung.
"Nanti utangnya gw bayar begitu gw udah sampe disana, jadi jangan harap ya lo bisa berbisnis dibalik bunga utang baju gw," ucap Zara.
"Bayar pake apa? Uang koin aja kamu gak punya gimana mau bayar utang. Ah saya tau kamu mau kerja cuci piring di acaranya Lala nanti ya?" ucap Farhan.
"Ih ngeselin banget sih lo! Andai aja bukan lo yang nyetir ini mobil, mungkin udah gw puter itu tangan lo biar diem. Lagian Lala gak bakalan ngebiarin gw sesusah itu kali," omel Zara.
Farhan hanya melirik Zara malas kemudian kembali fokus dengan kemudinya tanpa meladeni ocehan Zara.
"Oh iya gw mau nanya deh sama lo. Kok lo bisa jadi dosen di kampus ya padahal kan kak Fathan aja masih kuliah," tanya Zara.
"Jawabanya sih simpel banget, semua itu karena saya lebih pinter, ganteng dan mapan dari kembaran saya itu. Jelasnya lagi sih saya lebih ramah dan murah senyum dari pada Fathan," jawab Farhan dengan percaya diri.
"Hidih percaya diri sekali anda ini." Zara bergedik ngeri menatap Farhan.
"Faktanya memang begitu kan," saut Farhan.
"Cuma orang aneh yang bilang itu. Kalo kak Fathan sih gw percaya meskipun dia sama ngeselinnya kaya lo tapi kan dia gak kepedean kaya lo," ucap Zara.
"Faktanya muka aku sama Fathan gak ada bedanya karena kita saudara kembar, berarti secara gak langsung kamu setuju sama apa yang dibilang orang-orang tentang saya. Udah akuin aja dari pada kamu nanyain itu mending kamu ceritain aja kenapa baju kamu bisa sebau itu dan itu memar di tangan kenapa," ucap Farhan.
Zara kaget saat Farhan menanyakan tangannya yang memar membuatnya refleks menolehkan kepalanya pada tangan kanannya yang memar. Ia tidak menyangka kalau Farhan menyadari memar di tangannya bahkan sampai menanyakannya pada Zara.
"Udah ah gak usah dibahas, gak penting itu mah. Tadi gw gak hati-hati aja makanya bisa memar. Soal baju yang bau itu karena gak sengaja lewat warteg terus orangnya lagi nyuci piring dan gak sengaja nyiram air cucian piring ke gw dan itu kejadian pas gw mau jalan ke taman," jelas Zara dengan gelagapan ia berharap Farhan percaya dengan apa yang ia katakan.
"Saya jadi dosen di kampus kamu karena IQ saya yang berada di atas rata-rata. Saya tau semua alasan yang kamu ceritain bohong semua. Saya mau denger versi jujurnya, saya paling gak suka sama orang yang suka bohong," ucap Farhan.
Tuh kan dari awal gw ragu kalo dia bakal percaya sama apa yang gw bilang. Capek-capek ngibul ujungnya ketauan juga tuh nyesek gais. Emang bener kata orang-orang bohong itu gak baik, tapi gw harus ngomong apa ya kan gak mungkin juga gw ceritain yang sebenernya. Gw aja gak pernah cerita ke sahabat-sahabat gw masa iya gw cerita sama musuh gw.
"Ya terserah itu mah urusan lo, gw gak mau cerita ulang, haus tau ngomong mulu," ucap Zara.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya ya gais. Kalo ada saran boleh dititipin di kolom komentar ya. Makasih juga buat kalian semua yang udah komen di bab sebelumnya dan makasih juga buat yang udah kasih saran insyaallah bakal terapkan sarannya di bab berikutnya.
__ADS_1
Sekian dan terima kasih.