
Setelah acara Lala selesai semua berniat berpamitan pada Lala dan Linda.
"Kok pulang sih, nginep aja kalian kasian yang cewe kalo maksain pulang ngeri dibegal nanti, tenang aja rumah Tante banyak kamarnya ngalahin hotel bintang 1, pokoknya kalian nginep disini ya Tante gak izinin pulang, lagian besok tanggal merah jadi kalian gak bisa banyak alesan," ucap Linda panjang lebar.
"Hotel apaan Tante yang bintang 1," tanya Raka.
"Ada pokoknya, ah iya yang namanya Rama angkat hidung coba Tante mau liat yang mana orangnya," ucap Linda.
Rama mengangkat tangannya dengan ragu, fikiran sudah melayang kemana-mana bahkan ia membayangkan sebentar lagi akan diusir oleh Linda.
"Ah ini ganteng juga ternyata, biasa aja dong mukanya gak usah panik santai aja gak bakalan Tante panggang kok," canda Linda.
"He-He maaf Tante, Rama kira bakal ada adegan ribut berujung diusir," saut Rama dengan sungkan.
"Tante mah engga, buat yang lainnya bisa istirahat dulu ya, Tante ada perlu sama Rama jadi kalian duluan aja, gapapa kan Ram tante ganggu sebentar," ucap Linda.
Saat yang lainnya sudah pergi Linda tersenyum menatap Rama sedangkan Rama hanya menunduk.
"Lala udah cerita tentang kamu, jadi kamu gak usah takut sama saya karena kamu sama Lala adik dan kakak sekarang kamu bisa anggep Tante kaya Mama kamu juga jadi kalian sama-sama punya dua Mama," ucap Linda.
"Ah iya Tante, saya selaku anak dari Mama Lisa mau minta maaf sama tante karena sudah buat keluarga Tante hancur, tapi saya ...." Ucapan Rama terhenti saat dengan sengaja Linda menyumpal mulutnya dengan roti.
"Ngomong apa sih kamu yang sudah terjadi biarin berlalu yang terpenting sekarang kamu udah jadi seorang Abang kamu punya Adik ya walaupun bukan adik kandung tapi kamu punya kewajiban ngejaga dia, jadi saya minta kamu sayangi Lala seperti kamu menyayangi adikmu sendiri," ucap Linda.
Rama menarik nafasnya sambil melirik Linda sekilas.
"Tante tenang aja tanpa Tante minta saya bakal lakuin soalnya dari dulu saya pengen banget punya adik cuma yang gak rusuh kaya Lala juga sih," ucap Rama.
Rama membelalakan matanya refleks menutup mulut saat menyadari perkataannya yang secara tidak langsung meledek Lala.
"Emang si Lala rada rusuh tapi dia anak baik kok, Tante tinggal dulu ya soalnya udah malem banget ngantuk nih," saut Linda sambil terkekeh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara di salah satu kamar yang diisi oleh para anak laki-laki heboh membicarakan Rama yang tiba-tiba dipanggil oleh Linda.
"Si Rama kenapa tuh, jangan-jangan si Lala ngadu sama emaknya kalo dia sering digangguin sama Rama makanya Rama dipanggil kaya gitu," ucap Raka.
"Gak usah aneh-aneh, Lala gak gitu orangnya meskipun dia rusuh tapi dia gak tukang ngadu," bantah Reno.
"Ya maap bang Reno kan gw nebak doang," ucap Raka sambil cemberut.
"Hallo! Pano tidul dimana ya, gesel dong Pano gak kebagian," teriak Fano sambil mendorong tubuh yang lainnya secara bergantian.
"Rusuh nih bocil, nyelip aja noh di bawah bantal pasti muat," ketus Reyhan.
"Gak mau! Emangnya Pano duit ditalo di bawah bantal," saut Fano sambil memonyongkan bibirnya dengan kedua tangan yang berada di pinggangnya.
"Minggil dong sedikit Pano mau tidul, Pano mau tidul," usir Fano.
__ADS_1
"Kasurnya cuma satu orangnya ada banyak begini, mending minta kasur lagi dah sama Lala biar gak ribet," ucap Farhan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi hari di rumah Lala sangat ramai mengalahkan pasar malam, para perempuan yang sedang sibuk memasak sedangkan yang laki-laki sibuk memakan hasil masakan yang dengan susah payah mereka masak.
Zara berkacak pinggang menatap Rama yang asik memasukan kentang yang sudah di goreng oleh Zara ke dalam mulutnya, ia menyerahkan spatula pada Kinan untuk melanjutkan kegiatan menggorengnya, ia menghentakan kaki mendekatkan dirinya pada Rama dengan kentang yang sudah berasa di tangannya.
"Kak Rama lo ambil kentangnya lagi kepala lo gw timpuk nih ya pake kentang mentah," ancam Lala dengan tangan yang sudah bersiap melempari Rama.
Rama menatap Zara dengan tatapan polosnya ia kembali memasukan kentang ke dalam mulutnya tanpa memperdulikan Zara yang memelototinya.
"Bagi dikit lah Zar, gak boleh pelit," ucap Rama.
Zara memutar bola matanya sebal ia melirik ke arah lainnya dan ia terkejut saat melihat masakan yang sudah jadi hampir setengahnya habis.
"Ini lagi ngapain disini! Kalian bisanya ngerecokin doang ya mending kalian pergi deh, pergi gak!," teriak Zara.
Dengan cepat tangan Zara mengambil baskom kosong yang tidak jauh dari posisinya lalu melempari para laki-laki dengan baskom tersebut namun baskom tersebut nyangkut di kepala Lala yang baru saja masuk ke dapur membawa beberapa sayur-sayuran.
"Ih Zara kenapa Lala yang di timpuk sih," omel Lala.
"Dasar pelit cuma nyobain dikit aja gak boleh," ucap Raka.
"Bodoamat! Sono pergi" usir Zara.
"Awas aja ya kalo ikannya lompat pas di goreng jangan minta tolong sama kita, yuk gais kita pergi," ucap Fathan.
Raina, Kinan dan Aisyah yang berada di dekat kompor hanya menggelengkan kepalanya melihat perdebatan di pagi hari.
"Oh iya ini sayurnya." Dengan santai Lala memberikan sayur tersebut pada Raina hingga mengenai wajah Raina.
Raina menepis sayuran tersebut ia menatap Lala garang lalu menarik nafas berniat ingin meneriaki Lala, belum sempat meneriaki Lala mereka dibuat kaget sekaligus panik saat tanggan mereka terkena percikan minyak.
"Panas ... Panas ... Matiin kompornya! Tangan gw perih banget ya ampun," teriak Raina.
"Haduh Lala panik tolong dong, Lala harus apa ini, Lala keluar aja deh minta bantuan cowo-cowo kan tadi yang ngusir mereka Zara bukan Lala jadi gapapa lah." Lala kebingungan ia terus mutar-mutar disekitaran dapur hingga akhirnya memutuskan untuk menyusul yang lainnya.
"Raina lo gapapa kan, lo paling banyak lagi kenanya," panik Zara.
"Coba ambil odol," pinta Kinan sambil mengkipas-kipas tangan Raina.
Zara berlarian menuju kamar mandi ia kebingungan saat melihat 3 macam odol di kamar mandi, ia memutuskan untuk kembali ke dapur sambil membawa 3 odol dengan merek yang berbeda di tangannya.
"Kak Kinan, odolnya Pepsodent atau Ciptadent atau komodo," tanya Zara sambil melihatkan ketiga odol tersebut pada Kinan.
"Pepsodent aja sini," ucap Kinan.
Lala mengatur nafasnya ia menepuk-nepuk punggung Fathan yang tepat berada di dekatnya.
"Apasi Lala gak usah rusuh lo," ketus Fathan.
"Itu ... Ikan ... Ada ikan di penggorengan," ucap Lala dengan nada paniknya.
"Ya terus kenapa Lala, urusannya sama kita apaan?" tanya Raka.
__ADS_1
"Ngomong pelan-pelan dulu Lala, duduk dulu sini," ucap Farhan.
Lala melangkahkan kakinya menghampiri Farhan lalu mendudukan dirinya di samping Farhan.
"Udah tenang?" tanya Farhan.
"Udah, tapi Lala haus mau minum teh jus," ucap Lala.
"Bodoamat! Bilang aja lo males masak makanya sepik kesini," ucap Reyhan.
"Suudzan aja lo Kak, Lala bantuin tau tadi ngasih sayur terus tiba-tiba ikannya ngamuk dan minyaknya nyipratin kita udah gitu yang paling parah tuh Raina tangannya dia kaya ketumpahan minyak goreng," ucap Lala tanpa jeda.
Perkataan Lala sukses membuat Fathan panik tanpa banyak berfikir Fathan pergi meninggalkan yang lainnya ia berlarian menuju dapur dengan perasaan yang sangat cemas dan panik.
"Raina, kamu gapapa? Mana yang sakit? Bilang sama aku." Fathan menghujani Raina dengan banyak pertanyaan membuat Raina menatap Fathan heran.
"Nih tangan aku kena minyak, perih banget deh ternyata kecipratan minyak sakit banget," keluh Raina.
Fathan menatap tangan Raina yang sudah dioleskan odol ia memegang tangan Raina sambil melihat sekitar tangan Raina.
"Kita ke dokter aja yuk, kayanya tangan kamu parah, lagian kalian ngapain sih masa minyaknya bisa kena tangan Raina sampe banyak kaya gini lagi kenanya," omel Fathan.
"Kak Fathan jangan ngomel-ngomel ke kita dong, tuh ngomelnya ke penggorengannya aja kalo gak salahin ikannya," ucap Lala sambil menunjuk ke arah kompor yang sudah berantakan tak beraturan.
"Bodoamat! Intinya gw mau bawa Raina ke rumah sakit dulu takutnya tangan dia parah," ucap Fathan.
"Gak usah Kak, kita kan udah ada janji mau ke dufan nanti Fano ngambek loh, tangan aku udah di kasih odol kok pasti besok sembuh," tolak Raina.
Fathan menatap Raina dengan gemas ia menjitak kepala Raina.
"Kamu fikir aku Fano yang bisa ditipu, sejak kapan luka kaya gini bisa sembuh besok," ucap Fathan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya ya gais, kalo ada saran silahkan dikasih sarannya di kolom komentar, maaf juga belum bisa bales komennya satu-satu.
Sekian dan terima kasih.
__ADS_1