
Lala menatap gemas pada bayi yang diketahui adik dari Cila, ia mengambil bayi tersebut dan menggendongnya.
"Ah lucunya, gemes deh jadi inget waktu Lala bayi. Kak Reno gak mau liat? Lucu banget tau. Cila aku mau nanya sama Cila. Papanya Cila kemana, kenapa mama Cila bisa ninggalin kalian disini," ucap Lala sembari mengusap-usap gemas pipi bayi yang berada di dalam gendongannya.
"Papa sama mama Cila udah gak ada kak. Kemarin papa Cila meninggal terus mama Mona bawa kita disini katanya nanti mama Mona jemput kita, tapi mama Mona gak dateng kesini. Cila takut Kak," jelas Cila.
"Loh terus mama Mona itu siapa Cila?" tanya Lala.
"Mama mona itu mama baru kita kak. Mama kandung kita udah meninggal setelah ngelahirin adik bayi." Cila berbicara dengan raut wajah murungnya.
Lala tidak menyangka ada seorang Ibu yang tega meninggalkan anak-anak sebaik dan senurut mereka ya walaupun Ibu tersebut hanya Ibu sambung mereka.
"Tega banget mama kamu ya Cila. Kamu ikut kak Lala dulu yuk pasti kamu laper kan, nanti kita ngobrolnya di sana biar kamu kenyang dulu ya," ucap Lala.
Lala ikut prihatin dengan apa yang dijelaskan oleh Cila. Kini ia merasa sangat bersyukur karena ia masih memiliki seorang Ibu yang masih menginginkannya. Dahulu ia berfikir tuhan tidak adil karena memberikannya keluarga yang tidak utuh. Setelah mendengar cerita Cila, Lala pun merasa minder karena anak seusia Cila mampu menjalankan semuanya tanpa mengeluh bahkan ia harus menjaga seorang Adiknya yang masih bayi.
Reno yang sedari tadi tidak membuka suaranya dan hanya menyimak pembicaraan mereka pun ikut prihatin dengan apa yang terjadi dengan kedua anak tersebut.
"Yaudah yuk kita keluar dulu, kasian tuh bayinya ada di ruangan yang kotor kaya gini nanti bisa sakit," ajak Reno tangan kanannya merangkul Lala sedangkan tangan kirinya menggandeng Cila.
***
Kini Lala dan Reno beserta kedua anak kecil berada di salah satu mall yang tidak jauh dari lokasi mereka sebelumnya.
"Kita makan dimana ya kak," tanya Lala.
Reno mengedarkan pandangannya melihat beberapa restoran yang berjejer menanti kehadiran mereka, ia tersenyum kemudian mengajak mereka masuk.
"Nah sekarang Cila bebas pilih mau makan apa aja, mau nambah juga boleh tenang dibayarin sama kakak yang ini soalnya duitnya kakak ini banyak Cila," ucap Lala dengan semangat sambil melihat ke arah Reno.
Cila terlihat senang matanya berbinar, ia berlompat-lompatan kemudian ia menggeser kursi dan berusaha menaiki kursi tersebut.
"Pelan-pelan Cila. Kalau gak bisa minta tolong sama kakak itu. Kak Reno ish, tolongin dong. Gak peka banget sih jadi cowo gimana nanti kalo jadi bapak bisa-bisa anaknya jungkir balik kali ya," sindir Lala.
Reno mendelikan matanya, ia berusaha menahan kesalnya saat mendengar ocehan Lala yang terus menerus menyalahkannya mulai saat mereka berada di parkiran hingga sekarang.
"Iya Mama iyaaaa." Reno berbicara dengan sedikit penekanan sambil melirik Lala seolah-olah sedang memberi kode bahwa ia kesal dengan sikap Lala.
"Mama Mama Mama! sembarangan aja kalo ngomong. Emangnya Lala mamanya kak Reno," protes Lala.
"Kamu lebih parah dari Mama aku tau gak sih. Bedanya cuma di kamu gak ngejewer kuping aku," saut Reno.
__ADS_1
"Kak, Cila mau nasi goreng sama jus ini," pinta Cila.
Lala pun segera memesankan apa yang Cila mau. Lala panik saat bayi yang ia gendong menangis tiba-tiba, ia berusaha menenangkannya namun tangisan bayi tersebut makin keras.
"Kak Reno tolongin Lala. Kayanya dede bayi takut deh sama Lala makanya nangisnya histeris gitu, emangnya muka Lala serem ya?" keluh Lala.
Reno tertawa saat melihat Lala yang kebingungan menangani bayi tersebut, sejujurnya ia pun tidak paham cara mengurus bayi bahkan cara menggendongnya dengan benar saja ia tidak paham justru lebih ahli Reyhan dibanding dirinya karena dulu saat Fano masih bayi dan menginap di rumahnya Reyhan lah yang mengurus Fano sedangkan dirinya sibuk dengan urusannya sendiri.
"Ih kak Reno ngeselin banget sih bukannya bantuin malah ngetawain Lala," omel Lala.
"Terus aku harus apa? Aku kan cowo belum pernah punya anak juga mana ngerti cara ngurus bayi apa lagi diemin bayi nangis," saut Reno.
"Terus gimana ini ish, Lala jadi ikut sedih nih jadinya soalnya dede bayi nangisnya gak berenti-berenti," keluh Lala dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Reno pun dibuat gelagapan dan panik saat melihat mata Lala yang berkaca-kaca.
"Lala jangan aneh-aneh kamu, kalo kamu ikutan nangis nanti orang-orang jadi mikir aneh tentang aku. Argh! Ya ampun ternyata begini ya pusingnya Mama sama Papa ngurus tiga anaknya." Reno mengacak-acak rambutnya frustasi ia kebingungan harus melakukan apa untuk meredakan tangisan dede bayi.
Beberapa orang yang berada di dekat mereka tertawa melihat perdebatan yang terjadi diantara Lala dan Reno. Seorang Ibu-ibu pun datang menghampiri mereka karena merasa tidak tega dengan bayi yang berada di gendongan Lala yang menangis terus-menerus.
"Anaknya udah dua tapi kok kayanya kalian kewalahan banget sih, pasti kalian sibuk ya sama urusan masing-masing terus anaknya diurus sama nenek dan kakeknya terus," ucap salah satu Ibu yang berada di restoran tersebut.
Reno dan Lala dibuat gugup dengan ucapan Ibu-ibu barusan, Ia tidak tahu harus menjawab apa rasanya mulutnya susah sekali untuk mengeluarkan suara.
Ibu pun menggendong bayi tersebut ia melihat ke arah popok bayi. Ibu pun menggelengkan kepalanya terkekeh menatap Reno dan Lala bergantian.
"Ini mah popoknya penuh, kalian harus ganti popoknya untungnya bayi ganteng ini gak pup loh," ucap Ibu tersebut.
Lala menyengir kaku saat mengetahui penyebab bayi tersebut menangis, sepertinya ia harus banyak belajar dengan Wina atau Bibi yang mengurusnya dari bayi tentang bagaimana cara mengurus bayi.
Lala dan Reno menghela nafas leganya saat melihat ibu tersebut selesai mengganti popok dede bayi.
"Ibu makasih banyak udah mau bantuin kita dan ibu juga mau bantuin buat beli popok dan susu formula buat dede bayi. Kalo gak ada ibu mungkin aku sama kak Reno stress dadakan kali." Lala mencium tangan ibu tersebut dengan perasaan bahagianya.
"Saya juga mau bilang makasih ke Ibu, makasih banyak udah bantuin kita ya bu. Sekarang saya paham betul susahnya jadi orang tua apa lagi seorang Ibu yang harus selalu siap siaga mengurus anaknya." ucap Reno tersenyum pada Ibu tersebut.
"Iya sama-sama. Ibu pamit pulang ya semangat ngurus bayinya kalau bisa kalian yang ngurus anak kalian supaya merasakan suka dan dukanya mengurus anak menurut ibu lebih banyak sukanya sih," ucap Ibu tersenyum pada Lala dan Reno kemudian pergi meninggalkan mereka.
Sedangkan Cila masih fokus dengan makanannya, rasa lapar membuatnya tidak sadar dengan apa yang terjadi disekitarnya.
"Kayanya kamu lapar banget ya Cil," ucap Lala melihat 2 piring yang sudah kosong.
__ADS_1
Cila menganggukkan kepalanya dengan makanan yang memenuhi mulutnya hingga pipinya menggembung.
"Maaf ya kak Cila laper banget. Dari kemarin Lala belum makan terus dede bayi juga," ucap Cila.
***
Raina sudah memasuki ruang operasi dan sesang menjalankan operasi sedangkan yang lain menunggu di depan ruangan tersebut dengan perasaan yang was-was mereka terus berdoa supaya operasi Raina berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Fathan tidak bosan bolak-balik di depan ruangan Raina, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Raina di dalam sana.
"Ini operasi berapa lama lagi sih. Kayanya dari tadi gak kelar-kelar," gerutu Fathan.
"Heh mending lo duduk deh Fath pusing gw liat lo mondar-mandir mulu kaya kereta baru. Jelas lama lah lo kata si Raina lagi cabut gigi gak ada setengah jam kelar. Lo liat noh Raina lagi operasi donor mata jadi mending lo tenangin diri lo dan banyakin doa buat Raina biar dikasih kelancaran sama Allah," tegur Rama sambil menarik tangan Fathan agar Fathan mendudukkan dirinya di samping Rama.
"Iya Fath si Rama bener, lo jangan panik gw yakin Raina bisa. Dia kan cewe kuat, tenang aja jangan panik oke," ucap Raka.
Wina dibuat kesal dengan ponselnya yang terus menerus berdering, mulanya ia enggan menjawab panggilan tersebut karena ia yakin Lala dan Reno sudah sampai di tempat pemotretan dan bertemu dengan orang yang sudah ia percaya untuk mengurus semua hal mengenai foto prewed mereka.
"Hallo," sapa Wina dengan nada sedikit kesal.
"Ya. Hallo bu Wina, maaf mengganggu waktu Ibu. Ini gimana ya bu pemotretannya jadi atau tidak soalnya kami sudah menunggu 1 jam. Sampai sekarang yang mau foto belum datang Bu, mungkin Ibu bisa bantu menghubungi tuan Reno karena saya sudah berulang kali berusaha menghubunginya namun tidak ada jawaban." Orang tersebut berbicara dengan nada sopannya.
Mendengar penjelasan dari pegawai tersebut Wina menahan kesalnya, andai saja anak sulungnya itu ada dihadapannya sekarang, mungkin saja ia sudah menarik telinganya sampai panjang.
"Oke terima kasih informasinya ya, saya akan mencoba untuk menghubungi anak saya dan nanti saya akan kabari lagi bagaimana selanjutnya," ucap Wina.
"Oke bu, terima kasih ya bu," ucap pegawai kemudian mengakhiri panggilan telponnya.
Gio menatap Wina penasaran karena melihat perubahan wajah istrinya yang terlihat sangat kesal.
"Kenapa Ma?" tanya Gio.
"Itu loh si Reno sama Lala bisa-bisanya gak dateng ke tempat foto prewed mereka. Barusan pegawainya telfon Mama kan jadi malu Mama pa, udah gitu tadi nelfonnya berkali-kali lagi. Awas aja mereka ya kalo ketemu Mama bakal mama jewer mereka berdua," kesal Wina.
"Yaudah biar Papa aja yang telpon Reno ya, Mama fokus aja sama operasi Raina nanti kabarin Papa kalo operasinya udah kelar. Papa kesana dulu, soalnya gak enak kedengeran sama yang lain," ucap Gio beranjak dari duduknya berpamitan dengan Wina. Wina hanya menganggukkan kepalanya.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya ya gais. Kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar ya.
__ADS_1
Makasih udah baca sampe abis, maaf eps ini fulm dulu tentang Lala sama Reno biar kelar sampe mereka nikah hehe abis itu aku fokus ke Raina dan Fathan.
Sekian dan terima kasih.