SENIOR

SENIOR
tiga mangkuk bubur ayam


__ADS_3

Raina dan keluarganya beserta Lala sedang melangsungkan olah raga keliling kompleks, tidak sengaja melihat tukang bubur ayam lalu menghampiri tukang bubur tersebut.


"Kalian mau sarapan dulu gak, tuh ada bubur ayam,"ucap Gio menawarkan.


"Iya mending kalian sarapan dulu, hari ini mama gak masak seharian,"ucap Wina.


"Loh emangnya kenapa ma,"tanya Raina.


"Mama mau makan diluar bareng papa terus jalan jalan juga udah lama weekend gak kelayapan,"ucap Wina tersenyum.


"Ah bilang aja mama Wina mau pacaran sama papa Gio, iya kan hahaha,"ledek Lala sambil menaik turunkan alisnya.


"Emang ya anak gak tau dari mana datangnya ini paling ngerti mama sama papa maunya apa,"puji Gio mengacak ngacak rambut Lala.


"Gituan doang mah kecil, gampang ketebak sama Lala,"ucap Lala tersenyum bangga.


Sedangkan yang lain hanya mendengarkan lalu


saling melempar pandangan satu sama lain seolah olah mengatakan kapan makan buburnya.


Akhirnya Reyhan memutuskan untuk angkat bicara, ia rasa saling melempar pandang terus menerus tidak akan membuatnya kenyang.


"Ini ngobrol mulu kapan makannya ya,"sindir Reyhan sambil melihat kearah langit.


"Ah iya sampe lupa kalo mau sarapan,"ucap Gio nyengir.


"Ya udah yuk langsung aja jalan,"ajak Raina.


Lala menghampiri penjual bubur, ia memandang bubur milik orang lain membuatnya teringat dengan Mamanya yang setiap pagi suka sekali sarapan bubur ayam.


"Pasti sekarang mama lagi makan bubur ayam,"ucap Lala dalam hati terus memandang bubur ayam yang sudah jadi tersebut.


"Eh bukannya mesen malah ngeliatin bubur orang,"tegur Reyhan.


Lala tersadar dari lamunannya segera


mengendalikan dirinya supaya tidak terlihat kalau ia sedang sedih karena merindukan mamanya.


"Lagian itu buburnya enak bangat dipandang,"ucap Lala menyengir.


Raina sedari tadi menyadari perubahan raut wajah dari sahabatnya itu, ia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Lala, lagi lagi ia kembali terkagum kagum dengan sikap sahabatnya tersebut.


"Meskipun kadang suka konyol, tapi lo tuh panutan gw bangat La,"ucap Raina dalam hati tersenyum sambil memandangi Lala.


"Mandang bubur orang gak bikin lo kenyang sapi, mending lo pesan sekarang,"ucap Reyhan gemas.


"Ih cerewet bangat si lo, iya ini mau pesan,"omel Lala.


"Bapak tukang bubur mari mari sini Lala mau beli, 6 mangkok saja yang banyak buburnya dan tidak pake kol,"ucap Lala sambil bernyanyi.


"Bubur ayam mana yang pake kol oneng,"ucap Reyhan kesal.


"Gak usah nyanyi suaramu fals,"ledek Reno.


"Ih sirik aja si lo Kak Reno, iyaa makanya gw bilang gak pake kol karena gak ada bubur ayam yang pake kol Kak Reyhan,"ucap Lala.


"Teruskan La papa bangga punya anak sepertimu,"ucap Gio tertawa.


Papa Gio menatap gemas ke arah Lala, ia sangat menyukai sifat Lala yang riang dan tidak bisa diam, kedatangannya selalu membawa keramaian bagi lingkungan sekitarnya.

__ADS_1


"Papa kok malah ngedukung Lala si,"ucap Raina tertawa.


"Seru tau Rain liat kedua abangmu itu dibuat kesal oleh celotehan Lala yang menggemaskan itu,"ucap Gio tertawa sambil menatap Lala yang sedang berdebat dengan Reyhan dan Reno.


"Iya si, tapi kadang aku suka emosi juga kalo dia ngoceh mulu gak kelar kelar,untung aku cuma punya satu yang modelannya kaya Lala,"ucap Raina tersenyum.


"Mamanya ngidam apa ya, kok bisa anaknya gak bisa diam begitu,"ucap Wina menggelengkan kepalanya sambil tertawa.


Raina dan kedua orang tuanya asik membicarakan tingkah Lala yang menurut mereka sangat menggemaskan, tetapi tidak dengan penjual bubur yang dibuat bingung oleh pembelinya yang sibuk berdebat di hadapan gerobaknya.


"Aduh cantik bang ganteng jangan ribut bapak jadi lieur nih neng mau beli apa engga,"ucap penjual bubur.


"Iya bapak Lala mau beli, tapi mereka yang ngajak Lala ngomong terus nih,"adu Lala sambil melirik Reyhan dan Reno bergantian.


"Enak aja, dari tadi kamu yang ngejawab terus,"ucap Reno.


"Kan kak Reno ngomong makanya gw jawab ntar kalo gak dijawab nanti gw dibilang sombong, budek segala macam,"ucap Lala tidak mau kalah.


"Udahlah dong kita pesan buburnya terus kita balik ke meja, tuh liat Mama sama Papa asik bangat ketawa ngeliatin kita bang Ren,"ucap Reyhan sambil melirik kearah meja yang sudah ditempati oleh keluarganya.


"Nah bagus kalau begitu mending pesan sekarang dari pada keabisan, ini buburnya tinggal dikit,"ucap penjual bubur dengan nada sundanya.


"Ya udah kita pesan buburnya 6 ya pak, pake semuanya aja,"ucap Reno berjalan kembali ke meja yang sudah ditempati keluarganya diikuti oleh Reyhan dan Lala.


"Gimana? udah dipesan buburnya,"tanya Gio tersenyum.


"Udah pa, jadi lama tuh gara gara Lala,"ucap Reyhan sambil menunjuk Lala.


Penjual bubur menyiapkan pesanan mereka, tetapi penjual bubur kebingungan saat menyiapkan bubur ternyata buburnya tidak cukup hanya mendapatkan 3 porsi, penjual bubur berjalan kearah meja keluarga Raina lalu menyerahkan 3 porsi bubur tersebut.


Reno dibuat bingung ketika bubur yang datang hanya 3 porsi padahal ia memesan 6 porsi.


"Iya kok cuma 3 pak, tadi saya pesan 6,"ucap Reno.


"Iya nih maaf semuanya buburnya sudah habis,tadi si mas sama neng nya ribut terus si di depan gerobaknya jadinya keduluan sama pelanggan yang lain,"ucap penjual bubur berusaha menjelaskan.


"Kok Lala si kan yang ngajak ngomong terus kalian,"ucap Lala membela dirinya.


"Sudah sudah jangan ribut,begini aja nih ini kan ada 3 porsi kalian ada 6 orang, gimana kalau makan buburnya semangkok berdua aja kan jadinya so swit gitu kaya di tipi tipi tuh,"ucap penjual bubur dengan logat sundanya, berusaha mencari solusi agar pelanggannya tidak kecewa.


Wina dan Gio saling lempar pandangan dan tersenyum."Ide bagus tuh, saran yang bagus pak, Papa setuju dengan saran bapak penjual bubur, jarang jarang papa sama mama makan semangkok berdua, makasih pak sarannya sekalian minta sendoknya lagi ya,"ucap Gio tersenyum senang sampai tidak sadar sendok sudah tersedia di meja.


"Itu pak sendoknya udah ada di meja,"ucap penjual bubur sambil menunjuk dimana sendok berada.


"Ah iya sampai gak sadar kalau sendoknya didepan mata saking senangnya,"ucap Gio tertawa.


Raina melirik bubur lalu terbesit niatnya untuk mengerjai Lala, ia tahu kalau Lala dan Bang Reno pasti tidak akan mau berbagi makanan.


"Oke mama sama papa, aku sama bang Rey aja ya,"ucap Raina sambil melirik Lala menunggu bagaimana reaksi Lala.


"Terus kalo Raina makan bareng kak Rey, Lala sama siapa,"ucap Lala bingung.


"Ya sama bang Ren lah, kan tinggal bang Ren doang gimana si lo gitu aja bingung,"ucap Reyhan.


"Raina makan sama gw yaa, janji deh gw makannya gak banyak,"ucap Lala memasang wajah memelasnya berusaha membujuk Raina.


"Enggak ah, udah ah gw mau makan lapar,"tolak Raina lalu mengambil sendok dan mulai memakan buburnya


Lala melirik sebal kearah Raina lalu menatap bubur yang sudah berada dihadapan Reno dengan terpaksa ia makan bersama Reno.

__ADS_1


"Jangan rakus lo kak makannya,"ucap Lala ketus.


"Bodoamat,"ucap Reno.


Akhirnya mereka memakan bubur tersebut


semangkuk berdua dengan pembagian yang sudah ditentukan oleh Raina.


"Ih itu sendok gw kak Reno,kok lo pake si,"omel Lala.


"Enak aja, ini sendok aku,"ucap Reno.


"Enggak itu sendok gw tadi sendoknya gw taro disini, sendok lo yang ini,"ucap Lala menunjuk sendok yang dianggurkan.


"Ya udah tinggal ambil lagi yang baru susah bangat sih La,"ucap Reyhan.


"Kasian bapaknya nanti capek nyucinya tau,"ucap Lala.


"Ya udah pake aja itu sendok susah amat,"ucap Reyhan.


"Bekas kak Reno nanti ada virusnya,"ucap Lala sebal.


"Sembarangan aja kalau ngomong, biarin aja Rey dia ngoceh terus biar buburnya aku abisin,"ucap Reno memakan kembali buburnya.


Lala yang melihat Reno memakan bubur dengan


lahap akhirnya menggunakan sendok yang tidak diinginkan.


"Makan juga kan akhirnya,"ucap Reno dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.......


__ADS_2