SENIOR

SENIOR
Fano kebingungan


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Raina sudah dibuat ramai oleh kelakuan penghuninya.


"Kalian mau belangkat kuliah nanti Pano sendilian gak punya temen, Pano ikutttt ya pliss,"rengek Fano.


"Lebay banget si Pano ini, kamu nonton teletabis aja biasanya begitu juga,"ucap Gio.


"Engga mau, Pano ikut pokonya,"rengek Fano terus mengacak acak bantal sofa.


"Yuk Fano ikut seru tauuu nanti kak Lala kenalin sama pasukan kak Lala yang di kantin,"ucap Lala tersenyum


Tanpa Lala sadari sedari tadi ia ditatap garang oleh penghuni lainnya yang dengan kompak berkacak pinggang.


Lala menyengir Lalu memundurkan langkahnya perlahan setelah melihat raut wajah mereka.


"Hehe yuk berangkat,"ucap Lala menyengir.


Mereka pamit pada Wina dan berjalan meninggalkan Fano yang terus merengek minta ikut.


Fano membulatkan matanya saat mendapatkan ide dadakan dari kepalanya, ia berlarian menyusul yang lainnya lalu mengendap ngendap mendekati mobil Fathan, ia perlahan membuka pintu mobil lalu bersembunyi.


Perlahan mobil Fathan keluar meninggalkan rumah Raina menuju kampus mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mobil Fathan berhenti tepat di parkiran kampus mereka menuruni mobil bersamaan berhasil membuat perhatian orang orang yang berada di parkiran tertuju pada mereka.


"Tuh kan diliatin,"ucap Raina menunduk.


"Emangnya kenapa lo malu? mereka kan punya mata biarinlah suka suka mereka mau liatin atau mau ngapain juga itu hak mereka,"saut Fathan.


"Iya Rain bang Fath bener mending kita jalan aja deh ke kelas,"ucap Aisyah.


Mereka berjalan perlahan meninggalkan parkiran lalu berpisah dengan Fathan.


Sementara Fano yang sedari tadi ketiduran di mobilnya Fathan perlahan membuka matanya ia melihat kursi penumpang sudah kosong dengan cepat ia keluar dari mobil.


"Ish palah banget gak ada yang bangunin Pano, meleka malah ninggalin Pano,"gerutu Fano.


"Oh iya Pano kan lagi main petak umpet meleka kan gak tau kalo Pano nebeng,"ucap Fano menepuk jidatnya.


Fano mengedarkan pandangannya melihat sekitar ia menatap kampus dan beberapa orang yang berkeliaran disekitar kampus.


"Telnyata tempat kuliahan lame yaa telus lebih gede dali paud tempat Pano sekolah,"ucap Fano menatap gedung yang berada tepat di hadapannya.


Fano melangkahkan kakinya menuju kampus ia menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya, sedangkan yang disapa menatap Fano sembari berbisik bisik.


"Hallo Kakak cantik,"sapa Fano melambai lambaikan tangannya dengan senyum yang mengembang.


"Kakak cantik kenal kak Jungkook kembalan Pano gak,"tanya Fano.


Sedangkan yang ditanya hanya mengerutkan alisnya.

__ADS_1


"Ituuu loh kak Patan kembalan Pano,"ucap Fano gemas.


"Ohhh Fathan, bilang dong dari tadi kamu bilangnya Jungkook si,"jawabnya tertawa.


"Iyaa, tau gak kak Patan kembalan Pano dimana,"tanya Fano terus menatap lawan bicaranya.


"Aku sih tau cuma aku lagi buru buru nih kamu tanya yang lain aja ya mereka tau kok kelasnya Fathan,"jawabnya berjalan meninggalkan Fano dengan tergesa gesa.


Fano menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal ia kebingungan harus pergi kemana.


Bimo yang baru saja sampai di kampus berjalan dengan santai memasuki perkarangan kampus ia memicingkan matanya saat melihat anak kecil yang nampaknya sedang kebingungan ia mendekati anak tersebut dan rasanya anak itu tidak asing baginya setelah diingat ingat kembali ia mulai mengingatnya.


"Haiii, kamu sepupunya Raina kan,"sapa Bimo dengan senyum yang begitu ramah.


Fano melirik Bimo dengan tatapan kebingungan karena laki laki di hadapannya menyebutkan nama Raina.


"Kakak kenal sama kak Laina,"tanya Fano.


"Ohh jelas kenal dong kan kita sekelas, kamu ngapain disini Dek,"jawab Bimo.


"Pano tadi ngumpet di mobilnya kak Jungkook soalnya Pano gak dibolehin ikut sama meleka telus Pano ketidulan di mobil telus Pano ditinggalin deh,"ucap Fano memelas.


"Yaudah ikut aku aja yuk, aku mau ke kelas nih nanti Pano bisa ketemu sama kakak Pano,"ajak Bimo.


Fano menatap Bimo dengan tatapan penuh selidik.


"Ini benelan mau ngantelin Pano kan,"tanya Fano memastikan kembali.


"Iya Pano,"jawab Bimo gemas.


"Gak nyulik Pano kan, Pano gak punya duit loh nanti kakak gak bisa kaya laya kalo nyulik Pano, telus jantung Pano masih kecil ginjal Pano juga gak laku di jual,"ucap Fano dengan polosnya.


Bimo tertawa mendengar perkataan Fano, ia meragukan anak kecil yang berada di hadapannya sekarang ini merupakan sepupu Raina bahkan ia lebih percaya kalau Fano merupakan adiknya Lala.


"Tenang aja Pano, kak Bimo udah kaya jadi gak perlu jualan mending Fano ikut yuk nanti ketemu penculik beneran loh,"ucap Bimo mengulurkan tangannya sembari menakut nakuti Fano.


Dengan cepat Fano meraih tangan Bimo ia berjalan memasuki perkarangan kampus menuju kelasnya sembari bergandengan tangan dengan Fano.


Mereka sampai di depan kelas dengan cepat Fano berlarian memasuki kelas menghampiri Raina dan teman temannya yang sedang asik mengobrol.


"Kak Lala poooooo,"teriak Fathan berlarian menghampiri Lala.


"Fanooo, kok bisa disini lo bro kesini sama siapa,"tanya Lala heran.


"Nih anak celingak celinguk kaya anak ilang di depan kampus La,"ucap Bimo sembari meletakan tasnya diatas meja.


"Tadi Pano ngumpet di belakang kak Lala telus Pano ketidulan makanya Pano nyasal telus ada kak Bimo makasih ya kak Bimo sekalang kita temen soalnya kak Bimo gak nyulik Pano,"ucap Fano.


"Ini anak yang waktu itu di gosipin sekampus ya,"tanya Bimo.


"Iya nih anaknya,"ucap Lala.


"Bener La kata lo nih anak somplak gw kira dia adek lo malahan hahaha,"ucap Bimo tertawa.


Raina menatap Fano garang ia menyentil tangan Fano.


"Fano ngapain sih kan udah dibilangin gak boleh ikut sebel ih,"omel Raina.


"Kak Laina gak boleh malah malah telus Pano tuh bosen di lumah nonton teletabis telus,"ucap Fano.


Raina hanya pasrah dan membiarkan Fano bermain di dalam kelasnya lalu menghubungi keluarganya untuk menjemput Fano.


Fano terus mengajak teman kelas Raina berbicara tidak butuh waktu lama Fano sudah bisa beradaptasi.


Fathan mendapat kabar dari temannya kalau Fano ada di kampus ia segera pergi menuju kelas Raina, ia mengkhawatirkan keadaan Raina yang sedang tidak enak badan harus mengurus Fano yang sangat aktif.


Fano membelalakan matanya senyumnya mengembang ketika melihat Fathan yang berdiri di depan pintu sembari berkacak pinggang ia berlarian menghampiri Fathan dan memeluknya.


"Ada kembalan Pano,"teriak Fano.


Fathan menurunkan tubuhnya menatap Fano gemas ia menyentil hidung Fano pelan.


"Fano bandel ya sekarang, Fano kesini sama siapa,"tanya Fathan.


"Sama Kak jungkook Pano ngumpet di belakang kak Lala,"jawab Fano menyengir.


"Dijewer mama Wina tau rasa kamu Fano nanti aku gak mau belain,"ucap Fathan.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah lelah mengurus Fano yang tidak bisa diam akhirnya mereka bisa bernafas lega karena Fano sudah di tangani oleh Reno, Reno membawa Fano ke kantin kampus mengajaknya makanan dan membiarkan yang lainnya fokus pada kuliahnya.


Sesampainya di kelas Raina dam teman temannya melihat surat di atas meja mereka masing masing lalu membukanya.


"Kemping,"ucap Zara.


"Kalian ikut,"tanya Aisyah.


"Gak ah pasti banyak kuntinya,"jawab Lala.


Lala sejak dulu paling malas mengikuti acara kemping ia berusaha sebisa mungkin menghindari acara tersebut dengan segala cara.


"Pokonya kita harus ikut,"ucap Raina tegas.


"Rainaaa,"ucap Lala memelas.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.......


__ADS_2