SENIOR

SENIOR
Khawatir


__ADS_3

Fathan sama Fano nyusulin Zara dan Raina trs nanti zara gemes kesel greget gara gara Fathan cuma ngomelin Fahira


Zara yang baru saja selesai membuat segelas teh hangat untuk Raina dibuat heran dengan kedatangan Fathan yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu.


"Loh kok cepet banget, jangan bilang lo lepasin dia gitu aja ya kak." Zara menatap Fathan dan Fano dengan tatapan menyelidik.


Fathan menatap Raina khawatir ia berjalan mendekati Raina tanpa menyauti ucapan Zara.


"Mana yang sakit, bilang sama aku. Maaf ya aku gak bisa jagain kamu," ucap Fathan dengan cemas.


Raina tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ia menarik tangan Fathan kemudian mengusap punggung Fathan lembut berusaha membuat kekhawatiran Fathan pada dirinya.


"Aku gapapa kok jangan tegang gitu lah mukanya jelek tau," ucap Raina mencubit gemas pipi Fathan.


Zara yang mendengar ucapan Raina pun merasa tidak terima karena jelas-jelas beberapa menit yang lalu dirinya baru saja selesai mengobati kaki Raina yang lecet.


"Apa-apaan nih. Lo gak ngehargain apa yang gw lakuin sama kaki lo barusan ya Raina. Itu kaki lo lecet dan lo bilang gapapa, andai aja lo bukan sahabat gw mungkin udah gw jitak 1000 kali tuh kepala," protes Zara sambil menunjuk pergelangan kaki Raina yang luka.


Mendengar ucapan Zara, Farhan pun menolehkan kepalanya pada kaki Raina dan benar saja kaki Raina lecet.


"Kamu bohong sama aku, udah diobatin?" ucap Fathan dengan lembut.


"Pacar lo budek Rain. Jelas-jelas baru aja gw bilang kalo gw yang ngobatin lo, tapi dia nanya lagi," omel Zara sambil meletakkan gelas berisi teh hangat di atas meja.


"Kak Zala ngomel-ngomel telus nih, Pano jadi selem liatnya," ucap Fano.


"Abisan pada ngeselin sih. Oh iya tadi gimana Fano, cewe gila tadi udah dikasih pelajaran belum," tanya Zara penasaran.


Fano terlihat kebingungan dengan ragu ia menggelengkan kepalanya.


"Kok bisa sih. Tau gitu tadi gw aja yang disana biar gw kasih pelajaran tuh cewe gila padahal dari kemaren gw nahan banget loh. Ah lo gimana sih kak, ini pacar lo yang mau dicelakain loh sama dia, kenapa lo biarin gitu aja sih. Dia masih disana kan? Biar gw hajar tuh orang!" Zara melangkahkan kakinya menuju pintu namun sebelum ia membuka pintunya Raina terlebih dahulu melarang Zara.


"Zara! Silahkan buka pintunya, tapi kalo lo buka pintunya jangan anggep gw sahabat lo lagi," ucap Raina.


Zara mendelikkan matanya saat mendengar ucapan Raina, kemudian dengan perlahan ia membalikkan tubuhnya menghadap Raina.


"Fano tolong bukain pintunya doang," pinta Zara tersenyum pada Fano.


"Oke boss." Fano berjalan mendekati pintu dengan santai ia membuka pintu dan tak menyadari Raina yang sudah memelototi dirinya sedari tadi.


"Makasih Fano love you. Oh iya jangan larang-larang gw soal cewe gila itu. Lo gak tau kan gw gemes banget sama dia dari semalem karena dia udah fitnah gw dan sekarang lo tau kan dia mau jahatin lo. Masih mau larang gw juga? Terserah lo mau anggep gw temen apa engga yang jelas gw udah gemes banget pengen ngasih dia hadiah." Setelah selesai berbicara Zara pergi meninggalkan kamar Raina membuat Raina hanya menghela nafas pasrahnya, ia sangat paham watak keras kepala Zara jadi percuma saja ia terus menerus menahan Zara.


"Kak kamu susul Zara sana, aku takutnya dia kenapa napa disana," pinta Raina.


Fathan menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia masih sangat khawatir dengan keadaan Raina.


"Gak ah. Lagian kan dia teralu keras kepala dan dia juga yang maksa buat kesana lagi. Jadi gak ada urusannya sama kita," ucap Fathan dengan malas.


"Kak kok gitu sih ngomongnya, kalo ada hal buruk menimpa Zara gimana. Aku gak mau tau kamu harus susul Zara dan awasin dia terus," paksa Raina.


"Oke-oke. Zara tetap ada yang awasin tapi bukan aku yang nyusul, aku mau nyuruh Rama aja buat nyusul Zara, puas kan?" ucap Fathan mengeluarkan ponselnya dari saku jaket kemudian menghubungi Rama.


Raina mengerutkan dahinya ketika Fathan selesai menghubungi Rama.


"Kenapa gak kamu aja sih. Kamu kan udah tau tempatnya, kalo kak Rama yang jalan nanti dia nyasar kemana-mana lagi," protes Raina.


"Intinya Zara udah ada yang nemenin. Kamu minum aja nih teh angetnya terus istirahat jangan mikirin yang macem-macem," ucap Fathan meraih gelas berisi teh hangat yang berada di meja kemudian memberikannya pada Raina.


Fano selesai mengganti pakaiannya yang kotor akibat tanah merah, ia berjalan menuju kasur kemudian merangkak menaiki kasur.


"Kak Patan gak asik nih halusnya tadi kita cebulin kakak jahat itu ke danau. Soalnya tadi kakak jahat mau cebulin kak Laina juga untung ada Pano sama Cila disana," protes Fano.


"Fano gak boleh dendaman jadi orang. Kak Raina kan gapapa bahkan sekarang baik-baik aja tuh palingan cuma kaki doang yang lecet gara-gara pake heels," ucap Raina.


"Kak Laina sutttt jangan ngomong. Atulan tadi Pano bialin aja ya kak Laina nyemplung di danau telus dipatok ikan Lele bial kak Laina gak baik lagi sama olang jahat," ucap Fano dengan mata yang memicing.


Fathan terkekeh melihat Raina yang terdiam ketika dimarahi oleh Fano.


"Kasian tuh kak Rainanya mau nangis gara-gara dimarahin mulu sama Fano," ucap Fathan sambil melirikkan matanya pada Raina.


"Bialin bial kak Laina gak baik banget jadi olang. Kak Patan juga Pano kesel sama kak Patan, Pano tadi duduk di bawah pohon nontonin kak Patan sambil tepuk-tepuk tangan nunggu kak Patan jitak kepala olang jahat sampe benjol, tapi kak Patan gak jitak dia. Pano kesel tau gak huh!" ketus Fano.


"Loh kok jadi gantian akh yang dimarahin sih. Kan kasian kalo dia dijitak Fano," ucap Fathan.


"Udah yuk kita keluar aja Cila, disini gak asik. Pokoknya Pano sebel sama kalian beldua huuu. Kita aduin yuk kek kak Leno sama kak Lala bial kak Laina sama kak Patan diomelin," ajak Fano perlahan menuruni kasur sambil memalingkan wajahnya.


Fano berjalan keluar dari kamar sambil berkacak pinggang dan mulut yang sengaja ia monyongkan.


"Sepupu kamu tuh, kecil-kecil udah dendaman aja Haha," ucap Fathan.


"Dia emang begitu kak, ajaran sesat dari kak Rey biasanya tuh. Dari kecil kan dia sering banget main berduaan sama kak Rey meskipun ribut terus," ucap Raina.


"Oh iya kak, tadi ngapain aja disana? Fahiranya gimana?" tanya Raina.


Fathan terdiam sejenak mengingat apa yang terjadi saat itu. Ia teringat dengan ucapan Fahira yang sangat membenci Raina.


"Gak ada, aku cuma marahin dia aja," ucap Fathan tersenyum.


"Kayanya Fahira benci banget ya sama aku. Terus tadi dia bilang sama aku katanya kamu nyuekin dia ya dan lebih milih ngurusin acaranya Lala sama bang Reno," ucap Raina sambil meminum teh hangat.


"Ya begitulah. Tapi dia gak ada hak buat marah atau pun benci sama kamu karena kan semuanya aku lakuin emang atas kemauan aku sendiri bukan dipaksa sama kamu," saut Fathan.


"Terus pas tau itu apa yang kamu rasain?" tanya Raina.


"Kesal lah. Aku gak nyangka aja dia bisa berfikiran kaya gitu bahkan sampe nekat buat nyelakain kamu. Tadi aku kasih dia peringatan terakhir kalo dia jahatin kamu lagi, aku yang bakalan bales langsung apa yang dia lakuin ke kamu. Kamu tau gak apa alasan aku ngebiarin dia pergi gitu aja, padahal kalo dibilang emosi aku emosi banget andai dia cowo udah aku kasih pelajaran dia. Tapi nyatanya aku gak bisa karena aku masih ngehargain dia sebagai sahabat aku, mau gimana pun kan dia masa lalu sekaligus sahabat aku dari kecil. Aku minta maaf ya lagi-lagi aku gagal ngejaga kamu." Fathan menatap lekat mata Raina, ia merasa amat sangat bersalah membiarkan Raina lagi-lagi hampir celaka.


***


Lala dan Reno tersenyum menyambut tamu-tamu yang baru saja berdatangan. Mereka sama sekali belum mengetahui kejadian yang menimpa Raina.


Lala melirik sekitar mencari keberadaan sahabatnya namun tak ada satu pun yang ia temukan disana.


"Kak Reno yang lainnya pada kemana ya, kok mereka gak keliatan sih," tanya Lala penasaran.


Reno ikut melirik sekitaran kemudian menghela nafasnya.


"Mana aku tau La. Aku kan disini bareng kamu, jadi kalo kamu gak tau berarti aku gak tau juga," saut Reno.


"Ih nyebelin banget sih. Lala kan nanya, kali aja gitu kak Reno tau mereka kemana biasanya kan mereka kasih tau dulu tuh kalo mau kemana-mana," ucap Lala.


Wina yang sebelumnya berpamitan ke toilet kini kembali menuju pelaminan dengan membawa bayi.


"Loh ini dede bayi kok sama Mama yang lainnya kemana," tanya Lala.


"Rey sama Ais lagi makan. Rama dipanggil sama Fathan jadinya si bayi ganteng ini mama comot dulu deh kan kasian sendirian di kamar mendingan Mama bawa kesini," jawab Wina.

__ADS_1


"Unch lucu banget sih, tapi ini bayi namanya siapa sih Lala lupa terus mau nanya ke Cila," tanya Lala.


"Katanya Cila sih namanya Vico tapi kepanjangannya gak tau siapa soalnya mama lupa nanya," jawab Wina.


"Wahhh namanya bagus baby vico, kayanya habis ini vico kita aja yang urus ya kak itung-itung ngurangin kerjaan mama Wina," pinta Lala.


"Terserah kamu aja, aku ikut aja La," pasrah Reno.


***


Zara mengembangkan senyumnya saat melihat Fahira yang masih berada disana. Tanpa banyak berfikir Zara pun berlarian kecil menghampiri Fahira yang sedang duduk sambil membersihkan bajunya.


"Heh cewe gila. Lo bener-bener jahat ya, tega banget lo celakain Raina. Inget ya urusan kita belum kelar, maksud lo apa tadi nyuruh pelayan buat siram gw pake minuman yang dia bawa!" teriak Zara.


Posisi Fahira yang memunggu Zara membuat Fahira terlebih dahulu mengusap air matanya, kemudian ia membalikkan tubuhnya menatap Zara dengan tatapan menantangnya.


"Terus sekarang mau lo apa?" tanya Fahira dengan santai.


"Gw mau lo rasain apa yang lo buat." Zara menyiram Fahira dengan segelas air es yang sengaja ia bawa untuk menyiram Fahira.


Fahira terdiam sambil menundukkan kepalanya menatap air es yang mengalir membasahi rambutnya.


"Puas lo!" bentak Fahira.


"Tentu aja belom. Gw pernah bilang kan, gw bakal patahin tangan lo kalo lo ingkar janji. Lo gak lupa kan apa yang lo lakuin kemarin sama gw sampe buat gw ribut sama orang lain," ucap Zara.


Fahira tersenyum miring, ia menengadahkan kepalanya menatap Zara dengan tatapan meremehkan.


"Merekanya aja yang bodoh bisa percaya gitu aja sama gw dibandingkan lo. Gw curiga deh kayanya lo gak dianggep sama mereka makanya mereka gak percaya sama lo. Kasian banget sih Haha." Tawa Fahira berhasil membuat emosi Zara naik.


Zara mengangkat tangannya berniat menampar Fahira namun tangannya ditahan terlebih dahulu oleh Farhan hingga membuatnya tidak bisa bergerak.


"Lepas tangan gw," ucap Zara dengan nada dinginnya.


Farhan melepaskan tangan Zara kemudian menatap keduanya secara bergantian.


"Kalian kenapa sih kerjaannya ribut terus. Kalian lupa ini acara sakral. Kalian mau buat acara mereka hancur, apa yang kalian ributin sebenarnya? Masih soal kemarin," ucap Farhan.


Fahira enggan mengeluarkan suaranya karena ia merasa gak ada gunanya membela diri juga karena Fathan sudah tau apa yang ia lakukan.


Zara terdiam membiarkan Fahira berbicara terlebih dahulu karena ia ingin mendengar kebohongan apalagi yang akan ia katakan. Namun setelah beberapa menit menunggu Fahira sama sekali tidak mengeluarkan suaranya bahkan tanda-tanda ia akan berbicara saja tidak ada.


"Kenapa kalian berdua diam, coba jelasin ada apa sebenarnya, kenapa kalian bisa ribut disini," tegur Farhan.


Zara mendelikkan matanya sebal, ia melirik sinis Fahira.


"Lo gak mau membela diri? Gw persilahkan tuh. Gw mau denger alesan apa lagi yang lo pake buat bohongin orang," ucap Zara.


"Percuma gw jelasin juga pasti lo gak akan percaya dan lebih percaya sama biangnya jin ini, udah lah gw sumpek ada disini mending gw pergi." Zara memutar balik tubuhnya berniat pergi meninggalkan mereka namun tangannya ditahan oleh Farhan hingga membuatnya terpaksa menghentikan langkahnya.


"Apa!" ketus Zara tanpa memutar balik tubuhnya.


"Ngomong buruan," pinta Farhan.


"Gak! Lo minta aja sama biang jin kesayangan lo itu atau gak lo tanya sama kak Fathan dia tau kok biang jin ini tadi bikin masalah apa," ucap Zara dengan malas.


Rama dari kejauhan melihat tiga orang yang sedang berbicara pun segera menghampirinya.


"Semoga aja bener mereka dan bukan dedemit, kan serem gw udah ganteng begini tiba-tiba ketemu mereka," gumam Rama.


"Alhamdulillah ya Allah ternyata bener kalian bertiga bukan hantu penunggu pohon," ucap Rama dengan heboh.


"Kalian ngapain disini bertiga-tigaan. Zar gw disuruh Fathan kesini buat nemenin lo katanya, emangnya lo ngapain sih segala ditemenin, padahal gw lagi ngurusin baby piko loh di kamarnya," ucap Rama dengan penasaran.


"Tadinya gw kesini mau ngasih hadiah ke cewe gak tau diri, tapi tiba-tiba aja pangerannya dateng belain dia, ya udah gak jadi deh keburu gak mood gw," sindir Lala melirik keduanya bergantian dengan sinis.


Rama menggaruk kepalanya yang tidak gatal berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Zara tetapi otaknya tak sampai mencerna apa yang dikatakan oleh Zara.


"Maksudnya apaan si Zar, gw gak paham," tanya Rama.


"Nanti gw ceritain, kita pergi aja sekarang dari sini gw males liat manusia drama disini," sindir Zara.


Zara menepis tangan Farhan yang masih menggenggam tangannya namun lagi-lagi ditahan oleh Farhan.


"Sindir-sindir terus dari tadi, kamu aja gak jelasin apa-apa gimana saya mau nilai mana yang bener. Jelasin dulu baru saya lepas," tegas Farhan.


"Udahlah Han biarin aja dia pergi, cewe bar-bar kaya gitu masih aja ditahan yang ada nanti tangan kamu dipukul sama dia," ucap Fahira.


Perkataan Fahira berhasil membuat emosi Zara yang sebelumnya mereda kembali naik.


"Dari tadk gw udah tahan-tahan ya, tapi lo nantangin gw emang dasar cewe gila, gak tau diri. Diocehin doang gak akan kapok manusia kaya lo," omel Zara.


Zara mengepalkan tangannya dengan gemas ia menarik rambut Fahira, ini pertama kalinya ia ribut dengan orang menggunakan metode jambak-jambakan karena sebelumnya ia selalu memelintir tangan lawannya.


Melihat Zara yang menjambak rambut Fahira membuat Rama dan Farhan panik dan berusaha memisahkan keduanya.


"Lepas cewe bar-bar, sakit rambut gw," teriak Fahira.


"Gak! Lo nantangin gw terus dari tadi ko nikmatin aja semuanya," tolak Zara.


Fahira yang tidak terima pun ikut menjambak rambut Zara hingga kini keduanya saling menjambak satu sama lain. Kedua laki-laki yang berusaha memisahkan mereka dibuat kewalahan menghadapi mereka.


Rama menatap Farhan kesal karena Farhan ikut menarik Zara padahal Rama terlebih dahulu menarik Zara karena posisinya dengan Zara yang dekat.


"Han lo pegang yang atu nya dong jangan pegang si Zara juga kalo kaya gini caranya gak bakalan kepisah mereka," teriak Rama.


"Lo aja gw udah telanjur males pindah-pindah," tolak Farhan.


"Ih oneng banget kembarannya si Fathan, sana buruan ah pindah gw kejauhan kudu muter-muter. Lagian ini cewe kalo ribut suka banget jambak-jambakan heran gw, kalo botak kan gak lucu," oceh Rama.


Melihat Farhan yang tidak pindah-pindah membuat Rama mendengus sebal kemudian dengan terpaksa ia mengalah berpindah tempat menjadi di samping Fahira. Benar saja kekhawatiran di dalam batinnya sejak awal mula pertengkaran mereka terjadi, kini Rama ikut kena imbasnya rambutnya ditarik oleh Fahira dan Zara.


"Woii sakittt! Lepas woi! Lo ribut berdua kenapa jadi gw yang kena," teriak Rama.


"Makanya lo minggir kalo gak mau ikut kena, biarin gw botakin rambut cewe gila ini," ucap Zara.


Raka dan Shasha yang sebelumnya sempat dikirimi pesan oleh Rama kini sedang mencari keberadaan Rama tetapi mereka dibuat kaget saat melihat Zara yang sedang ribut dengan Fahira. Dengan cepat keduanya berlarian untuk berusaha memisahkan keduanya.


"Zar udah, kita bisa omongin baik-baik jangan kaya gini. Ya ampun serem banget sih, gw ngeri kena jambak juga jadinya. Kak Raka buruan bantuin itu pisahin mereka," teriak Shasha sambil menutup kedua telinganya bergedik ngeri melihat kearah mereka.


Raka melihat aksi jambak-jambakan tersebut dibuat bergedik ngeri saat melihat wajah Rama yang memerah karena menahan sakit akibat kena sasaran.


"Agak ngeri Sha liat tuh si Rama abis kena jambakan mereka. Beneran nih lo nyuruh gw ikut bantuin mereka?" ucap Raka dengan ragu.


Fano dan Cila sedari tadi menonton dari balik pohon, mereka sengaja mengikuti Zara karena mulanya dari Fano yang penasaran dengan apa yang akan Zara lakukan.

__ADS_1


"Fano ngeri banget ya Cila jadi takut, kita panggil mama Wina sama papa Gio aja yuk," bisik Cila.


Fano menggelengkan kepalanya melarang Cila untuk tidak melaporkannya pada Wina dan Gio.


"Jangan! Nanti kita semua dijewel sama mama Wina, kamu mau dijewel sama mama Wina. Sakit tau lasanya," ucap Fano.


Fano keluar dari persembunyiannya mendekati mereka kemudian bersorak-sorak.


"Ayoo kak Zala, telus jambak sampe botak gundul. Jangan kasih ampun. Pano dukung kak Lala," teriak Fano sambil bertepuk tangan.


"Eh Fano kok ada disini juga, sini Fano sama aku aja jangan deket-deket, nanti kamu kena jambak juga," ucap Shasha menarik Fano dan Cila agar sedikit menjauh dari mereka.


"Iya dong, Pano dali tadi ngumpet dibalik pohon sebelum kak Lama dateng Pano udah ada disana sama Cila Hehe," ucap Fano sambil tertawa.


Raka tidak tega melihat Rama yang sepertinya sangat tersiksa berada diantara dua macan betina yang sedang mengamuk, ia pun berniat membantu memisahkan mereka.


"Gitu dong dari tadi bukannya bantuin malah liatin doang. Mendingan Fano kasih support lah lu liatin doang gak enak banget gw liatnya dari sini," ucap Rama.


"Lo diem dulu deh gak usah nyerocos terus kaya mercon. Mau dibantuin gak lo? Lagian bisa-bisanya sih lo ikut kena jambak sama dia berdua," omel Raka.


Raka dan Farhan berusaha menarik keduanya hingga akhirnya berhasil. Shasha menghembuskan nafas leganya saat Zara berhasil dipisahkan dari Fahira.


"Zar lo kenapa sih ribut kaya gitu sama dia. Sayang tau rambut lo jadi berantakan kaya gini," ucap Shasha sambil merapikan rambut Zara yang berantakan.


Shasha mengambil tissu basah yang berada di dalam tasnya kemudian ia usapkan di wajah Zara yang terkena tanah merah.


"Sok jagoan banget kamu ya, liat siapa yang rugi. Kamu sendirikan, liat tuh Rama yang kena jambak juga gara-gara misahin kalian. Liat tangan saya yang kena gigit dan cakar kamu," omel Farhan.


"Gw gak nyuruh lo buat misahin gw sama dia. Itu urusan lo salah sendiri lo pegang-pegang tangan gw," ketus Zara.


"Kak Zala hebat Pano bangga sama kak Zala." Fano memeluk Zara sambil memberikan pujian untuk Zara.


"Apanya yang hebat, hebat nyelakain orang sih iya," ucap Farhan.


"Kak Zala hebat kaya powel lenjel pink yang bisa membasmi kejahatan. Huaaa Pano ngepens belat sama kak Zala," heboh Fano.


"Norak banget si Fano, orang berantem dia malah kesenengan," gumam Cila.


Rama dan Raka membawa Fahira mendekat pada Zara namun tidak teralu dekat karena mereka takut nanti keduanya kembali ribut.


"Kalian berdua tuh ributin apa sih?" tanya Raka.


"Kayanya nih dua cewe rebutan si Han deh, soalnya gw dateng tiba-tiba aja dia berdua ribut terus jambak-jambakan," ucap Rama dengan nafas yang terengah-engah.


Zara membelalakan matanya saat mendengar ucapan Rama, ia tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Rama.


"Jangan sembarang lo kalo ngomong, gw pukul lo ya!" ketus Zara.


"Iya bang iya, serem amat sih macan betina kalo ngamuk," gumam Rama.


"Zara coba jelasin ya sama kita sebenernya ada apa, kenapa kalian bisa berantem kaya gini," ucap Shasha dengan lembut berusaha sehati-hati mungkin saat berbicara dengan Zara.


Zara menghela nafas gusarnya, ia memutuskan untuk menceritakan apa yang membuatnya kesal pada Fahira.


"Oke gw cerita. Jadi masalah gw sama cewe gila ini bukan sekarang aja tapi dari kemarin, lo sama kak Raka gak ada disini kemarin. Jadi kemarin tuh gw gak sengaja liat dia lagi ngerusakin beberapa properti yang dipake buat acara resepsinya Lala. Soal itu lewatin aja lo bisa tanya nanti sama yang lain. Semenjak kejadian itu gw ngawasin dia terus dan tadi dia nyogok pelayan buat nyiram gw pake air es tapi ternyata dia salah bayar orang dan yang dia bayar itu temen gw. Nah sekarang dia buat ulah lagi dia mau celakain Raina dia hampir aja mau nyeburin Raina ke danau, lo bayangin aja deh ke danau kalo Raina kenapa napa gimana apa lagi Raina gak bisa berenang. Dan bodohnya lagi kak Fathan cuma marahin dia aja harusnya tuh kak Fathan lakuin hal yang sama apa yang mau dia lakuin ke Raina." Penjelasan Zara membuat semuanya tercengang, mereka menatap Fahira dengan tatapan yang berbeda-beda.


Farhan yang mendengar hal tersebut merasa kecewa pada Fahira padahal kemarin ia sudah membela Fahira mati-matian di depan semua orang karena ia percaya Fahira tidak salah.


"Fahira aku gak nyangka kamu sekarang kaya gini," ucap Farhan.


"Sekarang kalian udah dengerkan dan terserah kalian mah percaya apa engga. Gw mau balik baju gw udah kotor banget," ucap Zara beranjak dari duduknya.


"Pano ikuttttt. Tapi bentar dulu ya," ucap Fano berjalan mendekati Fahira.


"Emang enak ketahuan wle. Dasal nenek gelandong jahat. Pano sumpahin kecebul got. Bye!" ledek Fano.


"Kita pergi juga deh, ngapain juga kita disini serem wehhh pohon-pohon mulu ngeri ada kunti ishhh seremmm," ucap Rama bergedik ngeri mengedarkan pandangannya pada pohon-pohon disekitar.


"Ayo Raka kita juga pergi kasian Zara sendirian pasti dia butuh temen," ajak Shasha menarik tangan Raka.


Mereka semua pergi meninggalkan tempat tersebut dan menyisakan Farhan dan Fahira disana.


"Aku gak tau jalan fikiran kamu Hira, kamu kan tau Fathan sayang banget sama Raina kenapa kamu lakuin hal gak baik itu," ucap Farhan dengan gusar.


"Itu semua karena aku gak rela liat Fathan sama dia Han. Kamu gak tau sih sakitnya diposisi aku. Semenjak Raina hadir di hidupnya Fathan semua berubah. Fathan lebih mengutamakan segala hal tentang dia bahkan aku cuma ajak Fathan makan bareng bertiga aja dia gak mau." Fahira meluapkan segala rasa kesal yang ada di dalam hatinya, air mata mengalir deras di pipinya.


"Tapi semua yang kamu lakuin itu salah. Coba kamu fikir lagi deh, apa kamu fikir dengan lakuin hal tersebut bisa buat Fathan jadi kaya dulu lagi? Aku yakin gak Hira," ucap Farhan.


"Percuma aku ngomong sama kamu karena semua orang cuma ngerti keadaannya Raina doang mereka gak ngerti perasaan aku. Bahkan sekarang kamu ikut nyalahin aku, dimana Farhan yang selalu ada buat aku, Farhan yang selalu bela aku meskipun dia tau kalo aku salah. Kalian berdua berubah semenjak kenal dia. Gw benci sama Raina!" Perkataan Fahira membuat Farhan kebingungan, ia tidak mungkin membela Fahira yang jelas-jelas salah dan sudah bertidak kelewat batas pada Raina.


Farhan menarik nafasnya kemudian ia keluarkan perlahan supaya dirinya tenang.


"Maaf Hira kali ini aku gak bisa jadi Farhan yang dulu lagi. Apa yang kamu lakuin bener-bener keterlaluan bahkan aku udah nuduh orang yang gak salah karena ngebelain kamu. Aku kecewa sama sikap kamu sekarang Hira. Aku harap kamu bisa intropeksi diri kamu dan sadar sama apa yang kamu buat itu salah." Farhan memutar tubuhnya melangkahkan kaki meninggalkan Fahira sendirian disana.


Farhan mengacak rambutnya frustasi, ia merutuki kebodohannya sendiri karena sudah membela orang yang salah dan menghakimi orang yang benar.


"Pasti dia marah banget sama gw sekarang. Gw gak tau abis ini mau ngomong apa sama dia. Kenapa juga sih harus dia," gerutu Farhan.


***


Aldo yang baru saja datang, ia tersenyum pada Lala kemudian memberikan selamat pada Lala.


"Lala si biang rusuh tiba-tiba nikah, jadi istri yang berbakti sama suami ya jangan ngelawan suami. Maaf ya gw telat dan gak bisa nyaksiin live akadnya tapi tadi gw nonton sih di ig nya Raina Hehe," ucap Aldo.


Aldo menggeser sedikit ke arah Reno memberikan ucapan selamat pada Reno, ia melirik sekitar mencari keberadaan Raina.


"Sepi amat, Raina mana?" tanya Aldo.


"Mata lo kotok ya, rame begini dibilang sepi," saut Lala.


Aldo menepuk dahinya kemudia tertawa.


"Maksud gw sepi gak ada yang gw kenal selain kalian, Raina mana dari awal gw sampe kayanya gw gak liat dia," tanya Aldo.


"Nanyainnya Raina doang lo mah, gw aduin kak Fathan nih ya biar ditonjok sampe muka lo warna-warni. Dari tadi gw gak liat mereka, gw aja yang dari pagi disini kebingungan dan gak tau mereka semua ada dimana apa lagi lo. Jadi jangan tanya gw ya dan jangan tanya kak Reno. Lo keliling aja sana cari-cari mereka kali aja ada di bawah kolong meja lagi menikmati kuliner kondangan," ucap Lala asal.


"Yaudah deh gw kesana dulu ya nyari Raina sama yang lainnya. Bye bye penganten baru, pesen gw cuma tolong buatin ponakan yang cakep ya," pamit Aldo.


Mendengar ucapan Aldo membuat Lala mengernyitkan wajahnya menatap Aldo kesal. Andai saja ini bukan hari pernikahannya mungkin kepala Aldo kini sudah menjadi sasaran empuk dari lemparan sendalnya.


"Awas aja ya nanti kalo dia nikah acaranya bakalan Lala buat heboh sama dangdutan," ucap Lala.


Bersambung ....


Jangan lupa like, komen dan sarannya yaaa gais. Kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar kok semoga bisa lebih baik lagi episode ke depannya ya.

__ADS_1


Sekian dan terima kasih.


__ADS_2