SENIOR

SENIOR
Ular


__ADS_3

Panitia mengumpulkan semua wisatawan yang mendaftarkan diri mereka untuk mengikuti game yang mereka adakan.


Game yang mereka adakan adalah game yang tidak asing bagi banyak orang karena game ini selalu ada disetiap acara kamping. Para peserta dianjurkan untuk mengumpulkan bendera yang panitia letakkan di tempat-tempat tertentu dengan sebanyak-banyaknya minimal peserta harus mengumpulkan 8 bendera dan nantinya para peserta akan diberi arahan berupa arah panah yang akan memberi mereka petunjuk harus jalan ke arah mana. Peserta juga di berikan peta yang berisi petunjuk titik dimana panitia meletakkan bendera.


Setelah panitia selesai menjelaskan peraturan dan tata cara mengikuti game. Para peserta lomba mulai berpencar.


Fathan dan Raina masih pada tempat sebelumnya. Mereka sepakat untuk melihat peta terlebih dahulu supaya nantinya tidak makan waktu dan tidak berlama-lama di dalam hutan.


"Kita ke arah sini dulu ya yang lebih deket," ucap Fathan.


Raina yang masih fokus melihat peta tidak merespon apa yang Fathan katakan hingga membuat Fathan geram.


"Kamu dengerin aku gak?" tanya Fathan.


"Denger kok, cuma ini loh aku lagi liat petanya. Aku gak setuju sama kamu. Mendingan kita kesini dulu, liat tuh titik penempatan benderanya banyak banget, pasti kita langsung menang kalo kita kesini duluan dan kita gak lama-lama di dalam hutan kak," ucap Raina sambil menunjuk titik lokasi pada peta yang ia maksud.


"Jangan kesini sayang, aku yakin semua peserta pasti ngincer lokasi ini dan pasti bakal rebutan. Lokasinya juga jauh banget dari posisi kita sekarang. Mending kita kesini dulu, ini deket banget dari lokasi kita loh," ucap Fathan sambil menunjuk titik lokasi yang ingin ia datangi terlebih dahulu.


"Tapi itu banyak banget loh benderanya, kalo kita bisa dapetin semua bendera itu pasti kita bakalan menang dan keluar dari hutannya juga cepat." Raina masih bersikeras mempertahankan pendapatnya, kali ini ia tidak mau mengalah.


Fathan menatap Raina gusar, ia melirik sekitarnya yang sudah tidak ada peserta yang masih di titik kumpul. Penonton di sekitar mereka menatap keduanya dengan tatapan heran.


"Yaudah kalo kaya gini terus kita gak jalan-jalan sampe yang lainnya balik lagi kesini," saut Fathan dengan santai.


"Yaudah ayo. Dasar cowo gak mau ngalah, awas aja kalo kalah, aku gak mau ngomong sama kamu 1 bulan ya kak," ucap Raina dengan sebal.


Raina bersidekap mengalihkan pandangannya ke segala arah. Ia kesal dengan Fathan yang tidak mau mendengarkannya. Ia menghentakkan kakinya berjalan mendahului Fathan.


Fathan hanya menggelengkan kepalanya sambil mengusap wajahnya dengan gusar. Ia berlarian kecil menyusul Raina.


"Buruan kak Fathan, lama banget nih," ketus Raina.


"Kamu jalannya kaya kuda sih cepet banget," saut Fathan.


"Udah ngeyel sekarang malah ngatain aku kuda nyebelin banget sih," omel Raina.


"Pacar aku yang paling cantik tapi gak sedunia kenapa sih dari tadi ngomel terus. Aku yakin kita pasti menang asal kamu jangan ngomel-ngomel terus, aku takut benderanya nanti ngumpet gara-gara takut liat kamu yang mukanya galak begini," ucap Fathan sambil mencubit gemas pipi Raina.


Fathan melihat Genta dari kejauhan, ia mendelikkan matanya sebal saat mendapati Genta yang berjalan ke arahnya. Rasanya ingin sekali ia putar balik untuk menghindari Genta.


"Hadeh, Belalang sembah dateng lagi. Kenapa harus ada dia sih disini padahal gw udah ambil jalan yang kemungkinan jarang diambil sama peserta lainnya," gerutu Fathan.


"Haloooo Raina istri masa depan aku, kenapa kita bisa pas banget ketemu lagi ya. Wah kayanya kita jodoh deh, harusnya kamu pasangannya sama aku bukan sama si muka asem, kita tukeran aja yuk Fathan sebentar doang kok," ucap Genta tanpa jeda.


Raina menghentikan langkahnya kemudian memberikan senyuman pada Genta hanya sekedar untuk membalas sapaan dari Genta.


"Mau ngapain lo kesini! Kerjain aja misi masing-masing gak usah kesini," ketus Fathan.


"Gak usah galak-galak nanti mukanya makin asem kasian Raina nanti dikira pacaran sama sayur asem. Sayur asem aja rasanya enak dan gak seasem muka lo. Pasti keluarga sayur asem gak suka deh di sama-samain sama lo," ucap Genta.


Fathan menarik tangan Raina untuk menjauh dari Genta karena kalau ia tetap berada disana dan terus-terusan untuk meladeni Genta bisa-bisa ancaman Raina yang akan mendiamkan dirinya selama 1 bulan akan benar-benar terjadi dan Fathan tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi hanya karena hal yang tidak penting seperti ocehan Genta.


"Fathan! Raina! Tungguin gw woi. Ini orang gak sopan banget, orang belom selesai ngomong udah kabur aja," oceh Genta.

__ADS_1


Genta berlarian bersama dengan teman yang ia jadikan pasangannya menyusul Raina dan Fathan.


Menyadari Genta yang masih mengikutinya membuat Fathan semakin kesal. Ia memungut daun-daun yang berserakkan kemudian menatap Genta dengan tatapan tak bersahabatnya.


"Lo ngapain sih ngikutin terus! Sana pergi gak usah ngekorin gw sama Raina terus. Dasar belalang sembah pengganggu," omel Fathan sambil melempari Genta dengan daun-daun kering yang sengaja ia pungut dari bawah.


"Eh Fathan muka asem. Suka-suka gw dong mau kemana aja, ini kan hutan punya Tuhan Yang Maha Esa bukan punya Fathan si muka asem. Lagi pula kan jalanannya cuma ini doang. Pacar kamu ini sensian banget sama aku Raina, kayanya dia takut kesaing deh sama ketampanan dan keglowingan aku. Buru-buru deh kamu sadar ya kalo jodoh masa depan kamu itu aku," ucap Genta.


"Lo ngomong lagi gw bikin penyok-penyok muka lo ya! Udah deh sana pergi lo dari sini, males banget gw liat muka lo," ketus Fathan.


"Santai aja dong Fathan, tenang-tenang gw bakalan pergi kok, gak usah kesel gitu mukanya ya." Genta menepuk-nepuk kedua pipi Fathan yang langsung di tepis oleh Fathan.


Fathan mengedarkan pandangannya di sekitar hutan, tidak sengaja ia melihat kalung yang dipakai oleh teman perempuan Genta yang bermotif laba-laba. Kalung tersebut mengingatkannya dengan kejadian beberapa tahun yang lalu ketika Genta menjerit-jerit histeris hanya karena melihat laba-laba. Hingga akhirnya kini Fathan berniat menggunakan cara tersebut untuk mengusir penganggu yang tidak diundang olehnya itu.


"Sana pergi lo! Atau gw bakal cari laba-laba terus gw lempar ke lo, mau? Disini banyak laba-laba loh. Malahan laba-labanya pada gede-gede semua, mungkin gedenya 10 kali lipat dari laba-laba pas di kantin sekolah yang ngebuat lo ngejerit-jerit itu Haha." Fathan terkekeh geli mengingat bagaimana ekspresi wajah Genta yang ketakutan saat itu.


Wajah Genta mendadak pucat saat mendengar kata Laba-laba. Ia menggelengkan kepalanya. Sejak kecil Genta memang sangat takut pada laba-laba.


Genta mengajak teman perempuannya pergi dari sana karena ia tidak mau membuat keributan. Sejujurnya ia sengaja menghampiri Fathan dan Raina hanya untuk menggoda Fathan entah mengapa ia senang sekali melihat Fathan yang terus-terusan kesal dan marah-marah padanya.


Fathan menghela nafas leganya saat melihat Genta yang benar-benar pergi bersama temannya. Ada gunanya juga ia waktu itu ke kantin jadi ia tahu kalau seorang Genta yang terkenal rusuh, bandel dan playboynya takut pada laba-laba. Hingga ia bisa menggunakan cara tersebut untuk mengancam Genta.


"Kak Genta takut sama laba-laba?" tanya Raina.


Fathan tertawa sambil menganggukkan kepalanya dengan mata yang masih terfokus menatap ke arah jalannya Genta dan teman perempuannya.


"Parah banget sih kamu, kasian tau mukanya kak Genta sampe pucet begitu. Nanti kalo kebawa sampe mimpi gimana," tegur Raina.


"Biarin aja. Ngapain kamu kasian sama belalang sembah itu. Kamu gak kasian sama pacar kamu yang dari tadi terpaksa harus dengerin ocehan gak penting dia," saut Fathan.


"Yaudah sana kejar si Genta yang katanya glowing padahal nyatanya engga sama sekali. Gak usah pacaran sama aku," ketus Fathan.


Raina menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia tersenyum menatap Fathan yang terlihat sangat kesal.


"Gak mau. Aku sukanya sama yang mukanya asem kaya kamu Hehe. Aku gak suka yang glowing," saut Raina.


***


Lala dan Reno berjalan menuju arah utara, kini mereka sudah mendapatkan 5 bendera dan mereka sedang berjalan menuju lokasi tempat dimana bendera keenam akan mereka dapatkan.


"Kak Reno kenapa di hutan banyak banget daun dan pohon-pohon kenapa gak ada perumahan di hutan," tanya Lala.


"Kalo ada perumahannya bukan hutan namanya Lala. Heran punya istri onengnya berlebihan, kira-kira anak aku nanti kaya apa ya kalo ibunya aja oneng begini," ucap Reno.


Lala mencubit gemas lengan Reno tak terima dengan ucapan Reno yang mengatakan dirinya oneng.


"Enak aja ngatain Lala oneng. Gini-gini Lala pinter tau setiap lomba 17 agustusan selalu menang. Jangan ditanya soal anak kak, pasti nanti anak kita bakalan keren banget deh karena kan Mamanya juga keren," saut Lala dengan senyum percaya dirinya.


Saat keduanya sampai di lokasi, Lala dan Reno dibuat kaget sekaligus panik saat melihat Fano dan Cila yang berada di dalam hutan dan nyaris di serang oleh ular.


"Kak Reno itu si Cila sama Fano beneran bukan sih? Mereka ngapain di hutan. Itu ada ular lagi ya ampun ... Buruan kak tolongin mereka, Lala takut nanti mereka dipatok uler!" Lala berteriak dengan heboh sambil memukul-mukul lengan Reno hingga membuat Reno kebingungan.


"Iya-iya aku tau. Kamu tenang jangan teriak-teriakan terus nanti yang ada aku bingung mau ngapain," ucap Reno.

__ADS_1


"Cila sama Fano jangan bergerak. Diem aja disitu ya," teriak Reno.


Reno melangkah mendekat pada Reno dan Cila dengan perlahan supaya ular tidak menyadari adanya pergerakkan yang ia lakukan.


"Kak Leno tolongin Pano sama Cila. Ulelnya ngikutin kita telus, kita takut," ucap Fano.


Lala menggigit jarinya menatap ke arah Fano dan Cila serta Reno dengan cemas. Ia takut Reno tidak bisa menyelamatkan Fano dan Cila dan akan membahayakan ketiga-tiganya. Lala menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencoba mencari orang lain yang akan melintas dan meminta orang tersebut untuk ikut membantu mereka.


Tepat sekali Lala melihat pasangan yang melewati jalan yang sama dengannya. Lala berlarian menghampiri orang tersebut untuk meminta bantuan.


"Mas, Mba. Bantuin Lala mau gak? Disana ada ular yang mau nyerah keluarga Lala. Lala takut banget mereka dipatok uler soalnya ada anak kecil disana," ucap Lala dengan panik.


"Tenang dulu Mbanya jangan panik begitu, saya Genta dan ini teman saya namanya Caca. Dimana ularnya kebetulan saya bisa jinakin ular," ucap Genta.


Lala mengajak Genta dan Caca untuk mengikutinya. Mereka pun berjalan mengikuti Lala kemudian Genta berlarian dengan cepat karena melihat ular nyaris mematuk kaki seorang anak perempuan.


Melihat ular dibawa pergi oleh Genta, Reno pun segera mendekati Fano dan Cila. Ia melihat tanda kartu peserta yang menempel di baju keduanya.


"Kak Reno tadi ularnya dekatin Cila. Cila takut, kita pulang aja yuk Fano, Cila kapok ikut-ikut lombanya orang gede," rengek Cila.


Setelah membuang ular sejauh mungkin, Genta pun berlarian kembali ke tempat sebelumnya. Ia kasian melihat 2 anak kecil yang nampaknya sangat ketakutan.


"Tenang kalian udah aman. Liat tuh ularnya udah aku buang jauh-jauh. Gak akan balik kesini lagi kok," ucap Genta mengembangkan senyumnya.


"Terima kasih sudah membantu saya dan 2 anak nakal ini," ucap Reno sambil mencubit gemas pipi Fano dan Cila.


"Iya sama-sama. Ini berkat mba-mba yang lagi gigit jari itu tuh yang udah ngehadang jalan gw sama temen gw. Kalo bukan gara-gara dia mungkin gw udah belok kali," ucap Genta terkekeh menatap Lala yang sedang gemetaran sambil menggigit jarinya.


"Ah iya. Sekali lagi makasih banyak kamu sudah buang ularnya sejauh mungkin dan gak ngebiarin anak nakal ini celaka," ucap Reno.


Lala berkacak pinggang berjalan menghampiri mereka dengan tatapan garangnya, ia melihat kartu peserta yang terpasang di baju keduanya hingga membuatnya semakin kesal dengan Cila dan Fano saat melihat kartu tersebut.


"Fanooo! Cilaa! Kalian ngapain disini sih, ini lagi segala ikut-ikutan lomba. Disini bahaya buat anak kecil kaya kalian. Coba tadi kalo gak ada orang gede disini pasti kalian udah jadi makan sorenya uler tadi tau gak. Tau ah pokoknya kak Lala marah sama kalian berdua jangan ngomong sama kak Lala kalian berdua," omel Lala.


"Maapin kita kak Lala. Kita gak tau kalo di dalem hutan ada ulel jahat kaya tadi. Kita kapok suel deh, yakan Cila kita kapok?" ucap Fano sambil menundukkan kepalanya.


Fathan dan Raina memicingkan matanya saat melihat Fano dan Cila disana bersama dengan Lala dan Reno. Mereka memutuskan untuk menyusul yang lainnya.


"Loh kalian ngapain disini. Ini juga si Fano sama Cila ngapain disini. Lo yang bawa ya La? Kok dibiarin sih kak Reno, harusnya jangan dibiarin Lala bawa anak-anak ke dalam hutan. Ini hutan loh bahaya buat mereka, nanti kalo mereka kenapa-kenapa gimana," omel Raina.


"Iya bener tuh kata pacar gw. Ini juga belalang sembah sama pasangannya ngapain ada disini, sengaja lo ya diem disini mau nungguin kita," ucap Fathan melirik Genta sinis.


"Nanti aja deh kita jelasinnya. Sekarang kita balik aja deh. Gak usah dilanjutin lagi ini game dari pada nanti ada uler lagi kan serem. Masih ada satu lomba lagi ini," ucap Lala menarik tangan Cila agar mengikutinya sedangkan Fano bersama dengan Reno.


"Si Fathan ini selain jelek, muka asem ternyata dia suka suudzon juga ya sama orang lain. Gw setuju sama mba ini mendingan kita balik aja lah, males juga di hutan banyak nyamuk,"ucap Genta.


"Udah-udah jangan ribut terus, kalian berdua ini ribut terus setiap ketemu bikin aku pusing tau gak sih. Kak Fathan juga ngapain sih nyari masalah bikin sebel aja," omel Raina.


Setelah mereka melewati beberapa perdebatan akhirnya mereka memutuskan untuk menyerah dan segera kembali ke tempat dimana mereka sebelumnya berkumpul.


****


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan share. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar buat jadi bahan evaluasi untuk bab selanjutnya. Maaf cerita yang aku buat belum sesuai dengan ekspetasi kalian. Terima kasih juga buat kalian yang udah support aku dengan komentar-komentar positifnya yang buat aku semangat buat ngetik terus.


Sekian dan terima kasih.


__ADS_2