SENIOR

SENIOR
0.2


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang paling ku tunggu. Jam 10 pagi kami sudah berada di kampus. Tepat di Hari Senin ini Aku, Minah, Christina, dan yang lainnya resmi menjadi mahasiswa baru. Selama dua hari ini kami akan menjalani masa ospek.


Mendengar kata ‘ospek’mengingatkanku pada topi kerucut, kertas nama, dan segala perlengkapan aneh lainnya. Jujur, aku sangat tidak menyukai kegiatan semacam itu. Menurutku, itu semua tidak ada faedahnya. Namun, aku sangat senang karena ospek di sini benar-benar berbeda. Kami hanya berkumpul di aula dan diberi penjelasan serta pengenalan tentang segala hal yang berkaitan dengan kampus. Menyenangkan bukan? Aku tidak perlu lagi khawatir bertemu orang banyak, kemudian disuruh yang aneh-aneh dan tidak jelas seperti masa SMA. Itu sangat menjengkelkan. Aku mempunyai pengalaman buruk soal itu.


 


Kali ini Aku dan Christina sudah duduk di dalam aula yang di dalamnya penuh dengan mahasiswa baru juga senior yang memimpin acara ini. Memang sih, belum dimulai. Tapi orang-orang sangat tenang, ada juga yang sedikit berisik, dan selebihnya teratur sekali. Omong-omong, ruangannya sangat luas. Aku tidak bisa menjelaskan seberapa ukurannya, yang jelas ini benar-benar besar sekali. Ku rasa mampu untuk mendirikan sekolah saking luasnya. Cukup menampung banyak orang.


 Ini baru satu aula. Karena universitas ini termasuk yang terfavorit, pasti yang lulus masuk sini banyak sekali. Ada sekitar tiga atau empat aula yang digunakan untuk ospek ini, menampung mahasiswa baru.


Bola mataku menyapu pemandangan sekitar, memerhatikan sekeliling. Mayoritas mahasiswanya adalah orang Korea. Dan ku lihat mereka selalu tampak sibuk dengan dunianya sendiri. Meskipun ada beberapa yang berbincang dengan teman-temannya sambil bersenda gurau.


 


“Aku merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya,” gumamku pelan. Meskipun ada Christina di sampingku, tetapi tetap saja Aku merasa sepi, asing, dan tidak punya banyak kenalan di sini. Ya, aku seorang introvert yang tidak suka kesepian. Dan aku merasa kasihan pada diriku sendiri mengingat hal itu.


 


Christina yang menyadari kegundahanku segera memegang tanganku, memberi kekuatan. “Jangan pernah merasa sendiri, Aku selalu di sampingmu, kan? Ingat Reva, tujuan utama kamu di sini untuk belajar. Jangan pikirkan hal lain. Hentikan pemikiran negatifmu. Kalau kau merasa cemas, Aku siap temani kamu jalan-jalan. Relax, okay?”


 Perkataan Christina spontan menyadarkanku. Aku mengangguk mantap. Tidak. Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus mandiri. Lagipula benar juga yang dikatakannya, Christina selalu di sampingku. Lalu untuk apa Aku harus merasa khawatir dan kesepian?


 “Minah tidak kelihatan sedari pagi tadi. Ke mana dia?” Tanyaku heran. Minah memang memiliki banyak teman, itulah yang membuat Aku dan Christina tidak terlalu dekat dengannya. Cewek itu selalu banyak menghabiskan waktu dengan temannya. Kami bertemu hanya saat di asrama saja. Itu pun dengan waktu yang sedikit karena kami juga harus belajar.


 Bahunya ia naikkan, “Tidak tahu. Hm.. Kurasa dia punya dunianya sendiri.”


 “Hahaha. Jelas saja, Tina. Ini, kan, negaranya,” tawa pelan kukeluarkan.


 Wajah Tina terlihat memurung, “maksudku, Aku hanya sedih. Kita satu asrama tetapi jarang bertemu. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di luar Bersama teman-temannya.”


Tanganku terangkat mengelus pundak cewek berambut pirang di sampingku itu. “Sudahlah tak apa. Kita berdua saja kalau dia tidak mau bergabung.”


 “Hmm.”


 Pembicaraan kami terinterupsi karena kakak senior sudah berbicara melalui mic. Menyita perhatian seluruh penghuni aula besar tersebut.


Mereka berbicara dengan Bahasa Korea. Maba dari luar Korea seperti aku dan Tina harus lulus ujian kemampuan berbahasa Korea dahulu. Iya, di Universitasku mengharuskan mahasiswa luar negeri untuk lulus tes Bahasa korea. Kalau tidak seperti itu, bagaimana mungkin kita bisa memahami pelajarannya, kan? Jika dengan Bahasa Indonesia atau Bahasa inggris saja kita dibuat susah memahami materi, apalagi yang sama sekali tidak bias Hangeul? Ku rasa itu akan sangat kacau. Inilah alasan mengapa aku sudah mempersiapkan ini sejak dulu.


 Acara berlangsung dengan lancar, mahasiswa senior yang bertugas sebagai panitia acara ini kurasa mereka sudah semester lima. Terlihat dari gaya bicaranya yang sangat berbobot. Tidak sepertiku. Mereka membicarakan tentang apa apa saja peraturan di kampus, metode pembelajarannya, fasilitas-fasilitas kampus. Sampai organisasi-organisasi yang ada. Semuanya dijelaskan.


 Tiga jam berlalu. Kali ini giliran senior lain yang berbicara. Seorang cowok tersenyum sebelum ia berbicara. Berdehem, lalu mengucapkan salam hangat untuk kami. Tampan. Satu kata yang terlintas di benakku saat itu juga. Kebetulan Aku dan Christina memilih duduk di kursi bagian paling depan, jaraknya tidak terlalu jauh dari panggung aula. Sehingga membuat bola mataku bisa merekam dengan jelas bagaimana dia berbicara.


 “Wah, dia sangat tampan,” gumamku tanpa sadar.


 Tina menyentil telingaku tiba-tiba, membuatku meringis karenanya. “Yak, fokus sama apa yang dikatakannya. Kau ini.”


 Aku memasang ekspresi cemberut. Menyebalkan. Padahal, kan, aku tidak sengaja bergumam.


Suaranya berbicara bagiku sangat merdu. Ah, aku benar-benar sudah kehilangan fokus. Damn, dia seperti selebriti. Putih, bersih, rapi, pintar, elegan, juga manis. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku memuji seorang lelaki kecuali keluargaku. Dan kali ini aku memuji orang lain. Itu sangat menakjubkan. Dia memberi salam disertai senyuman. Senyuman itu. Membuat bibirku tanpa sadar ikut mengangkat sudut bibirku.

__ADS_1


 “REVALIA ARVENTA!”


 Aku tersentak kaget mendengarnya. Christina berteriak tepat di telingaku. Kurasa gendang telingaku akan pecah sebentar lagi. Aku menggerutu. “Hey, apa yang kau lakukan, Tina?”


 OSPEK hari pertama sudah selesai. Hanya tiga jam. Tidak terlalu lama. Orang-orang sudah berjalan ke luar. Sementara aku masih di sini memandangi senior tadi tanpa sadar. Dan tunggu, apa kami tidak disuguhkan makanan?


 “Acara sudah selesai. Yuk keluar. Aku tak akan biarkan bola matamu itu copot karena terlalu lama memandangi pria itu. Ayo!” Dia langsung menarik tanganku untuk keluar.


 Tina mengajakku untuk berjalan menyusuri setiap sudut kampus. Lagi-lagi kami dibuat terkejut betapa luasnya kampus ini.


 Kami memutuskan untuk berhenti dahulu untuk istirahat di taman. Duduk di bawah pohon rindang yang bersih. Rerumputannya juga terawat. Hijau, lapang, dan nyaman diduduki meski tanpa alas. Aku bahkan hampir saja ingin rebahan di atasnya kalau tidak ingat sedang di negeri orang.


 “Tina, Aku terhipnotis sejak tadi. Kakak senior bicarakan tentang apa saja?”


 "Itu salahmu sendiri yang tidak mau mendengarkan. Aku tidak mau menjelaskannya.”


 Aku terbahak. Tina sangat lucu saat memasang ekspresi marah. “Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri. Di Indonesia, aku tidak pernah punya pacar. Jatuh cinta pun tidak pernah. Hari-hariku hanya dihabiskan dengan belajar, belajar, dan belajar. Tidak sempat memikirkan hal begitu. Pun aku tidak pernah memuji lawan jenis kecuali keluargaku. Tetapi, kali ini Aku akui diri ini terpesona dengan senior tadi.” Mataku menerawang. Pikiranku beralih ke pria tadi.


 Chistina menghela napas gusar. Dia bangkit berdiri membuatku menaikkan alis seolah bertanya. “Aku akan membeli beberapa camilan. Kau tunggu di sini saja. Dan ingat,” ia melipat tangannya di dada, “saat aku kembali, pikiranmu harus sudah fokus.”


 Lantas dia langsung pergi tanpa mendengar jawabanku terlebih dahulu.


Aku yang sudah bersiap membuka mulut pun segera menutupnya kembali. Tina sepertinya tidak suka Aku yang seperti ini. Ya, dia benar. Aku harus fokus. Tujuanku kuliah di sini bukan untuk jatuh cinta.


Sembari menunggu Tina kembali, Aku membuka ponsel. Mengabari Mama dan Papa. Menanyakan keadaan mereka juga Kak Rezi. Apa lelaki itu tidak merindukan adiknya?


Bagiku, bernyanyi bisa menghilangkan stress dan galau. Beban juga akan hilang. Oleh sebab itu, aku cinta dengan musik. Dulu, kadang aku membuat cover lagu dan merekamnya sendiri. Tidak aku bagikan di sosial media karena aku orang yang tertutup. Suaraku juga lumayan bagus, sahabat-sahabatku sering menyuruhku bernyanyi saat mereka sedang galau ataupun stress. Dan aku menurutinya. Ya, hanya dengan sahabat aku bisa sebebas dan seterbuka itu.


 Kami juga sering membuat konser kecil-kecilan untuk menghibur satu sama lain. Kadang, aku bermain gitar sambal bernyanyi. Dan sisanya, memainkan alat musik lain.


 Ah, aku jadi merindukan mereka. Aku berencana menghubungi mereka satu-persatu nanti. Menanyakan bagaimana OSPEK di Indonesia. Apakah seru ataukah disuruh aneh-aneh?


Tak lama kemudian, Christina datang dengan tangan menjinjing beberapa plastik putih. Itu pasti makanan. Mataku langsung berbinar melihatnya. “Kau membeli camilan sebanyak ini?”


Dia duduk dan mulai membukanya. “Awalnya aku Cuma ingin membeli makanan ringan. Tetapi aku mataku menangkap makanan-makanan ini. Tak usah pikir Panjang, langsung aku beli saja. Kau pasti tak bisa menolaknya karena kupikir kita punya selera yang sama.” Kekehan kecil terdengar di akhir kalimatnya.


 “Tentu saja. Kau memang terbaik, Tina!”


 Corndog, Samyang, kue telur, Korean fry dog, sate sosis, dan minuman kaleng serta es krim. Para pemilik perut karet seperti kami mana mungkin bisa menolak jika disuguhkan makanan seenak ini? Bagiku, makan sebanyak apapun aman-aman saja. Tak perlu takut untuk gendut. Aku dan Christina tahu cara menanganinya. Hehe.


 Sebelum aku pergi ke Korea, Mama sangat rewel mempermasalahkan tentang makanan apa yang akan kumakan di sini. Beliau takut aku makan sembarangan dan tidak sehat. Karena biasanya Mamalah yang selalu menyiapkan makanan yang sehat untukku setiap hari. Meski kadang aku bandel, diam-diam aku menyicipi makanan korea agar lidahku terbiasa saat tinggal di Korea. Untungnya Mama tidak pernah tahu soal ini.          


 Aku selalu meyakinkan Mama bahwa Aku sudah bisa menjaga diriku sendiri. Dan syukurnya Mama dan Papa percaya padaku, terlebih aku sudah memperkenalkan Tina pada mereka. Tina orang yang baik, orangtua ku percaya itu.


 Kami makan dengan tenang sambil mendengarkan musik. Angin sepoi-sepoi berhembus melengkapi piknik kecil-kecilan kami. Para mahasiswa baru sepertinya pada sibuk mengelilingi area kampus.


 “Setelah ini kita pergi ke mana, Tina?”


 “Kau suka bermusik, kan?”

__ADS_1


 Aku mengangguk.


 “Kita ke ruang musik di Fakultas kita.”


 “Ha? Memangnya ada?”


Ups. Aku menutup mulutku dengan tangan. Tidak. Aku tidak boleh terlihat norak di depan teman baruku ini.


“Maksudku-“


 “Yasudah. Ayo. Biar kutunjukkan. Setelah dari sana kita ke perpustakaannya.”


 “AYO!”


 Kami pergi setelah membuang sampah makanan dan mengutip sampah-sampah kecil yang tertinggal. Di Korea sangat terjaga kebersihannya, di sepanjang jalan nyaris tidak ada satupun sampah berceceran.


 Pukul dua siang. Berkat arahan Tina, aku diajaknya pergi ke ruang musik. Aku sempat bertanya pada Tina, kenapa dia sangat tahu letak setiap ruangan dan fakultas yang ada? Dia mengatakan kalau dirinya sudah pernah menyusuri setiap sudut kampus Bersama kakaknya. Jadi, Tina sudah lebih paham mengenai kampus ini.


 “Kita mau ngapain di sini?” Tina terus menggandengku masuk ke dalam, mengabaikanku yang takut-takut untuk mengikuti langkahnya.


 Bola mataku melihat sekeliling. Wow, ruang musiknya sangat luas. Alat musiknya juga lengkap. Orang-orang di dalamnya juga tidak ramai. Mungkin karena ruang musik ini ada di fakultas ilmu pengetahuan. Bukan di fakultas seni, yang orang-orangnya memang suka bermusik. Tina sangat baik, dia selalu memilih tempat yang nyaman untukku.


 “Kau suka, kan?” tanyanya sembari menatapku tersenyum. Aku balas tersenyum dan mengangguk.


 “Kalau begitu, mainkan alat musik dan bernyanyi sepuasnya. Aku duduk di sana, ya?” Telunjuknya mengarah ke kursi panjang yang memang disediakan untuk duduk entah itu menunggu atau apa.


Aku mengerutkan kening, khawatir. “Tina, kau tidak pergi kemana-mana, kan? Jangan tinggalkan aku sendiri, aku tersesat nanti.”


 Christina mengelus kedua bahuku. Sepertinya dia sangat paham perasaanku saat ini. Dia mengangguk dan berjanji.


 Melihat itu, segera ku langkahkan kakiku menuju gitar, kemudian duduk dan mulai memetik senarnya. Aku bernyanyi dengan bahagia. Orang-orang tidak banyak yang memperhatikanku. Aku jadi bebas menyanyikan apapun.


 Selagi bermain gitar, mataku menangkap benda yang selama ini aku cari. Piano. Damn. Aku sangat ingin memainkannya. Selain gitar, aku juga suka bermain piano. Tak sabar rasanya jari-jariku menari di atas tuts piano dan mendengarkan alunan nadanya. Huh.


Setelah puas bermain gitar, Aku melangkah menuju piano. Aku pasti akan betah berada di kampus ini kalau sering datang ke ruang musik. Ah, tentu saja tidak mengabaikan pelajaran. Semua itu bisa aku seimbangkan.


 Aku sudah tidak sabar akan memainkannya, cepat-cepat aku duduk di kursinya. Lantas, mulai memainkan benda itu. Nadanya sangat lembut. Aku memainkannya dengan perasaan. Menghayati lagu yang kubawakan. Perfect- ed Sheeran. Lagu favoritku di kala stress melanda. Moodku selalu bagus kembali saat menyanyikannya.


 Sudah lama sekali rasanya tidak memainkan piano. Terakhir aku bermain di rumah sepupuku di Bandung. Sekitar enam bulan yang lalu. Walaupun begitu, aku tidak lupa kuncinya.


 Tepat di akhir permainanku, seseorang bertepuk tangan. Sedikit terkejut, Aku menoleh ke belakang.


“Permainan pianomu sangat menyentuh hati. Kau memainkannya dengan penuh perasaan. Aku cukup terhanyut akan itu,” katanya dengan santai. Aku tidak bisa mengontrol ekspresi terkejutku. Dia yang melihatku seperti itu pun jadi tertawa kecil. “Maaf, mengejutkanmu.”


 Tunggu, dia berbicara dengan Bahasa Inggris. Dan dia-


 “Bolehkah aku me-request sebuah lagu?” 


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN. FOLLOW MY IG @ratulebahh20

__ADS_1


__ADS_2