
Lala dan Reno sedang disibukan hukumannya mereka merasa ada yang kurang dan teringat sesuatu dengan bersamaan mereka melirik Fano lalu menghampiri Fano sambil berkacak pingggang.
Terlihat Fano yang sedang asik menonton kartun sambil memakan cemilan dengan kaki kiri yang sengaja ia naikan menindih kaki kanannya membentuk angka empat.
"Enak banget yaaa santai-santai sambil nonton, tuh sapu udah nungguin," sindir Lala menatap Fano garang.
Fano enggan menolehkan kepalanya ia tidak menggubris perkataan Lala hingga membuat Lala jengkel.
Lala menyenggol lengan Reno meminta bantuan untuk berbicara dengan Fano.
"Okee kalo gitu kak Reno aduin sama Mama yuk La kita aduin biarin aja nanti didatengin badut kesini," ucap Reno sengaja menakut-nakuti Fano.
Perkataan Reno berhasil membuat Fano terkesiap dan beranjak dari rebahannya ia menatap Reno kesal sambil memonyongkan bibirnya.
"Belaninya ngadu-ngadu cemen banget," gerutu Fano.
"Bodoamat! tuh sapu udah nungguin buruan samperin," ucap Lala menunjuk sudut ruangan.
"Iya-iya celewet banget, Sapuuuu Pano datang mali kita basmi kuman-kuman yang ada di lumah," teriak Fano berlarian menuju sudut ruangan mengambil sapu lalu meletakannya di sela-sela kakinya ala-ala nenek sihir yang terbang menggunakan sapu lidinya.
"Maliiii kita telbang yuhuuuu," teriak Fano berlarian kesana kemari.
"Wihhhh cocok dah kalian gais jadi keluarga kecil cepet-cepet baper ya biar Papa gak curiga terus kalo si Reno ini gak normal," ledek Gio yang baru saja keluar dari kamarnya melihat keduanya yang sedang asik menjalani hukumannya.
"Amit-amit," saut Reno bergedik ngeri.
"Sok ganteng babget lo kaya gw seneng dengernya, Gw juga ogah kali," ucap Lala geram dengan sengaja menyodorkan kemoceng ke wajah Reno membuat Reno bersin-bersin.
"Papa Gioooo awasss Pano mau mendalat yuhuuu," teriak Fano berhenti tepat disamping Gio sambil menyengir.
"Ini lagi anak kecil bukannya bantuin malah asik main," ucap Gio tertawa.
"Ini asik tau, Papa Gio mau nebeng gak nanti Pano antelin ke kebun Papa Gio," ucap Fano dengan polos.
"Yaudah yukkk anterin Papa Gio," ucap Gio terkekeh.
"Kata sapunya Papa Gio belat dia gak sanggup maap yaa bukan salah Pano salah sapunya jewel aja sapunya tapi dia gak punya kuping," ucap Fano.
"Bodoamat ah terserah Panolah Papa mau keluar dulu bye bye Papa doain kalian samawa ya haha" ledek Gio berjalan keluar rumah meninggalkan mereka.
******
Fathan dan Raina baru saja menyelesaikan makanannya hanya tersisa kentang goreng diatas meja. Suasana masih sama seperti sebelumnya memanas dan penuh dengan keheningan.
Raina sesekali melirik Fathan yang sedari tadi terus menatapnya membuatnya menjadi risih dan kebingungan dengan sikap Fathan.
"Kita kenapa si," tanya Raina yang memutuskan memulai pembicaraan terlebih dahulu karena risih terus menerus ditatap oleh Fathan.
"Adanya juga kamu yang kenapa tiba-tiba jadi galak," saut Fathan.
"Ini kan gara-gara kamu semenjak ketemu sama perempuan yang di toko tadi kamu jadi aneh banyak ngelamun, pelayan dateng aja gak sadar bahkan aku ngomong aja gak kamu dengerin, gimana gak kesel liatnya," ucap Raina memutuskan untuk mengeluarkan unek-unek yang sedari tadi berputar-putar di kepalanya.
"Masa si? Yaudah deh maaf aku tuh kaya tadi ngerasa pernah liat perempuan itu aja tapi lupa dimana makanya aku ngelamun terus," ucap Fathan.
Raina menatap Fathan lekat-lekat berusaha mencari ada atau tidaknya kebohongan dari perkataan Fathan.
"Boong, aku liat banget ekspresi muka kamu pas dia nyapa kamu tuh kaya apa, ekspresi kamu tuh kaya punya dendam masa lalu sama dia udah gitu kabur gitu aja gak nanya dulu, tapi kalo kamu gak mau cerita yaudah gapapa aku bisa cari tau sendiri kok," ucap Raina tersenyum masam.
Fathan terdiam sejenak lalu mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru restoran dan pandangannya tidak sengaja bertemu dengan perempuan yang sebelumnya ia temu di toko dengan cepat ia membayar makanan lalu mengajak Raina pergi dari mall tersebut.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih aneh banget berasa belom bayar makanan aja terus kabur secepet ini," ucap Raina heran.
"Gapapa perut aku mendadak sakit banget makanya aku mau buru-buru keluar dari mall," ucap Fathan sambil memegangi perutnya.
Raina mengerutkan alisnya ia tahu Fathan berbohong ia menggelengkan kepalanya berjalan memasuki mobil meninggalkan Fathan yang masih mematung.
Raina menatap Fathan yang baru saja masuk kedalam mobilnya ia tidak mau memperkeruh suasana ia berusaha mengerti keadaan Fathan.
"Beli satu barang aja jadinya?" tanya Raina sambil tersenyum.
"Iya, nanti aja beliinnya pas dia udah sampe kesini suruh milih sendiri bingung aku milihnya," saut Fathan membalas senyum Raina.
"Terus sekarang kita mau kemana," tanya Raina.
"Ke rumah aku aja mau gak?" ucap Fathan.
"Yaudah boleh deh udah lama juga aku gak main ke rumah kamu," ucap Raina.
Mobil keluar meninggalkan mall menuju rumah Fathan sesekali mereka mengobrol disela-sela perjalanan.
********
Mobil Fathan memasuki perkarangan rumahnya lalu ia keluar dari mobil menatap satu mobil berwarna biru yang sangat asing di matanya terparkir di samping mobilnya membuatnya penasaran lalu masuk ke dalam rumah bersamaan dengan Raina.
"Hallo Tante, apa kabar? udah lama banget ya Raina gak kesini hehe" sapa Raina saat melihat Ita yang sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Aisyah dan seorang laki-laki yabg sangat ia kenal.
"Eh ada Aldo ngapain lo disini wah parah lo mau modus sono sini lo ya," ucap Raina tertawa.
"Engga gitu sembarangan aja lo kalo ngomong, gw kesini tuh mau nanyain matkul yang gak gw ngerti," ucap Aldo.
"Loh kenapa gak ke rumah gw aja," ucap Raina heran.
"Lo kaya gak tau aja pacar lo ini cemburunya gak nahan, nanti kalo gw kerumah lo bukannya ngerti malah gak ngerti gara-gara galfok dipelototin dia terus," ucap Aldo kesal.
Aldo banyak bercerita tentang sikap Fathan padanya ke Aisyah dan bundanya jadi ia bisa dengan leluasa menyindir Fathan tanpa merasa sungkan.
"Iya si parah aku prihatin sama Aldo gak kebayang tiap hari dipelototin terus," ucap Aisyah tertawa.
"Loh ini lo ke rumah Aisyah kan kak Fathan tinggal disini juga otomatis lo bakal kena pelototannya juga kali," ucap Raina tertawa.
"Nyatanya gw kesini dianya gak ada nah ini kebetulan aja dia tiba-tiba nongol," ucap Aldo.
Fathan menatap Aldo jengah ia memutuskan pergi ke kamarnya meninggalkan yang lain.
"Kamu ngobrol dulu sama bunda aku mau ke kamar bentar ya," ucap Fathan tersenyum sambil mengacak-acak rambut Raina gemas.
"Tumben banget dia diem gak bucin kaya biasanya, ini aneh banget sih kamaren gw ngobrol sama Raina aja mukanya udah kaya mau makan gua hidup-hidup," ucap Aldo heran menatap kepergian Fathan.
*******
Fathan membaringkan tubuhnya diatas kasur membuka laci yang berada di samping kasurnya mencari album fotonya lalu membuka album tersebut.
"Kenapa nih cewe balik lagi sih setelah sekian lama kita putus komunikasi dia muncul seenaknya," gerutu Fathan sambil melirik salah satu foto.
"Gw udah bahagia sama Raina gak mungkin gw flashback sama dia," gumam Fathan.
Setelah menghabiskan beberapa menit lamanya memandang album foto Fathan memutuskan untuk membersihkan diri mengganti pakaiannya lalu kembali kebawah menyusul Raina.
******
__ADS_1
Raina dan yang lainnya sedang sibuk di dapur bersama Ita mereka terinspirasi dari youtube yang mereka tonton hingga membuat mereka berniat membuat kue onde-onde.
Dengan cekatan Aisyah mengaduk adonan sedangkan Raina mendapat tugas merebus kacang hijau.
Sedangkan Aldo sibuk bertanya kesana kemari mengenai onde-onde.
"Tante kenapa onde-onde isinya kacang hijau? Kenapa gak kacang panjang, kacang kedelai atau kacang tanah," tanya Aldo membuat yang mendengarnya kesal.
Fathan mendengar pertanyaan Aldo ia menggelengkan kepalanya berjalan menghampiri mereka.
"Abis ketemu Lala jadi ketularan somplaknya dia lo ya, lo cobain aja sono isi onde-onde pake kacang panjang terus lo abisin sendiri," ucap Fathan dengan geram.
"Gw kan gak tau kalo gak tau ya kudu nanya biar gak nyasar," ucap Aldo.
"Nanyanya yang berbobot dikitlah," ucap Fathan.
Para perempuan menaikkan bahunya secara bersamaan dan menggelengkan kepala saat menyaksikan perdebatan mereka.
"Tante aku boleh bawa pulang gak onde-ondenya? Aku keinget sama Fano dia doyan banget sama onde-onde," ucap Raina dengan penuh harap.
"Boleh dong, apa lagi buat Fano yang gemesin nya minta ampun kapan-kapan ajak dia main kesini ya nanti disediain onde-onde yang banyak khusus dia," ucap Ita dengan semangat.
"Hehe siapppp Tante hati-hati nanti dibuat repot sama dia," ucap Raina tertawa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1