
Setelah Lala berpamitan dan bertukar kontak yang bisa dihubungi dengan Bayu ia segera menyusul Reno.
"Udah kelar milihnya," tanya Lala.
"Belum, aku gak ngerti sama baju kaya gini lagian kamu asik aja pdkt sama cowo tadi," sindir Reno.
"Tauuu huuuu," sorak Fano sambil bersembunyi dibalik gamis yang digantung.
"Maklum sih dia tuh penyelamat gw tau dan baru ketemu lagi sekarang makanya gw heboh," ucap Lala.
"Yaudah buruan pilih abis itu makan," ucap Reno sengaja mengalihkan pembicaraan hingga membuat Lala mendengus sebal.
Lala memilih dua helai gamis dengan warna yang berbeda, Reno membayar ke penjual gamis lalu mereka pergi mencari makanan disekitar pasar.
"Pano capek nih bawa-bawa pacalnya atun, bawain dong kak Leno," keluh Fano.
"Ogah bawa aja sendiri siapa suruh beli-beli kucing segala," tolak Reno.
"Gak ada kantong klesek apa ya, kaki Pano sakit kena kandangnya kayanya kalo pake kantong klesek enak bawanya," gumam Fano.
"Heh bayi bagong mana ada bawa kucing pake kantong kresek yang ada abis nanti kaki Fano dicakarin sama kucingnya terus kucingnya kabur," gemas Lala.
"Yah telus gimana, Pano pegel kak Lala aja nih yang bawa," ucap Fano menyodorkan kandang kucing pada Lala.
"Engga ah, Fano gak liat nih kak Lala bawa gamis padahal bukan kak Lala yang mau beli tapi disuruh bawa mentang-mentang dia yang bayar," ketus Lala.
"Berisik! Buruan pilih mau makan apa," ketus Reno.
"Gw tetap gado-gado," ucap Lala.
"Pano mau nasi padang, walteg, ketoplak, sama ituuu es cincau campul cendol, heummm cacing pita dipelut Pano udah melonta-lonta," ucap Fano melirik beberapa makanan secara bergantian.
Reno dan Lala dibuat terkejut mendengar perkataan Fano mereka menatap Fano heran.
"Fano mau buat kak Reno bangkrut ya," sindir Reno.
"Fano emangnya muat tuh perut makan sebanyak itu udah nasi semua lagi," ucap Lala.
"Pokoknya Pano mau itu," tegas Fano.
Hingga akhirnya Reno menuruti kemauan Fano ia berjalan menuju rumah makan padang sesekali melirik Fano berharap bocah yang berada disampingnya berubah fikiran.
"Kak Leno, Pano mau nasi kuning aja deh tapi pake jengkol ya," pinta Fano.
Reno bernafas lega saat Fano merubah keinginannya kini kucing berada di tangan Reno sedangkan Fano membawa sepiring nasi kuning dengan lauk pauknya menyusul Lala yang sedang menyantap gado-gado.
"Kak Lala pooooo Pano makan nasi kuning pake jengkol heummmm yummy," ucap Fano meletakan piringnya diatas meja dibantu oleh Lala.
"Udah La gak usah heran anak kecil satu ini doyan banget jengkol apalagi disemur bisa abis sendirian satu piring," ucap Reno.
"Ibu tukang gado-gado Pano numpang makannya jangan diusil okeyy," sapa Fano.
Penjual gado-gado hanya menggelengkan kepala sembari terkekeh memandang Fano gemas.
"Anaknya doyan jengkol Mba," tanya penjual.
"Bukan anak Lala bu, Lala mah masih jomblo," saut Lala.
"Terus anak siapa? Apa anak Masnya," tanyanya kembali.
"Ini sepupu saya Bu, emang agak aneh anaknya dia doyan banget jengkol tapi gak doyan pete," jelas Reno.
"Oh begitu lahap banget tuh makannya, gemes jadinya lucu banget," ucap Penjual.
Disaat Lala sedang mengobrol dengan Ibu penjual gado-gado Fano menyicipi gado-gado Lala sesendok tanpa meminta izin.
"Enak juga gado-gadonya Bu Pano mau gado-gado juga dong," ucap Fano sambil memakan kerupuk.
"Itu nasinya belum abis nanti gak habis lagi gado-gadonya," ucap Penjual.
"Udah gapapa Bu kasih aja tapi dikurangin dari porsinya aja," ucap Reno tangannya menjulur mengambil gado-gado Lala.
Lala sedang memainkan ponselnya kaget saat melihat meja yang kosong, ia melirik sekitar dan melihat Reno yang sedang asik memakan gado-gado yang sudah tinggal setengah.
"Kak Renoooo, gado-gado Lala kenapa dimakan kalo mau kan bisa pesan lagi udah makannya pake sendok bekas Lala lagi," teriak Lala.
"Lagian siapa suruh main hp mulu, dari tadi makanan kamu teriak-teriak minta dimakan tapi orang yang punya asik main hp aja yaudah aku makan aja kasian kan makanannya," ucap Reno dengan mulut yang penuh oleh makanan.
"Telen dulu baru ngomong nanti keselek tau rasa," ketus Lala mengambil kembali piring yang berada di tangan Reno namun ditahan oleh Reno.
"Sesuatu yang udah ada ditangan Reno gak boleh diambil lagi," tegas Reno sambil memasukan kembali sesendok gado-gado ke dalam mulutnya.
Lala memalingkan wajahnya sambil terus bergerutu sesekali mengumpat Reno.
Reno melihat reaksi Lala hanya tertawa lalu menyendok gado-gado kembali dan mengarahkan sendok pada Lala.
"Lala sini dulu, ngambek terus kaya Fano," panggil Reno sambil terkekeh.
__ADS_1
Lala menolehkan kepalanya menghadap Reno ia menaikan sebelah alisnya menatap sendok kebingungan.
Pasti kak Reno mau ngerjain gw nanti pas gw udah mangap tuh sendok nyasar ke mulut dia, ah basi banget gak bakalan kena Lala mah.
"Kelamaan, buka mulutnya sebelum nih gado-gado masuk ke mulut aku," pinta Reno.
"Pano juga mau disuapin aaaaa," ucap Fano mendekatkan diri ke Reno lalu memakan gado-gado yang seharusnya untuk Lala.
"Yah ditikung Fano kan kelamaan sih mau makan aja mikir-mikir, kamu pesan lagi gih aku makan yang ini aja," ucap Reno.
***************
Kini suasana di kediaman Raina menjadi hening karena punghuninya yang asik dengan ponsel mereka.
"Aldo, lo kan sekarang jomblo nih ya kan, lo gak ada niatan pdkt sama Zara gitu," ucap Raina membuat perhatian keduanya teralihkan.
"Ogah ah sama Zara dia galak banget bisa-bisa setiap hari tangan gw pake gips," ucap Aldo bergedik ngeri.
"Lagian gw juga gak mau sama lo gak usah kepedean," ketus Zara.
"Oh iya kemaren-maren lo ada apa sama Lala jangan bilang lo lagi dekatin Lala ya," ucap Raina memandang Aldo penuh selidik.
"Kepo! Enggalah Raina gw ada perlu aja sama dia," saut Aldo.
"Perlu apa? Kasih tau lah ke gw masa Lala doang," pinta Raina.
"Ini misi rahasia," ucap Aldo.
"Segala rahasia tenang aja Raina nanti kita tanya langsung aja ke Lala pasti dia jawab," ucap Zara.
"Yaudah tanya aja, kenapa jadi bahas Lala sih kan kita mau bahas Fathan nanti kita bikin surprisenya 3 hari setelah Fathan balik ya biar lebih mantul ngerjainnya, gw mau bikin dia panas dulu," ucap Aldo.
"Atur aja Do atur Raina mah manggut-manggut aja," ucap Zara.
************
Fano baru selesai menyantap gado-gado ia merasakan perutnya sangat kekenyangan ia kemicingkan matanya saat melihat bocah perempuan yang sedang membeli siomay.
"Ada temen PAUD Pano sampelin ah," ucap Fano dengan hati-hati ia menuruni bangku lalu berlarian menyusul bocah perempuan.
"Hallo Dinda," sapa Fano melambai-lambaikan tangannya.
Dinda yang merasa dirinya dipanggil menolehkan kepala ia menatap sebal pada Fano, Dinda dan Fano jika di PAUD tidak pernah akur karena sikap iseng dan jahilnya Fano.
"Apa!" ketus Dinda.
Dinda berkacak pinggang menatap Fano kesal dengan sepenuh tenaga ia meninju hidung Fano hingga berdarah, Dinda panik lalu mengambil tissu dari dalam tasnya tangannya sibuk menggulung tissu dan memasukan tissu ke dalam lubang hidung Fano agar darah yang mengalir berhenti.
Reno dan Lala yang menyaksikan perdebatan keduanya dari jauh terkejut saat melihat Fano memegangi hidungnya mereka berlarian menghampiri Fano dengan rasa cemas.
"Sakit ya? lagian sih kamu isengin aku terus," tanya Dinda cemas sambil memegangi hidung Fano.
"Fanooo itu ngapain hidungnya di sumbat kaya pocong," teriak Lala menatap Fano cemas.
"Bisa-bisanya kamu bercanda lagi kaya gini Lala," ucap Reno.
"Lala gak bercanda kak Reno tadi tuh Lala beneran nanya," bantah Lala.
Dinda menunduk tidak berani menatap Lala dan Reno ia ketakutan hingga membuatnya tidak berani mengeluarkan suara.
Lala menyadari ketakutan yang dirasa oleh Dinda ia menurunkan badannya supaya sejajar dengan Dinda dengan senyum manisnya ia menatap Dinda.
"Adik cantik gak usah takut ya kak Lala baik kok kaya ibu peri, coba jelasin kenapa bisa begini," ucap Lala.
"Maafin Dinda ya Kak, Dinda sebel sama Fano yang selalu gangguin Dinda terus tadi Dinda gak sengaja bikin hidungnya berdarah," ucap Dinda sambil menunduk.
"Fano juga sih ganjen banget sukurin tuh rasain bogeman cewe, bagus Dinda harusnya begitu kalo kamu diisengin sama cowo kamu tinju aja biar kapok ini namanya the power of girl," ucap Lala terkekeh.
"Heh bukannya belain Fano malah ngetawain Fano kamu," bisik Reno.
"Kak Leno ini cewe tenaganya kaya kuda poni, Pano cuma talik lambutnya dikit doang dia tonjok Pano sampe beldalah dasar cewe tenaga kuda," ucap Fano menatap Dinda jengkel lalu menarik kembali rambut Dinda.
"Fano gak boleh kasar sama perempuan," ucap Lala memeluk tubuh dinda.
"Dia aja kasal sama Pano liat nih idung Pano beldalah kalo penyok gimana," omel Fano.
"Udah-udah mending kita pulang obatin hidungnya Fano dulu, Fano mau hidungnya nanti jadi penyok?" ucap Reno ia menggendong Fano lalu membawanya menjauh dari sana.
Fano yang berada digendongan Reno menjulurkan lidahnya sambil memelototkan matanya pada Dinda.
"Ada-ada aja sih tuh anak tingkahnya, Dinda kesini sama siapa?" tanya Lala.
"Sendirian Kak, Mama Dinda jualan di toko sebelah sana, Dinda kesini mau jajan doang terus ketemu si biang rusuh," ucap Dinda.
"Maafin Fano ya, dia emang suka jahil dan sedikit rusuh aslinya baik kok, kak Lala pamit dulu ya udah ditungguin tuh sama kak Reno takut dimarahin nanti kalo kelamaan, semoga bisa ketemu lagi ya," ucap Lala terkekeh sambil melambaikan tangannya ia kembali menuju penjual gado-gado mengambil kandang kucing dan gamis yang sengaja ditinggal disana.
"Makasih ya Bu, Lala pulang dulu," pamit Lala.
__ADS_1
Lala berjalan cepat ke arah parkiran lalu meletakan kandang kucing di depan dan menenteng plastik yang berisi gamis.
"Lama banget sih, si Fano harus dibawa ke dokter ini takutnya infeksi," ucap Reno panik.
"Yaudah kita mampir ke klinik aja dulu," ucap Lala.
Mendengar klinik mata Fano membola ia meronta-ronta dan terus berteriak.
"Pano gak mau ke doktel nanti Pano disuntik ini semua gala-gala cewe kuda poni awas aja nanti ketemu Pano di PAUD kelayonnya Pano patah-patahin," gerutu Fano sambil memonyongkan bibirnya.
"Udahlah kak mendingan kita jalan dengerin Fano gak kelar-kelar nanti, sumpah ya gw udah kaya emak-emak beneran kalo kaya gini," ucap Lala.
"Apa lagi aku udah kaya bapak-bapak gendong si Fano kesana kemari berat banget nih anak apalagi tadi dia abis makan 2 piring," keluh Reno.
"Yaudah buruan ambil motornya," ucap Lala.
"Gimana cara ngambilnya kan aku lagi gendong Fano," geram Reno.
"Oh iya ya, terus Lala nih yang gendong," ucap Lala dengan memelaskan wajahnya.
"Iyalah siapa lagi," ucap Reno menyerahkan Fano pada Lala.
"Fano berat banget sih," keluh Lala saat Fano berada digendongannya.
"Iyalah kan Pano abis makan makanya belat," saut Fano.
********
Sesampainya di klinik mereka terdiam saat melihat Fano yang tertidur lelap kemudian saling melempar pandang satu sama lain.
"Gak usah pandang-padangan begitulah ntar lo suka sama gw beneran lagi, ini gendong Fano ke dalem buruan," ucap Lala.
Akhirnya Fano dibawa masuk ke dalam klinik dengan posisi tertidur pulas.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Happy reading guys jangan lupa like dan komennya ya hehe
__ADS_1
Selamat menjalani aktivitas di hari jumat yang cerah ini 😉