
Fano terlihat bersemangat saat ia sampai di pasar malam, ia terus bersenandung di sepanjang jalan sambil menepuk-nepukan tangannya.
"Bang ganti dong lagu akang gedang," pinta Fano pada salah satu pedagang yang berada di pasar malam.
Pedagang menatap Fano heran ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menatap Reno dan Lala bergantian.
"Anaknya Mba Mas?" tanyanya.
Refleks Lala menggelengkan kepalanya sambil menunjukkan cengiran kakunya.
"Bukan Mas ini mah sepupu saya,"saut Reno.
"Tau nih ada-ada aja si Abang lagian mukanya Fano gak mirip sama Lala tau Bang, biasanya kan kalo anak pasti mirip sama ibunya" oceh Lala.
Fano tak mau ikut pusing dengan perdebatan mereka ia melangkahkan kakinya mendekati speaker lalu ia meraih ponsel yang digunakan oleh pedagang untuk menyetel musik dengan cepat Fano mengotak-atik ponsel tersebut lalu mengganti lagu tersebut sesuai dengan keiinginannya.
Fano mengembangkan senyumnya saat lagu sudah terganti namun ia merasa ada yang kurang hingga membuatnya berfikir sejenak sambil memperhatikan speaker lalu ia tersenyum saat menemukan ide cemerlang dengan cepat tangannya menaikan volume hingga membuat orang disekitar terkejut dan menoleh ke arahnya.
Fano mengambil mic yang biasa dibuat oleh pedagang untuk mengobral dagangnya lalu ia bernyanyi menggunakan mic tersebut.
"Huihhh kaya konsel, Akang gendang kalo Pano bilang joget joget ya, mutel mutel mutel." Fano asik berjoget sambil bernyanyi hingga ia tidak sadar dengan Lala dan Reno yang kini sedang menatapnya geram.
Reno dan Lala menutup telinga mereka masing-masing dengan kedua telapak tangan mereka.
"Kak Reno sepupu lo kenapa ngeselin banget sih ya ampun, budeg nih kuping gw kalo lama-lama disini, tolong kecilin dong itu volumenya," teriak Lala.
Reno menggelengkan kepalanya menatap Fano sebal ia melangkahkan kakinya meninggalkan Lala menuju tempat dimana Fano sedang asik bernyanyi.
Lala yang melihat Reno pergi meninggalkannya dengan berlarian kecil ia menghampiri Reno.
Reno mencabut colokan speaker yang tersambung di stop kontak lalu menatap Fano tajam sambil berkacak pinggang.
"Fano! Bener-bener kamu ya liat tuh orang pada tutup kuping semua," omel Reno.
Fano menundukan kepalanya sambil memainkan jari-jarinya ia berharap Reno iba dan tidak tega untuk memarahinya lagi.
"Maapin Pano, Pano cuma mau nyanyi akang gendang doang," gumam Fano.
Lala yang melihat Fano menunduk karena dimarahi oleh Reno ia merasa tidak tega dan berniat untuk membantu Fano supaya tidak dimarahi terus-menerus oleh Reno.
"Kak Reno jangan marah-marah terus nanti cepat tua loh, udah tua tambah tua lagian kan Fano masih kecil dia gak ngerti soal begituan," ucap Lala.
Fano mendongakkan kepalanya menatap Lala dengan mata berbinar ia sangat senang dengan pembelaan Lala untuknya.
Kak Lala memang the best Pano makin sayang sama kak Lala pokoknya, besok sebelum Pano pulang ke lumah Pano nanti Pano mau beliin kak Lala pelmen sugus deh.
"Kalo gak dimarahin nanti malah makin jadi rusuhnya terus susah diatur kaya kamu tuh," omel Reno.
"Kenapa jadi Lala sih, Lala kan cuma belain Fano sedikit doang," keluh Lala.
"Terserah kamu lah La! Fano sini ikut kak Reno jangan buat rusuh lagi kalo kamu rusuh kak Reno bakalan marah sama Fano dan gak mau main lagi sama Fano," ancam Reno.
"Iya kak Leno, maapin Pano semuanya maapin Pano ya udah bikin kuping olang-olang jadi gak dengel," ucap Fano.
Setelah meminta maaf pada semua pengunjung dan pedagang Fano mengikuti Reno yang berjalan mendahuluinya, ia menarik ujung baju Lala memberi kode supaya Lala terus membelanya.
"Tenang aja Pano si bocil rusuh kak Lala lagi baik hati jadi hari ini kak Lala mau belain Fano," ucap Lala.
Lala menggandeng lengan Fano lalu supaya Fano tidak hilang, ia tidak mau dibuat kerepotan seperti cerita Raina dan Fathan yang mencari Fano sampai berkeliling di sekitar tempat wisata kebun binatang.
__ADS_1
"Fano jangan lepasin tangan kak Lala ya, nanti kalo Fano ilang kak Lala jadi repot harus muter-muter pasar malem nyariin Fano," ucap Lala.
"Iya kak Lala celewet banget nih," ucap Fano.
Sambil berjalan Fano melirik sekitar pasar malam ia melihat wahana rumah hantu dengan cepat ia menggoyangkan tangan Lala sambil menunjuk wahan tersebut.
" Kak Lala liat itu deh Pano mau kesitu yuk temenin Pano," ucap Fano dengan semangat.
Lala menggelengkan kepalanya saat melihat apa yang ditunjuk oleh Fano.
"Gak ada!" ketus Lala.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pesanan yang sempat dipesan Raina sampai hingga akhirnya memecahkan keheningan yang terjadi diantara mereka.
"Oh iya Fahira kalo lo mau pesan lagi gapapa kok pesan aja, tapi kalo mau barengan juga gapapa," ucap Raina.
Fahira tidak menjawab perkataan Raina ia lebih memilih memainkan ponselnya.
Fathan yang melihat respon dari Fahira terhadap Raina hanya menghela nafasnya lalu mengambil makanan dan memasukannya ke dalam mulut.
"Lo gak pesan makanan?" tanya Fathan.
"Gak! Gw males makan," ketus Fahira.
"Terus ngapain lo disini," saut Fathan.
Fahira yang semulanya fokus dengan ponsel ia meletakkan ponselnya lalu menatap Fathan kesal.
"Jadi lo ngusir gw?" tanya Fahira.
"Ya gak gitu juga, lagian lo aneh dateng kesini marah-marah gak jelas terus lo nyalahin Raina, maki-maki Raina seolah-olah Raina yang paling salah disini, padahal sebelumnya lo gak kaya gini," ucap Fathan.
Fahira terdiam sejenak ia merasa ada benarnya juga ucapan Fathan.
__ADS_1
"Gw sebel aja lo lebih mengutamakan pacar dibanding teman lo yang jelas-jelas udah kenal lo lama bangetjauh sebelum pacar lo ini kenal lo," ucap Fahira.
Fahira terdiam sejenak sambil melihat respon dari Raina dan Fathan terhadap ucapannya.
"Terus tadi sore lo ngeiyain ajakan gw tapi nyatanya lo ngilang gitu aja pas gw udah kelar siap-siap, seharusnya kalo lo gak bisa bilang aja gak bisa jangan php bilang iya tapi gak muncul," jelas Fahira.
Fathan terdiam dan berusaha mengingat ucapannya terhadap Fahira setelah ia mengingatnya refleks ia menepuk dahi lalu menatap Fahira dengan perasaan tidak enak.
"Yaudah gw minta maaf, gw teralu asik sama pacar gw, sumpah gw bener-bener lupa gak ada niatan php atau apapun itu," ucap Fathan.
Raina menatap keduanya secara begantian Raina merasa bersalah pada Fahira.
"Fahira gw juga minta maaf, gw gak ada maksud bikin kak Fathan lupa sama teman-temannya," ucap Raina sambil memegang tangan Fahira.
Apaan sih ini kenapa jadi dia yang megang tangan gw harusnya kan Fathan bukan dia.
Fahira menghela nafasnya lalu menepis pelan tangan Raina.
"Kali ini gw maklumin tapi kalo besok-besok lo kaya gini lagi jangan harap gw maafin ya, gw gak mau kenal lo lagi Fath kalo lo kaya gini, jangan cuma gara-gara pacar lo lupain teman-teman lo yang dari dulu selalu ada buat lo," ucap Fahira sengaja menyindir Raina.
"Kalo itu gak janji ya Ha-Ha-Ha," ucap Fathan sambil tertawa.
"Tenang aja Fahira nanti gw bakal terus ingetin kak Fathan buat gak lupa sama teman-temannya," ucap Raina menunjukkan senyumnya pada Fahira.
Sejujurnya Raina sedikit tersindir dengan perkataan Fahira namun dengan cepat ia tepis karena ia tidak mau membuat suasana yang sudah mulai mencair menjadi panas kembali karena dia.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komennya ya gais
__ADS_1
Sehat dan bahagia selalu kalian semua hehe
Sekian dan terima kasih