SENIOR

SENIOR
Kesal


__ADS_3

Fathan berjalan menuju kamar Raina ia membuka pintu kamar perlahan terlihat Raina yang sedang asik dengan ponselnya ia menggelengkan kepalanya.


"Bukannya tidur malah main hp,"tegur Fathan.


Raina terkesiap saat mendengar suara Fathan refleks ponselnya terjatuh menimpa wajahnya membuat ia meringis kesakitan kalian taulah bagaimana rasanya lagi asik asik main ponsel tiba tiba terjatuh tepat mengenai wajah sakitnya tuh kaya apa, apakah kalian pernah mengalaminya?


"Kak Fathannn ngagetin aja sih sakit nih muka gw ketiban hp,"omel Raina melempari Fathan dengan bantal.


Fathan yang dilempari bantal hanya terkekeh lalu memunguti bantal yang berserakan akibat ulah Raina ia berjalan menghampiri Raina meletakan bantal kembali pada tempatnya.


"Makanya kalo gak enak badan tuh tidur jangan main hp sukurin kejatohan hp,"ucap Fathan.


"Lo ngapain dah kesini, lo gak pulang kak udah malem padahal,"ucap Raina.


"Ceritanya ngusir nih,"ucap Fathan kesal.


"Bukan begitu ih salah paham mulu nih,"ucap Raina.


Fathan teringat dengan tujuannya berkunjung ke kamar Raina.


"Gw nginep di sini sama Aisyah terus gw ke sini disuruh liat lo udah tidur apa belom sama Mama lo, berhubung lo belom tidur mending lo makan dulu Mama lo baru kelar masak."ucap Fathan.


"Oh gitu, tapi gw males turun ke bawah,"ucap Raina.


Fathan tidak menjawab perkataan Raina ia berjalan menuju pintu kamar lalu membukanya pergi meninggalkan Raina tanpa suara.


Raina memandang kepergian Fathan dengan kesal ia memaki Fathan terus menerus.


"Ngeselin banget si dateng gak permisi keluar juga gak pamit untung gw sabar tapi kesellll,"teriak Raina.


Fathan menuruni anak tangga berjalan menuju dapur mengambil makanan untuk Raina setelah makanan sudah diambil ia berniat membawa makanan ke kamar Raina.


"Buat siapa Fath,"tanya Reyhan.


"Raina, gw tinggal ya takut dingin makanannya"jawab Fathan berjalan meninggalkan Reyhan.


Fathan menaiki anak tangga dengan hati hati berjalan menuju kamar Raina.


Raina melihat pintu yang terbuka perlahan ia mengerutkan dahinya ketika melihat Fathan kembali ke kamarnya membawa nampan.


"Ngapain lo balik lagi segala bawa makanan lagi, mau numpang makan lo ya Kak,"ucap Raina ketus.


"Galak banget si lo sekarang, ini makanan gw bawa buat lo, tau kaya gini responnya mendingan gw kasih ke Lala nih makanan,"ucap Fathan kesal.


"Oh buat gw yaudah maaf lagian lo sih dari tadi bikin jengkel,"ucap Raina menunduk.


Fathan menghela nafasnya meletakan nampan di atas meja lalu mengambil kursi.


"Mending sekarang lo makan tadi di acaranya Shasha lo gak makan apa apa soalnya,"ucap Fathan sembari menyendok makanan dan menyuapi Raina.

__ADS_1


Raina menatap Fathan heran, ia sangat senang bisa sedekat ini dengan Fathan namun disisi lain ia tidak mengerti dengan perubahan sikap Fathan.


"Gak usah disuapin gw bisa makan kok,"ucap Raina terkekeh.


Raina meraih ponselnya yang berada di atas meja ia tertawa dan sibuk dengan ponselnya membuat Fathan kesal karena diacuhkan oleh Raina.


Fathan mengambil paksa ponsel Raina lalu melihat hal apa yang membuat Raina tertawa, ia menatap ponsel geram lalu mengembalikan ponsel pada Raina dengan rasa kesal yang masih memenuhi kepalanya.


Raina memandang Fathan kebingungan dengan perubahan raut wajah Fathan ia berniat menanyakannya pada Fathan namun ia takut.


"Kayanya lo seneng banget ya di chat sama dia,"ucap Fathan dingin.


"Dia siapa ? "tanya Raina namun Fathan tidak menjawab pertanyaannya malahan ia mendapat tatapan sinis dari Fathan.


Raina menatap ponselnya ia melihat pesan dari Aldo sudah terbaca ia mengambil kesimpulan yang dimaksud oleh Fathan adalah Aldo.


"Oh Aldo, jelaslah dia tuh temen gw dari kecil kadang dia tuh kocak tau,"ucap Raina terkekeh.


Fathan mendengar perkataan Raina dibuat makin jengkel ia beranjak dari duduknya berniat keluar dari kamar Raina namun dicegah oleh Raina.


"Lo marah ya Kak?"tanya Raina.


"Gak,"jawab Fathan acuh


"Kalo gak marah gak mungkin muka lo kesel begitu, kenapa si? cerita dong biar gw tau salah gw dimana,"ucap Raina terus memandang Fathan.


"Gak ada yang salah gw lagi gak mood aja,"jawab Fathan malas.


Raina memutar bola matanya berfikir dan mengulang kembali kejadian sebelum Fathan menjadi kesal, ia mulai paham namun sedikit ragu benar atau tidaknya kesimpulan yang ia ambil mengenai perubahan sikap Fathan.


Raina menyengir dan menatap Fathan ia berniat menanyakan langsung pada Fathan.


"Lo cemburu ya sama Aldo hahah,"ucap Raina tertawa.


Fathan terkesiap dibuat gugup oleh perkataan Raina ia mengalihkan pandangannya agar Raina tidak menatapnya.


"Apaan si udah buruan abisin makanannya besok ngampus nanti telat,"ucap Fathan mengalihkan pembicaraan.


Raina memanyunkan bibirnya saat Fathan mengalihkan pembicaraan, ia melepaskan tangannya dari tangan Fathan lalu melanjutkan makannya.


Raina berhasil menghabiskan 1 piring makanan ia berniat beranjak dari kasur ingin mengembalikan piring ke dapur namun di tahan oleh Fathan.


"Udah lo diem aja disini biar gw yang bawa piringnya ke bawah sekalian keluar, jangan main hp terus mending lo istirahat udah malem, gw keluar yaa,"ucap Fathan berpamitan keluar meninggalkan Raina.


Sementara di dapur masih terlihat ramai karena penghuninya yang baru saja selesai makan, mereka mempunyai kebiasaan sehabis makan tidak boleh tidur terlebih dahulu akhirnya dapur dibuat ramai oleh mereka.


"Pano mau gosok gigi duluuuu bial makin ganteng,"ucap Fano berusaha turun dari kursi.


Fano berlarian mengelilingi dapur lalu berjalan menuju kamar mandi, setelah selesai menyikat giginya ia dibuat terkejut melihat wajah Reyhan yang bersinar karena senter yang Reyhan genggam tiba tiba muncul di depan pintu.

__ADS_1


Fano berkacak pinggang menatap Reyhan kesal lalu menoyor kening Reyhan.


"Galing banget kak Ley, tadi Pano kila badut jelek,"ucap Fano santai berjalan keluar dari kamar mandi.


"Songong bocil gw selepet nih lama lama,"omel Reyhan.


Lala berjalan susah payah menuju wastafel ia berniat mencuci piring bekas makannya.


Fano berjalan mengendap ngendap ia bersiap siap ingin mengejutkan Lala.


"Kak Lalaaaaa,"teriak Fano.


Fano berhasil membuat Lala terkejut, Lala menatap Fano kesal lalu menyipratkan Fano dengan sedikit air sabun.


"Fanooo kurang kerjaan banget sii mending kagetin yang lain sono jangan isengin kak Lala terus liat nih kaki gw lagi sakit,"omel Lala.


Fano melirikan matanya pada kaki Lala ia tersenyum lalu menginjak kaki Lala.


"Fanooooooo,"teriak Lala emosi mengejar Fano dengan berjingkat jingkatan.


Fano terkikik sembari meledek ledek Lala ia berlarian mengelilingi dapur hingga ruang tengah.


"Hahaha ayoo kejal Pano cemen nih kak Lala, kak Lala kaya pocong jalannya loncat loncat,"ledek Fano sembari menjulurkan lidahnya.


Fano terus berlari larian meledek Lala sedangkan Lala terus mengejar Fano hingga ia dapat, rasanya ia sangat geram dengan Fano ingin sekali ia mengarungi anak itu lalu menjualnya di pasar loak.


Jaraknya dengan Fano semakin dekat hanya terhalang oleh Reno yang sedang duduk di karpet yang sedang asik dengan acara televisi yang ia tonton.


Fano berjalan memutar lalu mendorong tubuh Lala membuat Lala tidak bisa menahan tubuhnya hingga ia terjatuh tepat meniban Reno yang sedang menonton televisi.


Fano tertawa terbahak bahak melihat Lala tersungkur tepat di atas Reno lalu ia menjatuhkan tubuhnya dengan sengaja menimpa mereka hingga kini posisi mereka menjadi tertumpuk seperti karung beras.


Reno yang posisinya berada paling bawah terus berteriak karena menahan beban 2 manusia secara bersamaan.


"Yeayyy Pano punya kasul balu yeay yeay yeay,"teriak Fano sengaja meloncat loncatkan dirinya.


"Fanoooo ihhh sakit minggir gakk,"teriak Lala.


"Engga mau,"ucap Fano acuh.


Sedangkan yang lainnya berhamburan melihat kerusuhan apa lagi yang terjadi di rumah mereka.


Fano melihat semuanya berdatangan ia tersenyum lalu mengajak mereka ikut bermain.


"Fano turun kasian itu Kak Reno nanti tulangnya bengkok gimana,"ucap Wina.


Fano pun menyingkirkan tubuhnya dari tubuh Lala begitu pun dengan Lala yang berusaha berdiri.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2