
Usai berbicara dengan Genta semua berniat pergi ke kontrakan yang dimaksud oleh Genta. Namun tiba-tiba saja Raina menepuk dahinya sambil berdecak sebal kemudian ia melirik ponselnya yang menujukkan pukul 9.00 rasanya tidak mungkin sekali ia ikut yang lainnya ke kontrakan karena ada beberapa tugas yang belum selesai iya kerjakan.
"Duh maaf ya Raina gak bisa ikut nih soalnya ada tugas yang belum kelar masalahnya nanti kelas dimulai jam 11 siang," ucap Raina.
Mendengar perkataan Raina membuat Lala terkesiap kemudian dengan cepat ia menolehkan kepalanya pada Raina, ia menatap Raina dengan penuh selidik. Ia berusaha menyelidiki Raina melalui matanya.
Ini Raina alesan doang apa beneran ya ... Kok gw gak tau kalo ada tugas.
"Lah ada tugas? Kok Lala gak tau ya, yaudah deh Lala juga gak ikut. Raina nyontek yaaa," ucap Lala dengan heboh.
"Makanya kuliah tuh dengerin dosen yang bener jangan mikirin makan terus. Ogah ah! Enak aja lo nyontek ke gw. Sana minta ajarin suami lo aja, Abang gw gitu-gitu otaknya encer La, bisa segalanya lagi," ucap Raina.
"Idih dasar adik ipar durhaka gw kutuk lo ya jadi malin kundang," saut Lala.
"Yaudah kalo gitu biar saya aja tante yang nyelidikin, kasian masa depan saya belum ngerjain tugas nanti nilainya jadi jelek. Ayo muka asem kali ini kita akur dulu ya demi melindungi keluarga masa depan gw," ucap Genta sambil merangkul Fathan yang langsung ditepis oleh Fathan.
"Ngapain sih lo rangkul-rangkul gw, sok kenal banget! Ogah ah, gw gak mau bareng sama lo. Gw bisa cari tau sendiri. Kalo gw bareng lo yang ada nanti kepala gw pusing denger ocehan lo," ketus Fathan.
"Tuh liat mama mertua dan papa mertua dia kasar banget ke saya. Gak cocok banget muka asem begini sama Raina yang mukanya cantik, glowing tanpa pori-pori," adu Genta.
"Udah deh sana lo pergi. Ngomong mulu lama-lama mulut lo gw lakban nih ya. Jangan didengerin tante, dia gak jelas." Fathan menatap Genta garang sambil mendorong-dorong tubuh Genta.
"Ribut terus kalian berdua ya. Tante minta tolong sama Genta boleh gak Nak? Kita belum bisa mantau ke kontrakan karena dadakan banget. Papanya Raina mau berangkat kerja terus ini semua yang lainnya mau berangkat jam 11 siang," ucap Wina.
Genta tersenyum senang saat mengetahui Wina meminta tolong padanya, ia menatap Fathan dengan tatapan meledeknya.
"Siap mertua masa depan. Buat keluarga masa depan apa sih yang enggak bisa Genta lakuin. Yaudah Genta jalan sendiri aja deh karena ini perintah dari mama mertua masa depan jadi Fathan yang bakalan jadi masa lalunya Raina gak usah ikut," ucap Genta.
Raina yang mendengar ucapan Genta refleks menolehkan kepalanya pada Fathan. Ia merasa tidak enak dengan Fathan karena saat ia menolehkan kepalanya, ia melihat raut wajah Fathan yang terlihat jelas sedang menahan kesalnya.
Raina berusaha menenangkan Fathan dengan mengusap-usap lembut lengan Fathan. Raina menatap Genta dengan tatapan kesalnya karena sedari tadi Genta tidak ada hentinya berbicara yang membuat Fathan kesal.
"Kak Genta udah deh gak usah ngomong yang aneh-aneh. Lagian gw maunya sama kak Fathan jadi jangan bikin suasana jadi gak enak. Kalo mau jalan sendiri ke kontrakan, yaudah jalan aja kak, gak usah bikin kak Fathan kesel terus," tegur Raina.
"Iya deh iya maaf. Yaudah saya pamit ya mama mertua masa depan dan Papa mertua masa depan serta keluarga masa depanku kecuali muka asem," pamit Genta.
Genta berjalan keluar dari rumah keluarga Raina dengan ditemani oleh Fano.
Setelah melihat Genta keluar dari rumah Fathan menghela nafas gusarnya.
"Udah jangan kesel lagi. Kak Gentanya udah pergi tuh," ucap Raina.
"Dia ngeselin banget sayang, andai aja gak ada mama sama Papa kamu, udah aku lempar laba-laba tuh orang," oceh Fathan.
Raina menggelengkan kepalanya, ia mengarahkan Fathan untuk duduk di atas sofa kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kamar. Raina mengambil keperluannya untuk mengerjakan tugas kemudian membawanya ke ruang tengah.
Fathan yang melihat Raina kembali dengan membawa laptop dan beberapa alat tulis membuat dirinya kebingungan. Setelah beberapa detik berfikir akhirnya ia paham dengan tujuan Raina membawa itu semua mendekatinya.
"Pasti minta bantuin dah," gumam Fathan.
Raina meletakkan semua yang ia bawa dibantu oleh Fathan kemudian ia mendudukkan dirinya disamping Fathan.
"Oh jadi ceritanya kamu sengaja bawa ini semua kesini biar dengan sukarela aku nawarin buat bantuin kamu ya," ucap Fathan.
"Idih kepedean banget kamu, aku sengaja bawa semua ini kesini karena aku gak mau liat muka kamu cemberut terus kaya tadi. Kalo aku ngerjain tugas di kamar yang ada kamu ngoceh terus," saut Raina.
"Oke kalo gitu selamat ngerjain tugas ya pacar aku yang katanya bakal jadi pacar masa depannya si gentong, tapi aku gak akan biarin semua itu terjadi," ucap Fathan sambil bersidekap dada.
"Mulai deh ngeselinnya. Dari pada kamu bahas itu terus mendingan kamu bantuin aku ngerjain tugas aja deh," ucap Raina.
"Gak mau ... Tadi kamu bilang sengaja bawa semua ini cuma buat nemenin aku doang biar gak cemberut terus, tapi kenapa sekarang jadi berubah," protes Fathan.
"Yaudah kalo gak mau. Aku minta bantuin Aldo aja kalo gitu," ucap Raina sambil mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.
Mendenger hal tersebut berhasil membuat mata Fathan terbelalak dengan cepat Fathan mengambil ponsel Raina kemudian ia masukkan ke dalam jaketnya.
__ADS_1
"Oke ... Oke ... Berapa banyak tugasnya? Aku kerjain semuanya, tapi jangan telpon dia," ucap Fathan.
Raina susah payah menahan tawanya supaya tidak membuat Fathan curiga kalau dirinya hanya berniat menjahili Fathan dan tidak benar-benar serius ingin menghubungi Aldo.
"Gak banyak kok, beneran ya mau kerjain semuanya. Awas aja kalo boong, nanti aku beneran jadi masa depannya kak Genta tau rasa," ucap Raina.
Fathan tidak terima dengan apa yang diucapkan Raina. Dengan cepat ia menutup mulut Raina dengan telapak tangannya.
"Eh pamali. Jangan ngomong yang jelek-jelek. Pokoknya kamu bakalan jadi masa depan aku bukan masa depan dia," ucap Fathan.
***
Berbeda dengan Raina dan Fathan yang sedang mengerjakan tugas bersama-sama. Kini Lala sedang berada di depan play station sambil mengerjakan tugasnya. Ia menatap Fathan dan Raina yang tidak jauh dari posisinya duduk dengan tatapan iri.
"Kak Reno tau gak?" ucap Lala memasang wajah semelas mungkin.
Reno yang sedang asik bermain dengan Vico hanya melirik Lala sekilas.
"Enggak," saut Reno.
"Tanya dong masa jawabnya engga doang, gak asik banget nih," ucap Lala.
"Kerjain dulu tugasnya sampai selesai, tanya-tanya nanti aja," saut Reno.
Lala berdecak sebal kemudian melirik Reno sinis, ia kembali fokus pada tugasnya sambil sesekali merengut.
Reno menyadari Lala yang sedang merajuk padanya pun hanya menggelengkan kepalanya kemudian menolehkan kepalanya ke arah yang sebelumnya Lala lihat.
"Liat deh Vico masa mama kamu ngambek gara-gara iri liat orang pacaran. Jangan ditiru ya Vico," ucap Reno sambil mengusap-usap lembut pipi Vico dengan jari telunjukknya.
Lala hanya diam saja, ia tidak berminat untuk meladeni ucapan Reno.
****
"Ma udah dulu ya, Zara capek banget soalnya nanti siang ada kelas takutnya ngantuk." Zara berbicara dengan nada lemasnya karena sejak subuh ia tidak berhenti mengerjakan pekerjaan rumah mulai dari mencuci pakaian, menjemur pakaian, mencuci piring, menyapu. Hampir seluruh pekerjaan rumah semuanya ia yang mengerjakan.
"Gak ada. Kamu kan kuliahnya siang masih lama dan masih bisa ngerjain 3 atau 4 kerjaan lagi. Gak usah banyak alesan, buruan kerjain atau mama siram lagi kaya kemarin-kemarin," ucap Winda.
Zara hanya menghela nafas pasrahnya. Ia berjalan gontai menuju dapur untuk mengambil keranjang belanjaan yang akan ia gunakan saat berbelanja ke pasar. Sejujurnya ia sangat lelah sekali karena sejak pagi ia terus mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan untuk sarapan saja ia tidak sempat.
"Nah gitu dong jadi anak jangan lemah. Ini catetan belanjanya sama uangnya," ucap Winda.
Zara mengambil catatan belanjaan dan juga uang dari tangan Winda. Ia berpamitan pada Winda kemudian berniat pergi keluar dari rumahnya, namun langkahnya terhenti saat tidak sengaja melihat laki-laki yang beberapa hari ini sering bertemu dengannya Ibu tirinya.
Laki-laki tersebut dengan angkuhnya berjalan melewati Zara tanpa menegurnya terlebih dahulu. Hal tersebut membuat Zara tidak suka, ia menatap laki-laki tersebut dengan tatapan tidak sukanya.
"Ngapain masih disitu. Sana buruan ke pasar, awas aja kalo kehabisan apa yang mau dibeli. Mama suruh tidur di luar rumah kamu ya," ucap Winda.
Zara tidak merespon perkataan ibu tirinya, ia hanya menyunggingkan senyum miringnya sambil melirik Winda dan laki-laki tersebut dengan sinis kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
"Seenaknya aja dirumah orang bawa laki-laki songong kaya gitu. Kalo bukan karena Papa udah gw lawan itu perempuan. Dari dulu juga gw selalu disuruh tidur di luar jadi hal kaya gitu gak ngaruh buat gw. Hidup enak cuma numpang aja sok ngatur-ngatur, baru kali ini gw nemu orang yang gak tau dirinya kebangetan. Percuma aja kalo gw aduin semuanya ke Papa pasti Papa gak akan percaya sama gw, Papa kan lebih percaya sama bunglon itu,"gerutu Zara.
Zara berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya sesekali ia menendang krikil yang ada di depannya. Tubuhnya terasa sangat lemas karena dirinya sama sekali belum sarapan.
"Gw mampir makan nasi uduk dulu kali ya, bodo amat ah mau diocehin, dipukulin, disiram apapun itu jenisnya dari pada gw pingsan di jalan gara-gara kelaperan," gumam Zara.
Zara memutuskan untuk mendahulukan keadaan perutnya, ia berjalan menuju penjual nasi uduk.
"Bu, nasi uduknya satu ya pedesin," pinta Zara.
Zara mengedarkan pandangannya mencari meja yang kosong. Zara mendengus sebal saat melihat wajah seseorang yang hari ini tidak mau ia lihat.
"Kenapa dimana-mana ada bapak terus sih," keluh Zara.
Farhan mengerutkan alisnya saat mendengar suara yang sangat ia kenal, ia menolehkan kepalanya pada Zara.
__ADS_1
"Harusnya saya yang ngomong kaya gitu ke kamu. Saya dari tadi ada disini, kamu ngapain disini?" tanya Farhan.
"Mau makan lah. Bapak pikir saya mau ngapain ke penjual nasi uduk kalo bukan makan," ketus Zara kemudian mendudukkan dirinya diatas kursi yang ada di samping Farhan.
"Bisa aja kamu disini bantu-bantuin ibu-ibu penjualnya. Kaya bantuin cuci piring misalnya," saut Farhan.
Zara sedikit kebingungan saat mendengar perkataan Farhan. Ia terdiam memikirkan bagaimana Winda menyuruhnya tiap hari layaknya pembantu.
Hadeh ini orang gak tau aja dari dulu hidup gw udah kaya pembantu di rumah sendiri bahkan gak digaji lagi. Tapi biarin aja lah dia gak perlu tau.
Farhan mengalihkan pandangannya pada keranjang kosong yang diletakkan oleh Lala di atas meja.
"Kamu mau ke pasar?" tanya Farhan.
"Iya, tapi mampir dulu kesini soalnya perut saya gak bisa diajak kompromi," jawab Zara.
Zara mengembangkan senyumnya saat melihat ibu penjual nasi uduk berjalan ke arahnya sambil membawa 1 porsi nasi uduk di tangannya.
"Nih neng," ucap Ibu penjual nasi uduk.
"Ah iya ibu makasih ya," saut Zara.
Farhan bergedik ngeri melihat Zara yang memakan nasi uduknya sangat cepat.
^^^Ini anak laper apa doyan sih, ngeri keselek aja gw liatnya.^^^
Tanpa Farhan sadari, Farhan menuangkan segelas air putih kemudian mendorong gelas tersebut mendekati Zara.
"Kamu gak makan berapa lama sih? Kenapa makannya kaya sebulan gak makan," ucap Farhan.
Zara yang sedang mengunyah makanannya hanya menatap Farhan kemudian ia mengambil air putih yang sempat disodorkan oleh Farhan lalu meminumnya. Setelah merasa tidak ada makanan lagi di mulutnya, ia kembali menatap Farhan.
"Gak usah lebay deh. Orang satu hari gak makan aja pasti rasanya laper banget dan pasti sekalinya nemu makanan bakal kaya gini juga kali," saut Zara.
"Iya tau. Tapi gak kaya gitu juga kali," saut Farhan.
***
Raina yang sudah selesai mengerjakan tugasnya melihat jam dinding yang masih ada waktu 1 jam. Ia merapikan seluruh peralatannya kemudian kembali menuju kamarnya berniat bersiap-siap untuk berangkat ke kampusnya.
"Kak Patan, kita nonton dola aja yuk dali pada kak Patan main hp telus nanti jadi oon kaya kak Lala," ajak Fano dengan wajah polosnya.
Lala yang mendengar hal tersebut refleks menolehkan kepalanya ke arah Fano, ia memicingkan matanya menatap Fano sebal.
"Oh gitu ya sekarang ngatain kak Lala oon. Awas aja nanti minta nebeng makan mie goreng, gak akan kak Lala kasih," ucap Lala memalingkan wajahnya sambil bersidekap dada.
"Omelin aja tuh si Fano. Tadi Cila denger dia ngatain mama Lala oon," adu Cila sambil menunjuk Fano.
"Cila kok mulutnya embel banget sih, males ah temenan sama Cila mulutnya bocol," omel Fano.
"Salahin aja mulut Cila, lagian kan mulut Cila yang ngomong," saut Cila dengan cuek.
"Ngeselin banget sih jadi anak kecil. Bialin aja Pano doain Cila ditangkep sama monstel jelek yang ada di depan pagel lumah telus gak dibalik-balikkin lagi," ketus Fano.
"Fano ... Gak boleh ngomong kaya gitu ya, Cila saudara kamu juga jangan pernah doain yang jelek-jelek ke orang lain apalagi saudara kamu sendiri," tegur Reno.
"Pano lagi yang salag," keluh Fano sambil menundukkan kepalanya.
****
Bersambung ....
Jangan lupa like, komen dan sarannya ya gais. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar buat bahan evaluasi aku di bab selanjutnya supaya bisa lebih baik lagi.
Sekian dan terima kasih.
__ADS_1