SENIOR

SENIOR
Es krim


__ADS_3

Disaat semua sedang sibuk dengan acara masak-masak tiba-tiba saja beberapa petugas dari kepolisian datang menghampiri mereka membuat semua pandangan tertuju pada polisi.


"Kalian lanjutin aja acaranya biar gw yang urus semuanya," ucap Fathan dengan sedikit mengeraskan volume suaranya supaya yang lainnya bisa mendengar apa yang ia ucapkan.


Raina yang sedang asik dengan tugasnya mendadak ia menolehkan kepalanya dengan cepat saat mendengar ucapan Fathan. Ia tidak rela Fathan pergi sendirian dan nantinya akan bertemu dengan Fahira. Sejujurnya saat ini ia sedang tidak percaya diri mengingat bagaimana masa lalu Fathan dengan Fahira, rasanya ia sangat takut Fathan gagal move on saat berhadapan dengan Fahira.


"Aku ikut!" teriak Raina melempar asal daun kemangi kemudian berlarian mendekati Fathan.


"Kamu disini aja sayang. Nanti kalo kamu ikut yang bantuin masak siapa, kasian Aisyah keliatannya dia kerepotan," ucap Fathan.


Raina memasang wajah muramnya sambil menggelengkan kepala, ia mengedarkan pandangannya di sekelilingnya.


"Ada Lala sama Shasha pasti mereka bisa ngehandle. Sebentar doang kan cuma nyerahin Maira dan Fahira ke pak polisi," ucap Raina.


"Iya, makanya karena sebentar makanya aku minta sama kamu buat disini aja bantu yang lainnya," saut Fathan.


"Oh aku tau pasti kamu mau caper ya sama Fahira, kamu mau modus berkedok nyerahin mereka ke pak polisi kan," tuduh Raina memicingkan matanya menatap Fathan penuh dengan kecurigaan.


Fathan tersenyum simpul saat mendengar tuduhan Raina pada dirinya. Entah mengapa dirinya sangat senang melihat Raina yang menatap dirinya penuh curiga seperti saat ini.


"Pak polisi, hukuman buat pacar yang suudzon sama pacarnya sendiri apa ya pak?" tanya Fathan.


"Penjara di dalam hatimu seumur hidup Hehe," saut salah satu polisi.


Raka yang sedang berlarian sambil membawa bawang bombay mendengar ucapan pak polisi terkekeh geli hingga nyaris tersandung kakinya sendiri saking tidak fokusnya pada jalan di depan.


"Wedehhh mantap pakpol gombalannya hampir jatoh gara-gara denger gombalan maut pakpol," puji Raka sambil mengacungkan jempol kanannya.


Fano mendesis bosan saat melihat polisi dan yang lainnya yang asik bergurau.


"Kelamaan pak polisi ayuk Pano aja yang antelin ke tempatnya nenek gelandong, dia diiket di dalam villa kaya kambing," ajak Fano menarik lengan salah satu polisi dengan semangat dan diikuti oleh dua polisi lainnya.


"Loh kok jadi Fano yang nganterin polisinya harusnya kan Fathan," heran Raka sambil menunjuk ke arah Fano dan polisi yang sedang berjalan bersama dengan Fano.


"Lah iya kenapa jadi Fano yang jalan duluan udah gitu polisinya nurut aja lagi ditarik-tarik sama Fano," heran Fathan.


"Kamu kelamaan sih dari tadi ngobrol mulu, makanya ditikung sama Fano kan Haha," ejek Raina sambil menertawakan Fathan.


"Oh gitu ya sekarang udah pinter ngeledek aku. Jangan ikut aku ke dalam ya," ucap Fathan memalingkan wajahnya.


"Yaudah. Gapapa kamu gak ajak aku tapi nanti aku ikutin kamu aja dari belakang. Gampangkan hehe," saut Raina sambil bersidekap dada memamerkan senyum manisnya.


***


Di depan kompor ada Lala, Aisyah dan Shasha yang siap dengan tugasnya masing-masing. Lala sengaja menitipkan Vico pada Reno dan yang lainnya.


"Kamu potong-potong bawang aja La, biar aku yang goreng-goreng. Terus nanti Shasha yang siapin bumbu-bumbu buat bakar ayamnya. Nanti Raina sisanya aja," ucap Aisyah.


Setelah mendengarkan arahan dari Aisyah. Lala menganggukkan kepalanya kemudian mengalihkan pandangannya pada beberapa macam bawang yang ada di dalam baskom.


Pasti bakalan ada adegan sedih-sedihan kaya abis nonton drama korea nih. Bawangnya gede-gede banget lagi bisa-bisa banjir air mata nih villa.


Lala melihat bawang dengan tatapan ragunya, ia memutar segala ide yang ada diisi kepalanya untuk mengindari sedihnya memotong bawang.


"Oh iya gw tau, kayanya gw harus pake kaca mata renang aja deh," gumam Lala.


Lala berlarian menuju jendela villa yang sempat ia buka karena saking malasnya mutar-mutar. Ia membuka jendela dan masuk ke dalam kemudian berjalan menuju kamarnya.


"Untung aja gw iseng suka bawa kacamata renang kemana pun gw pergi. Ternyata kamu berguna juga kacamata disaat seperti ini," gumam Lala.


Setelah mengambil kacamatanya Lala berlarian keluar kamarnya menuju jendela.


Lala memakai kacamata renangnya kemudian mendudukkan dirinya diatas karpet.


"Oke siap tempur lawan bawang-bawang," ucap Lala dengan semangat.


Zara yang berada disana menatap Lala dengan tatapan herannya saat melihat Lala memakai kacamata renangnya.

__ADS_1


"Lo mau motong bawang apa mau nyelem sih, segala pake kacamata renang sekalian aja lo pake helm La," ucap Zara bergedik ngeri menatap Lala.


"Ini tuh kacamata renang anti galau tau, kalo gak pake ini nanti gw bisa nangis gak berenti-berenti Zar," ucap Lala sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum.


"Idih aneh banget sih lo. Mending gw aja sini yang motong, bosen juga nganggur begini lagian makanan yang mau dimakan gak ada," ucap Zara.


Shasha dan Raina yang semulanya fokus pada tugas mereka dengan posisi yang membelakangi Zara pun merasa terusik dan penasaran dengan ucapan Zara.


"Hahaha Lala kocak banget sih lo. Ngapain pake kacamata renang sih ya ampun," tawa Shasha pecah saat melihat Lala yang sedang memotong bawang dengan kacamata renang yang sudah Lala pakai.


"Gak cocok jadi chef nih anak Haha," ledek Raina sambil menggelengkan kepalanya.


"Biarin ah dari pada mata gw perih mendingan gw pake nih kacamata lebih aman dan nyaman," ucap Lala dengan acuh.


"Gw bantuin si Lala gapapa kan? Takutnya nanti gak kelar-kelar kalo dia yang motong sendirian," ucap Zara.


"Kalo gak ngeberatin lo gapapa sih, tapi kalo gak kuat mending gak usah dikerjain Zar. Tangan lo kan lagi sakit," saut Raina.


"Yailah motong bawang beginian doang mah kecil, tangan lagi sakit juga bisa kok," saut Zara.


"Yaudah biarin aja Raina. Biarin si Zara motong-motong bawang, kasian juga kan dia bosan nungguin masakan yang jadi," ucap Shasha.


Raina pun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Zara. Meskipun ia merasa khawatir dengan kondisi Zara. Tetapi ucapan Shasha ada benarnya juga, pasti Zara merasa bosan melihat yang lainnya sibuk sedangkan dirinya hanya duduk melihat yang lainnya.


***


Para perempuan sedang sibuk dengan masak-masaknya berbeda dengan para laki-laki yang sedang sibuk mengurus bayi bersama dengan Reno.


"Bang Reno, lo gak capek apa ngurusin bayi tiap hari padahal kan lo baru aja nikah, di villa yang kebakar kemarin tuh gw lewat depan kamar lo dan gw denger lo masih bangun dan sibuk ngurus si Vico," tanya Raka.


Reno menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak merasa keberatan justru ia sangat senang diberi amanah mengurus bayi disaat dirinya sendiri baru saja menikah.


"Ada Vico malah rame. Ngurus bayi tuh ada rasa kebanggaan tersendiri tau. Nanti pas punya bayi beneran jadi gak kagok," saut Reno.


Oek! Oek! Oek!


Rama teringat dengan tetangganya yang sempat melakukan suatu hal yang membuat bayi tertawa hingga membuatnya berfikir dan berniat melakukan hal yang sama pada Vico.


"Piko jangan nangis, liat disini ada orang kece. Ciluk baaaaaa!" Bukannya tertawa justru Vico menangis semakin keras hingga membuat para laki-laki menutup telinganya.


"Haduh si Rama gara-garanya nih. Takut dia liat muka lo makanya nangisnya kaya gitu," ucap Farhan.


Rama memelototkan matanya tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Farhan.


"Enak aja lo kalo ngomong, asal lo tau nih ya Han tetangga gw pake cara begituan ampuh, tapi kenapa pas gw yang lakuin si Vico malah tambah kenceng nangisnya jangan-jangan Vico bukan bayi ya," ucap Rama.


Raka memperhatikan Vico, ia mengikuti arah penglihatan Vico yang tepat mengarah pada Reyhan yang sedang asik memakan es krim.


"Kayanya dia mau es krim yang dimakan sama Reyhan deh, soalnya si Vico ngeliatin Reyhan terus tuh," ucap Raka sambil menunjuk Reyhan.


Reyhan menolehkan kepalanya pada Raka kemudian melirik Vico yang sedang menangis sekilas.


"Bilang aja lo yang mau, gak usah banyak alesan deh lo segala bilang Vico yang mau. Mana mungkin bayi yang belom bisa ngomong kaya gitu ngerti sama es krim," ucap Reyhan.


"Liat aja kalo gak percaya tuh bayi ngeliatin lo mulu. Kalo gak gini aja deh, coba lo deketin es krimnya ke dia pasti diem deh gw yakin," ucap Raka tanpa keraguan.


Reyhan mengerutkan alisnyanya ia menatap Raka dengan tatapan ragunya. Namun tangannya bertolak belakang dengan keraguannya ia menyodorkan es krim pada Vico.


Raka mengembangkan senyumnya saat melihat Vico berhenti menangis justru sekarang bayi tersebut sedang tertawa dengan tangan yang berusaha meraih es krim yang berada di tangan Reyhan.


"Tuh liat, gak percaya banget sih lo dibilangin. Gini-gini gw calon bapak masa depan yang bakal selalu ngerti apa yang anak gw mau nantinya tau," ucap Raka dengan bangganya.


"Heleh punya pacar aja kaga lo segala ngomongin anak. Kuliah aja dulu yang bener setahun lagi kan," ucap Reyhan.


Reyhan tidak menyangka kalau bayi sekecil Vico bisa memilih makanan enak juga ternyata. Ia tersenyum pada Vico kemudian menyodorkan es krim tersebut pada Vico. Reyhan mencubit gemas pipi Vico dengan tangan kirinya saat melihat Vico dengan begitu lahapnya menyicipi es krim dengan lidahnya dan terlihat es krim uang belepotan di sekitar bibirnya.


"Wuih ponakan gw pinter banget nih udah ngerti mana yang enak," puji Reyhan.

__ADS_1


Reno yang melihat hal tersebut mendadak panik, berulang kali ia melirikkan matanya ke tempat dimana Lala sedang memotong bawang. Ia terus berjaga-jaga berharap Lala tidak datang dan melihat apa yang sedang dimakan oleh Vico.


"Udah Rey, nanti si Lala tau bisa-bisa kita semua abis dimaki-maki sama dia," tegur Reno.


"Biarin aja bang, sayang anak sekali-sekali biar seneng dia nyicipin es krim," ucap Rama.


"Iya bang Reno biarin aja dari pada nangis terus bisa-bisa kita bukan diamuk lagi sama Lala, tapi dijambak sampe botak. Gw gak mau botak ya bang, nanti bisa-bisa karisma gw di kampus sebagai dosen terganteng bisa ilang," ucap Farhan bergedik ngeri membayangkan bagaimana nanti keadaan kepalanya setelah dijambak oleh Lala.


Cila yang sangat asik bermain boneka membuat dirinya lupa dengan sekitar. Tidak sengaja ia melihat adiknya sedang makan es krim hingga membuatnya kepingin menyicipi es krim dan terus menatap ke arah Vico.


"Cila janji ya jangan kasih tau ke kak Lala ya plissss," ucap Reno memelaskan wajahnya.


Cila menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang diucapkan oleh Reno.


"Cila mau es krim juga boleh gak?" tanya Cila.


"Boleh, sana ambil di kulkas," saut Reno.


Cila beranjak dari duduknya dengan semangat ia berlarian ke dalam villa.


***


Fathan dan Fano mengembangkan senyumnya saat melihat Fahira dan Maira dibawa oleh polisi. Fathan merasa dengan dipenjaranya mereka dapat membuat mereka kapok dan tidak akan mengulang kesalahan yang sama di kemudian hari.


"Pak tunggu saya mau ngomong sama Fathan sebentar," pinta Fahira.


Fahira berjalan mendekati Fathan dengan dikawal oleh polisi, ia menundukkan tubuhnya kemudian bertekuk lutut di hadapan Fathan. Ia terpaksa menghilangkan rasa gengsinya supaya ia tidak mendekam di dalam penjara karena ia yakin hukuman yang akan diberikan padanya pasti berat.


"Fathan aku mohon sama kamu bebasin aku, aku janji gak akan ngulangin semua kesalahan aku. Aku gak akan ganggu Raina lagi. Aku mohon sama kamu. Aku yakin kamu masih anggap aku sahabatkan," ucap Fahira dengan air mata yang menetes di pipinya.


Maira berdecak kesal saat melihat Fahira menangis memohon pada Fathan.


"Udahlah Fahira gak usah ngerendahin diri lo di depan dia karena percuma aja. Dia gak akan dengerin apapun yang lo omongin ke dia. Bangun lo, jangan liatin kalo lo lemah!" ucap Maira.


"Maaf Hira gw gak bisa lakuin apa-apa. Kalo emang bener-bener lo niat berubah, lo lakuin nanti setelah lo selesai ngejalanin masa hukuman lo. Semua kejahatan yang diperbuat pasti ada hukuman yang setimpal. Kalo gw bebasin lo gitu aja berarti secara gak langsung gw ngebebasin kejahatan menang gitu aja," ucap Fathan.


"Kasih gw satu kesempatan lagi Fath, gw janji gak akan buat lo kecewa lagi. Gw nyesel udah ngelakuin semuanya, gw gak mau di penjara Fath," mohon Fahira.


Fathan enggan menanggapi apa yang diucapkan oleh Fahira. Sejujurnya ia kasihan melihat Fahira yang menangis-nangis dan terus memohon pada dirinya, namun ia tidak mau membuat Raina marah nantinya saat mengetahui dirinya membebaskan Fahira. Lagi pula kesalahan Fahira sangat fatal dan sulit untuk dimaafkan.


"Kita udah selesai Pak, silahkan bawa mereka. Makasih banyak sudah membantu saya dan yang lainnya," ucap Fathan tersenyum kemudian berjabat tangan dengan ketiga polisi.


"Dadah nenek gelandong. Kulung aja di kandang macan tutul pak polisi bial dimakan macan tutul," ucap Fano sambil melambai-lambaikan tangannya.


Fano dan Fathan memutar balik tubuhnya berniat menyusul yang lainnya ke samping villa. Namun langkah mereka terhenti saat melihat Cila berjalan dengan riang sambil bersenandung membawa 3 es krim di tangannya.


Fano yang melihat hal tersebut dengan cepat mendekatkan dirinya pada Cila kemudian memasang wajah seimut mungkin.


"Cila bagi dong es klimnya. Pano belum dapet es klim satu pun dali tadi," bujuk Fano.


Cila menyembunyikan ketiga es krimnya di balik punggung sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak rela memberikan salah satu es krim yang berada di tangannya pada Fano.


"Gak boleh! Ini kan punya Cila. Kalo Pano mau ambil aja sana di kulkas masih ada kok," ucap Cila.


Mendengar ucapan Cila mata Fano berbinar dengan semangat ia berlarian memasuki villa tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Fathan.


Dasal Cila gendut pelit, awas aja nanti kalo Pano punya banyak makanan, Pano gak akan kasih secuil pun ke dia.


"Itu anak main pergi aja gak ada pamit-pamitnya, Cila bareng aku aja yuk kita tinggalin aja si Fano," ucap Fathan.


Fathan dan Cila pun pergi bersamaan menuju samping villa meninggalkan Fano.


***


Bersambung ....


Jangan lupa like, komen dan sarannya ya gais. Kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar buat bahan evaluasi aku nanti di bab selanjutnya.

__ADS_1


Sekian dan terima kasih.


__ADS_2