
"Sejujurnya aku ingin pergi ke luar dan bertanya pada Minah, ada apa dengannya. Tetapi, aku terlalu mengantuk untuk bangun. Jadi, besok aku akan bertanya padanya." Aku kembali merebahkan diri. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kantuk pun sudah melanda. Besok pagi jam 10 kami harus pergi ke kampus lagi untuk OSPEK hari terakhir.
Tina bangkit dari duduknya, dia menghela napas lelah. "Ya sudahlah. Tak usah dibahas lagi, lupakan saja. Tidurlah. Besok kita pergi lebih awal, kan? Aku pun sudah mengantuk. Good night." Setelah mengatakan itu, Christina pergi, menyisakan aku yang terbengong sendiri melihat sikapnya. Tadi dia terlihat sangat kesal, namun sekarang dia malah berkata 'lupakan saja'. Terkadang, Aku tidak mengerti dengannya.
***
Musim gugur masih berlangsung. Dedaunan jatuh memenuhi jalan aspal yang kami lalui. Kini, Aku dan Christina tengah berjalan menuju kampus kami. Tadi, aku sempat ingin mengajak Minah berbicara, namun responnya sangat tidak mengenakkan. Dia mengatakan sedang buru - buru dan tidak punya banyak waktu untuk membahas hal yang tidak penting. Lalu mengabaikanku begitu saja saat aku kembali memanggilnya. Sungguh, Minah sangat aneh. Aku tidak tahu apa yang salah darinya. Seingatku, Aku dan Christina tidak pernah berkata atau berbuat salah dengannya. Dia sangat berbeda saat pertama kali aku bertemu dengannya, ramah sekali.
"Tina, anjing itu sangat galak. Aku rasa kita harus lari." Langkahku harus terhenti mendadak karena di depan kami ada anjing liar yang menjulurkan lidahnya sangat ganas. Aku memegang lengan Tina, menahannya untuk melanjutkan jalan. Cewek itu tampaknya santai saja, sama sekali tidak ketakutan.
"Tidak apa. Anjing tidak akan ngejar kalau kita tidak lari. Tenang saja. Aku juga punya anjing, kok, di rumah."
Etdah ni bule. Jelas saja, anjing yang dipelihara, kan, sangat jinak. Bukan anjing liar seperti ini. "Tapi--"
"TINAAAA" Aku memekik ketika Tina dengan teganya meninggalkanku. Dia berjalan terus, tak memedulikan anjing itu. Langkah kakinya yang panjang membuat aku kesulitan menyejajarkannya.
Aku berlari sekuat tenaga mengejar Tina yang sudah berhasil melewati anjing tersebut. Dan betapa terkejutnya Aku saat menyadari anjing tadi benar benar mengejarku.
"YAK! CHRISTINAAA. AKU DIKEJARRR." Aku menarik tangan Christina untuk berlari bersama. Mengabaikan orang - orang yang memandang kami aneh.
Napas kami terengah ketika berhenti di depan gerbang kampus. Anjing gila itu juga sudah pergi entah ke mana.
"Kalau saja kau tak lari, dia tidak akan mengejar kita, Reva. Sudah ku bilang, kan?"
Aku berusaha menstabilkan napas yang ku rasa hampir habis. Menghirup udara dengan rakus. Baju kaus lengan panjang yang ku kenakan, ku gunakan untuk menyapu keringat
"Hais, jorok!" Tina bergidik ngeri melihatku. Aku tertawa karenanya. Kemudian, dia segera mengajakku untuk cepat - cepat masuk karena acara sebentar lagi akan dimulai.
***
Pengenalan kampus sudah, sistem belajar sudah, peraturan kampus juga sudah. Aku tidak tahu hari ini akan ada pembahasan apa lagi. Aku malas bertanya pada Tina karena dia pasti akan menjawab panjang lebar dan aku malas mendengarnya.
Mataku menyapa sekitar, di aula sudah ramai. Namun, hari ini aku tidak menangkap sosok kemarin yang menjadi sorotan. Kemarin, Tina bilang pria itu adalah salah satu mahasiswa senior semester lima yang digilai banyak wanita di universitas ini. Awalnya aku heran, kenapa secepat itu Tina bisa mengetahui tentangnya. Tina tidak tahu namanya siapa.
"Hari ini kau harus fokus. Jangan terus memperhatikan senior itu."
Mendengar pernyataan Tina membuatku kembali fokus padanya. "Iya, iya. Pasti." Tina ini, tahu saja apa yang sedang ku pikirkan. "Tina, nanti ke ruang musik lagi, ya." Pintaku padanya yang hanya dibalas anggukan saja.
"Lagi, kau ingin bertemu dia."
Tak lama, dia bersuara kembali. Aku hanya diam saja menanggapinya. Jujur, aku pun tidak paham kenapa aku sangat ingin bertemu dengannya lagi. Cowok itu sangat membuatku penasaran. Apa karena dia juga menyukai musik, ya?
__ADS_1
Acara sudah dimulai. Ketua program studi kali ini berbicara. Lelaki paruh baya itu sangat berwibawa dengan kacamata yang bertengger. Akhirnya, aku bisa fokus. Namun, itu tidak berlangsung lama ketika kakak senior yang kemarin kembali mendapat giliran naik. Oh, aku tidak bohong saat mengatakan dia sangat tampan dengan rambut hitam pekatnya. Dia menjelaskan tentang kehidupan kampus, serta pengenalan organisasi-organisasi yang ada dalam kampus. Tata bahasanya sangat sopan sekali.
Tiga jam berlalu, terakhir mahasiswa senior asing yang berbicara. Setelah itu, kami diberi makanan ringan atau camilan dan minuman kaleng. Aku sangat senang, akhirnya aku tak payah lagi menahan haus dan lapar di dalam ruangan ini. Sangat pengap, ramai orang. Uh, aku tak suka itu. Kemudian, aku menyarankan Tina agar kami makan di kantin saja. Dia pun mengiyakan.
Di sinilah kami sekarang, duduk di salah satu meja urutan kedua dari belakang. Tina dan aku sudah mengambil makanan. Tanpa berlama lama lagi, kami menghabiskannya.
"Setelah ini mau kemana?" Tanya Tina serius. Kalau diingat - ingat, Tina adalah orang yang sangat serius dan cuek. Aku sering mengajaknya bercanda agar tidak terlalu kaku dan tegang, namun sepertinya selera humor kami berbeda jauh. Dia hnya tertawa kalau ada hal yang lucu sekali. Meskipun begitu, Tina adalah teman yang baik dan perhatian.
Aku berpikir sejenak. "Ruang musik. Kau lupa?"
"Lalu?"
"Perpustakaan."
"Ah iya, aku juga akan mencari buku penting nanti."
Mengangguk - angguk lalu menyesap jus alpukatku. Aku memperhatikan wajah Tina yang sedang melihat ponselnya. "Tina, kenapa kau sangat cantik?" Aku mengerutkan keningku.
Tina tertawa, sepertinya dia suka humor yang rendah. "Kau juga cantik, Reva. Jangan merendah diri."
Aku menghela napas pelan, "Kau tahu Tina? Celana panjang ku hilang saat aku jemur kemarin." Kesal rasanya. Aku pikir hanya di Indonesia saja ada maling jemuran, namun ternyata di Korea juga. Aku jadi bad mood karena itu. Mana itu celana kesayangan pemberian Mama.
Ah iya, tadi sebelum pergi Mama sempat menelpon ku. Beliau meyakinkan ku bahwa tubuhnya sudah baik - baik saja. Katanya, kemarin cuma demam biasa karena kelelahan. Rupanya, kak Rezi sengaja membual. Ku rasa cowok itu sengaja karena dia rindu padaku dan ingin aku hubungi. Hilih, apa susahnya memang mengatakan secara terang - terangan kalau rindu? Kak Rezi adalah manusia tergengsi yang pernah ada. Dia sangat menyebalkan.
Lagi, Christina tertawa terbahak. Dia semakin menjadi melihat wajahku yang cemberut. "Sudahlah, relakan saja. Mungkin malingnya sedang butuh celana. Hahaha."
"Aiss kau ini. Yuk, pergi segera. Nanti keburu ramai ruang musiknya karena ini sudah siang."
****
Dengan hati yang gembira, aku duduk dan memainkan pianonya. Kali ini aku membawakan lagu 'Thousand Years'. Jujur, dalam hati kecilku, aku ingin di akhir permainanku nanti akan ada lagi seseorang yang sama memberiku tepukan tangan. Aku harap begitu. Oh God, aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Kenapa aku bisa punya harapan seperti ini? Apa yang salah denganku? Apakah otakku sedang eror?
Nada terakhir selesai. Dan-- harapanku sia - sia. Aku melirik ke belakang. Dia tidak ada di sana. Dia tidak bertepuk tangan untukku seperti halnya kemarin. Aku murung, sedikit kecewa. Cepat - cepat ku singkirkan perasaan sedih itu, lalu aku beralih pada gitar. Aku memetik senarnya dan menyanyikan lagu seniorita. Lagunya sangat unik, aku berulang kali menyanyikannya saat masih di Indonesia bersama teman - teman ku.
Sekitar lima belas menit ku habiskan waktu. Aku memutuskan untuk menyudahi kegiatan ini. Entah kenapa terasa membosankan. Langkah kakiku menuju Tina, mengajaknya untuk sekarang pergi ke perpustakaan saja.
"Why? Kenapa sebentar saja, Reva? Kemarin kau sangat senang berlama di sini."
Aku mempoutkan bibirku, lalu mengedikkan bahu sebagai jawaban. Mood ku tak bagus lagi sekarang. Dengan cepat aku menarik tangan Tina agar cewek itu tidak banyak tanya lagi. Dia mengikuti ku saja.
"Aku paham Reva."
"Mwo?" Aku menoleh padanya saat dia tiba tiba membuka suara.
Dia hanya diam saja sampai kami sudah mengambil tempat di perpustakaan. Tina memandangiku dari samping. Aih, pasti cewek bule ini bisa tahu pikiranku lagi.
"Revalia Arventa. Kau jatuh cinta pada senior kita."
__ADS_1
"Hah? Apa maksudmu?" Jatuh cinta? Mendengarnya saja aku jadi geli sendiri. Tidak mungkin Aku jatuh cinta dengan orang yang tidak ku kenal. Itu mustahil.
"Akui saja. Hebat sekali senior itu. Bisa menaklukkan hatimu yang seumur hidup tak pernah merasakan jatuh cinta."
Kepalaku menunduk, kemudian aku menghela napas dan menopang wajahku dengan kedua tangan. Kami berbicara dengan suara kecil, Sehingga tidak perlu takut akan ditegur penjaga perpustakaan atau mengganggu orang yang sedang fokus membaca. Lagi pula, kami duduk di meja paling sudut.
"Aku tidak ingin membahas ini. Mari kita mulai baca buku saja." Lantas aku mulai bangkit berdiri dan memilih buku mana yang ingin aku baca.
Sementara itu, Tina memutar bola matanya malas. Sepertinya dia juga pusing berteman denganku yang banyak keanehan ini. Syukurnya, Tina tidak menjauhiku karena itu.
Ketika tanganku akan mengambil buku berwarna hijau di rak, ternyata seorang cewek korea juga akan mengambil buku itu. Dengan sigap aku rebut buku itu secepatnya, tetapi ternyata perlakuanku membuat dia emosi. Memang, sih, buku itu hanya sisa satu di sana.
"Hei! Berikan buku itu padaku! Aku yang memegangnya duluan!" Nada suaranya membentak dan naik beberapa oktaf, membuat aku terkejut bukan main. Orang sekitar hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan kegiatan sendiri.
Aku memeluk buku itu, agar dia berhenti merebutnya dariku. Jelas jelas Aku yang memegangnya terlebih dahulu, tetapi dia dengan seenaknya meminta. Siapa cepat dia dapat, bukan? "Tapi aku yang lebih dulu memegangnya. Kau baru saja datang." Aku berkata sangat pelan dan berusaha sesopan mungkin.
Dengan bringas dia mendorong bahuku dengan kedua tangannya, membuat tubuhku jatuh menghantam lantai keramik. Aku meringis saat merasakan sakit di bagian bokongku. Cepat - cepat dia bergerak meraih buku yang ku peluk tadi.
"Kau ini tidak punya sopan santun, ya? Kau merebut bukunya!" Tina datang membantuku berdiri. Dia terlihat marah, sepertinya dia menyaksikan sejak tadi.
"Aku tidak mahu tahu, ini milikku sekarang." Lantas cewek itu pergi tanpa meminta maaf.
"Aih, demi mendapatkan buku apa harus ya mendorong kasar seperti tadi?" Tina memapahku berjalan menuju meja. Aku masih merasa sakit di bokong karena benturan. Tenaganya sangat kuat seperti lelaki.
"Sudah lah, aku baik baik saja, Tina. Mengalah saja."
"Reva, kadang ada hal yang seharusnya kita bersikap mengalah dan kadang ada hal yang seharusnya kita bersikap berontak. Jangan terlalu santai. Lain kali, kau harus melawan orang seperti itu. Tidak peduli laki - laki atau pun perempuan. Kita harus menghadapinya, jangan pasrah saja."
"Iya, Tina. Lain kali Aku akan marah."
Perkataanku tidak digubris oleh Tina, dia sudah larut dalam bacaannya. Aku membuka tas, dan mencari cermin. Merapikan rambutku yang sedikit lusuh. Tiba - tiba ada tangan yang menyodorkan sebuah buku berwarna hijau yang direbut oleh cewek tadi. Aku dan Tina spontan mengangkat pandangan secara serentak. Kami berdua mengerutkan kening.
Deg.
Jantungku seperti bedug yang dipukul ketika waktu berbuka puasa tiba. Aku sangat terkejut melihatnya.
"Ini," dia menaruh buku itu di depanku yang masih tercenung. Aku masih menyadarkan diri bahwa ini tidak mimpi. Ini kenyataan. Dia ada di hadapanku sekarang dengan senyumnya yang tulus itu. Wajahnya bersinar seperti peri. Bening, mulus, dan putih sekali. Oh, tidak. STOP IT REVA!
"Kau punya bukunya, sunbae?" Aku tidak menyangka Tina bisa bertanya itu padanya.
Sedangkan aku membuka suara saja rasanya susah. Tenggorokanku tercekat, menelan ludah sangat sulit ku lakukan. Aku masih menetralkan detak jantung yang berdegup kencang. Reaksi tubuhku membuatku jadi merasa aneh sendiri. Gejala penyakit apakah ini? Aku seperti kehilangan kata - kata.
Cowok itu mengangguk. "Aku memberikannya pada kalian karena aku sudah selesai membacanya."
"AH, terima kasih, sunbae." Tina membungkuk padanya, aku hanya melihatnya saja. Tubuhku terlalu kaku untuk melakukan hal yang sama.
Tina menyenggol lenganku, lalu aku ikut membungkuk dan mengucapkan terima kasih. Akhirnya, tubuhku normal kembali.
Dia tersenyum dan mengangguk saja. Lalu pergi meninggalkan kami yang terbengong.
"Aku kira dia akan mengajak kita berkenalan." Tina berkata dengan pandangan lurus pada punggung yang sudah menjauh itu.
Aku tersenyum canggung, "hm, ku harap begitu. Tetapi, nyatanya dia cuek saja. Dia seperti tidak mengingatku. Padahal dia bernyanyi kemarin aku yang mengiringinya." Helaan napas gusar ku keluarkan.
"Yak! Kembalikan fokusmu kembali, Reva. Ingat tujuan awalmu di sini untuk kuliah. Bukan untuk percintaan dengan pangeran seperti dia."
Ku hujani cubitan kecil pada lengan Tina. Dia sepertinya sangat senang menggodaku. Padahal, aku tahu. Dia juga ingin berkenalan dengan senior ganteng itu.
__ADS_1
Tina tertawa puas melihat wajahku yang panas karena lagi lagi dia meledekku jatuh cinta.