SENIOR

SENIOR
0.6


__ADS_3

 


"Ayo Reva dimakan. Tunggu apa lagi?" Senyum jahil terbit di wajah Tina.


 


Sudah ku duga, dia pasti sengaja mengerjaiku dengan memesan dua porsi gurita mentah untuk kami. Aku menatap geli hewan mati yang masih bergerak - gerak karena bumbu itu. Pesanan kimchi dan nasi sudah datang. Tapi, Tina tetap memaksaku untuk segera memakan guritanya. Tina dengan santainya memasukkan kepala gurita itu ke dalam mulutnya. Iw- apa rasanya, sih, memakan gurita yang belum dimasak?


 Dia mengunyahnya perlahan, tertawa renyah melihat reaksiku yang aneh. Sedari tadi aku memperhatikannya saja, satu makanan pun belum ku cicipi.


Hanya butuh empat menit untuk Tina menghabiskan gurita itu dengan cepat sekali. Aku terbengong melihat dia tampak sangat menikmati. "Makan, Reva. Itu tantangan untukmu." Tina tetap memaksaku. Jadi, mau tidak mau Aku turuti permintaannya.


 "Ini aman?"


 Tina hanya mengangguk saja.


Sekali lagi, Aku melirik gurita mentah tersebut di hadapanku. Perlahan, tanganku mulai memegangnya. Dengan ragu - ragu, kumasukkan dia ke dalam mulutku. Hanya gigitan kecil. "Iww-" Aku langsung melemparnya ke mangkuk. Cepat - cepat ku kunyah, lalu ku telan dengan susah payah.


 "Hahaha. Enak rasanya, kan? Sudah ku bilang padamu kau tak percaya." Tina memberiku tisu.


 Ku bersihkan mulutku, menghilangkan amis yang menempel. Tidak bisa ku bayangkan kalau seluruh tubuh gurita itu masuk ke dalam perutku. Memandangnya saja aku sudah geli, aku melakukan ini karena Tina adalah temanku. Jika bukan karena cewek itu, sudah ku kembalikan gurita ini ke habitatnya.


 "Sudah lah, aku makan kimchi saja. Rasa gurita itu sangat tidak menyenangkan. Amis pula. Huh. Kau mengesalkan Tina." Tanpa mau berlama - lama lagi, aku langsung saja makan kimchi. Perpaduan kimchi dan nasi sangat pas di lidahku. Semenjak di Korea, Aku jadi jarang sekali makan nasi. Ah, aku jadi rindu masakan Mama.


 Tina tertawa. Aku cemberut saja. Lihat saja nanti, kapan - kapan akan ku balas bule ini. Aku berencana memaksanya makan pete dan jengkol. Biar dia tahu bagaimana rasanya dikerjain.


 


****


 


Pukul lima sore. Selesai mengisi kekosongan hati, eh- perut, Aku dan Tina jalan- jalan ke sekitaran Kota Seoul. Di pinggiran jalan, banyak orang menjual jajanan ringan khas Korea. Tapi berhubung kami sudah kenyang, jadi makanan menggoda itu tidak kami lirik.


 Fokusku tertuju pada pengamen jalanan yang dikerumuni banyak orang. Saking ramainya, Aku tidak bisa melihat siapa orang yang sedang bernyanyi. Tina segera menarikku ke arah lain.


 "Jangan ke sana. Nanti kau terinjak lagi. Bagaimana kalau kita belanja baju saja?" Dia membawaku ke toko baju yang berisi baju yang tentunya sangat bagus. Tetapi, belum sampai kami ke sana, tiba - tiba saja aku merasa mual, pusing, dan sakit perut.


 "Reva, are you okay?"


 Perutku sangat sakit. Mual pun terasa. Tiba - tiba kepalaku jadi semakin pusing. Aku tidak bisa mengingat apa penyebab aku bisa seperti ini. Tina panik, dia langsung membawaku ke rumah sakit terdekat.


 


*****


 


"Yak, kenapa kau tidak beritahu padaku kalau kau alergi gurita?" Tina memberikanku minuman hangat, aku meminumnya dengan pelan. Dia meletakkan gelas, lalu duduk di meja belajarku.


 Kami sudah di dorm. Setelah pulang dari rumah sakit, aku diberi resep obat dan diperbolehkan pulang. Tak perlu menginap karena penyakitku tak parah. Christina memarahiku habis - habisan karena aku tak memberitahunya soal ini.


 "Aku lupa, Tina. Lupa kalau aku alergi gurita dan cumi. Terakhir makan gurita kelas satu SMA dan efeknya seperti tadi. Bedanya ada gatal - gatal. Aku tak ingat pernah mengalami itu. Lagipula, sewaktu di indonesia Mamaku tidak pernah memasak cumi atau gurita. Jujur, aku pun tak suka gurita." Lemas, aku berbicara hampir berbisik namun masih bisa di dengar oleh Christina. Selimut tebal ku tarik, menutupi seluruh tubuhku sampai leher. Dingin sekali rasanya. Perutku juga masih sedikit sakit, badan lemas dan pusing saat jalan. Huh, kalau sedang sakit begini aku jadi ingat Mama. Biasanya beliau yang selalu mengurusku saat aku sakit. Tetapi, kali ini berbeda. Aku harus mandiri.


 "Ya sudah. Aku yang harusnya minta maaf padamu."


 "Aih, tak apa. Aku baik - baik saja."

__ADS_1


 "Istirahatlah sampai besok, kau titi absen saja. Sembuhkan dulu sakitmu."


 Aku menggeleng lemah, "tidak. Aku tetap kuliah besok."


 Christina bangkit berdiri, "kau sangat keras kepala, Reva. Kalau sakit jangan dipaksakan." Dia menaruh punggung tangannya pada dahiku, "see? suhu tubuhmu masih panas."


 "Tidak apa. Aku kuliah besok."


 Christina mengacak rambutnya gemas. "Terserah kau saja. Aku pergi ke ruang komputer dulu."


 Kemudian, Tina pergi. Aku tidak ingin hanya karena sakit tidak seberapa ini aku harus libur kuliah. Aku berjanji akan tetap pergi.


 Tanganku meraih ponsel yang ada di atas nakas, lalu menelpon Dita. Aku ingin curhat dengannya. Aku tak akan memberitahu Mama soal sakitku, aku takut Mama dan Papa khawatir dengan kondisiku. Mama Papa harus tahu kabar baikku saja. Kabar tak enak cukup aku saja yang tahu.


 Setelah tersambung, aku merapatkan ponsel ke telinga.


 "Halo, Rev."


 "Dit, alergi gue kambuh..."


 Dita selalu menjadi teman curhatku. Saat SMA, kami adalah teman sebangku. Aku akan menceritakan apapun dengannya. Dita pun dengan senang hati mendengarkan. Dia adalah cewek ceria dan berambisi yang pernah ku kenal. Entah kenapa Aku selalu merasa aman jika curhat dengannya. Tanpa khawatir rahasia akan terbongkar ataupun tanpa khawatir dia akan mencari teman baru dan meninggalkanku.


 "Hah? Alergi? Apa yang lo makan? Cumi atau gurita?" Dita panik, seperti biasa.


 Aku menghela napas pelan. "Tadi Tina ngajak gue makan gurita yang masih mentah. Karena canggung dan gak enak buat nolak, ya udah gue terpaksa makan, deh."


 "Aduh, lu sih. Kenapa gak jujur aja? Sekarang kan dia temen lo di sana. Yang deket malah. Gue saranin jangan ada yang lu tutup tutupin deh. Kasihan diri lo sendiri, Va."


 Aku terdiam sejenak. Berpikir, semua yang dikatakan Dita benar. Tina adalah teman yang baik, dia setia menemaniku sejak kami pertama kali berkenalan. Tidak seharusnya aku berbohong padanya. Sepintas, ada rasa bersalah yang hinggap di hatiku.


 


 


Pukul sembilan pagi. Mata kuliah hari ini lebih pagi. Tadi, Tina masuk ke kamarku dan mengecek keadaanku. Dia sudah siap untuk pergi, namun aku masih berbaring di kasur. Aku menyuruh Tina agar ia pergi duluan. Biarlah aku telat, yang penting aku bisa pergi kuliah. Aku tidak boleh dan tidak bisa meninggalkan satu mata kuliah pun. Meski masih lemas dan sakit kepala, aku tetap memaksa tubuhku untuk bangun dan mandi.


 Kemudian, sarapan sebentar dengan roti - roti persediaan makananku di kamar. Setelah semuanya siap, aku keluar kamar membawa tas dan menguncinya. Aku yakin wajahku pucat sekali, riasan tak banyak yang ku pakai. Langkah kakiku terseret lemah, ku lirik Minah yang sedang duduk bersila di lantai sambil mengetik di laptopnya. Dia benar - benar berubah. Aku lelah bertanya padanya tentang ada apa masalah Minah denganku dan Tina. Tapi dia menghindar dan mengabaikanku. Sampai sekarang, komunikasi kami tidak lancar dan terkesan hambar. Dia lebih sering ke luar bersama teman - temannya dari pada aku dan Tina- teman se kamarnya.


 "Minah, aku pergi dulu." ucapku berdiri di ambang pintu.


 "Hm." Hanya suara itu yang dia keluarkan sebagai jawaban. Minah masih fokus pada laptop. Dia seperti tidak menganggap keberadaanku di sini. Aku pergi saja, padahal aku ingin bertanya dia masuk jam berapa? Tapi aku langsung sadar, pasti pertanyaan itu akan diabaikan lagi.


 Tina selalu bilang padaku, agar mengabaikan Minah juga. Balas dendam. Tapi, aku tidak terima dan mengatakan bahwa suatu saat Minah akan kembali seperti dulu lagi. Dan aku percaya itu.


 


 


*******


 


 


Aku menatap lama pintu tertutup yang ada di depanku. Karena langkah lemahku saat berjalan ke kampus, alhasil aku terlambat. Benar - benar terlambat. Dosen yang mengajar sudah ada di dalam kelas, suaranya saja sudah bisa ku dengar dengan jelas di sini.


 Jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya, tubuhku yang lemas semakin bertambah lemas. Pasti dosen akan marah. Dengan segala keberanian yang sudah ku kumpulkan, aku berani masuk. Tanganku bergetar saat akan masuk. Sumpah, kakiku seperti jelly ketika sudah masuk dan di tatap seluruh penghuni kelas. Termasuk dosen yang kini menatapku tajam dan galak.

__ADS_1


 Aku membungkuk dan tersenyum canggung paada dosen berkepala pelontos itu.


 "Kenapa baru datang jam segini? Kau telat dua puluh menit." Tatapan dinginnya membuatku kikuk. Untuk menjawab rasanya susah sekali, entah ke mana suaraku pergi.


"Saya telat bangun, Pak."


 "Duduk."


 Huff. Untung saja dia tidak memberiku hukuman dan membentakku. Bisa - bisa aku malu sekali. Aku tak suka jadi pusat perhatian. Tapi keadaan yang membuatku harus jadi pusat perhatian. AKU BENCI ITU. tapi aku usaha melawannya.


 Aku berjalan lunglai ke kursiku. Dan mulai mengeluarkan perlengkapan belajar.


 Tina memandangiku seolah ingin bertanya namun urung karena dosen yang mengajar kali ini sangat killer. Ya, meskipun aku tidak di hukum tadi. HEHE.


 


*****


 


Jam kuliah pertama selesai. Hari ini hanya ada satu mata kuliah. Tina mengajak ku makan di kantin, akan tetapi Aku menolak alasannya karena aku sedang tidak selera makan. Perut sakit, kepala pusing, tubuh lemas membuatku jadi tidak mood untuk makan. Alhasil Tina menyerah membujukku, dia pergi sendiri dan Aku berdiam diri di sudut perpustakaan sambil membaca buku. A


 Aku mengikat rambutku, rasanya udara sangat panas padahal AC di ruangan ini menyala. Sekitar sepuluh menit lamanya Aku membaca, mendadak mataku jadi berkunang - kunang. Dunia seakan berputar - putar. Kepalaku berat sekali, dan pusing sangat pusing. Aku memilih untuk meletakkan kepalaku di atas meja, tanganku ku lipat dan mata ku pejamkan. Tak butuh waktu lama, Aku sudah masuk ke alam mimpi.


 20 menit berlalu...


 Kelopak mataku perlahan terbuka. Akuu meringis merasakan sakit di bagian kepala. Aku menoleh ke kiri, dan tersentak kaget melihat Jongdae yang sedang membaca buku dengan fokus.


 "Sunbae? Kenapa kau di sini?" Bingung, aku bertanya padanya namun dia hanya tersenyum. Tunggu, kalau dia sejak tadi di sampingku, itu artinya dia melihat ku tertidur dengan pose tak mengenakkan? Oh Tuhan, Aku menyesal ketiduRan di tempat umum seperti ini. Aku jadi malu sendiri.


 Jongdae menutup buku tebalnya. Maniknya menatap ke araku. Orang ini selalu tersenyum,, tidak pernah ku lihat di wajahnya datar atau pun terlihat marah. Sikapnya hangat sekali. "Suhu tubuhmu sangat panas. Sebaiknya kau pulang saja. Dari pada tidur di perpustakaan, lebih baik istirahat di rumah." Jongdae sedikit cemas.


 Aku mengusap wajah, mulai membereskan barang - barangku. Benar juga, aku pulang saja ke dorm. Lagipula, kelas tidak ada lagi. Saking pusing dan lemasnya, Aku tidak memedulikan Jongdae. Padahal, biasanya aku selalu kaku saat bertemu dengannya.


 Langkah lemasku disaksikan Jongdae. Jalanku sempoyongan. Hampir saja aku terjatuh ke lantaai, kalau Jongdae tidak segera menahanku. Dia memegang bahuku dan memapahku jalan ke luar perpustakaan.


 "Biarkan aku yang mengantarmu. Kau tinggal di asrama?"


Aku mengangguk lemah, tidak peduli apa pun lagi. Yang ku butuhkan sekarang adalah obat dan tempat tidur. Jongdae membawaku naik ke vespanya. Jangan salah, begini gini vespa Jongdae bisa mencapai ratusan juta. Tidak seperti vespa di indo. BTW, meskipun jarak asrama dan kampus tidak terlalu jauh, Jongdae tidak mungkin bisa membawaku yang seperti ini hanya dengan jalan kaki saja.


 Aku tidak banyak tanya lagi, energiku sudah habis. Ku rasa tidur di perpustakaan dengan AC menyala adalah hal yang buruk. Kalau Tina tahu, anak itu pasti akan marah. Omong - omong soal Tina, dia sedang ada rapat organisasi. Aku sudah memberi tahunya jika aku ada di perpustakaan.


 "Kondisi mu semakin buruk, apa sebaiknya kita ke dokter saja?" tawar jongdae saat kami sudah di depan asrama putri.


 Aku menggeleng, "tidak usah. Terima kasih sunbae, aku masuk dulu." Mau tak mau aku harus masuk sendiri menuju kamar. Karena peraturannya, laki - laki tidak boleh masuk ke asrama wanita dan wanita tidak boleh masuk ke asrama laki - laki. Jika ada yang melanggar dan menerobos masuk, akan dikenakan sanksi. CCTV terpasang di setiap sudut asrama. Bagiku, ini sangat bagus. Seperti di pesantren saja.


 "Panggil saja Jongdae oppa, tanpa ada ebel - embel sunbae. Right?" Jongdae tersenyum, kali ini dia memakai bahasa negaranya. Aku mengiyakan saja permintaannya. "Oppa, bisakah aku meminta tolong?"


 Sekarang,, aku sudah bisa berdiri tegak. Meski badanku masih panas.


 "Apa itu?"


 "Hm, tolong beritahu Christina, cewek yang sering bersama ku ke mana - mana, Aku sudah balik ke asrama. Aku hanya takut dia malah kesusahan mencariku di perpustakaan yang luas itu."


 Jongdae terlihat bingung, "di mana aku bisa menemuinya?"


 Aku menarik napas dalam. Pusing semakin menjadi, aku tidak sanggup berdiri lama."Ini," ku berikan padanya secarik kertas bertuliskan nomor telepon Chrstina, Jongdae menyambutnya.

__ADS_1


 "Aku pergi dulu, sunbae- eh maksudku Jongdae oppa. Terima kasih sudah mengantarku pulang."


Setelah mengatakan itu, aku berjalan lemah masuk asrama tanpa mendengar lagi jawaban Jongdae. Aku yakin dia tidak akan marah karena dia tahu kondisiku semakin lemas.


__ADS_2