
Berbeda dengan yang lainnya kini Aisyah, Rama dan Raka sedang berkeliling mencari beberapa bahan yang akan mereka gunakan untuk acara ulang tahun Lala.
"Kak udah kelar belum sih dari tadi gak kelar-kelar lama banget," keluh Aisyah.
"Sabar Aisyah, di pilih dulu ini biar keren dan gak dikomen sama teletabis kw, lo kaya gak tau si Lala aja mulutnya kaya mercon," saut Rama.
Aisyah terkekeh saat mendengar perkataan Rama sambil menggelengkan kepalanya.
"Yaudah Aisyah tunggu di kedai es krim situ ya, bosen nih nungguinnya," ucap Aisyah dengan jari telunjuk yang mengarah tepat pada kedai es krim.
Rama dan Raka hanya mengiyakan ucapan Aisyah sambil menganggukan kepala mereka secara bersamaan.
Zara melirik beberapa kue yang berada di lemari kaca yang tersedia di dalam toko. Sejujurnya ia tidak mengerti perihal memilih desain kue.
"Mba yang ini aja deh," pinta Zara.
Jari telunjuk Zara menunjuk kue berwarna hijau yang bisa terbilang polos karena minim sekali hiasan di atas kuenya.
Farhan melirik kue yang baru saja di keluarkan dari lemari kaca dengan tatapan heran dan memalingkan wajahnya pada Zara dengan mata yang menatap Zara serius.
"Dasar perempuan berjiwa seni dangkal, milih kue ulang tahun yang mudah saja kamu tidak bisa bagaimana memilih pendamping hidup," ledek Farhan.
Zara menolehkan kepalanya menghadap Farhan dengan tatapan kesal ia menginjak kaki Farhan tanpa ampun hingga membuat Farhan meringis.
Selesai menginjak kaki Farhan, Zara berlarian meninggalkan Farhan menuju kursi dan ia mendudukan dirinya sambil menatap Farhan dengan tatapan menantang.
"Sukurin rasain tuh injekan gw, dasar cowo gila hormat mentang-mentang dosen seenaknya menghina," gerutu Zara.
"Enak banget ya santai-santai disitu, ini kue untuk acara temanmu, kenapa kamu enak-enakan duduk disana, saya akan berhitung dalam waktu 5 detik kalau kamu tidak kembali kue sederhana pilihanmu ini akan menempel di wajahmu," ancam Farhan dengan tangan yang sudah siap melayangkan kue.
Dengan terpaksa dan berat hati Zara beranjak dari tempat duduknya menghampiri Farhan dengan raut wajah kesalnya.
"Gw gak bisa milih kue mending lo aja dah yang milih dan gw duduk deh disana biar gak pegel," ucap Zara membalikan badannya berniat kembali menuju kursi namun tertahan oleh tangan Farhan yang menarik kerah bajunya di bagian belakang.
Dasar dosen ngeselin kalo bukan dosen udah gw tonjok mukanya, sabar Zara sabar, lo pasti kuat nahannya.
Raina baru saja sampai di depan rumah Lala ia keluar dari taxi online lalu memencet bel yang berada di dekat pagar rumah Lala.
Setelah Raina menunggu beberapa menit, Linda menampakan diri dengan senyum ramah yang ia berikan pada Raina.
"Hei Raina kirain tante mah ada paket nyasar, lagian kamu tuh kaku banget kaya sama siapa aja segala mencet bel," sapa Linda.
Raina tersenyum pada Linda lalu mencium tangan Linda.
"Lalanya dimana Tante," tanya Raina.
"Ada tuh di kolam kaya kecebong betah banget di air, gimana rencana surprisenya?" ucap Linda dengan antusias.
"Berarti Tante kodok dong He-he, tenang aja tante pasti sukses," jawab Raina.
"Durhaka kamu ngatain orang tua, gih sono susul Lala di kolam," ucap Linda.
__ADS_1
***
Raina berjalan menuju kolam raut wajahnya berubah menjadi kesal dan muram saat melihat Lala yang asik berenang kesana kemari, ia berlarian menghampiri Lala dan mendudukan dirinya dipinggir kolam membiarkan celana yang ia pakai basah.
"Kenapa? Sini cerita sama rapunzel," tanya Lala.
"Kak Fathan kayanya gagal move on dari masa lalunya La," curhat Raina sesekali memainkan tangannya di air kolam.
Lala mengerutkan dahinya menatap Raina dengan tatapan heran.
"Masa sih? Dia kan bucin tingkat dewa emangnya masa lalu dia siapa?" tanya Lala.
"Itu loh yang waktu itu gw ceritain ke lo. Jangan sekarang sih pikunnya La, gw lagi galau, sedih, kecewa masa iya gw harus cerita ulang," keluh Raina.
"Namanya juga lupa maklumin aja lah Raina, siapa sih orangnya? Inisial aja deh," tanya Lala.
Raina menceritakan keresahan dan kekesalannya terhadap Fathan, sedangkan Lala mendengarkan dengan raut wajah serius.
"Berarti lo siap-siap jomblo ya Raina," ucap Lala sambil menepuk-nepuk bahu Raina dengan tangan basahnya.
"Percuma gw cerita sama lo Lala gak ada solusinya," omel Raina.
Lala hanya menyengir dengan wajah polosnya.
"Ya maap Raina abisan Lala bingung mau ngomong apaan, terus kenapa lo ada disini harusnya kan lo di mall Raina, nanti kak Fathan keasikan jalan sama temennya itu loh," saut Lala.
"Gak mau ah males, buat apa gw disono cuma bikin hati panas doang," tolak Raina.
"Unch ... Kasiannya kawanku ini sini peluk biar gak sedih," ucap Lala sambil merentangkan tangannya.
Fano berjingkat-jingkatan sambil bersenandung memamerkan uang mainan yang baru saja ia beli.
"Mama Wina liat deh duit Pano banyak banget bisa buat beli bakso segelobak nih," pamer Fano.
"Mana ada yang mau nerima duit mainan udah gitu serebuan mulu lagi duit nya," saut Reyhan.
"Bialin yang penting banyak, nyaut mulu nih padahal gak diajak ngomong," ucap Fano.
Fano berjalan mendekati Reno yang sedang sibuk dengan ponselnya, ia menjatuhkan dirinya tepat disamping Reno membuat Reno menolehkan kepalanya melirik Fano sekilas lalu kembali melihat ponselnya.
"Kak Leno udah beli kado buat kak Lala?" tanya Fano sambil meminum kopi yang berada di meja tepat di hadapannya.
Reyhan membelalakan matanya saat melihat Fano yang sedang meminum kopi yang sengaja ia letakan di meja.
"Dasar aki-aki itu kopi item kan pait rasanya, tinggal nungguin muka jeleknya aja ini mah," gerutu Reyhan.
Fano terdiam melirik gelas kopi yang sudah kosong. Tangannya terangkat menyentuh lidahnya sambil menatap gelas heran.
"Ini kopi apaan? Lidah Pano kaya ada semutnya geli telus lasanya pait banget kaya obat," keluh Fano.
Reno menggelengkan kepalanya menatap wajah Fano terlihat diatas bibirnya terdapat sisa kopi yang seperti kumis.
__ADS_1
"Fano mau kenalan gak sama kembaran Fano,"ucap Reno menahan tawa.
Reno membuka menu kamera pada ponselnya lalu menyodorkan ponsel pada Fano, terlihat wajah Fano yang kebingungan saat menatap layar ponsel Reno.
"Ini editan ya? pake epek kumis Ha-ha lucu Pano jadi bapak-bapak coba kak Leno sini," ucap Fano menarik lengan Reno.
Saat wajah Reno menampakan diri di layar ponsel, lagi-lagi Fano dibuat kebingungan ia memencet asal layar ponsel Reno.
"Kok kak Leno gak ada kumis kaya Pano gini," tanya Fano.
"Yajelas gak ada lah orang itu beneran nih liat pake kaca," saut Reyhan.
Fano mengambil kaca yang disodorkan oleh Reyhan ia menggerak-gerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri lalu tangannya mengusap bagian atas bibirnya.
"Ini mah kopi bukan kumis tapi Pano jadi kelen kaya gini," ucap Fano.
Fano cekikikan menatap wajahnya sendiri bahkan ia mengambil sisa ampas kopi dan ia oleskan ke bagian atas bibirnya.
"Heh bocah kelakuannya ada-ada aja bukannya dibersihin malah sengaja ditambahin, omelin apa tuh bocah bang Ren," ucap Reyhan.
"Kak Leno udah besplen sama Pano gak bisa dihasut-hasut huss sana pelgi tadi Pano liat kak Kinan tuh di depan," ucap Fano.
"Serius? Kenapa gak disuruh masuk kasian pacar gw nunggu di depan sendirian," ucap Reyhan panik ia beranjak dari duduknya.
"Tapi boong Ha-Ha-Ha," teriak Fano dengan gerakan cepat ia bersembunyi dibalik punggung Reno.
"Fano! Sini lo kita tawuran aja lah yok gak usah pake senjata," teriak Reyhan.
"Gak mau ah, kata bu gulu Pano tawulan itu dosa nanti dipenjala gak bisa makan enak," ucap Fano.
"Gaya banget bocil, tapi mantep gak sia-sia lo PAUD ada ilmunya juga ternyata," ucap Reyhan.
"Iya dong Pano pintel tanya aja sama bu Lela," ucap Fano dengan percaya diri.
"Fano mau ikut gak," ajak Reno.
"Ikutttt, kemana?" tanya Fano.
"Jalan-jalan," jawab Reno.
"Ayooo, ajak kak Lala poo ya," heboh Fano.
"Gak usah ajak kak Lala, ini boy time gak boleh ada cewe," ucap Reno.
Bersambung ....
Mohon maaf sekarang ini susah banget up rutin bakal diusahain lagi bisa up seperti biasa lagi, semoga kalian gak bosan nungguinnya ya hehe.
Terima kasih yang udah nungguin ceritanya up 😉
Jangan lupa like dan komennya biar semangat up nya hehe
__ADS_1
Sekian dan terima kasih 😊