SENIOR

SENIOR
Hit


__ADS_3

Selamat membaca semuanya, semoga bab kali ini menghibur kalian ya. Ini ceritanya panjang seharusnya sih bisa aku buat jadi crazy up tapi aku gak mau bikin bab nya jadi panjang, karena banyak orang-orang yang berfikiran novel yang epsnya ratusan tuh kaya sinetron padahal aku buatnya 1 bab 1000 kata makanya keliatan banyak hehe. Tapi kali ini aku buat tiga kali lipat dari biasanya.


So, Enjoy for reading all


Waktu menunjukkan pukul 10.10 pagi. Suasana di Bandung yang sangat sejuk berhasil membuat Raina berkali-kali menutup selimutnya dan memejamkan mata. Rasanya ia enggan sekali bangkit dari kasurnya padahal hari ini banyak sekali hal yang harus ia selesaikan bahkan harus ia selesaikan hari ini juga.


Fathan yang baru saja selesai mandi kini sedang duduk di atas kasur sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk putih yang berada di tangannya. Ia meraih ponsel dari meja kemudian mencari kontak Raina.


Fathan mendengus sebal karena Raina tidak menjawab panggilannya. Fathan pun memutuskan untuk mengirimkan beberapa pesan melalui aplikasi Whatsapp karena ia yakin Raina sedang bermalas-malasan di atas kasurnya.


Raina yang sebelumnya sengaja tidak menjawab panggilan Fathan dibuat kaget saat membaca isi pesan whatsapp dari Fathan yang mengatakan kalau Farhan dan Zara sudah sampai di Bandung dan kini mereka ada di kamar Fathan. Mengetahui hal tersebut tanpa berfikir panjang Raina bangkit dari kasurnya kemudian berlarian menuju kamar mandi.


"Kenapa bisa lupa si ya ampun. Tolongggg!" teriak Raina kemudian dengan tidak santai ia menutup pintu kamar mandi.


Fathan tertawa saat melihat pesan yang baru saja ia kirim sudah dibaca oleh Raina walaupun tidak dibalas tetapi ia tahu sekarang perempuan yang berstatus kekasihnya itu sedang panik.


"Semoga aja dia mandi ya Haha. Maafin aku ya sayang, abisan kalo gak digituin jiwa males kamu makin menjadi-jadi," gumam Fathan.


Fathan kembali merebahkan dirinya diatas kasur sambil melihat ponselnya, ia merasa risih dengan Fahira yang beberapa kali menghubunginya dari semalam dan sekarang saat ia melihat ponselnya pun banyak sekali notifikasi panggilan tak terjawab dari Fahira dan beberapa pesan dari Fahira yang sengaja ia hiraukan.


"Selalu aja gangguin gw mulu. Biarin aja lah nanti aja respon dia nya setelah acaranya bang Reno kelar," gumam Fathan.


"Tapi kalo difikir-fikir dunia tuh adil banget ya, dulu gw segitu sayangnya sama Hira tapi dia dengan gampangnya ngeremehin gw dan pergi gitu aja. Sekarang disaat gw udah ketemu sama Raina dia terus-terusan deketin gw bahkan sampe buat gw risih." Farhan berbicara sambil menatap langit-langit kamar.


***


Farhan sengaja membuat janji dengan Zara akan berangkat lebih pagi dari yang lainnya supaya mereka sampai lebih dulu dari mereka.


"Bun, Han pamit ya doain selamat sampai tujuan dan doain juga semuanya lancar biar besok acaranya berjalan dengan lancar," pamit Farhan mencium tangan sang Bunda.


"Harus banget berangkat sekarang Han? Kenapa gak bareng sama Bunda dan yang lainnya biar sekalian nungguin Papamu pulang dulu," ucap Ita.


"Iya Bun, soalnya ada yang mau Han urus disana sekalian bantuin Raina sama Fathan juga disana. Kasian mereka berduaan aja disana pasti capek banget," ucap Farhan tersenyum pada Ita.


Ita tersenyum menatap Farhan kemudian ia menganggukkan kepalanya menyetujui Farhan untuk pergi terlebih dahulu.


"Bilang aja kamu mau gangguin saudara kembar mu itu, Bunda tau betul gimana anak-anak bunda apalagi anak kembar bunda yang satu ini Hehe. Kamu kan dari dulu gak bisa liat Fathan berduaan sama orang lain pasti bawaannya pengen recokin aja," ledek Ita sambil mengusap-usap lembut lengan Farhan.


Farhan tertawa mendengar ucapan Bundanya. Ia tidak pernah menyangka bundanya masih mengingat kebiasaan anehnya dimasa kecil.


"Itu kan dulu Bun. Sekarang mah beda kayanya jadi kebalik deh si Fathan yang suka ngerecokin Han Haha," elak Farhan.


"Yaudah sana berangkat, kasian tuh temen kamu kelamaan nungguin nanti," ucap Ita.


"Tadi ditahan-tahan sekarang diusir halus. Untung aku sayang Bun," keluh Farhan.


Farhan melangkahkan kakinya keluar rumah setelah benar-benar berpamitan pada bundanya. Ia berhenti sejenak di depan mobil yang baru saja ia panaskan kemudian melihat jam tangan yang berada di tangan kirinya.


Farhan kini berada di dalam mobilnya berniat menjalankan mobil keluar dari dalam bagasi, namun ia dibuat terkejut dengan kehadiran Fahira yang tiba-tiba saja mengetuk kaca mobilnya membuat dirinya mengurungkan niatnya kemudian membuka kaca mobil yang sempat ia tutup.


"Ada apa Hira?" tanya Farhan.


Melihat Farhan yang terlihat tergesa-gesa sekali bahkan tidak turun dari mobilnya membuat Fahira penasaran. Ia sangat mengetahui kalau hari ini kampus diliburkan karena ada akreditasi dari pusat yang hanya melibatkan beberapa pihak saja. Melihat pakaian Farhan yang sangat santai semakin membuat Fahira penasaran ia terus menerka-nerka di dalam hatinya.


"Kamu mau kemana Han keliatannya buru-buru banget bukannya hari ini kampus libur ya." Fahira menjawab pertanyaan Farhan dengan pertanyaan kembali membuat Farhan mendelikkan matanya kesal karena ia merasa hal tersebut hanya membuang-buang waktunya.


Farhan menghela nafasnya berusaha menahan kesal. Sejujurnya ia sudah sangat telat dan ia hanya bisa berharap Zara belum sampai di tempat mereka janjikan untuk bertemu.


"Aku ada urusan yang harus aku selesain. Kamu sendiri ada apa tiba-tiba dateng gak ngabarin dulu, mau ketemu Bunda? Kebetulan ada di dalan tuh," ucap Farhan.


Fahira mengedarkan pandangannya ke segala arah, ia semakin dibuat penasaran karena mobil yang biasa digunakan oleh Fathan tidak ada disana. Ia berusaha mencari seribu alasan supaya Farhan mau memberi tahu tujuan Farhan sebenernya pada dirinya.


"Ah bukan. Aku sengaja kesini karena mau ketemu sama kamu dan Fathan. Berhubung lagi libur niatnya aku mau ajak jalan-jalan kan udah lama banget kita gak jalan-jalan bertiga. Tapi kayanya aku Fathan gak ada di rumah ya dan kamu juga sibuk." Fahira berusaha membuat Farhan merasa sungkan padanya karena ia tahu Farhan memiliki sifat yang tidak tegaan terhadap orang lain.


Benar saja apa yang ada di fikiran Fahira, kini Farhan tersenyum kikuk pada Fahira, ia merasa tidak tega dengan Fahira yang sengaja datang ke rumah tetapi yang dia harapkan tidak sesuai dengan apa yang ia mau.


"Maaf Hira bukannya aku gak mau ikut ajakkan kamu, tapi urusan kali ini gak bisa ditunda atau gini aja deh kamu atur ulang aja nanti aku bicarain sama Fathan biar nanti kita bisa jalan-jalan bertiga lagi." Melihat cara bicara Farhan yang begitu hati-hati membuat Fahira tersenyum senang karena ia berhasil membuat Farhan merasa tidak enak dengannya.


"Hm ... Emangnya ada urusan apa sih keliatannya kamu buru-buru banget, Fathan juga ikut ya?" tanya Fahira.


"Iya ada Fathan juga, cuma dia udah berangkat dari kemarin sama Raina nah sekarang aku mau nyusul mereka. Sekali lagi maaf ya," ucap Farhan.


"Iya gapapa santai aja udah biasa kok. Terus ini kamu mau kemana?" tanya Fahira dengan sedikit menyindir.


Ada rasa kesal di dalam hatinya saat mengetahui Fathan pergi bersama dengan Raina dari kemarin. Pantas saja pesan yang ia kirimkan tidak di balas bahkan dibaca saja tidak ternyata dia sedang bersama dengan Raina.


"Oke aku to the point aja ya biar cepat, soalnya aku kepepet waktu gak enak sama dia yang udah nungguin aku. Aku mau ke Bandung ngurus pernikahan Abangnya Raina." Rasa kesal Farhan semakin memuncak karena Fahira yang terus menerus menahannya dengan pertanyaan yang ia rasa sama sekali tidak ada untungnya jika Fahira mengetahuinya.


Melihat Ita yang sedang berjalan menghampiri mereka Farhan menghembuskan nafas leganya, ia berusaha memberi kode pada Ita untuk membantunya supaya ia bisa segera pergi.

__ADS_1


Ita yang mengerti dengan kode dari Farhan pun tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.


"Loh Hira ada disini kenapa gak langsung masuk aja, yuk masuk dulu kita ngobrol-ngobrol di dalem kayanya udah lama banget kita gak ngobrol, pasti seru banget nih kalo kita ngobrol." Ita menarik tangan Fahira dan membawanya berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Fahira tersenyum pada Ita, ia terlihat gelagapan saat Ita membawanya masuk ke dalam rumah.


Haduh kenapa Bundanya mereka keluar diwaktu yang gak tepat sih, gagal deh gw bujuk Farhan buat ngajak gw kesana. Tapi gak mungkin juga gw nolak ajakkan tante Ita yang ada nanti gw dicap jelek sama tante Ita.


Melihat sang Bunda yang berhasil membawa Fahira masuk ke dalam rumahnya Farhan pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dengan cepat ia masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilnya keluar dari rumahnya.


"Makasih banyak Bunda udah dateng di waktu yang sangat pas, akhirnya anakmu ini terbebas tadi seribu pertanyaan dia," teriak Farhan di dalam mobilnya dengan heboh.


Farhan pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata berharap saat dirinya sampai disana mulut Zara mendadak tidak bisa terbuka supaya ia aman dari ocehan Zara.


Setelah 30 menit lamanya ia mengendarai mobilnya akhirnya ia sampai di salah satu taman yang tidak jauh dari lokasi tempat tinggal Zara. Namun yang membuatnya kebingungan yaitu Zara yang sama sekali tidak terlihat disana dan ia merasa bersalah karena tidak tepat waktu mungkin saja Zara sudah datang tetapi ia memutuskan untuk pulang karena teralu lama menunggu kedatangan Farhan.


"Argh gara-gara Hira gw jadi telat. Cewe bar-bar itu kemana ya. Gw lupa lagi tukeran kontak sama dia." Farhan mengedarkan pandangannya di sekitaran taman sambil merogoh saku celana mencari ponselnya.


Setelah mendapatkan kontak whatsapp Zara, Farhan segera menghubungi Zara namun tak ada jawaban dari Zara.


"Kemana sih tuh orang. Kayanya ini mah dia belum sampai sini, awas aja ya tuh orang kalo nongol," gerutu Farhan.


Farhan mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang tersedia di taman. Ia terus merutuki Zara yang ternyata belum sampai di taman hingga ia melupakan kalau dirinya pun sama telatnya dengan Zara.


Farhan melambaikan tangannya saat melihat tukang rujak keliling.


"Kayanya seger nih makan rujak sambil nungguin cewe rusuh itu sampe dateng," gumam Farhan.


***


Reno baru saja bangun dari tidurnya, ia meraba kasurnya dan barang yang pertama kali ia dapat adalah dompet miliknya. Reno yang awalnya bermalas-malasan mendadak membuka matanya dengan cepat kemudian ia menyenderkan tubuhnya di kepala kasur lalu membuka dompetnya.


"Ini dompet berhasil buat aku jantungan semalem untung aja gak ketauan," gumam Reno.


Reno mengambil selembar foto polaroid yang terlihat foto dirinya bersama dengan Lala yang sengaja ia letakkan di dalam dompetnya.


"Bisa kegeeran nanti dia kalo tau dan pastinya lagi aku bisa diledek setiap ketemu sama dia," ucap Reno.


Reno dibuat terkejut saat pintu kamarnya yang tiba-tiba saja terbuka dan menimbulkan bunyi yang sangat kencang karena orang yang mendorong pintu tersebut sangat bersemangat.


"Kak Lenooooo! Ayo Cila kita main lompat-lompatan di kasul kak Leno bial kasul nya tambah belantakan," teriak Fano yang entah sejak kapan sudah berada di atas kasur Reno sambil lompat-lompat.


"Seru kan lompat-lompat di kasul Haha." Fano tertawa lepas.


"Fanooo! Cilaaa! Jangan loncat-loncatan disini nanti kasurnya bolong. Arghh baru juga bangun tidur bahkan mandi aja belom, ini lagi dua bocah udah bikin pusing aja," kesal Reno berusaha menarik Fano dan Cila supaya berhenti.


"Kak Leno pelit banget sih, kita kan cuma numpang lompat-lompat doang ya Cila. Udah yuk kita keluar dari sini," ketus Fano.


"Sana keluar. Dasar duo cemong, pake bedak kaya ondel-ondel siapa sih make up artisnya," usir Reno.


"Bialin, dali pada kak Leno belum mandi bau kuda poni hih," ejek Fano.


Keduanya berlarian meninggalkan kamar Reno sebelum Reno berteriak.


***


Raina yang sudah selesai bersiap-siap, ia pun segera pergi menuju kamar Fathan. Saat sampai di depan pintu kamar Fathan ia mengetuk pintu dengan tidak sabar karena Fathan lama sekali membuka pintu kamarnya.


"Kemana sih mereka, katanya kak Farhan sama Zara udah sampe masa iya gak ada satu pun yang nganggur buat bukain pintu," gerutu Raina.


Raina kembali mengetuk pintu kamar Fathan hingga akhirnya pintu kamar pun terbuka dan terlihat Fathan yang berada di hadapannya menunjukkan senyumannya.


Raina membuka pintu selebar mungkin, ia merasa aneh dengan kamar Fathan yang terlihat sangat sepi, kemudian ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Zara dan Farhan namun ia tidak menemukan mereka.


"Kamu boongin aku ya?" tanya Raina dengan tatapan menyelidik yang membuat Fathan tak sanggup menahan tawanya.


Melihat respon Fathan yang tertawa begitu lepas. Raina sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa ia dikerjai oleh Fathan.


"Gak usah ketawa! Gak lucu tau gak, aku nyaris kepleset tadi di kamar mandi gara-gara lari-larian di kamar mandi untung aja aku gak jatoh," omel Raina.


"Lagian kamu ngapain lari-larian di kamar mandi," saut Fathan.


"Aku lari-larian karena gak enak sama kak Farhan apalagi dia kan dosen di kampus aku, kesannya jelek banget nanti aku di mata dia." Raina bersidekap memalingkan wajahnya tak mau melihat Fathan.


Melihat Raina yang tidak mau melihat dirinya, Fathan pun merasa bersalah dan setelah ia fikir-fikir hal tersebut ada bahayanya juga untuk Raina.


"Iya deh aku minta maaf ya, aku gak akan kaya gitu lagi. Abisan kamu kebo banget sih kalo gak aku gituin pasti kamu gak mau bangun," ucap Fathan.


"Tau ah," ketus Raina.

__ADS_1


Raina teringat kembali dengan Farhan beberapa menit yang lalu meminta kontak Zara pada dirinya saat Raina sedang bersiap-siap. Refleks Raina menepuk dahinya karena bisa-bisanya ia tidak menyadari kalau Fathan sedang mengerjainya padahal Farhan sempat menghubunginya meminta kontak Zara.


"Pantes aja tadi kak Farhan telpon aku minta kontaknya Zara. Kenapa aku gak sadar ya kalo aku lagi dikerjain sama kamu," ucap Raina.


Fathan pun menaikkan bahunya sedikit sambil menggelengkan kepalanya.


"Karena kamu teralu sayang sama aku, makanya kamu gak sadar kalo lagi aku boongin Haha," ucap Fathan.


"Gak usah ketawa! Aku masih marah sama kamu ya Kak," ketus Raina.


***


Waktu menunjukkan pukul 11.21 Farhan dibuat kebingungan karena Zara tidak menunjukkan sehelai rambutnya disana.


"Nih orang ngeledek banget ya, gw udah nungguin dia sampe kering disini tapi dia gak dateng juga padahal kita belom ke toko kue buat ambil kuenya," gerutu Farhan.


Farhan memicingkan matanya saat melihat Zara dari kejauhan. Hanya saja yang membuatnya kaget kondisi Zara yang berjalan dengan susah payah dan bajunya terlihat kotor seperti terkena air bekas cucian piring. Farhan pun berlarian menghampiri Zara, ia melupakan rasa kesalnya pada Zara.


Saat sampai disana Farhan melihat dengan jelas bagaimana lusuh dan kotornya baju yang dikenakan oleh Zara.


Ini si cewe bar-bar kenapa kaya tikus abis kecebut got gitu, hadeh gw nunggu selama itu ternyata dia asik berendem di comberan bener-bener nyusahin nih orang.


"Udah telat eh pas dateng kesini kaya kucing kecebur got. Saya kira kamu kelamaan dandan eh ternyata kelamaan berendem di got. Kita mau ke Bandung bukan ke pasar, kamu yakin kita berangkat kaya gini." Farhan memandang Zara mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Zara sama sekali tidak berminat meladeni ucapan Farhan. Ia memilih untuk mendudukkan dirinya di atas rerumputan yang berada di taman.


"Eh kok malah duduk bukannya ganti tuh baju terus kita pergi ke toko kue buat ambil kue dan souvernirnya abis itu kita langsung ke Bandung nyusul Raina dan Fathan. Mereka udah nungguin kita loh," ucap Farhan.


"Bisa gak lo diem dulu gak usah nyerocos terus, makin sakit nih kaki gw gara-gara lo ngoceh mulu." Mood Zara yang sedang tidak bagus membuat Farhan menjadi sasaran dari kekesalannya.


Lo gak tau aja badan gw sakit semua mungkin aja sekarang pada memar nih badan. Pengen kabur aja gw rasanya dari rumah. Di rumah berasa kaya di neraka tiap hari dijadiin babu, dipukulin. Kalo bukan karena gw sayang sama Papa udah gw tendang mereka jauh-jauh dari rumah gw.


Zara merasakan emosinya berada di puncak kepalanya, ia mencabut rumput dengan tidak santai meluapkan emosinya melalui rumput taman yang tidak bersalah hingga membuat Farhan menatap Zara dengan tatapan anehnya.


"Itu rumput dari tadi teriak-teriak kesakitan gara-gara dicabut-cabutin terus sama manusia titisan kingkong yang tenaganya gak kira-kira," ucap Farhan.


"Diem! Ngomong lagi bisa-bisa mulut lo yang gw cabut dari tempatnya," ketus Zara.


"Biasa aja dong. Lagian saya gak takut sama kamu, buruan ganti baju terus kita ke toko kue ambil semua pesanan," ucap Farhan.


Zara menundukkan kepalanya melihat bajunya yang sangat tidak layak dipakai.


Kotor banget pantes aja manusia nyebelin ini nyerocos mulu kaya mercon. Ternyata baju gw sekotor dan sebau ini, mereka nyiram gw pake apaan ya. Badan gw rasanya sakit semua lagi. Tapi gw gak boleh liatin semuanya ke dia nanti yang ada dia malah kasianin gw dan gw gak mau dikasianin.


"Mana bajunya, gw aja gak bawa baju," ucap Zara menengadahkan tangannya tepat di hadapan Farhan.


Farhan menatap Zara kemudian menepuk telapak tangan Zara.


"Kamu fikir saya tukang baju. Beli baju lah buruan berdiri udah telat banget nih," ucap Farhan menarik tangan Zara.


Zara dan Farhan pun memutuskan untuk mencari toko baju terdekat sebelum mengambil kue dan souvernir pesanan mereka.


"Bau banget kamu, kayanya besok harus mandi kembang mobil saya," ucap Farhan sambil menutupi hidungnya dengan tangan kiri.


"Bau lah orang kena cucian piring bekas makanan kemaren. Lagian siapa yang nyuruh gw masuk ke dalem mobil lo? Lo juga kan, jadi gak usah ngehina gw terus-terusan!" ketus Zara.


"Pake ini dulu nih biar berkurang sedikit baunya bisa mabok saya kalo terus-terusan semobil sama kamu." Farhan menyodorkan kaleng penyemprot serangga yang biasanya ia gunakan untuk mengusir nyamuk dan kecoa.


Zara menatap kaleng yang terdapat merek Hit yang sangat tidak asing di matanya karena ia pun menggunakan itu untuk mengusir kecoa terbang yang selalu mengganggu aktivitasnya.


"Lo kira gw kecoa yang disuruh pake ginian, ogah ah lo aja sana yang pake jangan nyuruh gw pake ini titik," tolak Zara memberikan kembali kaleng semprotan pembasmi serangga tersebut pada Farhan.


"Adanya itu doang disini, pewangi ruangan udah abis saya belum sempat beli jadi buat sementara pake itu aja dulu," ucap Farhan.


"Udah deh gak usah ngomong terus fokus aja tuh sama jalanan, awas aja kalo nabrak muka lo yang gw semprot pake hit," ancam Zara.


"Kenapa jadi kamu yang sok berkuasa disini, ini kan mobil saya. Kalo kamu gak suka sana keluar gak usah disini," saut Farhan.


Mendengar ucapan Farhan, Zara pun terdiam kemudian menolehkan kepalanya ke luar jendela mobil karena ia tidak mau berdebat dengan Farhan yang berujung dirinya akan dibuang oleh Farhan di jalanan.


***


Bersambung ....


Jangan lupa like dan komentarnya yaaa. Kalo ada saran boleh dititipin dulu ke kolom komentar barang kali sarannya bisa dipake buat bab selanjutnya hehe.


Sejujurnya aku penasaran banget siapa aja sih yang baca cerita aku, soalnya komen gak sebanding sama likenya. Kadang aku sengaja ngilang beberapa hari buat tau siapa aja sih yang nungguin update novel aku, tapi kadang emang sibuk beneran sih. Aku penasaran deh 50 lebih orang yang like itu siapa aja. Coba dong kalian komen biar aku kenal sama orang-orang yang baca cerita ini.


Sekian dan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2