
Fano terus merengut ia memasang wajah kesalnya sambil bersidekap dada dan menatap ke arah lain karena ia tidak mau melihat orang-orang disekitarnya terutama Lala dan Reno.
"Pano mau malah aja. Pokoknya nanti kak Lala sama kak Leno halus bujukin Pano sampe Pano gak malah lagi. Sekalang Pano mau malah dulu," ketus Fano.
Semua menatap Fano heran kemudian mereka saling melempar pandangan satu sama lain.
"Udah biarin aja, ini bocah emang suka gak jelas. Biarin aja dia ngambek ntar juga tiba-tiba nempel tanpa dipanggil," ucap Reyhan.
"Lagian ini anaknya si Mila sama Steven kenapa begini amat ya, perasaan Papa punya anak 3 pas kecilnya gak begini modelnya," ucap Gio menggelengkan kepalanya sambil menatap Fano heran.
Mendengar nama orangtuanya disebut Fano pun menolehkan kepalanya dengan cepat.
"Papa Gio ngomongin Mami sama Papanya Pano ya, awas aja nanti kalo Mami sama Papa udah pulang dali kelja bakalan Pano aduin bial gak dibagi maltabak lasa dulen, sukulin emang enak wle," ketus Fano kemudian ia menjulurkan lidahnya pada Gio kemudian kembali lagi pada posisi sebelumnya, ia lupa kalau dirinya sedang mogok berbicara.
"Tuh kan Pano jadi lupa kalo Pano lagi malah banget sama olang-olang, ini lagi dede bayi ngapain liat-liat Pano. Pano juga malah sama dede bayi gala-gala dede bayi nih, sekalang Pano dicuekin sama kak Lala telus Pano juga gak boleh masuk kaltu kelualganya kak Lala dan kak Leno. Cila juga jangan deket-deket Pano, sana pelgi jauh-jauh," omel Fano sambil mendorong-dorong tubuh Cila dengan tidak sabar.
"Fano kok gitu sih, jangan dorong-dorong Cila kaya gitu. Cila kan cewe masa Fano beraninya sama cewe sih, cewe itu gak boleh dikasarin atau dijahatin bolehnya disayang aja," tegur Raina.
"Bialin aja, Pano lagi sebel. Jangan ajak Pano ngomong," ketus Fano
"Fano dengerin kak Raina dulu, sini duduknya ngadep kak Raina jangan kaya gitu duduknya gak sopan tau," bujuk Raina meraih tangan Fano kemudian berusaha menggeserkan posisi duduk Fano.
Fano pun menuruti apa yang Raina katakan, perlahan ia menggeser posisi duduknya menjadi
berhadapan dengan Raina.
"Kak Laina mau ngomong apa? Kalau mau ngomong Pano gak boleh ikutan di kaltu kelualga baleng Cila sama Pico pelcuma Pano gak mau dengel," ucap Fano sambil menutup kedua telinganya.
"Engga kok. Coba Fano dengerin baik-baik ya apa yang kak Raina bilang. Fano punya banyak keluarga yang sayang sama Fano kan termasuk kak Raina sendiri? Coba liat Cila sama Vico, mereka ada keluarganya gak? Ada mama dan Papanya gak?" ucap Raina menatap Fano dengan tatapan seriusnya.
__ADS_1
Fano menggaruk kepalanya yang kebetulan terasa gatal, ia berusaha mencerna apa yang Raina katakan barusan.
Reyhan yang melihat Fano sedang menggaruk-garuk kepala membuatnya salah fokus hingga membuat apa yang Raina ucapkan pada Fano tiba-tiba saja hilang dari ingatannya.
"Garuk-garuk pasti ada kecoanya tuh di kepala," ucap Reyhan.
"Heleh kalo kepala Pano ada kecoanya pasti kecoanya udah Pano suluh telbang terus kejal-kejal kak Ley," saut Fano.
Lagi-lagi Wina dan Gio dibuat menghela nafas panjangnya saat melihat kelakuan aneh keluarganya tersebut, namun keduanya sangat menyukai suasana yang seperti sekarang, berkat adanya Fano di dalam rumah mereka, keadaan rumah menjadi lebih ramai dan lebih seru lagi.
"Berarti udah deal ya, Cila sama Vico yang ngasuh kalian berdua. Mama harap kalian berdua bisa jadi orangtua yang baik untuk mereka meskipun hanya orangtua sambung usahakan kalian jangan membeda-bedakan diantara mereka," ucap Wina.
Fano mengerutkan dahinya sebal, ia memicingkan matanya menatap Wina dengan tatapan garang. Ia tidak terima dengan keputusan akhir yang diucapkan oleh Wina.
"Gak boleh!!! Pano juga mau ikut mama Wina. Kenapa Pano sekalang jadi dicuekin, Pano gak pelnah diajak lagi. Pano sebel sama mama Wina! Kak Lala sama kak Leno juga!" Fano terus merengek hingga membuat Lala tidak tega pada Fano.
Lala terdiam sejenak berusaha berfikir mencari alasan yang tepat dan bisa ia gunakan untuk membuat Fano tidak terus-terusan ngambek. Setelah 3 menit lamanya ia fokus berfikir akhirnya ia dapat tersenyum kembali setelah menemukan satu ide.
Fano menundukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Lala, ia memasang wajah muramnya.
"Tuh kan Pano gak boleh masuk. Telus Pano bisanya masuk kemana," ucap Fano.
"Tenang aja Fano. Fano bisa minta sama kak Raina dan kak Fathan. Mereka bentar lagi bikin kartu keluarga juga tuh, sana buruan daftar sebelum kartu keluarganya penuh." Setelah berbicara seperti itu, Lala melengoskan kepalanya ke sembarang arah kemudian ia cekikian sambil menutup mulutnya.
Raina membelalakan matanya saat mendengar ucapan Lala, ia menggelengkan kepalanya sambil memelototi Lala.
"Eh ... Kenapa jadi ke gw sih La. Harusnya lo oper ke bang Rey aja tuh," ucap Raina sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Reyhan
Mata Fano berbinar tiba-tiba saja Fano tersenyum dan terlihat lebih bersemangat, ia mengalihkan pandangannya pada Raina kemudian menatap Raina dengan penuh harap.
__ADS_1
"Iya juga ya, kenapa Pano balu inget sekalang. Liat nih Cila, Pano punya kak Patan yang gantengnya sama kaya Pano. Kak Leno jelek kaya monstel hiii selem mendingan sama kak Jungkook kembalan Pano," ucap Fano dengan bangganya.
"Kak Laina, Pano mau daptal pokoknya ya. Pano halus masuk ke kaltu kelualga juga kaya Cila sama Pico. Pano gak mau kalah dali duo kulcaci," ucap Fano dengan semangat.
"Migrain gw lama-lama ada disini. Punya keluarga kok orang aneh semua isinya," gumam Reyhan.
"Kak Raina masih lama punya kartu keluarganya, ini aja masih numpang mama Wina," saut Raina.
"Pokoknya Pano daptal dulu dan halus ditelima. Nanti kalau udah bikin kaltu kelualganya, kasih tau Pano ya," ucap Fano dengan semangat.
Wina menatap semuanya satu per satu memastikan semua yang ada disana mengerti dengan tujuan dirinya mengumpulkan mereka semua.
"Yaudah nih ya gak ada yang mau ditanyain atau didiskusikan lagi, kalau gak ada mama mau pamit ke kamar dulu soalnya ngantuk banget," ucap Wina sambil menguap dan menutup mulutnya.
"Iya ma, aku udah paham sepertinya yang lain sudah paham juga ma. Selamat istirahat ya Ma," ucap Reno menarik pergelangan tangan milik Wina kemudian mencium punggung ya tangan Wina.
"Iya kalian juga jangan tidur kemaleman dan buat yang cowo-cowo jangan begadang. Awas aja kalo Mama keluar dari kamar liat ada yang begadang ya. Langsung Mama guyur pake air es nanti kalian" ucap Wina menatap semua yang ada disana dengan tatapan garangnya.
"Siap Ma," ucap Raina tersenyum pada sang Mama.
"Dari tadi ngomongin Mama terus nih, ngomongin papanya kapan ya. Nanti lama-lama papa ngambek nih kya kaya si Fano," sindiri Gio.
***
Bersambung ....
Jangan lupa, like, komen dan sarannya ya gais. Kalau ada saran boleh dititipkan dibagian kolom komentar ya buat bahan evaluasi aku di bab selanjutnya.
Oh iya aku mau cerita sedikit nih, maaf aku updatenya selalu malam dan gak sebanyak biasanya ini di karenakan aku kerja dan pulang-pulang udah keburu capek jadinya baru sempet ngetik jam 10an. Untuk para author yang sudah mampir makasih banyak ya, maaf aku belum bisa kunjungan ke semuanya hehe, aku baru kelayapan di beberapa novel kalian, tapi belum bisa semuanya karena sekarang biasanya aku baca dulu karya kalian baru aku like dan komen jadi waktunya itu yang sempit.
__ADS_1
Sekian curhatan dari saya semoga kalian semua terhibur ya, terima kasih.