
Setelah merapikan rambutnya yang berantakan Zara keluar dari toilet sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit dan pusing.
"Ternyata ribut pake cara beginian cuma bikin kepala sakit, pantes aja si Lala suka banget nyerang orang pake jambak-jambakan," keluh Zara.
Zara berjalan menuju kamar Raina dengan tangan yang tak terlepas dari kepalanya. Saat sampai di depan kamar Raina, Zara membuka pintu secara perlahan kemudian masuk ke dalam.
Raina yang melihat kedatangan Zara menatap Zara cemas karena wajah Zara terlihat pucat seperti sedang sakit.
"Zara lo kenapa, sini duduk di samping gw. Bandel sih lo dibilangin gak usah kesana tapi ngeyel juga," ucap Raina menggeserkan tubuhnya.
Zara mendekatkan dirinya pada Raina sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Kepala gw pusing banget Rain, rasanya badan sakit semua," keluh Zara.
Zara tahu penyebabnya bukan hanya karena dijambak oleh Fahira tetapi memang kondisinya sedang tidak baik. Ia teringat kembali dengan kejadian sebelum ia sampai di taman untuk bertemu dengan Farhan.
"Lo kenapa sih sebenernya perasaan tadi baik-baik aja padahal sempet marah-marah lagi," heran Raina.
Raina berjalan mengambil kompresan dan beberapa obat untung saja kakinya sudah terasa mendingan jadi ia bisa bergantian mengurus Zara.
"Gak tau, kayanya gw ketempelan hantu penunggu pohon disana dah," jawab Zara asal.
"Dih ngaco lo. Gak usah ngada-ngada deh. Nih minum dulu obatnya badan lo anget soalnya," ucap Raina.
"Makasih ya, berasa punya emak gw kalo kaya gini Hehe," ucap Zara terkekeh dengan wajah pucatnya.
"Oh iya kak Fathan mana, tumben dia gak disini biasanya kan dia gak mau jauh dari lo," tanya Zara.
"Gak tau tadi gw ketiduran terus bangun-bangun dia gak ada disini, mungkin balik kali ke acaranya Lala sama bang Ren, kasian loh mereka berdua pasti kebingungan deh kita ngilang semua," ucap Raina terkekeh membayangkan wajah kebingungan Lala dan Reno.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Zara dan Raina. Mereka saling menolehkan kepala satu sama lain bertanya-tanya siapa yang datang.
"Kak Fathan palingan," ucap Zara dengan santai.
"Tumben banget dia ketok pintu selama itu," ucap Raina.
"Mungkin aja dia takut kalo lo lagi ganti baju makanya dia ketok pintu dulu, gak lo kunci kan pintunya?" ucap Zara.
"Engga sih," saut Raina dengan raut wajah bingungnya.
Pintu pun terbuka dan menampakkan sosok laki-laki yang mereka kenal sedang menunjukkan cengirannya.
"Aldo," ucap Zara dan Raina berbarengan.
"Wah parah kalian, gw di depan pintu ngetok berkali-kali bukannya disambut malah didiemin aja, benar-benar berdosa sekali kalian ini," oceh Aldo.
"Bukannya gitu, tadi kita ngiranya kak Fathan makanya kita diem aja," saut Raina.
"Tapi nyatanya yang muncul seorang laki-laki tampan bernama Aldo ya," ucap Aldo dengan percaya diri menaik turun kan alisnya.
Zara bergedik ngeri saat Aldo dengan percaya dirinya memuji diri sendiri.
"Aldo obat lo abis ya?" tanya Zara dengan tatapan kesalnya.
"Tadinya sih iya, tapi sekarang kan ada Raina disini jadinya obat gw full," ucap Aldo sambil mendudukkan dirinya di samping Raina.
"Idih. Gw aduin kak Fathan lo ya," ancam Zara.
Fathan baru saja kembali dari luar kemudian membuka pintu dibuat terkejut dengan kehadiran Aldo yang kini berada di samping kekasihnya dengan terburu-buru ia menutup pintu kemudian menggeser paksa tubuh Aldo supaya menjauh dari Raina.
"Ngapain lo deket-deket sama Raina. Minggir lo jauh-jauh," ketus Fathan.
"Duduk doang marah, posesif banget sih lo jadi pacar. Gw kan kangen sama temen gw jaman bocil ini," ucap Aldo mengacak-acak gemas rambut Raina.
Raina hanya diam sambil menatap Aldo heran karena tak biasanya Aldo bersikap seperti itu di depan orang lain padahal disana ada Zara. Biasanya Aldo seperti itu ketika mereka sedang bertiga saja hanya untuk menggoda Fathan.
"Jangan pegang-pegang rambut pacar gw atau rambut lo gw botakin sekarang juga ya," ancam Fathan sambil menarik Raina ke dalam pelukannya.
"Cuma megang rambut aja pelit banget lo Fath ampun dah. Gak perlu, gw gak percaya sama jasa pembotakan lo nanti yang ada kepala gw jadi pitak gara-gara lo," tolak Aldo sambil memegangi kepalanya dan membayangkan bagaimana hasil pangkas rambut Fathan.
"Makanya jangan deket-deket pacar gw, lo minggir gak! Sebelum gw ambil gunting terus botakin kepala lo," ketus Fathan.
"Oke baiklah berhubung calon suami masa depan Raina baik hati, jadi gw minggir deh. Gapapa ngalah dulu untuk menang, ya gak Zar?" Aldo menggeserkan tubuhnya perlahan, sambil melihat pada Zara yang pucat.
"Ya dah terserah lo aja Do. Pusing kepala gw dengerin lo ngoceh mulu," saut Zara.
"Lo kenapa Zar? Sakit. Wah ternyata seorang Zara jagoan dari kampung sebelah bisa sakit juga," ucap Aldo sambil bertepuk tangan.
***
Fano dan Cila kini berada di depan pelaminan Lala dan Reno. Mereka berjalan menghampiri Lala dan Reno dengan semangat.
"Hallo Pano ganteng disini, pasti semuanya kangen ya sama Pano," ucap Fano sambil bergaya.
"Hidih kepedean Pano mah. Kak Lala tau gak tadi si Pano abis main tanah merah disana liat tuh celana sama bajunya masih ada sisa tanah merah udah gitu basah lagi," adu Cila sambil menunjuk baju dan celana Fano.
"Dasal tukang ngadu. Pano gak mau temenan lagi sama Cila pokoknya," ucap Fano memalingkan wajahnya kesal.
"Fano ganti baju dulu sana nanti masuk angin dan bisa sakit, mau nanti disuntik pake jarum suntik yang gede," ucap Lala sengaja menakut-nakuti Fano.
Fano menggelengkan kepalanya dengan cepat, kemudian ia berlarian menuju penginapan.
Cila menatap kepergian Fano dengan tatapan heran, ia tidak menyangka seorang Fano yang pecicilan, tidak bisa diam dan pemberani takut dengan jarum suntik.
"Fano takut jarum suntik ya kak Lala?" tanya Cila.
Lala menganggukkan kepalanya sambil tertawa melihat Fano yang lari begitu cepat setelah mendengar ucapannya.
"Harusnya kamu jangan ngomong begitu ke Fano, kasian tuh dia ketakutan sampe cepet banget larinya takutnya nanti dia jatuh gimana," ucap Reno dengan khawatir.
__ADS_1
"Tenang aja Fano itu anak kecil yang kuatnya kaya orang gede, Lala yakin Fano mendarat sampe tujuan dengan selamat," ucap Lala tersenyum.
"Cila udah makan belum? Dari tadi kita gak liat Cila sama Fano disekitar sini, pasti kalian abis berburu banyak makanan ya," ucap Reno tersenyum.
Cila menggelengkan kepalanya, kemudian mendudukkan dirinya di tengah-tengah Lala dan Reno.
"Tadi sih Cila sempet makan sama Fano tapi sedikit doang. Abis itu diajak pergi sama Fano buat kerjain orang jahat. Sekarang Cila laper banget kak," ucap Cila.
"Orang jahat? Emangnya disini ada orang jahat," tanya Lala penasaran.
"Ada. Dia mau dorong kak Raina ke danau untung ada Cila sama Fano yang gagalin. Abis itu ada kak Fathan sama kak Zara yang bantuin kita juga," ucap Cila.
Sejujurnya Cila bukanlah tipe anak-anak yang suka bercerita, ia cenderung lebih pendiam dan lebih suka menyimpan segala hal sendirian tanpa memberi tahu orang lain karena menurut dirinya bercerita pada orang lain hanyalah hal yang percuma tidak ada solusinya dan membuat dirinya semakin pusing saja.
"Kalo mau tau cerita lengkapnya tanya Fano aja kak. Dia kan suka cerita kadang cerita udah abis aja suka dia tambah-tambahin sendiri," lanjut Cila.
***
Farhan terlihat gusar memikirkan bagaimana caranya berbicara dan meminta maaf pada Zara tetapi tidak membuat Zara berada diatas angin.
"Mau minta maaf aja susahnya minta ampun," keluh Farhan sambil menghembuskan nafas gusarnya.
Aisyah yang melihat jelas kegelisahan yang sedang dialami Abangnya pun dibuat penasaran hingga membuatnya menghampiri Farhan dan mendengar umpatan Farhan barusan.
"Cerita dong sama Ais ada apa, siapa tau Ais bisa bantu bang Han. Keliatannya Abang aku yang satu ini lagi pusing banget ya," ucap Aisyah mendudukkan dirinya di samping Farhan.
Farhan menolehkan kepalanya sekilas kemudian kembali fokus menatap pohon yang berada di depannya.
"Lagi bingung aja De, gimana caranya minta maaf ke orang yang udah bikin kita kesel setiap hari," ucap Farhan.
Aisyah tersenyum, tanpa bertanya pada Farhan ia sudah mengetahui siapa orang yang dimaksud oleh Abangnya.
"Pasti Zara ya. Gampang kok, Zara tuh biar galak kaya gitu aslinya dia baik kok dan pemaaf juga lagi. Cuma keliatannya aja nyebelin," saut Aisyah.
"Baik apa nya. Kamu gak liat kemaren hidung Abangmu ini ditonjok loh sampe berdarah sama dia," protes Farhan sambil menunjuk hidungnya.
"Itu karena dia kesel sama kamu bang yang gak mau percaya sama apa yang dia bilang ke kamu. Saran Ais sekarang bang Han samperin Zara terus minta maaf baik-baik sama dia dan jangan ngeyel, Ais yakin pasti bang Han dimaafin," ucap Aisyah dengan yakin.
Aisyah menepuk-nepukan tangannya di bahu Farhan berkali-kali kemudian ia pergi meninggalkan Farhan sendirian disana.
"Iya ngomong doang mah gampang, ngelakuinnya yang susah," gerutu Farhan.
Farhan beranjak dari duduknya berniat mencari Zara. Setelah ia fikir-fikir ada benarnya juga saran Aisyah. Mau bagaimana pun nanti respon Zara padanya, ia harus meminta maaf supaya tidak merasa bersalah terus-menerus karena sudah menuduhnya.
Lelah mencari Zara kesana kemari membuat Farhan menghabiskan beberapa gelas air es namun tak kunjung ia menemukan Zara.
"Tuh orang kemana sih perginya, gw cari kesana kesini gak nemu-nemu juga," gerutu Farhan.
***
Fano kembali dengan baju dan celana yang baru, ia berjalan sambil bersenandung sesekali ia berhenti hanya untuk joget.
"Liat Pano udah ganti baju dan udah kelen juga nih. Sekalang waktunya Pano cali pacal," ucap Fano pada Lala dan Reno.
"Papi Stepen yang ngajalin Pano. Kalo mau malah, malahin aja papi stepen jangan pano ya plisss," ucap Fano mengkedip-kedipkan kedua matanya berulang kali.
"Udah sana makan dulu ngoceh mulu dari tadi," ucap Wina.
"Galak banget mama Wina hali ini kaya seligala belbulu ulat." Fano mencibirkan bibirnya kemudian berjalan menuju stand makanan.
Kini Fano sedang duduk di salah satu kursi menyantap makanan yang baru saja diambilkan oleh pelayan.
"Enak banget makannya, Pano mau nambah Mba," ucap Fano.
Pelayan tertawa kemudian mengusap kepala Fano gemas. Padahal piring yang berada di hadapan Fano masih sangat penuh tetapi Fano sudah meminta nambah saja.
"Abisin dulu, nanti kalo udah abis baru ditambah lagi ya," ucap pelayan.
"Pasti abis Mba, soalnya Pano makannya banyak bial kuat ngelawan penjahat," ucap Fano.
Tidak sengaja pandangan matanya bertemu dengan Fano yang sedang asik menyantap makanannya, Farhan pun dengan cepat menghampiri Fano.
"Fano, kok sendirian disini yang lainnya mana?" tanya Farhan.
Fano tidak langsung menjawab pertanyaan Farhan, ia terlihat sibuk mengunyah makanan yang berada di dalam mulutnya. Setelah menelan habis makanan yang berada di mulutnya Fano mengambil air minum.
"Kak ipin kalo nanya liat-liat dulu Pano lagi apa, untung Pano gak keselek," ucap Fano.
"Iya deh iya maaf abisan aku bingung nih Fan, aku dari tadi muter-muter nyari kak Zara gak ketemu-ketemu, capek banget suer deh," keluh Farhan.
"Gitu aja engga tau. Tuh kak Zala ada di tempatnya kak Laina, lagi numpang tidul katanya kepalanya pusing muter-mutel kaya ada bulung elangnya diatas kepala," ucap Fano.
"Beneran? Fano gak boong kan?" tanya Farhan.
"Telselah kak ipin deh mau pelcaya apa engga," ucap Fano dengan cuek dan kembali menyantap makanannya.
***
Fahira kini sedang menangis sendirian di tempat yang sama, rasanya ia enggan sekali untuk pergi dari tempat ini.
"Semua ngebela dia bahkan gak ada satu pun yang bela gw. Mereka gak ngerti apa yang gw rasain sekarang," teriak Fahira.
Sementara dari kejauhan terlihat sosok perempuan yang sedang tersenyum menyaksikan dan mendengarkan teriakan yang dilontarkan oleh Fahira.
"Lo yang bodoh. Mana ada orang jahat yang dibela Haha. Dengerin gw ya, mereka cuma mikirin perasaan temennya, sekalipun lo bener mereka gak akan ngebela lo. Makanya kalo jahat jangan setengah-setengah," ucap perempuan tersebut.
Fahira menengadahkan kepalanya, ia mengerutkan dahinya saat melihat orang yang sama ketika ia berada di kantor WO.
"Lo lagi. Sebenernya lo siapa? Kenapa lo ada dimana-mana bahkan lo ada diacara ini. Apa lo temennya Raina juga." Fahira menatap penasaran pada sosok perempuan yang berada di hadapannya.
"Siapapun gw gak ada urusannya sama lo. Gw kesini cuma penasaran aja sama apa yang bakal lo lakuin disini. Ternyata lo ngelakuin hal yang basi banget dan ujungnya lo juga yang nangis. Agak lucu sih gw liatnya," ucap perempuan tersebut.
__ADS_1
Fahira kesal dengan perempuan yang kini berada di hadapannya karena teralu banyak berbicara dan memutar mutar pembicaraan hingga membuatnya pusing.
"Langsung aja deh apa tujuan lo kesini bahkan sampe ngikutin gw. Pasti ada tujuan lain kan?" tanya Fahira.
"Sebenernya sih iya dan tujuan gw kesini mau ajak lo kerja sama, tapi kalo rencana basi lo itu berhasil. Tapi setelah gw liat lo nangis kaya gini gw gak yakin lo bisa diajak kerja sama," ucap perempuan tersebut memandang Fahira dengan tatapan meremehkan.
"Terserah lo mau ngomong apa," saut Fahira dengan nada malasnya kemudian beranjak dari duduknya berniat pergi karena rasanya percuma saja berbicara dengan perempuan yang berada di hadapannya. Hanya membuang-buang waktu dan membuatnya semakin terlihat hina di hadapan orang itu.
"Yakin lo mau pergi? Gw orang yang udah buat Raina sempat buta. Gw tau lo lagi nyari-nyari gw kan?" ucap perempuan tersebut.
Fahira terdiam saat mendengar ucapan perempuan tersebut, ia membalikkan tubuhnya menatap perempuan itu dengan tatapan menyelidik.
"Jadi lo Maira?" tanya Fahira.
"Iya gw Maira. Sebelumnya gw mau ucapin makasih sama lo karena lo udah bebasin gw sama temen gw dari penjara. Karena gw gak mau hutang budi jadi gw mutusin buat nyamperin lo sebelum lo nemuin gw. Tepatnya lagi tujuan kita sama jadi gak ada salahnya kalo kita kerja sama. Gw gak suka cewe lemah kaya lo sebenernya," ucap Maira dengan santai.
"Kenapa lo gak bilang dari kemarin sih. Bukannya lo suka sama Fathan ya," ucap Fahira kembali duduk di atas rerumputan.
"Gw penasaran aja sama apa yang bakal lo lakuin, ternyata lo cukup nekat juga ya di tengah acara rame begini lo mau nyelakain Raina. Soal Fathan gw udah lupain, gw sekarang benci sama dia. Kalo lo masih mau sama dia ambil aja," ucap Maira dengan santai.
Fahira mengembangkan senyumnya saat mendengar perkataan Maira.
"Jadi kita deal kerja sama. Omongan lo bisa dipegang kan?" ucap Fahira.
"Deal. Bisa lah, gw bukan tipe orang yang gak tau balas budi. Karena lo gw bisa bebas dari penjara sialan itu jadi sekarang gw harus ngapain," ucap Maira.
"Nanti aja jangan sekarang, biarin dulu mereka santai," ucap Fahira.
Maira menyunggingkan senyumnya saat melihat Shasha yang sedang tertawa bersama dengan Raka. Ia menatap Shasha penuh dengan dendam dan kebencian.
Dasar penghianat, sekarang lo boleh ketawa-ketawa disana tapi liat aja nanti gw bakal bikin kalian semua termasuk lo celaka dan mohon-mohon sama gw.
Fahira melambaikan tangannya di hadapan wajah Fahira.
"Lo liat apa sih, keliatannya kesel begitu," tanya Fahira mengikuti arah pandangan Maira.
Fahira tertawa saat mengetahui Maira sedang melihat Shasha dan Raka yang sedang tertawa.
"Oh gw tau lo cemburu ya liat mereka, haduh lo gampang banget sih suka sama cowo abis dari Fathan malah beralih ke temennya," ledek Fahira.
"Bukan itu masalahnya. Tunggu bentar gw mau kesana, tapi kalo lo mau ikut juga boleh," ucap Maira.
Maira berjalan menghampiri Shasha dan Raka dengan sengaja Maira menyenggol bahu Shasha hingga membuat Shasha nyaris jatuh untung saja ada Raka yang berhasil menahannya.
"Yah jatoh, maaf sengaja. Untung ada pangeran yang nolongin ya Sha," sindir Maira.
"Lo gapapa Sha" ucap Raka dengan cemas.
"Gapapa kok," jawab Shasha menunjukkan senyumnya.
Shasha menatap Maira dengan tatapan kesalnya, ia bingung mengapa Maira bisa berada di acara pernikahan Lala dan Reno.
"Maksud lo apa sih dateng-dateng dorong gw kaya tadi. Ngapain lo ada disini, emangnya ada yang undang lo," ucap Shasha menatap Fahira kesal.
"Gw gak dorong loh cuma nyenggol aja dikit. Suka-suka gw dong mau ada dimana aja. Gw kesini mau ngobrol aja sama temen lama yang sekarang jadi penghianat," ucap Maira.
"Mau lo apa? Lo boleh lakuin apapun ke gw tapi jangan buat kekacauan diacara mereka, mereka sama sekali gak salah dan gak ada urusannya sama lo," ucap Shasha.
"Oh jelas ada dong. Siapapun yang ada hubungannya sama Raina berarti mereka musuh gw termasuk lo!" tegas Maira.
Shasha memalingkan wajahnya sejenak dan tidak sengaja ia melihat Fahira yang berada tidak jauh dari mereka.
"Lo gak ada kapok-kapoknya ya Ra, harusnya dengan kejadian kemarin lo itu intropeksi diri dan seharusnya sekarang lo berubah jadi lebih baik bukannya jadi tambah jahat," ucap Shasha.
"Tau lo dasar nenek lampir. Lo itu salah bukannya berubah malah makin jadi," cercah Raka.
"Jangan teralu banyak mimpi deh lo. Gw gak akan berubah. Gw dateng kesini bukan mau denger ceramah dari lo, tapi gw mau kasih peringatan ke lo. Gw bakal bales kalian semua tunggu aja kejutan dari gw ya." Setelah mengucapkan ancamannya Maira pun pergi meninggalkan Zara dan Raka.
"Gw gak takut sama ancaman lo, liat aja sebelum lo lakuin itu semua gw gak akan biarin rencana lo itu berjalan lancar!" teriak Raka.
Shasha mengusap-usap bahu Raka supaya Raka bisa menahan emosinya.
"Raka udah jangan kebawa emosi, gw tau sebenernya target dia itu Raina sama Fathan. Dia sengaja nyampein lewat kita biar kita semua panik, jadi sekarang kita harus kasih tau ke Fathan dan Raina kalo perlu semuanya aja deh biar lebih hati-hati," ucap Shasha.
"Bener-bener itu temen lo Sha gak ada kapok-kapoknya. Gw kesel dengernya," keluh Raka.
"Tadi gw gak sengaja liat Fahira, kayanya mereka kerja sama deh buat jailin Raina." Shasha mengalihkan pandangannya pada tempat dimana Fahira sebelumnya berdiri.
Raka membelalakan matanya ia tidak menyangka Fahira bisa kerja sama dengan orang yang licik macam Maira.
"Serius lo? Gila juga ya orang kalo patah hati bisa berubah jadi psikopet. Ini sih beneran kita harus kasih tau Fathan biar dia lebih hati-hati lagi dan lebih ketat jaga Raina," ucap Raka.
"Begitulah orang, kayanya gak ada cowo lain aja di dunia ini. Padahal si Fathan aja ada duplikatnya noh si Farhan tapi kenapa mereka maunya Fathan juga ya," ucap Shasha sambil menggaruk tengkuknya.
"Farhan juga ogah kali sama mereka. Amit-amit dah sama orang jahat kaya mereka," ucap Raka bergedik ngeri.
Mereka pergi berniat memberi tahu pada Fathan dan yang lainnya mengenai ancaman Fahira.
Shasha dan Raka tidak menyadari keberadaan Fahira dan juga Maira yang masih berada di sekitar mereka.
"Tuh liat pasti mereka ngadu ke Fathan. Ini belum seberapa padahal baru ancaman doang tapi mereka sebegitu ribetnya. Gimana kalo gw jalanin ancaman gw, mungkin mereka kalang kabut kali ya," ucap Fahira dengan santai sambil bersidekap.
"Terus lo mau lakuin apa abis ini," tanya Fahira.
"Lo liat aja nanti gw bakal lakuin apa ke mereka," ucap Maira menyunggingkan senyum jahatnya.
****
Bersambung ....
Minta waktunya sebentar guys, Aku mau kasih kabar baru nih hehe. Aku baru aja ngelanjutin novel baruku yang sempat hiatus beberapa bulan dan sekarang mau aku up rutin tiap hari barengan sama novel Senior juga. Kalo kalian tertarik bisa diliat di profil ku ya. Judulnya unrequited love. Jangan lupa kasih like dan komentarnya ya.
__ADS_1
Makasih buat yang udah baca sampe abis, jangan lupa like, komen dan sarannya ya biar aku semakin semangat. Kalo ada saran titipkan saja di kolom komentar pasti aku baca kok hehe.
Sekian dan terima kasih.